Bab: 1
Lucas sedang sibuk dengan layar monitor di depannya, jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Setumpuk berkas berserakan di meja kerjanya.
"Kamu masih mau pura-pura sibuk, sayang?" suara Brielle terdengar lembut saat ia masuk tanpa mengetuk.
Lucas tidak langsung menoleh. "Aku memang sibuk, Brielle."
Brielle melangkah mendekat, berdiri di samping meja. "Atau kamu cuma berharap aku menyerah?"
Lucas menghela napas pelan lalu menutup laptopnya. "Aku berharap kamu berhenti memaksaku."
Brielle tersenyum tipis, pahit. "Kalau aku bisa berhenti, aku tidak akan ada di sini."
Lucas bangkit, menatap istrinya dengan mata penuh kelelahan. "Aku sudah bilang, aku tidak akan melakukannya."
Brielle menelan ludah. "Keluargamu tidak akan berhenti menekan kita."
"Itu masalah mereka," jawab Lucas tegas.
"Itu masalah kita," sanggah Brielle cepat. "Mereka ingin penerus. Nama Carter tidak boleh berhenti di kamu."
Lucas menggeleng. "Aku tidak butuh anak dari perempuan lain."
Brielle menatapnya lama, matanya berkaca-kaca. "Tapi aku tidak bisa memberimu itu."
Ruangan mendadak terasa sesak.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu," suara Lucas melembut.
"Tapi mereka menyalahkanku," balas Brielle lirih. "Dan kamu yang akan menerima akibatnya."
Lucas meraih tangan istrinya. "Aku lebih memilih kehilangan segalanya daripada kehilanganmu."
Brielle menarik tangannya perlahan. "Aku tidak sekuat kamu, Lucas."
"Aku mencintaimu," katanya tanpa ragu.
Brielle menggeleng pelan. "Cinta tidak menghentikan dewan direksi."
Ia mengangkat wajahnya, tatapannya penuh permohonan. "Tolong lakukan ini. Demi kita."
Lucas memejamkan mata sejenak. "Kamu sedang memintaku melanggar satu-satunya hal yang kupegang."
Brielle berbisik, hampir tak terdengar. "Aku sedang memintamu menyelamatkan masa depanmu."
Lucas menarik istrinya ke dalam dekapannya. Brielle menurut, duduk di pangkuannya, tubuhnya terasa ringan namun hatinya berat. Ruangan itu hening, hanya napas mereka yang terdengar berirama tak sama.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?” suara Lucas rendah, nyaris berbisik. “Bagaimana mungkin ada seorang istri … yang meminta hal seperti ini?”
Brielle tidak langsung menjawab. Kepalanya bersandar di d**a Lucas, matanya terpejam sejenak.
“Aku berpikir,” ucapnya akhirnya, pelan, “bahwa aku kehabisan pilihan.”
Lucas mengeraskan rahangnya. “Kamu punya aku.”
“Aku punya kamu,” Brielle mengulang lirih, lalu tersenyum pahit. “Tapi kamu punya keluarga yang tidak pernah berhenti menuntut.”
Lucas menatap wajah istrinya, mencari sesuatu di sana. “Kamu sudah memilih gadis itu, bukan?”
Brielle membuka mata. “Ya.”
“Kapan?” tanya Lucas.
“Beberapa minggu lalu.”
“Namanya?”
Brielle menggeleng. “Tidak penting.”
“Itu penting bagiku,” suara Lucas bergetar. “Kamu membicarakan hidupku seolah ini kesepakatan bisnis.”
Brielle menggigit bibirnya. “Karena memang begitu cara mereka melihatnya.”
Lucas memeluknya lebih erat. “Aku tidak bisa menyentuh perempuan lain, Brielle. Bahkan membayangkannya saja membuatku muak.”
“Aku tahu,” jawab Brielle cepat. “Aku tahu kamu seperti itu. Justru itu yang membuatku … hancur.”
“Hentikan ini,” kata Lucas. “Aku mohon.”
Brielle mengangkat wajahnya, matanya basah. “Aku juga memohon, Lucas.”
Lucas terdiam. “Kamu sadar tidak, apa yang kamu minta dariku?”
“Aku sadar,” jawab Brielle, suaranya pecah. “Aku sadar setiap detiknya. Aku membencinya. Aku membenci diriku sendiri karena sampai pada titik ini.”
“Lalu kenapa kamu tetap melakukannya?”
“Karena aku istrimu,” jawab Brielle lirih. “Dan aku tidak bisa memberimu satu hal yang paling mereka inginkan.”
Lucas menutup matanya. Tangannya gemetar di punggung Brielle. “Itu bukan kesalahanmu.”
“Tapi tetap menjadi hukumanku,” balasnya pelan. “Setiap hari aku melihat cara mereka menatapku. Seolah aku cacat. Seolah aku penghalang.”
“Kita bisa pergi,” kata Lucas tiba-tiba. “Meninggalkan semuanya.”
Brielle tersenyum kecil. “Dan kamu akan kehilangan segalanya. Perusahaan, nama, hidup yang kamu bangun.”
“Aku rela.”
“Aku tidak,” sanggah Brielle. “Aku tidak sanggup melihatmu hancur karena aku.”
Lucas membuka mata, menatapnya dalam-dalam. “Dan kamu sanggup menghancurkan hatiku?”
Brielle terisak. “Aku sedang berusaha menyelamatkan masa depanmu.”
“Dengan mengorbankan dirimu.”
“Dengan mengorbankan perasaanku,” koreksinya. “Sedikit saja.”
Lucas menggeleng. “Tidak ada yang sedikit dari ini.”
Brielle menggenggam kerah kemejanya. “Aku tidak memintamu mencintainya. Aku hanya meminta … keturunan.”
“Dan setelah itu?” tanya Lucas. “Kamu pikir aku akan tetap sama?”
Brielle terdiam lama. “Aku tidak tahu.”
Lucas menempelkan keningnya ke kening Brielle. “Aku mencintaimu. Itu satu-satunya hal yang aku tahu dengan pasti.”
Air mata Brielle jatuh. “Itulah yang membuat permintaanku terasa paling kejam.”
***""**""***
Brielle baru saja meletakkan tasnya ketika sosok itu tertangkap di sudut pandangnya. Nyonya Vivian Carter duduk tegak di sofa ruang tamu, punggung lurus, tatapan tajam seperti sedang menilai kesalahan.
“Kamu baru pulang?” suara Vivian dingin tanpa basa-basi.
Brielle menghentikan langkahnya, menarik napas pelan. “Iya, Mom.”
“Dari mana?”
“Dari kantor Lucas.”
Vivian menyilangkan kaki, menatap Brielle dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Larut sekali untuk sekadar berkunjung.”
“Lucas masih bekerja. Aku tidak ingin mengganggunya terlalu lama.”
“Sebagai istri, seharusnya kamu lebih sering berada di sisinya,” ujar Vivian datar. “Bukan malah pulang sendirian.”
Brielle tersenyum tipis. “Aku tahu batasanku.”
Vivian mendengus kecil. “Kamu tahu banyak hal, Brielle. Tapi entah kenapa, satu hal terpenting belum juga kamu berikan.”
Brielle menegakkan bahunya. “Kalau Mom maksud keturunan—”
“Aku tidak suka mengulang hal yang sama,” potong Vivian cepat. “Bagaimana program bayi tabung itu?”
Brielle menelan ludah. “Semua berjalan lancar.”
Vivian menatapnya lama, seolah mencari celah kebohongan. “Lancar menurut siapa?”
“Menurut dokter,” jawab Brielle tanpa ragu, meski dadanya terasa sesak. “Kami mengikuti semua prosedur.”
“Kapan hasilnya?”
“Belum ada kepastian. Prosesnya tidak bisa dipaksakan.”
Vivian tersenyum tipis, dingin. “Yang bisa dipaksakan adalah kesabaran. Dan punyaku hampir habis.”
Brielle menggenggam jemarinya sendiri. “Aku mengerti kekhawatiran Mom.”
“Kamu mengerti?” Vivian bangkit berdiri. “Kalau benar-benar mengerti, seharusnya sekarang aku sudah menggendong cucu.”
“Itu bukan hal yang bisa diatur sesuka hati,” suara Brielle mulai menurun, namun tetap terkendali.
Vivian melangkah mendekat. “Atau mungkin … masalahnya ada padamu.”
Brielle terdiam.
“Aku sudah terlalu lama diam,” lanjut Vivian. “Lucas adalah satu-satunya pewaris. Nama Carter tidak boleh berhenti.”
“Aku tidak pernah berniat menghentikannya,” jawab Brielle cepat.
“Bukti,” kata Vivian singkat. “Aku butuh bukti.”
“Berilah kami waktu.”
“Waktu?” Vivian terkekeh sinis. “Aku sudah memberimu lebih dari cukup.”
Brielle mengangkat wajahnya. “Aku istri Lucas.”
“Dan aku ibunya,” balas Vivian tajam. “Jangan lupa posisi kita.”
Brielle menghela napas. “Aku mencintai Lucas.”
“Cinta tidak melahirkan pewaris,” jawab Vivian dingin. “Rahim melakukannya.”
Kata-kata itu menghantam keras.
“Aku harap Mom tidak perlu mengambil langkah lain,” ujar Brielle lirih.
Vivian menatapnya lurus. “Langkah apa?”
“Mencarikan wanita lain untuk Lucas.”
Hening sejenak.
Vivian tersenyum samar. “Aku senang kamu cukup pintar untuk memikirkannya.”
Jantung Brielle berdegup kencang. “Itu akan menghancurkan rumah tangga kami.”
“Rumah tangga tanpa keturunan sudah rapuh sejak awal,” jawab Vivian tenang. “Aku hanya mempersiapkan kemungkinan.”
Brielle menggeleng pelan. “Tolong … beri aku sedikit lagi waktu.”
Vivian mendekat, suaranya merendah namun mengancam. “Aku tidak peduli caramu. Medis, ilmiah, atau cara lain.”
Ia menepuk bahu Brielle pelan. “Yang aku inginkan hanya satu. Seorang pewaris.”
Brielle menahan napas. “Aku akan memberikannya.”
Vivian menatapnya tajam. “Pastikan itu bukan janji kosong.”
Ia berbalik menuju pintu. “Karena kalau kamu gagal, Brielle … aku tidak akan ragu menggantimu.”
Brielle berdiri terpaku, menatap punggung Nyonya Vivian yang sudah keluar dari Rumah–nya, senyum palsunya runtuh, menyisakan ketakutan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.