Agam Sapta Permana
"Akhirnya saat ini tiba juga, dimana gue bakalan ketemu sama jodoh gue. Hah, jodoh ya? Jodoh kiriman yang udah disiapin dari umur gue 5 tahun. Seniat itu emang ayah sama bunda gue."monolog Agam saat dirinya bercermin merapikan tampilannya.
Agam Sapta Permana, pria yang baru saja berusia 21 tahun putra sulung dari pasangan Lukman Permana dan Niken Permana. Terpaksa harus menuruti keinginan kedua orang tuanya untuk dijodohkan dengan seorang gadis, putri dari sahabat sang ayah. Agam tak bisa menolak karna perjodohan itu sudah terjadi saat dirinya masih berusia 5 tahun. Dan selama itu pula, Agam selalu menjaga hatinya hanya untuk jodoh kiriman yang orangtuanya pilihkan. Senurut itu memang seorang Agam.
Agam mempunyai seorang adik perempuan yang masih berusia 13 tahun, Anggia namanya. Agam dan keluarganya memang baru pindah kembali ke Indonesia setelah sebelumnya tinggal di Malaysia. Maka dari itu, sang Ayah ingin segera menikahkan Agam dengan Haura putri dari sahabatnya itu.
Dan hari ini, pertemuan pertama kalinya untuk Agam dan Haura. Agam bersama kedua orangtua dan adiknya kini sudah tiba di rumah Haura.
"Assalamu'alaikum!"salam bunda Niken saat pintu utama rumah Haura terbuka.
"Wa'alaikumussalam! Eh, haii Niken!"pekik mami Erin penuh semangat sembari memeluk bunda Niken erat.
"Hai!! Senangnya, akhirnya kita bisa ketemu lagi ya Rin?"ucap Bunda Niken setelah pelukan mereka terlepas.
"Iya loh, udah lama banget dari terakhir kita bertemu waktu itu. Mari mari masuk, mas Lukman maaf loh malah dianggurin di depan pintu."
"Ya tak masalah, sudah biasa."jawab ayah Lukman dengan kekehannya. Mereka pun tertawa dan segera masuk ke dalam rumah.
"Waah ini ya yang namanya Agam? Ganteng banget sih calon menantunya mami!"puji mami Erin saat Agam masuk ke dalam rumah dan menghampiri mami Erin untuk mencium tangannya.
"Iyalah pasti ganteng, seperti ayahnya!"ucap ayah Lukman dengan bangga.
"Haha, mas Lukman ini dari dulu pasti selalu narsis."goda mami Erin tertawa.
"Nah ini pasti si bungsu Anggia ya, udah tinggi ya sekarang. Cantik lagi seperti bundanya."puji mami Erin mengelus rambut sebahu Anggia.
"Makasih tante."ujar Anggia tersenyum setelah mencium tangan mami Erin.
"Ayo ayo duduk, sebentar saya panggilkan dulu mas Erick ya."mami Erin pun masuk untuk memanggil sang suami.
Papi Erick masih mengobrol dengan Haura di ruang keluarga saat mami Erin menghampiri mereka. Mengajak papi Erick dan Haura untuk segera menemui tamu istimewa mereka. Haura masih belum mengetahui bila dirinya dijodohkan dengan Agam, karna memang kedua orangtuanya sengaja ingin langsung memberitahukannya saat dirinya bertemu dengan calon suaminya itu.
"Lukman my brother!"panggil papi Erick begitu melihat sang sahabat yang tengah duduk di ruang tamu rumahnya.
"Erick my Bro!"ayah Lukman berdiri dari duduknya dan segera mendekat pada papi Erick.
Mereka berpelukan saling melepas rindu karna hampir 2 tahun mereka tak bertemu. Sedangkan Haura yang masih berdiri di belakang sang papi hanya tersenyum melihat keakraban kedua sahabat di depannya itu. Tanpa menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya tanpa berkedip.
"Ngedip bang, nanti matanya perih loh!"bisik Anggia tepat di telinga Agam, sontak langsung membuat Agam menolehkan wajahnya pada adiknya itu.
"Ish apaan sih De!"elaknya menahan malu. Sedangkan Anggia hanya terkekeh pelan.
"Akhirnya kalian kembali juga ke Indo, aku kira kalian bakalan selamanya di Malaysia."tanya papi Erick setelah mereka melepas pelukannya.
"Ya sejauh apapun kita pergi, tetaplah kita pasti akan pulang ke rumah kita sendiri kan?"jawab ayah Lukman tersenyum, yang dibalas anggukan oleh papi Erick.
"Apa kalian akan berdiri terus? Sayang, sini nak kenapa malah berdiri terus di sana?"panggil mami Erin pada Haura.
"Eh, iya Mi. Abisnya seneng aja liat papi."jawab Haura tersenyum seraya menghampiri mami Erin dan langsung duduk di sebelahnya.
Setelah duduk di sebelah sang Mami, pandangan Haura tak sengaja bertemu dengan sepasang mata cokelat milik Agam yang juga sedang menatap ke arahnya. Sejenak mereka saling bertatapan, dengan tatapan Haura yang menyiratkan kebingungan, sedangkan Agam menatapnya dengan tatapan kagum.
"Sayang, kenalkan ini tante Niken sahabat mami juga waktu kuliah. Dan itu Om Lukman suaminya yang juga sahabat papi."suara mami Erin memutuskan tatapan Haura pada Agam, Haura pun segera mencium tangan bunda Niken juga ayah Lukman.
"Nah, mereka anak-anak Om Lukman sama tante Niken. Agam dan Anggia."Haura kembali menatap Agam sekilas, dan segera memberikan senyuman pada Anggia.
"Putrimu cantik banget Rin, gak nyesel aku jadinya."puji bunda Niken membuat Haura mengernyit heran, namun tak berani bertanya.
"Iya dong, kamu gak liat gimana papinya? Pasti anaknya juga bakalan cantik dong, apalagi putraku! Beuh kerenlah pokoknya!"papi Erick kembali membanggakan dirinya.
"Ish masih aja selalu membanggakan diri. Udah tua juga padahal."ejek bunda Niken, yang membuat mami Erin dan ayah Lukman tertawa. Sedangkan anak-anak mereka hanya bisa tersenyum melihat sikap kedua orangtua mereka.
"Udah ah, dari pada saling narsis. Mending kita makan dulu aja, sebelum kita mulai ke acara inti. Yuk, sayang anak-anak kita makan dulu!"ajak mami Erin pada akhirnya. Mereka pun segera beranjak menuju ruang makan.
Selama acara makan berlangsung, Haura yang duduk bersebrangan dengan Agam diam-diam selalu melirik ke arah Agam yang tengah makan dengan tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari piringnya.
"Ni cowok kok diem-diem aja sih? Cakep sih, dan kayaknya emang termasuk cowok kalem."gumam Haura dalam hati.
Haura tak tahu saja, dalam diamnya ternyata Agam tengah menyimpan rasa gugupnya. Sejak awal melihat Haura tadi, debaran jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.
"Apa iya gue jatuh cinta pada pandangan pertama? Tapi, ni jantung berasa mau copot gila! Dia cantik banget, imut lagi."gumam Agam dalam hati.
Setelah selesai makan, mereka berpindah duduk ke ruang keluarga. Dan akhirnya setelah obrolan basa basi, ayah Lukman langsung membicarakan inti dari kedatangan mereka. Yaitu tentang perjodohan antara Haura dan Agam, sontak hal itu membuat Haura terkejut.
"Apa? Gue dijodohin sama cowok ini?"pekik Haura dalam hati sembari menatap ke arah Agam.
"Sayang, maafin mami sama papi ya. Baru kasih tau sekarang, soalnya kami gak mau kamu kepikiran di saat kamu masih sekolah."jelas mami Erin lembut, karna melihat Haura yang terdiam.
"Dan kedatangan kami hari ini juga, ingin langsung menetapkan tanggal pernikahan kalian."ucap Ayah Lukman membuat Haura semakin kaget.
"Pi, Mi masa langsung nikah? Haura kan baru ketemu, kita sama-sama belum saling kenal."ucap Haura tiba-tiba.
"Gak apa-apa sayang, perkenalan setelah menikah jauh lebih menyenangkan. Apalagi kalian juga bakalan bebas ngapain aja kan?"goda papi Erick tersenyum.
"Kamu tenang aja sayang, Agam baik kok. Tante jamin, dia gak akan mungkin ngecewain."ucap bunda Niken membanggakan Agam dengan yakin.
Haura kembali bertatapan dengan Agam, inginnya sih menolak tapi entah mengapa ucapan penolakannya tak bisa dia ungkapkan. Yang pada akhirnya Haura hanya bisa pasrah menerima perjodohan yang sudah diatur kedua orangtuanya.
"Jadi sepakat ya, pernikahannya diadakan minggu depan sebelum Haura dan Agam masuk kampus?"tanya ayah Lukman memastikan kembali.
"Iya dong, lebih cepat lebih baik."jawab papi Erick dengan yakin.
"Selama seminggu ini, kalian bisa manfaatin waktu untuk saling mengenal. Urusan persiapan nikahan kalian serahin aja sama kita berdua. Pokoknya kalian terima beresnya deh,"ucap mami Erin dengan sangat semangat.
Haura dan Agam hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah.
Menjelang sore, keluarga ayah Lukman pamit pulang. Selanjutnya mereka akan sibuk dengan tugasnya masing-masing untuk persiapan pernikahan Haura dan Agam.
Saat ini Haura tengah duduk di depan kedua orangtuanya sembari melipat kedua tangannya di d**a. Menatap kedua orangtuanya dengan tatapan yang dibuat setajam mungkin, namun bukannya terlihat sedang marah malah lebih terlihat lucu di mata kedua orangtuanya itu.
Dengan menahan tawa, papi Erick dan mami Erin hanya bisa terdiam menunggu anak perempuannya itu bicara.
"Papi sama Mami kok tega sih sama Haura?"ucap Haura pada akhirnya setelah cukup lama terdiam.
"Tega? Tega bagaimana sih sayang?"tanya papi pura-pura tak mengerti.
"Ya tega, kenapa baru bilang sekarang kalo Haura dijodohin kayak gini? Dan kenapa harus dijodohin segala sih? Mana langsung nikah lagi, gak ada PDKT an dulu!"gerutu Haura meluapkan kekesalannya.
"Jadi, kamu pengen PDKT dulu? Kan bisa tuh seminggu sebelum nikah kalian PDKT dulu,"goda papi Erick semakin membuat Haura kesal.
"Ish papi mah. Ya masa PDKT cuma seminggu?"protes Haura tak terima.
"Ya gak apa-apa sayang. Kan masih bisa nanti setelah nikah PDKT nya."
"Pi, tapi kan Haura baru mau masuk kuliah. Masa udah nikah aja sih? Gak bisa nanti aja gitu setelah Haura lulus kuliah?"
"Gak bisa dong sayang. Ini udah jadi rencana papi sama Om Lukman dari awal. Udah sekarang gak usah cemberut gitu ah, kamu juga gak nolak kan? Meskipun nanti kamu udah nikah, kamu masih bisa tetep kuliah kok. Dan nanti, Agam juga bakalan satu kampus sama kamu."terang papi Erick membuat Haura tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Assalamu'alaikum!"salam Yogi yang baru saja datang.
"Kak Yogi!"teriak Haura yang langsung berlari memeluk sang kakak. "Kakak kok baru dateng sih? Jadinya kan gak bisa bantuin Haura tadi,"adu Haura dengan manja.
"Bantuin apaan De?"tanya Yogi sembari mengurai pelukannya, menatap sang adik dengan lembut.
"Ya masa tadi Haura dijodohin sih sama anak sahabatnya papi? Mana nikahnya minggu depan lagi, kan Kak Yogi juga belum nikah masa Haura mau langkahin kak Yogi?"ucap Haura mengebu-gebu.
Yogi yang mendengarnya hanya bisa terkekeh sembari mengelus puncak kepala Haura.
"Sayang, kakaknya baru pulang bukannya di ajak duduk malah diajak curhat."sindir mami Erin tersenyum.
Haura pun akhirnya menarik lengan sang kakak untuk duduk di atas karpet bulu berhadapan dengan papii Erick dan mami Erin.
"Kak, bantuin Haura dong.. Bujuk papi sama mami biar gak nikahin Haura minggu depan."rengek Haura setelah mereka duduk.
"Adek sayang, enak loh nikah."goda sang kakak tersenyum jail.
"Ish kak Yogi nih bukannya bantuin juga!"
"Haha, udah ah gak usah sok ngambek gitu. Kakak udah kenal kok sama calon suami kamu, dia tuh anaknya asik ya meski rada pendiem sih. Jadi nantinya kamu gak akan nyesel deh nikah sama dia."
"Ya tapi masa iya Haura langkahin kak Yogi sih? Kakak aja belum nikah, masa Haura nikah duluan?"
"Ya gak apa-apa, kakak gak keberatan sama sekali kok. Lagian, setelah lulus nanti kakak juga bakalan nikah."ucap Yogi tenang.
Yogi memang sudah mempunyai seorang kekasih, yang sudah sejak 3 tahun ini menjalin hubungan. Dan rencananya setelah lulus kuliah nanti Yogi akan segera melamar sang kekasih.
"Jadi, kak Yogi sama kak Linda mau nikah tahun depan?"tanya Haura tak menyangka.
"Iyalah, masa iya pacaran terus? Udah ah, kakak capek. Pi, Mi Yogi ke kamar dulu ya."Yogi pun segera berdiri dan berjalan menuju kamarnya di lantai 2 yang bersebelahan dengan kamar Haura.
"Tuh kakak kamu saja sudah setuju, jadi gak usah khawatir lagi. Pokoknya kamu tenang aja, oke! Udah sekarang Papi sama Mami mau ketemu sama pihak wo dulu, yuk sayang kita pergi sekarang aja."ajak mami Erin tanpa memperdulikan lagi kegalauan Haura.
"Ish, nyebelin deh!"gerutu Haura sembari berjalan menuju kamarnya.