(7) Mantan

1173 Words
Mau tahu apa yang ingin aku lakukan saat ini? Meneriakkan di depan wajahmu, “Kemana kamu dulu, ketika aku berusaha mempertahankan hubungan kita?”. Kamu pergi. Membiarkan aku didekap sunyi... *** Shenin menatap kakinya yang mengetuk-ngetuk lantai. Sejujurnya, ia sedang merasa bosan, Shenin terpaksa menunggu kakak spupunya; Kalia yang sedang bimbingan sore ini. Yah, sebenarnya, memang bukan salah Kalia karena ini semua kemauan Shenin. Tadinya Shenin dan Kalia hendak pergi ke toko buku bersama dan Shenin berpikir kalau akan lebih efektif bila ia ikut bersama kakaknya sehingga Kalia tidak harus bolak-balik mengingat kampus cewek itu lebih dekat dengan toko buku yang mereka tuju. Berhubung Shenin tidak ada kegiatan, ia pikir berjalan-jalan di kampus Kalia sambil menunggu kakak sepupunya itu tak ada salahnya, tapi ternyata keputusan itu kini terasa cukup menyebalkan. “Nunggu siapa?” Shenin mendongak begitu merasa seseorang mengajaknya bicara yang sedetik kemudian ia sesali, karena menatap sepatunya jauh lebih baik daripada menatap cowok di hadapannya ini. Bertemu dengan mantan kekasihmu – kalau dalam kasus Shenin adalah gebetannya – disaat dirimu sedang termenung seorang diri bukanlah kebetulan yang baik untuk menghilangkan kebosanan, kan? “Sendirian aja?” cowok itu kembali bertanya ketika Shenin tidak menjawab pertanyaannya yang pertama. “Seperti yang lo lihat.” balas Shenin tak acuh. Kalau bisa, ia ingin pergi saja dari tempat ini sekarang juga, tapi sayangnya ia tak ingin terlihat pengecut. “Yang kemarin, itu pacar kamu?” Ada sesuatu yang menyentil hati Shenin saat mendengar pertanyaan Andro itu. Tidak, bukan karena apa yang cowok itu tanyakan, tapi lebih ke kata yang dipilih cowok itu di akhir kalimatnya. Kamu. Setelah ia dan Andro berpisah, cowok itu tidak pernah lagi menggunakan kata itu untuk memanggilnya. Oh, memang tidak. Karena sejak berakhirnya hubungan baik mereka, Andro dan Shenin bersikap seolah mereka tak saling mengenal. “Iya.” Jawab Shenin singkat. Sejujurnya, ia berusaha keras untuk mengabaikan Andro. Cowok itu harus tahu kalau Shenin tak lagi merasa kehadiran cowok itu penting untuknya. “Maaf ya, kalau aku ada salah.” Sungguh? Lo bikin gue pengin ketawa! Batin Shenin. Lucu juga mendengar Andro berkata seperti itu. Shenin ingat jelas bagaimana tatapan Andro kepadanya seminggu yang lalu ketika mereka bertemu di toko buku. Cowok itu jelas-jelas memberikan tatapan mengejek pada Shenin sebelum akhirnya Angkasa datang. Sepertinya, Andro senang melihat Shenin yang masih sendiri, sedangkan dirinya sudah bergonta-ganti pacar. Mungkin? “Oke.” kata Shenin. “Kamu nggak punya dendam kan sama aku?” Shenin tidak punya dendam. Shenin berharap demikian, tapi entahlah. Paling tidak, harusnya Andro sadar, ketika pertanyaannya hanya dijawab dengan singkat, itu artinya Shenin tidak ingin terus berbicara dengannya. Tentu saja Andro tidak mengerti. Memangnya, apa sih yang bisa dimengerti oleh cowok itu selama ini selain menyakiti hati cewek-cewek, termasuk Shenin?! “Udah lama kita nggak ngobrol bareng kayak gini.” Andro terlihat masih berusaha menemukan bahan obrolan yang tepat meski Shenin terang-terangan mengabaikannya. Shenin tertawa miris dalam hati. Yang kayak gini lo sebut dengan obrolan? Batinnya. “Kakak gue udah keluar. Gue duluan.” Itu Kalimat yang berhasil dikeluarkan Shenin dari mulutnya begitu melihat Kalia berjalan menuju halaman. “Semoga kita bisa ketemu lagi ya.” Cowok itu masih dengan percaya diri melemparkan senyumnya pada Shenin. Nggak, Dro. Nggak mau! Alih-alih menyuarakan isi hatinya, Shenin hanya mengangguk singkat dan bangkit untuk menghampiri Kalia. Shenin segera mengamit lengan kakaknya itu dan memaksa Kalia berjalan lebih cepat. Kenapa sih, Shenin bisa lupa kalau Andro dan Kalia satu kampus?! “Lo habis ketemu mantan jadi aneh banget gitu mukanya.” celetuk Kalia, iseng melihat Shenin yang sejak tadi tidak bersemangat. Tumben, padahal toko buku adalah tempat favorit adik sepupunya itu. “Sedih gue, Kak.” “Lo masih sayang sama Andro?” tebak Kalia. “Bukan