Part 5

508 Words
Malam itu hujan deras, padahal tadi siang panas terik. cuaca itu membuat sebagian orang lebih senang berada di rumah sambil bersantai. Tak berbeda dengan Sandra dan Dea. Sandra duduk dipinggir jendela sambil mendengarkan lagu-lagu milik Tulus, sedangkan Dea asyik dengan gawainya membalas pesan singkat dari teman-temannya. Sandra duduk sambil memperhatikan keadaan diluar rumahnya yang sangat sepi. Hujan deras masih terus berlanjut, sesekali diiringi petir yang memecah keheningan malam. "De, udah napa chatting nya, kasian matanya, maen hape terus daritadi." Ujar Sandra dengan nada memerintah. "Bodo amat, mata-mata gue, ngapain lu yang repot. cerewet bener lu kayak emak-emak." sahut Dea tidak kalah sengit. "Lu itu ngapa sih kalau dibilangin gak bisa apa langsung nurut, gak usah mendebat gue mulu? Biar cuma tua 2 menit, tapi tetap aja duluan gue lahirnya." Balas Sandra lagi. "Alaaahhhh... hari gini banggain yang 2 menit!" "Tapi kan tetap aja gue kakak lu. susah amat kali dibilangin nya!" "Udah deh San! lu bawel amat sih jadi manusia! Toh mama papa juga gak usil masalah gue yang hobi main handphone! "Jadi nunggu mereka yang ngomong baru lu mau nurut?" Dea berhenti mengetik "Sekaliiiiiiii aja San, buat sodara kembar lu ini happy! gak rugi kan ya? lagian emangnya kita masih bocil yang ada jadwal screen time!" "Ntar kalau lu kudu pake kacamata atau sakit ini lah itu lah, yang di repotin siapa? Enak kalau gak ngerepotin siapa-siapa, ini lu luka kegores dikit aja bisa bikin heboh 1 rumah, apalagi yang lain!" balas Sandra sengit. Terjadilah adu mulut yang tidak berkesudahan antara dua bersaudara itu hingga akhirnya Mama datang ke sumber keributan itu. "Ada apa ini? Apalagi yang bikin kalian berantem kali ini?!" Tanya Mama. Seketika dua bersaudara itu langsung menghentikan adu mulut mereka. "Ini Ma, Dea daritadi maen hape mulu. disuruh istirahatin dulu mata nya malah gak mau!" sahut Sandra. "Kan aku bukan anak kecil Ma, pake ada screen time segala!" balas Dea yang tidak mau kalah. "Tapi udah keseringan dia gitu Ma, ntar kalau sakit, atau matanya kenapa-kenapa kan kita juga yang ikutan repot." "Nggak kok Ma, mata aku masih baik-baik aja. Dasar Sandra aja tuh yang lebay!" "Udah, udah! cukup! berhenti berantem nya! Dea, yang dibilangin kakak kamu itu bener, itu juga demi kebaikan kamu. Dan Sandra, lain kali ngasih tau adik kamu pake cara yang lebih baik lagi. kan kamu tau sendiri adek kamu paling gak bisa dikasih tau kalau sambil ngegas!" "Udah ya, kalian berdua tuh bersaudara, harus akur, jangan berantem mulu. kalau mama papa nanti udah gak ada, kalian berdua harus saling melindungi satu sama lain." sambung mama. "Mamaaaaa......" seketika dua anak kembar itu langsung memeluk mamanya. "Udah, jangan berantem lagi. sebentar lagi papa kalian pulang. Yuk bantuin mama siapin makan malam aja daripada berantem disini." ajak mama. "Okeee Maaaaa...." sahut mereka berdua bersamaan. Dua bersaudara itu selalu berhenti bertengkar ketika mama nya sudah menyebut-nyebut kata-kata bagaimana nanti kalau mama sudah gak ada dan sebagainya. Karena meskipun mereka selalu bertengkar tetapi sesungguhnya mereka selalu takut kalau apa yang dikatakan oleh mama nya menjadi kenyataan. mereka belum sanggup jika ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD