Biasanya, yang berusaha mencuri perhatian adalah mereka yang perhatiannya telah tercuri lebih dulu...
***
Shenin sampai di rumahnya menjelang makan malam. Setelah melewati perdebatan sengit dengan Angkasa perkara cewek itu akan pulang sendiri sedangkan Angkasa memaksa untuk mengantarnya – yang dimenangkan oleh Angkasa dengan ancaman kalau cowok itu akan mengejar Andro dan Laura lalu membongkar kebohongannya tadi; membuat Shenin mau tidak mau mengalah.
Shenin sudah bisa menduga kalau akan terjadi kesalah pahaman yang berkepanjangan ketika Angkasa mengantarkannya pulang. Dan benar saja, kakak sepupunya – yang sudah seperti kakak kandungnya – yang memulai duduk perkara dengan memanggil ibunya untuk menemui Angkasa. Ibunya yang kegirangan karena anak perempuan satu-satunya akhirnya berkencan dengan seorang cowokpun memutuskan untuk menawari Angkasa makan malam bersama.
Angkasa lebih dulu mengambil tempat duduk di meja makan bersama ayah, ibu, dan kakak perempuan Shenin, sedangkan cewek itu berjalan ke kamarnya untuk meletakkan tas dan berganti pakaian.
“Pacar Shenin, ya?” Angkasa melihat ibu Shenin yang memandangnya dengan penuh semangat, menunjukkan senyum menggoda khas ibu-ibu yang baru dikenalkan dengan kekasih anaknya. Menurut Angkasa, kelewat bersemangat malah, membuat ia takut salah menjawab.
Rupanya, tidak cuma ibunya Shenin saja, kakak dan ayah cewek itu juga menunggu jawaban dari Angkasa. Malam ini, ia merasa seperti disidang. Mungkin keputusannya untuk mengantar Shenin bukanlah keputusan yang tepat.
Berusaha menutupi ketegangannya, Angkasa berdeham seelum akhirnya menjawab, “Iya tante.” Katanya sambil tersenyum. Kedua wanita di meja itu memekik senang. Sedangkan ayah Shenin hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Awalnya Angkasa cukup terkejut, tetapi setelah melihat respon keluarga itu membuat Angkasa bersyukur karena memilih berbohong. Angkasa jadi heran, kenapa respon mereka sebegitu senangnya. Apa mungkin dulu Shenin penyuka sesama jenis? Itu sebabnya sekarang keluarganya benar-benar merasa senang ketika tahu Shenin berhubungan dengan lawan jenis. Kepala Angkasa jadi memikirkan hal yang bukan-bukan. s**l.
“Angkasa dan Shenin satu sekolah?” kali ini ayah cewek itu yang bersuara.
“Iya, Om. Satu kelas. Dan satu bangku, malah.” Jawab Angkasa, perasaan gugupnya perlahan menghilang.
“Wahh... nggak nyangka, baru pindah udah dapat pacar aja itu anak, ganteng lagi!” celetuk kakak Shenin yang bernama Kalia – membuat yang lainnya tertawa geli.
“Sejak kapan pacarannya?” tanya ibu Shenin lagi. Angkasa memang sudah tidak merasa gugup, tapi lama-lama merasa tidak nyaman ditanyai terus menerus.
“Sejak hari ini, Tante.” jawab Angkasa. Biar saja cewek itu marah padanya, lagipula Shenin yang memulainya duluan, Angkasa hanya melanjutkan permainan cewek itu, kok.
“Wah, Shenin pasti suka banget nih sama kamu.” Goda Kalia.
Angkasa mencibir dalam hati. Apa yang tadi Kak Kalia bilang? Shenin menyukainya? Ya, Tuhan. Sejauh ini Shenin tidak mencakarnya atau berniat melakukan k*******n lainnya mengingat dirinya tidak pernah berhenti mengganggu Shenin; itu saja sudah cukup membuatnya bersyukur dan Angkasa bahkan tidak berani memikirkan yang lebih dari itu.
“Maaf ya, perut Shenin mulas.” Shenin bergabung bersama mereka, menarik kursi dan duduk di samping Angkasa.
Shenin menatap Angkasa sekilas, Angkasa tersenyum dan Shenin mengerutkan dahinya kemudian berpaling ke keluarganya. “Ini Angkasa nggak ditanyai macam-macam, kan, Bu, Yah?” tanyanya sambil menyipit curiga.
“Nggak kok, santai aja.” Angkasa yang menjawab sambil menunjukkan cengirannya.
“Kak Kalia, nih, yang biasanya suka aneh-aneh.” Kata Shenin sambil melirik kakaknya itu.
“Dih, apaan, nggak ngapa-ngapain, kok.” Jawab Kalia santai.
Sang ayah membuka suara untuk menengahi, “Udah, ayo, makan dulu! Ayah keburu lapar, nih.”
Kalia menjulurkan lidahnya untuk menggoda adik sepupunya itu. Shenin membalas kemudian berpaling ke makanan yang sudah dihidangkan di meja. Angkasa yang melihat itu hanya tersenyum, tidak menyadari sebelumnya kalau ternyata teman sebangkunya yang biasanya judes ternyata bisa semenggemaskan itu.
Makan malam terasa menyenangkan. Shenin terlihat bercanda dengan keluarganya sesekali. Cewek itu tertawa singkat. Kadang, Angkasa juga dimasukkan ke dalam obrolan mereka. Tapi, bukan itu yang menarik perhatian Angkasa. Bagi Angkasa, malam itu adalah pertama kalinya Angkasa melihat Shenin yang berbeda dari yang ia tahu selama ini. Sebenarnya, Angkasa sendiri tidak bisa menjelaskan apa perbedaannya. Pokoknya, bagi Angkasa, Shenin terlihat berbeda. Cewek itu terlihat lebih… rileks, atau ke-cewek-an, atau entahlah, hanya begitu Angkasa bisa mendeskripsikannya.
Apa mungkin seperti inilah Shenin yang sebenarnya? Tetapi kenapa cewek itu selalu terlihat kesal pada Angkasa? Seolah Shenin berusaha membatasi dirinya dengan Angkasa.
Atau membatasi diri dari hubungan yang mungkin saja terjalin di antara mereka.
***
“Sa, Gue mau ngomong!” Shenin yang baru tiba pagi itu langsung menahan lengan Angkasa yang baru saja keluar dari kelas hendak ke kantin bersama teman-temannya. Shenin bahkan tidak sempat berpikir untuk meletakkan tas nya terlebih dahulu di dalam. Pokoknya begitu tadi melihat Angkasa, ia langsung gatal untuk mengomeli cowok itu.
“Duluan aja, guys! Pacar gue mau ngomong!” teriak Angkasa pada teman-temannya membuat gerombolan cowok-cowok itu bersiul menggoda mereka.
Shenin mendelik, ia luar biasa terkejut dan refleks mencubit lengan Angkasa, setengah kesal dan setengahnya lagi merasa luar biasa malu.
“Lo mengaku-ngaku jadi pacar gue?!” desis Shenin tidak ingin siapapun yang melewati koridor kelas mereka mendengar pembicaraan itu.
Angkasa memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana dan tangan kanannya bertumpu pada dinding di sisi kepala Shenin. Gestur itu saja cukup untuk menimbulkan kesalahpahaman, jadi Shenin bergeser menjauh dan menatap Angkasa yang tak merubah gayanya sedikitpun kecuali balas menatap Shenin.
“Sebenarnya siapa yang mengakui siapa di sini?” Angkasa membuka suara.
“Hah, Maksud lo?” Shenin mengerutkan keningnya, bingung.
“Bukannya lo yang lebih dulu mengakui gue sebagai pacar lo?” jawab Angkasa enteng.
Shenin menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu bergerak maju mendekati Angkasa, tak ingin obrolan mereka terdengar oleh siapapun. “Ok, fine! Tapi lo nggak harus mengakui itu ke keluarga gue juga, kan? Setelah lo pulang, gue diiterogasi habis-habisan!”
Angkasa tersenyum, “Terus jawaban lo?”
Shenin mendengus, “Yah, gue terpaksa mengatakan yang sama dengan lo.”
Angkasa menjentikkan jarinya, “Nah, kan, lo nya aja mengakui!”
“Tapi, kan, udah gue bilang, gue terpaksa. Lagian gue nggak mau bikin lo malu di depan keluarga gue karena udah ngaku-ngaku sebagai pacar gue semalam.” Shenin memberikan alasan.
“Terus? Gue nggak melihat ada masalah di sini, Shenin.”
“Masalah dong! Dan tadi, ke teman-teman sekelas juga, apa-apaan itu, lo ngomong kayak gitu ke teman-teman lo?!” Shenin tidak habis pikir dengan apa yang Angkasa lakukan.
“Loh, masalahnya apa? Lo jomblo, gue jomblo, kan.”
“Ya, tetap nggak boleh, Angkasa! Kita nggak ada hubungan apa-apa, seharusnya lo nggak sebut-sebut gue sebagai pacar lo kayak gitu.” Shenin bersikeras.
Angkasa tertawa. “Astaga, berhenti jadi manusia ribet, Shen. Kalau gitu mulai pagi ini kita pacaran aja. Masalah selesai.” jawab Angkasa cuek. “Udah ah, gue mau ke kantin sarapan dulu. Pacar gue mau ikut?” tanya Angkasa sambil mencolek dagu Shenin. Menggoda cewek itu.
“Ih, terserah lo deh!” Shenin mendengus kesal sambil menggosok dagunya dengan punggung tangannya. Ia berbalik memasuki kelas sambil mengehentakkan kaki, tahu kalau berdebat dengan Angkasa tak akan ada akhirnya.
Angkasa terkikik geli menatap Shenin yang kelihatan kesal. Lucu. Sepertinya hobi Angkasa sekarang adalah menggoda Shenin. Well, Shenin pacarnya sekarang, itu artinya cepat atau lambat cewek itu tidak akan lagi bisa mengalihkan tatapannya dari Angkasa. Cepat atau lambat, Shenin akan jatuh ke dalam pesonanya. Itulah yang diyakini Angkasa.
Angkasa jahat, tidak, sih? Tidak. Angkasa tidak jahat. Dirinya justru berbuat baik dengan membantu menawarkan status hubungan kepada salah satu spesies jomblo di muka bumi. Angkasa memang yang terbaik! Dengan senyum yang merekah, Angkasa melangkah untuk menyusul teman-temannya di kantin.
***