Terkadang, kamu terlalu menyebalkan. Sampai-sampai membuatku takut, kalau sikap menyebalkanmu lah yang nantinya akan aku rindukan...
***
“Ayo, naik!”
Shenin hanya menatap jok motor Angkasa, menimbang-nimbang apakah dirinya akan naik ke atas jok motor itu atau tidak.
“Lo mau disini aja dan diisengi mereka?” Tanya Angkasa.
“Tapi, motor lo nanti…” Shenin ragu melanjutkan jawabannya.
“Kena darah lo?” Angkasa yang melanjutkan ucapan Shenin. Cewek itu mengangguk, wajahnya memerah karena malu. Seharusnya Angkasa tidak semudah itu membahas masalah ini dengannya. Ini terlalu pribadi untuk Shenin, dan memalukan. Angkasa ternyata sangat menyebalkan.
“Lo mau naik apa? Angkot? Apa lo nggak lebih malu kalau meninggalkan noda di angkot dan dilihat banyak orang? Bukannya mendingan di jok motor pacar lo aja?”
Shenin hanya diam, padahal biasanya cewek itu akan mendebat Angkasa. Tetapi kali ini Angkasa ada benarnya, hanya saja akan tetap memalukan kalau sampai berbekas.
“Ah, kelamaan mikir. Ayo, naik aja!” Angkasa setengah menarik tangan Shenin membuat cewek itu menurut dan menerima helm yang diserahkan oleh Angkasa.
Angkasa setengah kesal sebenarnya pada Shenin, sejak di kelas tadi Angkasa yakin kalau ada sesuatu yang salah dengan cewek itu, tapi ketika ditanya Shenin hanya mengatakan tidak apa-apa. Khas cewek banget ketika sebenarnya sedang ada apa-apanya.
Untungnya, tadi Angkasa berinisiatif untuk menunggui cewek itu di dekat parkiran sehingga ketika Shenin dikerjai oleh Rudi, cewek itu nggak sampai benar-benar dipermalukan. Yah, meskipun sebenarnya Angkasa yakin kalau yang tadi itu saja sudah cukup membuat Shenin malu.
Angkasa akhirnya memarkirkan motornya di depan pagar rumah Shenin setelah di perjalanan tadi sempat berhenti di mini market terdekat dari sekolah karena pacarnya itu memaksa untuk membeli kebutuhannya sebelum bekas di roknya semakin banyak.
Shenin langsung turun dari jok motor Angkasa dan melihat apakah ia meninggalkan noda disana. Tidak. Syukurlah. “Uhm .... makasih ya, Sa.” kata Shenin ragu-ragu.
Angkasa melepaskan helm dan menumpukan pada pahanya, ia tidak berniat turun dari motornya. Cowok itu menatap Shenin dan berkata, “Lain kali, kalau ada apa-apa lo bisa cerita sama gue.”
“Ini kebetulan aja gue lagi apes.” Shenin tersenyum kikuk.
“Memang susah ngomong sama lo.”
“Gue nggak pernah suruh lo ngomong sama gue.” Katanya mulai cuek seperti biasanya.
Angkasa mengembuskan napas maklum, “Terserah. Gue balik dulu.” Angkasa memakai kembali helm nya.
“Jaketnya gue cuci dulu.”
“Iya.”
“Makasih.” Kata Shenin tulus, bagaimanapun ia menghargai kebaikan Angkasa hari ini, terlepas dari betapa menyebalkannya cowok itu selama ini.
“Sama-sama.” Jawab Angkasa, kemudia ia menutup kaca helmnya dan melajukan motornya menjauhi pagar rumah Shenin.
***
Rasanya, tidak ada yang bisa membuat mata Shenin membelalak lebih lebar selain Angkasa yang tiba-tiba berdiri di teras rumahnya sambil tersenyum dengan penuh percaya diri.
“Ngapain lo disini?” tanya Shenin tanpa basa-basi.
“Jemput pacar gue lah!”
“Ih, apaan ....” belum sempat Shenin menyelesaikan kalimatnya, ibu Shenin muncul dan menunjukkan antusias yang luar biasa ketika menyambut Angkasa.
“Eh, nak Angkasa. Mau berangkat bareng Shenin, ya? Wah, pas banget ini lagi pada sarapan, ayo masuk dulu, kita sarapan bareng-bareng.”
Angkasa tersenyum. Nyaris menyahut, sayangnya Shenin mendahuluinya.
“Ah, nggak usah, Bu. Angkasa udah sarapan kok tadi.” Kata Shenin memaksakan senyumnya.
Tapi memang dasarnya Angkasa yang tidak bisa sepaham dengan Shenin, tentu saja ia bersuara, “Gue belum sarapan, kok.” Katanya sambil menggeleng dengan polosnya.
“Tapi, kan barusan lo bilang kalau lo buru-buru. Udah, lo duluan aja, gue nggak apa-apa naik angkot.” Shenin bersikeras sambil masih berusaha tersenyum manis.
Angkasa mengerutkan keningnya, “Gue nggak ingat tadi bilang kayak gitu. Lagian, gue nggak ada kegiatan apa-apa pagi ini. Sarapan sebentar nggak bikin kita telat juga, Shen.”
“Sudah, sudah. Ayo, Angkasa ikut sarapan dulu di dalam. Kalau kelamaan di luar kalian malah terlambat nanti.” Ibu Shenin menengahi dan setengah menarik tangan Angkasa untuk memasuki rumah. Shenin mencebik kesal, ia tak mampu melawan kuasa Ibunya.
“Kamu, nggak boleh kayak gitu sama pacar kamu sendiri, ih. Nggak sopan tahu!” Nasihat ibu Shenin sambil mengusap rambut putrinya.
Shenin mendengus pasrah dan ikut berjalan memasuki ruang makan. Kalau sudah Kanjeng Ratu – sebutan Shenin untuk ibunya, yang selalu membuat ibunya tertawa – turun tangan, maka Shenin dan penghuni rumah yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Memilih mengalah.
Satu hal yang dapat Shenin tangkap dari obrolan di meja makan pagi itu adalah ibunya yang benar-benar mengidolakan Angkasa. Ibunya sangat tertarik ketika Angkasa menceritakan kalau cowok itu adalah kapten tim futsal sekolah dan berbagai hal lainnya tentang cowok itu sampai-sampai Shenin malas menghitung berapa kali ibunya menyebutkan kata hebat dan keren untuk Angkasa. Bertambah sudah satu penggemar Angkasa; Ibu Shenin.
Untuk pertama kalinya mereka berangkat ke sekolah bersama. Dan Shenin tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya. Kalau tentang Angkasa, apapun akan berubah menjadi kehebohan. Dan bukan siswi SMA Bhineka namanya kalau tidak mengetahui gosip ter-update di sekolah. Tadinya, Shenin berpikir kalau dirinya akan luar biasa malu ketika kabar dirinya yang dipermalukan Rudi tersebar di penjuru sekolah. Tapi, nyatanya bagian itu justru menjadi bagian yang diidamkan oleh murid cewek yang lain.
Kenapa?
Apa lagi alasannya kalau bukan karena ada Angkasa disana yang berperan sebagai cowok – atau sebut saja pacar – yang luar biasa laki banget. Angkasa, dengan segala pesonanya yang dengan sigap melilitkan jaket kepada cewek yang sedang dipermalukan karena noda memalukan yang didapatkan dari tamu bulanannya menjadi trending topic di sekolah. Ah, pokoknya, bagi murid-murid cewek SMA Bhineka, kalau suatu saat siapapun menemukan cowok seperti Angkasa, please jangan dilepas! Gila, kan!
Sampai saat ini, ketika seantero sekolah mengetahui kalau Angkasa sudah memiliki pacar, perhatian dari murid cewek – khususnya adik kelas – tidak juga benar-benar musnah. Sepertinya mereka tidak takut sedikitpun dengan cewek yang menjabat sebagai kekasih Angkasa. Buktinya, kiriman makanan untuk cowok itu masih berdatangan, meskipun tidak sesering sebelumnya.
“Zoya.” Angkasa membaca keras-keras tulisan pada sebuah post it yang diletakkan di atas kotak makan di mejanya.
“Widihhh .... kayaknya si Zoya lagi mengincar lo, tuh, Sa!”
Angkasa hanya tertawa menanggapi celetukan Umar.
“Ingat, lo udah punya Shenin, jangan tergoda sama cewek lain!” kali ini Dimas yang bersuara membuat teman-teman cowok yang lain ikut tertawa.
Shenin yang merasa namanya disebut langsung menoleh dengan cepat. Terlalu cepat sampai menarik perhatian Angkasa.
“Nggak usah panik, gue tetap punya lo kok, Yang.” ucap Angkasa sambil tersenyum menatap Shenin.
“Cieee ....”
“Aduhhh .... Yang .... Sayaaaaang ....” yang lain menyoraki.
“Kirrr .... kirr ....”
“Ish .... sok ganteng lo!” Jawab Shenin cuek. Membuat Mayang dan Ulfah yang tadinya sedang mengobrol dengannya ikut tertawa geli.
“Yah, Angkasa dikatain sok ganteng.” ejek Umar. “Kayaknya aura ke-gantengan lo udah mulai sirna deh, Sa.”
“Nggak, pacar gue ini emang pemalu anaknya. Dibalik sikap galaknya, dia itu sayang banget sama gue. Ya, kan, Beb?” Angkasa menaik-turunkan alisnya menggoda Shenin sambil merangkul bahu cewek itu.
Shenin memutar bola matanya, “Terserah lo!”
“Love you too.” jawab Angkasa tidak nyambung, yang lainnya hanya tertawa menanggapi kekonyolan pasangan itu.
***
“Rud, gue serius nggak suka lo kayak gitu.” Kata Angkasa memulai pembicaraan setelah keheningan yang cukup lama di antara mereka.
Angkasa tidak main-main soal berbicara dengan Rudi perihal keisengannya pada Shenin kemarin, oleh sebab itu kini mereka berada di bangku penonton lapangan futsal sekolah yang sudah sepi karena teman-teman yang lain sudah pulang sejak 15 menit yang lalu.
Rudi menjawab, “Iya, Sa, gue minta maaf.” Angkasa hanya menoleh menatap Rudi yang menunduk disampingnya. “Gue cuma iseng aja, nggak bermaksud bikin pacar lo malu. Kalau kemarin dia langsung pergi, gue nggak bakal lanjut kok, Sa.” Imbuh Rudi.
Angkasa tiba-tiba memukul bola futsal yang sejak tadi dipegangnya, membuat salah satu pemain belakang tim intinya itu menoleh terkejut, Rudi menelan liurnya susah payah, berpikir kalau pasti ia salah bicara dan membuat Angkasa marah.
Kapten tim futsal sekolah itu mendengus kesal dan berkata, “Rud, terlepas dari Shenin itu pacar gue atau bukan, lo seharusnya nggak seperti itu ke dia. Nggak juga ke siapa pun. Gue nggak bisa menerima kalau alasan lo adalah iseng. Hal kayak gitu adalah sesuatu yang pribadi buat cewek. Dan lo membahas itu di depan umum, jangankan sama lo yang cowok, ke sesama cewek aja mereka mungkin bakal malu. Sesuatu yang menyenangkan untuk lo bisa jadi menyakitkan buat orang lain.” Jelas Angkasa panjang lebar.
Rudi mengembuskan napas, benar yang dikatakan Angkasa, dan jelas itu sudah cukup membuatnya merasa bersalah. Maksudnya mungkin iseng, tapi bisa saja itu menyakiti orang lain. “Iya, Sa, gue ngerasa bersalah. Harusnya gue nggak main-main kayak gitu.”
“Gue harap lo serius ngerasa bersalah, Rud. Gue nggak ngelarang lo bercanda, tapi bercandalah sewajarnya.” Angkasa menepuk bahu temannya itu. “Cewek jelas bukan sesuatu yang bisa lo jadikan bahan bercandaan sesuka lo.”
Rudi mengangguk menyetujui. “Sekali lagi sorry ya, Sa. Tolong sampaikan maaf gue ke Shenin. Tadi gue mau minta maaf langsung tapi gue takut dia makin malu.” Katanya merasa bersalah.
“Iya, nanti gue sampaikan. Ya udah, yuk, balik!” ajak Angkasa seraya bangkit berdiri.
“Thanks, Sa.” Ucap Rudi tulus, dan ikut berdiri. Keduanya kemudian berjalan meninggalkan lapangan futsal sekolah.
***