Menjelang Hari H

1129 Words
Setelah acara kencannya hari itu, Haura dan Agam tak pernah saling bertemu lagi. Itu karna para orangtua yang menyuruh mereka untuk melakukan prosesi pingitan. Yang mau tak mau harus mereka berdua patuhi. Padahal Haura ingin menikmati masa-masa liburannya dengan berjalan-jalan. Ini malah berakhir di atas kasur lagi dan lagi, sambil menonton drama Korea juga Thailand favoritnya. Haura Pov Rasanya bosen banget, harus terus diem di rumah gak bisa kemana-mana. Kenapa sih harus ada acara pingitan segala. Lagian gue juga gak akan tuh ketemu sama dia, gue tuh cuman pengen jalan-jalan. Author Pov Karna merasa bosan, Haura pun keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga di mana hampir seluruh keluarga besarnya yang dari luar kota sudah berkumpul untuk membantu sang Mami mempersiapkan acara pernikahan yang akan diselenggarakan 2 hari lagi. "Eh calon manten kok wajahnya lecek gitu sih? Kayak baju yang udah lama ketumpuk belum disetrika tau gak?"ujar salah satu sepupu Haura yang memang seumuran dengannya. "Hush, gak boleh gitu dong sayang. Masa calon manten kita yang cantik ini disamain sama baju kusut."tegur sang tante yang memang ibu dari perempuan yang baru saja meledek Haura. "Mi, Haura beneran gak boleh keluar nih?Bosen Mi di rumah terus ini."keluh Haura tanpa menghiraukan ledekan dari sang adik sepupu. "Gak boleh sayang. Kalo kamu bosen, tuh ngobrol aja sama sepupu-sepupu kamu. Atau bikin game apa gitu yang seru, ya kan Fa?"ucap Mami meminta dukungan dari Rifa sepupu Haura. "Ouh pasti dong Wa, yuk Hau kita ke halaman belakang. Tuh yang lain lagi pada kumpul di sana."ajak Rifa yang langsung menarik tangan Haura sebelum dirinya mendapatkan jawaban. Mau tak mau Haura pun hanya bisa pasrah mengikuti Rifa, sepupunya itu. Dan benar saja para sepupu yang lain sudah berkumpul di sebuah gazebo yang ada di halaman belakang rumah milik Haura. Mami Erin memang anak tertua dari 3 bersaudara, sedangkan papi Erick itu anak bungsu dari 4 bersaudara. Karna hampir semua kakak-kakak papi Erick berada di luar negeri, maka mereka tak bisa datang tepat waktu karna terhalang urusan pekerjaan. Yang bisa hadir hanya kakak ketiga papi Erick yang memang tinggal satu kota. "Waahh calon manten nih, sini sini duduk-duduk bareng kita di sini!"teriak salah satu sepupu Haura. "Lagi pada ngapain sih?"tanya Haura yang kini sudah mendudukkan dirinya di tengah-tengah para sepupunya. "Nih kita lagi main kartu, mau ikutan gak?" "Ah, bosen. Ada permainan yang lain gak?"tanya Haura menatap 3 orang sepupunya yang berada di gazebo bersama dirinya. Sepupu yang memang seumuran dengan dirinya hanya 3 orang termasuk Rifa, sedangkan yang lainnya masih pada bocah alias masih berusia balita juga. "Heum gimana kalo kita main TOD aja?"usul Ardi sepupunya yang merupakan anak dari adik kedua mami Erin. "Nah iya kita main itu aja, seru tuh kayaknya!"seru Rifa semangat, gadis SMA yang tahun ini baru masuk kelas 12. "Semangat bener neng, pasti karna mau ngerjain kita-kita kan lo?"selidik Rafi yang merupakan anak dari adik bungsu mami Erin, alias kembaran Rifa. "Ya dong, kapan lagi coba. Hahaha!"Rifa tertawa lepas yang dibalas dengusan oleh ketiga saudaranya itu. "Yaudah-yaudah, buruan mainnya malah ribut aja dari tadi!"ujar Haura. "Oke bentar gue cari botol dulu!"Ardi langsung berlari menuju dapur untuk mencari botol bekas yang akan mereka gunakan untuk bermain. "Nih, siapa yang mau duluan?"Ardi meletakkan botol kecap bekas di tengah-tengah, sedangkan mereka sudah duduk melingkar menghadap pada botol itu. "Kita suit aja deh, biar adil. Yang kalah terakhir berarti dia yang duluan."usul Rifa, yang langsung diangguki yang lainnya. Mereka pun melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan memutar duluan botolnya. "Nah lo tuh duluan puterin botolnya!"Ardi segera memutar botol kecap itu dengan cukup keras. Hingga putarannya berhenti tepat di depan Rifa. "Yah ko gue duluan sih?"keluh Rifa sedikit tak terima. "Udah sekarang lo pilih truth or dare?"tanya Ardi tersenyum menyeringai. Karna dirinya nanti yang akan memberikan pertanyaan ataupun tantangan untuk Rifa. "Yaudah deh gue pilih truth aja,"jawabnya sedikit lesu. "Oke. Jawab pertanyaan gue dengan sejujur-jujurnya!"ucap Ardi sok dramatis. "Ih buruan deh,"seru Rifa yang sudah merasa tak sabar. "Emm, gue tau lo udah punya cowok. Nah yang jadi pertanyaan nya adalah, apakah lo udah pernah ciuman sama cowok lo itu?"tanya Ardi santai sembari tersenyum menyeringai, melihat ekspresi dari sepupunya itu. "Ish pertanyaannya gak ada yang lain apa?"sungut Rifa tak terima, wajahnya pun kini sudah memerah. Entah karna marah atau malu. "Gak ada. Udah tinggal jawab aja sih," "Iya nih, ayo gak usah malu-malu dek. Jawab aja, kita juga gak akan bilang ke mama papa lo kok."ujar Haura yang juga penasaran dengan jawaban Rifa. Rifa menatap ke arah para kakak-kakaknya dengan tatapan yang sulit di mengerti. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya secara kasar, Rifa pun mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Ardi. "Gue...udah pernah."jawabnya lirih nyaris tak terdengar. Rifa pun langsung menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu. Sejenak ketiga kakaknya terdiam, saling pandang. Hingga Rafi sang kembaran teriak heboh. "Waah parah lu dek! Pacarannya gak sehat tuh!"teriak Rafi ngegas. "Sssttt!"Rifa langsung membekap mulut sang kakak dengan tangannya. "Heh, lo apa-apaan sih malah teriak-teriak gitu?! Kalo para orangtua denger gimana ih!"ucap Rifa kesal. Sedangkan Ardi dan Haura tertawa lepas melihat pertengkaran antar sodara kembar di depannya itu. "Heh, Raf bilang aja lo sirik ye kan? Lo kan jomblo, hahaha"ledek Ardi yang semakin tertawa heboh. "Gak, mana ada gue sirik! Gue gak suka aja, nih kembaran gue pacarannya gak sehat! Apalagi dia tuh cewek, masa mau-maunya sih dicium-cium gitu "ujar Rafi serius. "Ih, gue cuman sekali aja tau ciumannya. Itupun gak sengaja, suer deh!"Rifa mengangkat jari telunjuk dan tengahnya ke hadapan Rafi. Dia pun merasa tak enak pada kembarannya itu, karna sudah membuatnya khawatir. "Awas aja lo kalo ciuman ciuman lagi sama cowok lo itu, gue pasti bakalan bikin kalian putus!"ancam Rafi menatap tajam Rifa. "Iya iya ah, gak usah gitu juga dong!"ujar Rifa lesu. "Udah udah, lanjut aja deh game nya. Yok de, sekarang lo puter tuh botolnya!"titah Haura. Rifa pun segera memutar botol itu dengan sedikit lesu. Setelah beberapa kalo putaran dan hampir semua mendapat giliran, kini tiba Haura yang mendapat giliran. "Nah, sekarang giliran lo tuh! Ayo pilih mau apa?"tanya Rafi pada Haura. "Heumm, oke gue pilih dare aja deh."jawab Haura santai, seolah tak takut akan mendapat tantangan apapun itu dari sepupu-sepupunya. "Wah yakin nih, lo pilih dare?"tanya Rafi menyeringai. "Yakin lah, emang kenapa gue harus gak yakin segala." "Oke, karna lo seberani itu. Gue tantang lo untuk,"Rafi terdiam sejenak sembari mengeluarkan hp miliknya dari saku celananya. "Apaan sih Raf? Lo malah senyum-senyum gitu, lo tantang gue apaan?"tanya Haura gemas, karna Rafi belum juga menyebutkan tantangannya. "Sabar, gue mau cari dulu bentar."Rafi malah terus mengotak atik hpnya. Tak lama dia pun menyerahkan hp miliknya pada Haura. Haura menatap Hp yang disodorkan ke arahnya dengan tatapan bingung. "Maksudnya apa nih?"tanya Haura masih belum mau menerima hp Rafi. "Gue pengen lo telfon Agam sekarang juga. Dan bilang kalo lo kangen banget sama dia!"ucap Rafi dengan lantang. "Apa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD