Setelah kemarin dibuat syok karna berita perjodohannya yang terkesan tiba-tiba, pagi ini Haura lagi-lagi harus menerima kejutan yang tak terduga. Kedatangan Agam yang katanya ingin mengajak Haura untuk jalan-jalan, membuat Haura dengan terpaksa lagi-lagi harus membatalkan acara rebahan cantik di atas kasur kesayangannya.
"Gila, pagi-pagi gini udah dateng aja. Ngedadak pula! Hugh nyebelin, kalo aja gue gak takut jadi anak durhaka. Udah kabur aja nih dari rumah! Sayang gue nya takut,"gerutu Haura yang baru saja beres mandi.
"Sayang, kok belum siap sih?"tiba-tiba mami Erin masuk ke kamar Haura.
"Ish mami, untung aja aku udah pake baju. Bikin kaget aja."
"Maaf sayang, mami kira kamu udah siap. Ayo dong, tuh kasian nak Agam nya nungguin dari tadi loh."ujar mami Erin yang sudah duduk di tepi ranjang menghadap Haura yang tengah menyisir rambutnya.
"Biarin aja lah Mi, suruh siapa coba jam 7 udah dateng? Di mana-mana juga kalo bertamu itu datengnya agak siangan."jawab Haura ketus.
"Hush gak boleh gitu ah! Udah sini mami bantuin kamu dandan,"
"Ngapain harus dandan sih Mi? Gini aja udah cantik Haura tuh,"ucap Haura penuh percaya diri.
"Ya memang, tapi tetep dong harus dandan. Masa mau jalan sama calon suami biasa-biasa aja sih?"mami Erin pun mulai mendandani Haura meski yang didandani masih menekuk wajahnya bete.
Setelah menghabiskan waktu 10 menit memakai make up juga menata rambut Haura, akhirnya mami Erin selesai dengan tugasnya. Kini Haura nampak cantik walau hanya dengan memakai make up tipis juga rambut yang di kepang ala-ala gadis Korea.
"Nah sekarang kan terlihat lebih cantik."puji mami Erin penuh bangga. Sedangkan Haura hanya memutar matanya malas.
Udah yuk, sekarang kita temuin nak Agam."ajak Mami langsung menarik lembut pundak Haura. Dengan langkah gontai Haura hanya bisa pasrah mengikuti sang Mami hingga mereka berdua tiba di hadapan Agam yang kini tengah mengobrol dengan Yogi.
"Wiiihh cantik bener nih adek nya kakak!"goda Yogi tersenyum genit pada Haura.
"Haura emang udah cantik dari lahir kak, kalo kakak lupa!"balas Haura cuek yang langsung duduk di sofa tunggal yang berhadapan dengan Agam.
Bertepatan dirinya duduk, saat itu juga pandangannya bertubrukan dengan tatapan Agam yang menurutnya terlihat, ah begitulah.
"Gila cakep banget, perasaan kemarin penampilannya gak sekeren sekarang deh."ujar Haura dalam hati mengagumi Agam yang kini tampil dengan memakai hoodie berwarna hitam dan celana jeans senada dengan warna hoodienya.
"Dia makin terlihat cantik aja sih! Padahal cuman pake make up tipis gitu. Ah, kayaknya gue gak akan nyesel deh di jodohin sama dia."gumam Agam dalam hati yang juga terpana melihat tampilan Haura yang kini memakai kaos putih polos dipadukan dengan rok overall di bawah lutut. Membuatnya terlihat sangat manis juga cantik tentunya.
"Ekhem!"deheman dari sang kakak membuat pandangan mereka terlepas. Reflek langsung mengalihkan pandangan masing-masing ke sembarang arah.
"Kalo liat-liatan terus kapan berangkatnya dong? Bisa kali tatapannya dilanjut nanti."goda Yogi semakin membuat Haura dan Agam terlihat malu. Malah hampir membuat kedua pipi mereka semerah tomat.
"Ish apaan sih kakak, daritadi julid mulu!"ketus Haura melempar bantal sofa pada kakaknya itu.
"Udah-udah katanya tadi mau cari sarapan dulu. Keburu siang loh ini,"ucap sang mami melerai pertikaian antara kedua adik kakak itu.
"Yaudah tante, eh Mami Agam ajak Haura pergi dulu ya."ucap Agam sambil berdiri menghampiri mami Erin untuk mencium tangannya. Sejak kemarin mereka setuju dengan perjodohan yang direncanakan kedua orangtua mereka, maka panggilan dari Om dan Tante pun telah berubah sesuai dengan panggilan mereka di rumah.
"Iya, hati-hati ya!"ucap mami Erin. Setelah berpamitan, Agam dan Haura pun keluar menuju mobil Agam yang sudah terparkir di halaman rumah.
Dengan sigap Agam pun membukakan pintu mobilnya untuk Haura. Haura merasa tersanjung atas sikap Agam seperti itu, dengan canggung Haura pun masuk dan duduk dengan manis juga debaran jantungnya yang tiba-tiba bekerja lebih cepat tak seperti biasanya. Setelah pintu tertutup, Agam pun segera berjalan menuju kursi kemudi.
Agam melirik ke arah Haura saat dirinya memasang seatbelt. Ternyata Haura belum memasang seatbelt, akhirnya Agam pun melepas kembali seatbelt miliknya. Agam mencodongkan tubuhnya ke arah Haura, sehingga tatapan mereka kembali bertemu. Sejenak mereka saling terkunci dalam tatapan penuh kagum.
"Ya allah, ni cowok cakep banget sih kalo diliat dari deket gini. Eh, tapi dia mau ngapain deket-deket gini?"gumam Haura merasa gugup
"Cantik. Mulai sekarang lo milik gue Haura!"gumam Agam dalam hati.
"Lo mau ngapain?"tanya Haura setenang mungkin.
klik
"Kita gak akan mulai jalan kalo Lo belum pasang seatbeltnya."ucap Agam yang diakhiri dengan senyuman manis membuat Haura yang melihatnya semakin berdebar.
"Udah siap kan?"tanya Agam menyadarkan kembali Haura dari kehaluannya.
"Eh, i iya udah kok."jawab Haura terbata-bata gugup. Setelahnya Agam pun segera melajukan mobilnya keluar dari pelataran rumah milik keluarga Haura.
Mendadak Haura yang super ceria yang biasanya selalu ngoceh, menjadi diam tak berkutik. Daritadi dirinya terus mencoba untuk menenangkan debaran jantungnya yang terus berdetak tak karuan. Hanya karna sikap Agam saat memasangkan seatbelt tadi.
"Lo mau sarapan apa?"tanya Agam memecah keheningan di antara mereka sejak tadi.
"Eh? Emm, apa aja sih yang penting mengenyangkan."jawabnya sesantai mungkin menutupi rasa gugupnya.
"Oke."
Setelah 20 menit di perjalanan, akhirnya Agam menepikan mobilnya di dekat penjual nasi kuning dan juga nasi uduk yang terletak di sebuah jongko di pinggir jalan. Untung saja di tempat itu tersedia juga tempat parkir, jadi memudahkan Agam untuk memarkirkan mobilnya tanpa harus menghalangi pengendara yang lain.
"Gak apa-apa kan kita makan di sini aja? Tenang aja, makanannya dijamin enak dan tempatnya juga bersih kok."ujar Agam sebelum turun dari mobilnya.
"Iya gak apa-apa kok, nyantai aja kali. Gue juga sering makan di pinggir jalan kayak gini."
"Bagus kalo gitu, yuk turun!"Agam dan Haura pun turun dari mobilnya dan segera menuju jongko yang memang sudah menjadi tempat biasa Agam membeli sarapan.
"Lo udah sering ya makan di sini? Kayaknya tadi si ibu nya udah kenal gitu sama Lo,"tanya Haura setelah mereka duduk di tempat lesehan yang tersedia di sana.
"Ya bisa di bilang gitu. Kebetulan kan dulu gue sekolah di SMA itu. Jadinya sering sarapan di sini kalo gak keburu sarapan di rumah."ucap Agam menunjukkan letak sekolah menengah atas yang tak jauh dari jongko tersebut.
"Oh gitu pantesan."tak lama pesanan mereka pun datang, mereka pun memilih untuk menikmati sarapan mereka tanpa banyak bicara.
Sesekali Agam terus mencuri-curi pandang ke arah Haura. Merasa senang karna Haura terlihat menikmati makanannya, itu berarti dia tak salah tempat mengajaknya ke tempat itu. Sejak pertama bertemu dengan Haura, Agam memang langsung jatuh hati padanya. Meski dirinya belum mengetahui bagaimana perasaan Haura padanya, Agam bertekad untuk menjaga dan membuat Haura bahagia setelah mereka menikah nanti.
"Gimana, enak kan?"tanya Agam setelah mereka menghabiskan sepiring nasi kuning juga nasi uduk untuk pesanan Haura.
"Iya enak banget, rasanya ampir sama kayak nasi uduk buatan nenek gue tau gak? Cuman sayang ya, letaknya agak jauh dari rumah gue. Coba aja kalo deket, tiap pagi gue bisa sarapan di sini."ucap Haura penuh semangat.
"Lo tenang aja, nanti juga Lo bisa kok sarapan di sini tiap hari."
"Gimana bisa?"Haura mengernyitkan keningnya heran.
"Karna nanti kita bakalan tinggal di daerah sini."jawab Agam enteng.
deg!
"Kita? Ah iya gue lupa, kalo minggu depan kan kita bakalan nikah."gumam Haura dalam hati.
"Yuk kita pergi, gue mau ajak Lo ke suatu tempat."ajak Agam yang sudah berdiri hendak membayar pesanan mereka.
"Hah? Mau kemana?"Haura pun segera menyusul Agam.