Suami Istri

1205 Words
"Lo serius Hau? Lo gak lagi nge prank kan?"pertanyaan beruntun menuntut jawaban yang dilontarkan oleh Junita pada Haura. Haura sudah menjelaskan bahwa dirinya telah dijodohkan dengan anak dari sahabat orangtuanya. Namun, Junita sepertinya tak bisa langsung percaya padanya. "Gue serius Jujun ih! Ngapain juga gue ngeprank hal kayak ginian. Gak ada faedahnya juga!"jawab Haura ketus, karna sahabatnya itu sama sekali tak percaya padanya. "Waahh gila sih, masa iya lo yang baru lulus SMA udah mau nikah? Terus lo terima gitu? Kenapa lo gak tolak aja? Atau jangan-jangan calon suami lo ganteng ya, makannya lo gak bisa nolak? Atau emang lo udah kepengen nikah ya, biar bisa ena' ena'?"cerocos Junita ngawur. "Heh, lo tuh ya kalo ngomong pasti aja selalu gak pake rem! Denger ya, gue tuh udah coba nolak. Ya paling enggak diundur lah sampe gue lulus kuliah. Tapi, Papi sama Mami tuh bener-bener keukeuh pengen nikahin gue saat ini juga. Dan gue, sebagai anak yang penurut gak mau lah di cap jadi anak durhaka kalo gue juga keukeuh nolak permintaan orangtua gue! Jelas lo sampai situ?" "Hehe, iya iya gue paham. Mana ada sih anak yang mau di cap sebagai anak durhaka, terus gimana sama calon suami lo?"tanya Junita ambigu. "Gimana apanya? Ya dia juga terpaksa lah nerima perjodohan ini karna dia juga gak mau dicap sebagai anak yang durhaka." "Bukan itu ish! Dia cakep apa enggak? Keren gak orangnya? Anak mana dia? Terus dia..." "Ssst! Lo tuh ih gemes da, kalo lo ada di sini gue uyel-uyel tuh pipi! Nanya gak kira-kira,"dumel Haura semakin kesal dengan sikap Junita yang selalu saja cerewet. "Haha iya iya sorry! Gue terlalu semangat soalnya. Yaudah buruan jawab pertanyaan gue tadi, penasaran nih gue!" "Huh! Ya dia cakep lah, namanya juga cowok."jawabnya Haura malas. Tak ingin lebih panjang membahas soal Agam. "Yee, gue juga tau kalo cowok disebutnya cakep alias kasep! Tapi, ya gimana cakepnya itu woy!" "Ya gitulah, makannya kalo lo pengen tau segimana cakepnya calon lakik gue. Lo dateng lah ke nikahan gue! Jangan liburan mulu!" "Huhg dasar pelit lo! Emang kapan lo nikahnya?" "Besok lusa." "Apa? Gila, lusa dan lo baru ngasih tau gue? Nyebelin lo ya kenapa gak dari kemarin-kemarin coba? Kan gue bisa pulang dari kemarin dan nemenin lo di sana!" "Heh, kan hp gue di sita sama Mami. Ini juga gue bisa nelfon lo, ya karna kakak gue lagi baik aja! "Huh, yaudah kalo gitu gue mau kasih tau Lita sama Gina. Dan gue juga mau langsung pesen tiket pulang. Demi Lo tau gak!" "Uuuhh makasii lo sayangku..." "De.. udah nelfonnya?"suara Yogi yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Haura, membuat Haura menghentikan obrolannya dengan Junita. "Bentar kak."Haura berbicara tanpa suara pada kakaknya. "Jun, udah dulu ya. Hp nya udah mau dipake nih sama kak Yogi. Pokoknya gue tunggu kedatangan lo, oke!"ucap Haura mengakhiri perbincangannya dengan Junita. "Asik bener sih telfonannya, Dek."ujar Yogi sembari duduk di sebelah Haura. "Ya asik dong, cuman sayang belum bisa ketemu sama mereka. Mereka tuh enak bisa liburan. Lah Haura sama sekali belum liburan, kan gak asik."Haura mengerucutkan bibirnya sedih. "Dih, gak usah manyun gitu atuu Dek. Kan nanti bisa tuh liburan sama suami kamu, sekalian bulan madu kan?"goda Yogi seraya mengacak rambut Haura dengan gemas. "Ish, ya itu beda lah. Haura kan pengennnya liburan sama sahabat-sahabat Haura. Belum juga nikmatin masa-masa kelulusan SMA, udah disuruh nikah aja. Pasti nanti kan beda kalo udah punya suami. Apa-apa harus ijin sama suami, beda dong sama belum nikah."Haura terus mengadu pada sang kakak, mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini dipendamnya setelah dirinya diberitahukan perihal perjodohannya. "Heumm, sabar Dek. Kamu kan belum kenal banget sama Agam. Dan kamu jangan berpikir kalo nikah bakalan bikin kamu jadi gak bebas. Kakak yakin kok, kalo kamu bicara baik-baik sama Agam nantinya, dia juga gak akan larang-larang kamu. Yakin deh, justru nikah itu enak loh!" "Enak gimana sih Kak? Kakak sendiri kan belum pernah nikah." "Ya kakak liat papi sama mami dong, terlepas dari masalah yang pasti bakalan selalu ada di setiap pernikahan siapa pun itu. Yang kakak liat, mereka itu selalu bahagia kan di depan kita."Haura hanya menganggukkan kepala, serius mendengarkan apa yang kakaknya ucapkan. "Dan kamu tau, kalo kamu punya suami tentunya dia bakalan jaga lo bakalan nurutin apapun keinginan lo. Dan bakalan bikin lo gak ngerasain kedinginan saat malem-malem pas hujan."ucap Yogi terkekeh diakhir kalimatnya karna melihat ekspresi Haura yang bingung. "Maksudnya dia bakalan kasih selimut yang tebel gitu Kak?"tanya Haura polos. Yogi menepuk keningnya karna pertanyaan adiknya yang kelewat polos. Masa hal kayak gitu aja, dia gak ngerti sih pikir Yogi. "Ya bukan gitu juga Dek. Udah ah, nanti juga kamu bakalan tau sendiri. Kalo kakak jelasin sekarang, malah jadi kakak lagi yang pengen. Padahal kakak nikahnya masih tahun depan." "Ish kakak nih bikin penasaran aja deh." "Udah gak usah dipikirin. Mending sekarang kamu tidur, siapin diri buat jadi nyonya Agam Permana. Hahah."Yogi tertawa puas setelah menggoda adik satu-satunya itu. Dia pun segera keluar dari kamar Haura, meninggalkan Haura yang semakin menekuk wajahnya kesal. "Aghhh nyebelin!!"pekik Haura sembari merebahkan tubuhnya untuk segera terlelap menuju dunia mimpi. ~~~~ Akhirnya hari yang akan merubah status Haura dari gadis yang baru saja lulus menjadi seorang istri pun tiba. Ya hari ini adalah hari dimana akad nikah Haura dan Agam akan dilangsungkan. Ketiga sahabatnya sudah datang sejak kemarin menemani dirinya. Meski mencoba untuk bersikap tenang dan tak ingin terlalu memikirkan bagaimana kehidupannya nanti setelah menikah, tetap saja di hari ini menjelang dirinya resmi menjadi istri dari seorang Agam Sapta Permana dia merasakan gugup yang sangat luar biasa. "Hau, lo rileks dong. Keliatan pucet banget tau tuh wajah lo."ujar Gina yang kini duduk di sampingnya bersama dengan Junita dan Lita. Kini mereka berempat tengah berada di kamar pengantin, kamar yang sudah di rias sedemikian rupa menunjukkan bahwa nantinya pasangan suami istri baru itu akan menghabiskan malam pertama bersama. Acara akad yang dilangsungkan di salah satu hotel milik keluarga Permana, akan menjadi saksi bagaimana Agam akan mempersunting Haura menjadi istrinya. "Ya gimana Gin, gak tau kenapa nih gue jadi gugup banget gini."ujar Haura sedikit bergetar. "Ya wajar kali Gin, orang mau nikah. Pasti guguplah, lo juga pasti bakalan segugup ini."ujar Lita, seraya mengelus punggung Haura. Mencoba menenangkan sahabatnya itu. "Iya juga sih ya, apalagi ini nikah sama orang yang sebelumnya belum pernah kenal sama sekali." "Udah, mending kita dengerin tuh pak Penghulu. Acaranya udah mau mulai loh."ujar Junita menunjuk ke arah layar yang menampilkan suasana di ruangan yang dijadikan Agam untuk mengucapkan kalimat ijab qabul. "Gila, lakik lo ganteng banget ternyata Hau! Lo gak akan nyesel ini mah nikah sama dia!"sambung Junita yang terpana melihat wajah Agam yang terlihat jelas di layar televisi. Yang langsung diangguki oleh Lita juga Gina. Haura, Lita, Junita dan Gina pun kini fokus menatap ke layar televisi di depan mereka. Haura pun semakin dilanda gugup, namun ketika melihat wajah Agam yang kini terlihat berbeda dari terakhir dirinya bertemu membuat di sudut hatinya merasakan getaran yang tak biasa. Dan getaran itu malah membuatnya merasakan sedikit ketenangan. Apalagi setelah terdengar kata.. "SAH!"ujar para saksi yang ada di ruangan itu, ketika Agam selesai mengucapkan kalimat ijab qabul dengan lantang dan hanya dalam sekali tarikan nafas tanpa ada kesalahan sedikit pun. "Yeeaayyy!"teriak Junita, Lita dan Gina heboh yang langsung memeluk Haura yang kini malah bengong tak menyangka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD