Part 6

558 Words
*Saat bersamaan di rumah Tama* Tama baru saja pulang dengan kondisi badan yang basah kuyup. Seharian ini dia menghilang tanpa memberikan kabar ke orangtuanya. Saat pulang sekolah tadi, dia minta diturunkan dipinggir jalan oleh supirnya kemudian menghilang entah kemana. Malam ini dia disambut dengan gelengan kepala papinya. Sedangkan mami tirinya cuma menghela nafas melihat kelakuan anak tirinya itu. Ya, ayah Tama menikah lagi setelah ditinggal mati oleh ibunya Tama 3 tahun yang lalu, ibu Tama meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat pulang dari supermarket. 3 tahun kemudian, ayah Tama menikah kembali dengan seorang janda asal Indonesia dengan anak 1. Niatnya menikah adalah untuk menggantikan sosok ibu Tama yang sudah meninggal, karena ayahnya melihat bahwa Tama sangat terpuruk dengan kematian ibunya yang tiba-tiba. Ayahnya sengaja mencari ibu berkewarganegaraan Indonesia yang sama dengan almarhumah ibunya Tama, tapi nyatanya Tama malah semakin sulit diatur. "Darimana kamu Tama?" Tanya Papi. "Maen." Jawab Tama singkat sambil terus melangkah menuju kamarnya. "Main? Main kemana kamu?! jam segini baru pulang, seperti berandalan saja kamu! kamu pikir rumah ini hotel apa?! Padahal papi kira kalau kita pindah ke Indonesia, kamu akan lebih meng-rem sedikit sifat urakan kamu itu, ternyata papi salah!" ujar papi kali ini sedikit emosi saat melihat respon anaknya tersebut. "Papi sendiri kan yang buat rumah ini kayak hotel! Papi sendiri gimana? Paling besok juga udah gak tau pergi kemana dan kapan pulangnya!" Tama tidak mau kalah. "Papi kerja! bukan main seperti kamu!" "Oh ya?! hidup papi cuma buat kerja kan?! jadi ya udah buat apa peduli sama Tama, peduliin aja pekerjaan papi itu!" ujar Tama dengan nada sarkasme. "Tama!" Papi membentak. "Papi semakin tidak mengerti sama perilaku kamu! apa sebenarnya yang kamu inginkan? makin hari makin jadi, seperti anak liar saja kamu ini!" "Tama mau gak ada yang gantiin posisi mami! Tama gak suka ada perempuan itu disini! Tama mau perempuan itu pergi dari sini!" Teriak Tama. PLAAAKK! Satu tamparan mendarat mulus di pipi Tama. "Dia ibu kamu sekarang, dan kamu wajib menghormatinya!!" lanjut papi. Tama memegang pipinya yang terasa perih, "Gak! Sampe kapanpun gak akan pernah!" Tama berjalan dengan kesal menuju kamarnya, namun ia malah berpapasan dengan Damian. Ya, Damian adalah saudara tiri Tama. "Dasar kekanak-kanakan" Ujar Damian dengan nada dingin. Tama tersenyum sinis, "kayaknya lebam kemarin masih belum cukup! mau nambah lagi?" Damian juga tersenyum sinis, "Lu tau, apa yang lu perbuat sekarang akan makin membuat papi lu tambah gak seneng sama lu! harusnya lu sadar!" "Lu gak perlu ngasih nasihat ke gue! kasih nasihat ke mami lu gimana caranya jadi perempuan baik-baik, biar gak perlu masuk ke kehidupan gue dan papi!" Tama berlalu pergi masuk ke kemarnya meninggalkan Damian sendirian. Damian terlihat emosi, namun ia tahan. *Di dalam kamar Tama* Tama membanting tasnya dengan kesal kemudian membanting tubuhnya dengan kesal pula ke kasur. kepalanya mulai pusing, namun hal itu tidak dipedulikannya. Diraihnya foto maminya yang tampak tersenyum manis dalam foto itu. Tama begitu merindukan maminya saat ini. merindukan belaian dan pelukan hangat dari maminya. Sebenarnya Damian dan ibunya adalah orang yang baik, mereka selalu mencoba membuat Tama senang, terlebih ibu tirinya itu selalu memasak makanan kesukaan Tama, tetapi Tama sudah terlanjur membenci mereka berdua dari awal perkenalan saat papi mengenalkan Damian dan ibunya sebagai calon anggota baru keluarga mereka. Tama bangkit dari rebahan nya dan menuju ke kamar mandi sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD