Agam masih mengendarai mobil BMW series 3 miliknya yang berwarna biru dengan kecepatan sedang. Entah akan dia ajak kemana Haura, yang jelas senyuman di bibirnya tak pernah lepas semenjak dari tempat tadi mereka sarapan bersama. Membayangkan saat-saat di mana nanti mereka akan tinggal satu atap setelah menikah nanti.
Berbeda dengan Haura yang malah mendadak menjadi gugup, bayangan tadi saat Agam begitu dekat dengannya sungguh membuat kerja pada jantungnya menjadi lebih cepat dari biasanya. Pikirannya melanglangbuana, setelah ucapan Agam saat tadi mereka di tempat sarapan. Bayangan setelah menikah nanti membuatnya tanpa sadar kini telah meremas kedua tangannya hingga membuat kedua tangannya menjadi merah.
Entah mengapa Haura malah membayangkan hal-hal yang belum pernah dirinya lakukan bila berdua dengan seorang lelaki. Dan itu sukses membuat kedua pipinya merona merah. Agam yang melirik ke arahnya hanya mengernyit heran, dan saat melihat kedua tangan Haura yang masih saling meremas tiba-tiba saja Agam mengulurkan sebelah tangannya pada tangan Haura.
Agam langsung mengambil sebelah tangan milik Haura dan menggenggamnya.
"Kasian dong tangannya kalo Lo remas kayak gitu. Tuh tangan lo sampe merah gitu,"ucap Agam tersenyum melirik sekilas ke arah Haura.
"Eh? I iya gak apa-apa kok. Gak sadar aja tadi,"ucap Haura salah tingkah. "Nyaman banget tangannya."gumam Haura dalam hati seraya melihat tangannya yang digenggam erat oleh Agam.
"Tangannya lembut banget, gue jadi gak pengen lepas nih tangan."gumam Agam dalam hati tersenyum.
Sepanjang perjalanan, Agam masih terus menggenggam tangan Haura dan Haura pun tak berniat untuk melepas genggaman tangan Agam. Agam dengan perasaan nyamannya sedangkan Haura yang semakin merasa gugup namun juga nyaman.
Akhirnya setelah kurang lebih 35 menit di perjalanan, mereka tiba di sebuah taman yang sangat indah. Karna taman itu berisikan berbagai macam-macam bunga-bunga cantik. Sampai-sampai Haura dibuat terpana melihatnya. Begitu Agam selesai memarkirkan mobilnya, Haura segera membuka pintu dan turun dari mobil tanpa menunggu Agam.
Agam pun tersenyum melihat sikap Haura yang terlihat begitu menyukai taman itu.
"Gak salah berati gue bawa dia ke sini. Lucu banget sih dia,"gumam Agam lirih sebelum akhirnya dia pun segera menyusul Haura.
"Indah banget woy tempatnya! Gue baru pertama kalo ke sini dan baru tau juga sih kalo ada taman kayak gini."seru Haura saat Agam sudah berdiri di sampingnya. Sepertinya Haura sudah menghilangkan rasa gugupnya karna saking kagumnya dengan tempat itu.
"Syukurlah kalo lo suka tempat ini. Yaudah yuk kita masuk!"Agam berjalan lebih dulu yang langsung diikuti oleh Haura di belakangnya.
Haura terus mengedarkan pandangannya menikmati pemandangan sekitar taman, tanpa mengetahui Agam sudah berhenti dan berdiri menghadap dirinya. Yang akhirnya Haura pun menabrak d**a bidang milik Agam. Bila saja Agam tak sigap memeluk punggung Haura, mungkin kini dirinya sudah jatuh dan merasakan sakit juga malu.
Seketika pandangan mereka saling terkunci. Diam-diam saling mengagumi satu sama lain.
"Kamu cantik."gumam Agam lirih tanpa sadar, walau masih terdengar jelas di telinga Haura. Dan hal itu kontan saja membuat Haura kembali harus merasakan debaran jantung yang berdetak kencang. Juga pasti dengan kedua pipi yang merah merona.
"Sorry, sorry. Lo gak apa-apa kan?"tanya Agam yang sudah tersadar dari keterpanaannya. Namun, belum mau melepaskan pelukannya.
"Eh, iya gue gak apa-apa kok. Emm, sorry boleh lepas dulu gak?"ujar Haura seraya mengisyaratkan dengan matanya yang tertuju pada pelukan Agam.
Agam yang tersadar masih memeluk Haura pun langsung melepaskan pelukannya dengan wajah yang sudah memerah.
"Sorry."ucapnya singkat seraya mengusap tengkuknya. Haura hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Yaudah kita lanjut jalan lagi?"sambungnya dan langsung berbalik berjalan kembali di depan Haura.
"Hugh, gila bisa-bisa gue bisa kena penyakit jantung ini kalo terus-terusan deket sama dia!"gerutu Haura pelan yang mengikuti Agam di belakangnya.
Agam dan Haura terus berjalan menyusuri setiap sudut taman bunga itu. Karna Haura yang begitu menikmati pemandangan di sana. Sesekali Haura pun meminta Agam untuk memfoto dirinya dan juga Agam yang diam-diam mengambil gambar dirinya tanpa sepengatahuan Haura.
Setelah merasa lelah, Agam meminta Haura untuk duduk terlebih dahulu di bangku panjang yang memang disediakan di sana. Sedangkan Agam pamit untuk membelikannya minuman, di taman itu memang juga terdapat beberapa penjual makanan ataupun minuman. Namun, keberadaan mereka tentu bukan di lingkungan sekitar taman bunga.
"Nih minum dulu!"Agam mengasongkan sebotol minuman segar ke hadapan Haura.
"Makasih."ucapnya singkat seraya menerima minuman itu dan segera membukanya.
"Lo kuliah di mana?"tanya Agam setelah melihat Haura selesai minum.
"Kampus Lesmana."jawabnya singkat tanpa menoleh.
"Oh, ya jelas kampus milik papi Erick kan."ucapnya terkekeh.
"Iyalah, tadinya sih gamau di sana. Tapi, ya gimana karna itu kampus milik papi dan kak Yogi juga ada di sana. Gue ya harus di sana juga, biar aman katanya."jelas Haura.
"Gue juga di sana kok, jadi lo bakalan lebih aman nantinya."ucap Agam yang kini tersenyum menatap Haura.
"Ish apaan sih? Emang kalo gue beda kampus bakalan gak aman?"protes Haura dengan nada bercandanya.
"Yaiyalah, nanti kalo lo digodain sama cowok resek gimana? Setidaknya kan kalo di kampus Lesmana ada gue sama Kak Yogi, yang bakalan jagain Lo. Apalagi gue yang bakalan jaga lo 24 jam."jelas Agam dengan santainya.
Haura terdiam mendengar perkataan Agam, yang mengatakan dirinya siap menjaga Haura selama 24 jam. Kan jadi baper Haura.
"Ya ya thanks lah.."ucap Haura tak ingin lagi memperpanjang. Takutnya dirinya akan benar-benar terkena serangan jantung dadakan.
Ada jeda di antara mereka, setelah obrolan tadi yang membuat mereka saling diam menikmati pemandangan indah di depan mata mereka. Hingga, Haura kembali bersuara.
"Lo kenapa terima perjodohan ini?"tanya Haura tiba-tiba mengeluarkan rasa penasarannya yang dari sejak kemarin dia pikirkan.
"Ya karna gue gak mau lah jadi anak durhaka yang gak mau nurutin apa kemauan orangtua gue sendiri."jawabnya tegas tanpa menoleh pada Haura.
Haura manggut-manggut, karna itu pula yang jadi alasan terakhirnya untuk menerima perjodohan mereka. Awalnya Haura tak ingin menerima perjodohan ini, hanya saja dia tak ingin membuat kedua orangtuanya kecewa. Apalagi sampai menyebutnya anak yang durhaka karna tak mau menuruti keinginan kedua orangtuanya itu.
"Tapi, apa lo gak punya pacar gitu? Gue gak mau ya, nanti tiba-tiba ada cewek yang marah-marah sama gue karna udah rebut cowoknya."seru Haura menatap tajam pada Agam.
"Haha. Ya enggaklah lo tenang aja. Kalo gue siap nerima perjodohan ini, itu berarti gue free. Gue gak ada ikatan apapun sama siapapun."Agam tersenyum manis menatap Haura yang kini tengah menahan senyumnya.
"Dan gue pastikan Lo adalah satu-satunya cewek yang bakalan ada di hati gue."ucapnya tulus namun, Haura menganggapnya itu hanyalah gombalan biasa para pria.
"Gombal banget sih lo!"ujar Haura memalingkan wajahnya dari Agam.
"Ya terserah sih kalo lo belum bisa percaya sama gue. Toh nanti lo bisa ngerasainnya sendiri, tanpa harus gue bilang terus sama lo."
"Oke oke, kita liat aja nanti."
"Terus Lo sendiri gimana? Biasanya kan cewek seumuran lo itu apalagi yang baru lulus SMA gitu, pasti punya cowok kan? Atau kalo enggak gebetan lah."ujar Agam sok tau.
"Siapa bilang ah? Gak semua kali, contohnya gue."
"Maksudnya Lo gak ada cowok atau gebetan gitu?"
"Hem. Lagian gue males kalo harus pacaran waktu sekolah. Ya jujur sih sempet ada deket sama cowok, tapi belum juga pacaran udah sok sok ngatur ini itu. Gue gak suka."
"Kalo nanti gue atur lo ini itu gimana, lo gak suka dong?"tanya Agam membuat Haura menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kalo itu sih... Yaa beda lagi sih,"jawabnya sembari menunduk malu.
"Jadi, lo bakalan nurut gitu sama gue?"goda Agam dengan senyuman tipisnya.
"Ya ya tergantung sih."
"Tergantung?"Agam menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Iya tergantung, lo nyuruhnya apa dulu. Terus yang lo larang itu apa, kalo emang masuk akal ya gue pasti nurut lah."
Agam hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari calon istrinya itu.