gitu...” Shenin masih menggantungkan kalimatnya. “...gue hanya belum bisa percaya kalau dia meninggalkan gue gitu aja padahal kita udah dekat banget.” Kata Shenin, tampang memberengut kesal mengingat kejadian dulu. “Mungkin lo yang terlalu berharap sama Andro, kali. Jadi, ketika dia pergi, hal yang menurut dia biasa aja malah menyakitkan buat lo.” Simpul Kalia. “Ya gimana gue nggak berharap, dia perhatiannya aja keterlaluan. Kalau lo di posisi gue waktu itu, mustahil nggak ngarep juga. Nih, ya, Angkasa juga baik sama cewek-cewek yang suka sama dia, tapi dia tahu batasan.” Kata Shenin, tanpa sadar membandingkan Andro dan Angkasa. “Tapi, ya emang gue b**o juga, nggak paham kalau ternyata Andro gitu ke semua cewek.” Imbuhnya menyadari kesalahannya. “Nah, itu, lo kan sekarang udah punya Angkasa, Shen.” “Hubungan gue dan Angkasa itu cuma iseng-isengannya dia aja, Kak. Dia yang mengklaim kami pacaran.” “Tapi lo juga mau-mau aja, kan?” “Gue nggak menerimanya.” elak Shenin. “Dan lo juga nggak menolaknya.” “Ih, Kakak. Gue cuma membiarkan Angkasa melakukan apa yang dia mau sampai dia bosan dan berhenti mengganggu gue. Malas ambil pusing gue, tuh.” Kata Shenin membela diri. “Lo tahu, nggak? Angkasa akan berhenti, tapi nanti setelah berhasil mendapatkan perhatian lo sepenuhnya. Atau mungkin nggak akan berhenti sama sekali.” Kata Kalia iseng sambil menepuk bahu adik sepupunya itu. “Apaan, sih, Kak!” *** 0812467***** Test! SheninaLatisha Sorry, siapa ya? 0812467***** Harusnya lo save nomor pacar lo. Shenin mengangguk paham setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Nomor Angkasa rupanya. Ini pertama kalinya Angkasa mengiriminya pesan, itu juga alasannya kenapa Shenin tidak pernah menganggap serius pernyataan hubungan mereka yang disampaikan oleh Angkasa. Bagi Shenin, tidak ada orang pacaran sungguhan yang tahan kalau tidak berkirim pesan dengan kekasihnya, apalagi kalau status hubungannya baru berumur satu minggu. Shenin menyimpan nomor kontak Angkasa kemudian mengetikkan balasan untuk cowok itu. SheninaLatisha Bukan salah gw. Lo gapernah chat gw. Mana gw tau nomor lo! MusuhGue Cieeeee yg pengen banget gw chat. SheninaLatisha Males banget. Tanpa sadar Shenin memutar bola matanya dan mendengus, persis seperti apa yang akan dia lakukan kalau Angkasa sedang berada dihadapannya. Andromeda Shen... Shenin menatap pesan yang masuk ke ponselnya yang sempat dipikirnya adalah balasan dari Angkasa. Ia mengernyit, nyaris tak percaya pada nama pengirim yang tertera. Sejenak Shenin ragu apakah dirinya akan membalas pesan itu atau tidak, tapi kemudian dia mendapati dirinya sudah mengetikkan sebuah balasan. SheninaLatisha Ya? Andromeda Ini bener Shenin kan? Basa-basi-busuk seperti biasanya. Sangat khas Andro. SheninaLatisha Iya. Kenapa? Andromeda Shen... aku kangen... GUE NGGAK! Shenin mengetikkan pesan itu untuk kemudian dihapusnya sebelum sempat mengirimkannya. Shenin memang berharap kalau dia tidak merindukan cowok itu. Ia mengurungkan niatnya untuk membalas pesan Andro, jadi ditutupnya fitur chat di layar handphonenya. Ini cowok mabuk atau bagaimana, sudah punya pacar, masih bisa ya dengan santainya bilang kangen ke mantan. Batin Shenin. Shenin tahu persis, semua kata-kata manis yang akan dilontarkan Andro sepenuhnya hanya bualan. Kata-kata itu hanya akan terucap dari bibirnya, tapi tidak pernah benar-benar berasal dari hati cowok itu. Sebab itulah Shenin berusaha mengabaikannya, meskipun sejujurnya kalimat singkat yang dikirimkan melalu pesan saja sudah mampu membuat jantung Shenin memompa lebih cepat. Betapa tidak masuk akalnya, terkadang sebuah rindu yang disampaikan oleh seseorang yang pernah begitu berarti bagimu, bisa membangkitkan banyak rasa yang sudah lama terkubur begitu dalam. Shenin ingin tertawa. Menertawakan bagaimana dulu ia ditinggalkan dengan alasan Andro yang sangat tidak masuk akal. Shenin ingin berteriak dan memaki. Di depan wajah mantan kekasihnya itu. Tidak. Bahkan Shenin belum sempat memiliki hubungan seperti itu dengan Andro. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD