(5) Bahan Gosip

1914 Words
Remaja cewek zaman sekarang – mungkin sejak dulu – hanya punya dua pilihan; mencari bahan gosip, atau dijadikan bahan gosip… *** Shenin kini yakin sepenuhnya kalau para siswi di SMA Bhineka adalah contoh mutlak siswi yang paling up-to-date selama Shenin duduk di bangku SMA. Hal ini dibuktikan dengan cepatnya kabar yang beredar tentang hubungannya dengan Angkasa, padahal cowok itu baru mengatakannya pagi tadi. Bahkan Shenin sendiri menganggap apa yang dikatakan Angkasa itu tidaklah serius. Pantas saja, saat tadi ia berjalan ke kantin semua mata memandangnya bahkan berbisik-bisik dihadapannya. Berhubung ia enggan mendengar bisikan-bisikan ghaib itu, Shenin pun mengatakan pada Ulfah dan Mayang untuk melanjutkan perjalanan ke kantin berdua saja, sebab ia memutuskan untuk memutar langkahnya dan kembali ke kelas. Shenin memijit pelipisnya. Hal yang paling dia benci adalah menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan gosip. Dan parahnya, kabar itu diberi headline ‘Siswi Baru Penakluk Hati Sang Pangeran Sekolah’ yang sumpah, membuat Shenin ingin muntah. Menjijikkan sekali rasanya, mendengar julukan ‘Pangeran Sekolah’ yang disematkan pada Angkasa, dan entah kenapa cowok itu tidak merasa terganggu dengan itu. Yah, memang, sih, menurut Shenin, untuk seorang cowok berwajah lumayan ganteng dengan tinggi badan 180 sentimeter, dan menjadi kapten futsal sekolah, ya wajar saja kalau Angkasa diidolakan. Apalagi, Angkasa juga tergolong cowok yang ramah, bahkan penuh percaya diri ketika menatap lawan bicaranya dengan mata cokelat gelapnya. Ditambah lagi penampilannya yang keren dan rambut cokelatnya yang selalu disisir rapi, oh, jangan lupakan senyumnya yang manis juga. Yah, pantas saja ia menjadi idola. Tapi, kalau Shenin, sih, ogah kalau harus menjadi penggemarnya. “Loh, pacar gue kok masih di kelas, nggak lapar? Ke kantin bareng, yuk!” Ucap Angkasa dengan gestur santai duduk di atas meja. Shenin mengerjapkan matanya, terkejut karena orang yang sedang dilamunkannya kini berada dihadapannya. Untungnya, sejurus kemudian ia mampu mengembalikan kesadarannya dan menjawab, “Nggak selera.” “Ya udah, temanin gue ke kantin aja.” Jawab Angkasa enteng. “Malas.” Balas Shenin ketus. “Nanti kalau gue di ambil yang lain gimana?” tanya Angkasa menggoda sambil menaik-turunkan alisnya. Shenin hanya memutar bola matanya dan menjawab, “Nggak usah nunggu di ambil, bakal gue lelang duluan ke mereka.” Angkasa tersenyum, lalu menunduk; sedikit mencondongkan tubuhnya ke Shenin. “Shen, gue kan pacar lo, lo nggak usah pura-pura nggak suka sama gue. Ungkapin aja semua kekaguman lo ke gue selama ini, nggak apa-apa. Jangan dilawan.” Angkasa berucap dengan penuh percaya diri, sedangkan Shenin hanya menatapnya aneh. Tapi, cewek normal mana yang jantungnya tidak berdegup kencang kalau berada begitu dekat dengan cowok se-ganteng Angkasa? Shenin salah satu dari mereka yang normal. Jadi, wajar saja kalau untuk beberapa saat ia menahan napas demi menetralisir debaran jantungnya yang memalukan. “Cieee...” sorak-sorai terdengar dari teman-teman sekelas mereka. “Uhuy, uhuy… yang baru jadian!” Shenin makin gugup, sedangkan Angkasa justru tersenyum menikmati kehebohan itu. Shenin memejamkan matanya dan menarik napas, berharap itu bisa mengurangi rasa malunya. Shenin membuka mata dan siap menyuarakan kekesalannya, tapi Angkasa sudah lebih dulu berdiri dan berucap, “Nggak apa-apa kalau lo mau di kelas. Gue ke kantin dulu, nanti gue bawain makanan.” Angkasa berjalan keluar kelas setelah mengusap rambut Shenin dan membuatnya sedikit berantakan. Shenin yang diperlakukan seperti itu hanya bisa mematung di tempatnya sambil menelan ludah dengan susah payah. Apa-apaan, sih, Angkasa! Batinnya. “Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan... lo sama Angkasa serius jadian? Ya ampun, gue mau dong jadi looo...” teriak Galuh heboh yang tiba-tiba duduk dihadapan Shenin. Teman-temannya yang lain mengangguk menyetujui, menunjukkan betapa inginnya mereka berada di posisi Shenin saat ini. Menyandang status sebagai kekasih Angkasa rasanya adalah harapan hampir semua siswi di sekolah, dan menjadi teman sekelas cowok itu saja sudah merupakan suatu keberuntungan, apa lagi kalau bisa sebangku dengan Angkasa. Sayangnya, segala keberuntungan itu sudah dibabat habis oleh Shenin, si murid baru. Sudah bisa menjadi teman sebangku cowok itu, ditambah sekarang bisa menjadi kekasih Angkasa. Betapa dunia terasa tidak adil bagi mereka yang hanya bisa mengagumi dari jauh, kan? Shenin meringis ngeri yang sebenarnya membuatnya terlihat tersiksa ketimbang merasa beruntung menjadi pacar Angkasa. Shenin membayangkan, apa jadinya kalau ternyata Angkasa memiliki penggemar fanatik? Parah. Dirinya mungkin tidak akan bisa selamat dari penggemar garis keras cowok itu. “Aduh, Shen, cerita-cerita dong sama kita, gimana lo bisa jadian sama Angkasa?” tanya Tasya penasaran. Shenin sebenarnya merasa risih karena ia yakin, Tasya, Galuh dan teman-temannya itu sebenarnya sedang mencari bahan terkini untuk acara menggosip berikutnya, meskipun kelihatannya mereka sangat antusias dan turut berbahagia untuknya. Tapi tetap saja, hati orang mana ada yang tahu, kan. “Eh, pergi, pergi, jangan ganggu Shenin! Gue aduin sama Angkasa lo pada!” Shenin patut bersyukur ketika Umar datang dan mampu mengusir cewek-cewek itu. Sesuatu yang jelas tidak mungkin dapat Shenin lakukan sendiri. Cewek-cewek itu hanya mencebik kesal pada Umar, tetapi tetap tersenyum pada Shenin. “Tenang, Shen, kalau ada yang gangguin lagi, lapor aja sama Akang Umar. Nanti biar Akang yang beresin.” Umar tersenyum percaya diri sambil menaik-turunkan alisnya. Membuat Shenin mau tidak mau tersenyum. “Eh, apaan lo gangguin cewek gue?!” tanya Angkasa yang baru saja melangkah memasuki kelas. “Gue malah membantu menjaga cewek lo kali, Sa!” elak Umar. “Ragu gue. Lo nggak diapa-apain, kan, sama Umar?” Tanya Angkasa pada Shenin. “Lo yang apaan. Si Umar baik kok sama gue.” Jawab Shenin. Umar tertawa, “Tuh, kan, lo dengar sendiri bebeb Shenin ngomong apa.” Katanya penuh percaya diri. “Bebeb, bebeb, pacar gue, nih!” ujar Angkasa berpura-pura tersinggung. “Songong! Baru jadian belom ada sehari aja sombong amat, lo!” sindir Umar kesal. Angkasa mengabaikan Umar dan meletakkan satu kantung plastik berukuran sedang yang berisi beberapa roti dan camilan, juga minuman dingin di atas mejanya. Shenin meliriknya dan tersenyum sinis, “Lo kalau makan banyak, ya. Rakus dan boros. Nggak heran banyak yang nganterin lo makanan. Pada tahu kalau lo butuh banyak makan.” Itu satu-satunya kalimat terpanjang yang dikatakan Shenin untuk Angkasa hari ini. “Thanks. Gue anggap itu sebagai pujian pertama dari pacar gue.” Kata Angkasa. “Sama-sama.” Jawab Shenin apatis. “Itu semua buat lo.” “Hah?” Angkasa menepuk puncak kepala Shenin dan berkata, “Pacar gue nggak boleh kelihatan kayak orang kekurangan gizi. Makan!” Shenin menatapnya aneh, lalu berpaling muka dan mencebik kesal. Ia memang lapar, tapi gengsi untuk memakannya. Lagipula Ulfah dan Mayang nanti akan membawakannya camilan titipannya. “Makan sekarang atau gue yang suapi?” tantang Angkasa. Masih tetap berpaling muka, Shenin meraih cepat kantung belanjaan Angkasa dan mengambil sebungkus roti disana. Lebih baik menurut saja, daripada Angkasa semakin bertingkah. *** Angkasa menatap Shenin dengan penasaran. Cewek itu sejak tadi bergerak-gerak dengan gelisah di tempat duduknya, tidak seperti Shenin yang biasanya. Bahkan, hari ini cewek itu sepertinya tidak benar-benar serius mendengarkan penjelasan yang diterangkan oleh guru Matematika. “Lo kenapa, sih?” Tanya Angkasa penasaran. Shenin mengerutkan kening, bingung, “Apa?” katanya balik bertanya. “Nggak bisa diam dari tadi.” “E-nggak apa-apa.” Jawab cewek itu mengelak. “Bohong.” “Nggak bohong.” Shenin bersikeras. Angkasa menyipitkan mata, hendak mendebat Shenin tetapi diinterupsi oleh suara bel. Bel pulang sekolah. Akhirnya. Shenin bernapas lega. Ia memasukkan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas dan mengecek kolong bangku untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Shenin merogoh tasnya, mencari barang yang ia perlukan, sampai-sampai membuat Shenin nyaris tidak mendengar ketika Ulfah dan Mayang pamit untuk pulang lebih dulu. Sialnya, Shenin tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Mati lah dirinya sekarang. Sepertinya Shenin lupa membawanya. Ia melihat sekeliling kelas yang sudah kosong dan memutuskan untuk mengeluarkan semua isi tasnya, barangkali barang itu terselip. Ia memisahkan satu persatu barang-barangnya, mengecek buku-bukunya tetapi hasilnya tetap nihil. Shenin tidak menemukan apapun yang ia cari di sana. Cewek itu menyurukkan kepala pada tangannya yang terlipat di atas meja, ia sedang berusaha menghilangkan rasa paniknya. Kenapa bisa-bisanya ia tidak mengecek barang bawaannya sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi. Mengembuskan napas untuk menenangkan diri, Shenin memutuskan untuk memberanikan dirinya sendiri, berhubung dia merasa sekolah sudah sepi karena sudah setengah jam berlalu sejak bel berbunyi, Shenin akhirnya bangkit dari tempat duduknya. Ia tidak membawa jaket sehingga membuatnya harus menarik tali ranselnya sampai batas maksimum, berharap tasnya itu dapat menutupi jejak yang ditinggalkan tamu bulanannya yang datang dengan tiba-tiba satu hari lebih cepat dari tanggal yang sudah diperkirakan Shenin sebelumnya. Noda merah itu tidak begitu banyak, tapi cukup untuk membuat cewek manapun merasa malu, apa lagi hari ini ia mengenakan rok berwarna putih. Tasnya tidak terlalu bisa menutupi noda itu, tapi setidaknya Shenin berharap itu dapat membantu membuatnya tidak terlihat mencolok. Dengan mengendap-endap Shenin berjalan keluar kelas. Dilihatnya lorong di lantai dua itu sudah sepi membuatnya bernapas lega, selanjutnya ia bergegas turun karena jujur saja, sendirian seperti ini rasanya sedikit .... menyeramkan. Setibanya di ujung bawah tangga, Shenin mengurungkan niatnya untuk berjalan melewati lapangan karena melihat ekskul marching band sedang berlatih disana, membuatnya mau tak mau mengambil jalan memutar yang sedikit lebih jauh dari gerbang sekolah. Sayang sekali, Shenin tak mungkin sempat mampir ke koperasi sekolah, jelas itu bukan pilihan yang tepat mengingat koperasi letaknya di dekat kantin yang sudah pasti di jam-jam ini ramai murid-murid yang menunggu ekskul mereka dimulai. “Loh, Bebeb Shenin kok baru pulang?” Shenin terkesiap mendengar suara Umar. Bodoh. Shenin sama sekali tidak memperhitungkan kalau untuk mencapai pagar sekolah ia harus melewati parkiran motor terlebih dahulu yang setiap sorenya menjadi tempat nongkrong murid-murid cowok setelah bel pulang sekolah. Shenin menelan liur, “Itu… anu… ada yang ketinggalan tadi.” jawab Shenin sambil berharap tidak begitu kentara kalau ia sedang gugup. Shenin berdiri dengan tidak nyaman dan sedikit menurunkan ranselnya agar lebih menutupi bagian belakang rok nya. Sayangnya, apa yang dilakukan Shenin itu justru menarik perhatian Rudi, cowok paling iseng dari kelas sebelah – menurut Shenin dan murid cewek di kelas mereka. “Ah, yang benar? Kasi tahu dong, apa yang lo sembunyiin di belakang.” kata Rudi mulai ingin tahu. Sambil terkikik geli menggoda Shenin. Shenin makin deg-degan dan menggeleng cepat, terlalu cepat sehingga mungkin ia akan ketahuan berbohong, “Gue nggak nyembunyiin apa-apa.” Katanya. “Ah, bohong!” Paksa Rudi. “Oh, gue tahu, lo nggak bawa roti bantal, ya?” tebak Rudi dengan lantang, beberapa murid yang tadinya tidak terlalu memerhatikan mereka kini mulai mendekat dengan penasaran, meskipun tidak terang-terangan mengerubungi mereka. Yah, biasanya kalau Rudi sudah memulai keisengannya, itu adalah sesuatu yang menarik untuk ditonton. “Rud, udah. Awas lo kalau ketahuan Angkasa!” tegur Umar sambil memukul lengan Rudi. Rudi tertawa. “Ah, emangnya mereka pacaran beneran? Lagian juga lucu kali, Mar.” Shenin menelan ludahnya dengan susah payah. Dirinya tahu dengan pasti apa yang dimaksud Rudi dengan roti bantal. Ia yakin wajahnya memerah sekarang karena malu dan kesal. Hanya karena Rudi, yang tadinya Shenin berniat untuk tidak begitu mencolok, kini malah menjadi pusat perhatian beberapa temannya yang melewati gerbang. “Kalau nggak ada yang disembunyiin, ngapain dia menutupi roknya pakai tas?” imbuh Rudi. “Angkat dong, Shen, tasnya kalau apa yang gue bilang tadi nggak benar.” Rudi tersenyum mengejek. Shenin sebenarnya ingin menangis saking emosinya, tetapi itu akan lebih memalukan lagi. Jadi, ia hanya bisa diam sambil menatap Rudi tajam. Shenin lebih terkesiap lagi – untungnya tidak sampai berteriak – ketika tangan seseorang tiba-tiba memeluk pinggangnya dan mengikatkan sesuatu disana. Ia menoleh dan mendapati Angkasa yang mengikat jaket cowok itu pada pinggang Shenin dan melakukannya tanpa bersuara. Bisik-bisik mulai terdengar saat Angkasa sudah selesai dengan kegiatannya dan menggandeng tangan Shenin menuju parkiran. Sama seperti Angkasa, Shenin juga berusaha mengabaikan beberapa murid yang menjadikan mereka bahan tontonan sambil menunduk malu. “Besok gue mau ngomong sama lo, Rud.” ucap Angkasa dengan tenang ketika melewati Rudi yang kini berdiri kaku di samping motor matic-nya yang masih terparkir. “Mampus lo!” bisik Umar menimpali, membuat Rudi semakin gugup. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD