(3) Bagian dari Masa Lalu

1585 Words
Beberapa cinta akan hadir karena merasa terbiasa. Tapi, beberapa karena dia yang luar biasa... *** Satu bulan berlalu sejak kepindahan Shenin di SMA Bhineka, satu bulan juga dirinya tidak kunjung mendapatkan teman sebangku yang baru. Demi apapun yang ada di muka bumi, Shenin tidak ingin duduk sebangku dengan Angkasa lebih lama lagi, tapi apa daya tak ada yang bersedia menjadi teman duduknya. Bahkan teman sekalas yang terbilang cukup dekat dengannya, Ulfah maupun Mayang menolak untuk sebangku dengan Shenin. Belakangan Shenin tahu kalau Angkasa adalah cowok yang sangat menyebalkan, tipikal teman sebangku yang akan Shenin hindari. Shenin sudah sering mengabaikan Angkasa atau benar-benar menunjukkan ketidaksukaannya menjadi teman sebangku cowok itu tapi Angkasa tetap saja tidak juga mendepaknya dari bangku mereka. Malah, pada akhirnya Shenin tahu kalau ternyata Angkasa lah yang selama ini membujuk teman-teman sekelas – khususnya yang cewek – untuk tidak sebangku dengan Shenin. Entah apa yang sudah cowok itu katakan. Yang jelas kenyataan kalau Angkasa adalah cowok idola di sekolah membuat cewek-cewek itu dengan sukarela menuruti kemauannya. Dan Shenin jelas malas jika harus sebangku dengan teman cowok yang mungkin akan lebih menyebalkan dari Angkasa. Angkasa yang menyebalkan dan sok kecakepan, bagi Shenin adalah perpaduan yang tidak pas untuk dijadikan cowok idola. Bisa-bisanya murid-murid cewek mengidolakan cowok itu. Kalau Shenin sih tidak akan pernah mau berdiri di barisan penggemar Angkasa meskipun itu di bagian terbelakang. Big No! "Kantin, yuk!" Ajak Angkasa tersenyum manis pada Shenin. Cewek itu mengernyit menatap Angkasa aneh. "Gue memang mau ke kantin, tapi nggak sama lo." jawab Shenin ketus, masih sibuk membereskan buku pelajarannya. "Gue laper, nih..." keluh Angkasa. "Nggak ada urusannya sama gue." Shenin bangkit dari bangkunya dan berjalan keluar kelas dan mengabaikan Angkasa. Angkasa segera menyusul Shenin dan mensejajarkan langkah mereka. Shenin melirik Angkasa yang berjalan di sampingnya, awalnya dia cuek saja tapi kemudian ia memutuskan untuk bejalan lebih cepat dan mendahului cowok itu ketika menyadari kalau banyak mata di sepanjang koridor menatap mereka. Shenin tidak siap kalau harus dijadikan bahan gosip berikutnya. Angkasa tidak berusaha mengikuti Shenin ketika cewek itu berjalan lebih cepat dan berada di depannya. Angkasa malah mengubah gestur tubuhnya dengan memasukkan tangannya ke saku celana, masih menyunggingkan senyum asimetrisnya dan berjalan dengan santai di belakang Shenin. Shenin menoleh ke belakang sekilas, memastikan kalau jaraknya dengan Angkasa tidak terlalu dekat. Seandainya saja Shenin tidak sadar bahwa Angkasa adalah teman sebangku yang menyebalkan, cewek itu akan dengan senang hati mengatakan kalau Angkasa kelihatan keren, sayangnya sekarang Shenin tidak akan membiarkan kepalanya memikirkan hal itu. Sudah jelas, menambah pasokan bahan bakar untuk tingkat kepercayaan diri Angkasa adalah hal terakhir yang akan ia lakukan. Setelah melewati antrian panjang – yang entah kenapa siang itu cukup banyak yang ingin memesan makanan yang sama dengannya – akhirnya Shenin duduk di bangkunya ditemani semangkuk bakso mercon dan sebotol air mineral dingin. Sialnya, Angkasa justru memilih mengikutinya. Mau tidak mau Shenin harus meningkatkan kesabarannya dan mengabaikan Angkasa yang duduk di hadapannya. "Eh .... gue ke sana bentar ya." tunjuk Angkasa ke arah teman futsalnya, "Nanti gue balik lagi." imbuhnya. "Lo nggak balik juga sebenarnya nggak masalah buat gue." Shenin bahkan tidak paham kenapa Angkasa mau repot-repot makan satu meja dengannya. Kalau tidak memikirkan tatapan penasaran murid-murid yang lain mungkin Shenin tak akan peduli, tapi dia tidak bisa tenang begitu saja ketika menyadari terlalu banyak pasang mata yang menatapnya ingin tahu. Membuat Shenin benar-benar merasa tidak nyaman. Penggemar yang berspekulasi macam-macam terkadang bisa jadi sangat menyeramkan. *** Dan........ Dari semua nasib buruk yang bisa menimpa Shenin hari itu adalah kenyataan bahwa dia sedang berada di toko buku bersama Angkasa. Kalau mengingat kejadian tadi, rasanya Shenin ingin sekali memaki-maki Angkasa dan menumpahkan semua kekesalannya. Bukan Angkasa namanya kalau cowok itu tidak berisik dan mengganggu konsentrasinya. Shenin jadi menyesal karena dulu mengikuti perintah Bu Ajeng untuk duduk sebangku dengan Angkasa demi menyelamatkannya dari Umar. Ayolah, ini seperti menyelamatkan diri dari singa dengan bersembunyi di rawa yang penuh buaya. Sama saja, tidak ada yang menguntungkan. Siang tadi, Shenin sedang berusaha menulikan pendengarannya dan bersikap tidak peduli ketika Angkasa menceritakan dan menanyakan hal-hal yang tidak masuk akal bagi Shenin. Please, Shenin sudah mengatakan kalau dirinya tidak suka mengobrol di jam pelajaran, tapi cowok itu tidak juga mengerti. Lagi pula, informasi mengenai salah satu anggota tim futsal yang mendadak keram, bola yang tiba-tiba bocor, atau jaring disekeliling lapangan yang robek akibat tarikan para siswi yang menonton jelas bukan daftar informasi yang ingin diketahui Shenin, apalagi di tengah jam pelajaran. Shenin menarik napas kasar dan menoleh pada Angkasa, "Lo ngeselin banget, sih. Berisik!" protes cewek itu. "Gue kan lagi cerita." Jawab Angkasa polos. "Kan gue udah pernah bilang kalau gue nggak suka gobrol pas jam pelajaran." Shenin kesal, tapi tetap berusaha menjaga suaranya agar tidak didengar guru Bahasa Indonesia yang sedang menjelaskan di depan kelas. "Lo nggak usah respon, cukup dengarin aja gue ngomong apa." Kata Angkasa. "Tetap aja mengganggu konsentrasi gue! Gue juga nggak mau dipergoki Pak Sastra lagi ngobrol di jam pelajaran." Balas Shenin. Berhubung nasibnya yang buruk, apa yang ditakutkan Shenin menjadi kenyataan. Pak Sastra memergokinya mengobrol dengan Angkasa dan itulah yang menjadi alasan kenapa sore ini Shenin bisa terdampar di toko buku bersama cowok menyebalkan itu. "Mumpung saya lagi baik, hukumannya beli buku karya Sapardi Djoko Damono saja, ya. Besok tunjukkan ke saya dulu, baru setor ke perpustakaan.” "Pak, yang lain aja hukumannya. Yang nggak harus bikin saya dekat-dekat sama Angkasa." Nego Shenin, siapa tahu Pak Sastra bisa diajak bekerja sama. "Lha, kamu tinggal pilih, mau carikan buku itu atau saya suruh mengarang puisi sebanyak satu buku yang berisi 38 halaman?" tanya Pak Sastra. Shenin jelas tidak akan mengambil pilihan kedua meskipun diiming-imingi kebebasan dari Angkasa. Shenin tidak bisa menulis puisi meskipun dulu dia sering menulis buku harian. "Pokoknya buku itu besok pagi sudah di ruangan saya, ya!" Putus Pak Sastra. Shenin berusaha pergi sejauh mungkin dari Angkasa. Malas, sejak tadi cowok itu terlalu menarik perhatian pengunjung toko buku. Untuk ukuran anak SMA, Angkasa memang kelewat ganteng, manis lebih tepatnya dikarenakan senyumnya yang memesona. Ah, apa-apaan otak Shenin, Angkasa tidak ada manis-manisnya! Dia menyebalkan! Dan seandainya orang-orang tahu seberapa menyebalkannya cowok itu, dijamin, hanya untuk menyukainya saja mereka akan berpikir dua kali. Shenin dan Angkasa memutuskan untuk berpencar supaya lebih cepat menemukan buku yang dimaksud gurunya. Shenin tampak serius membaca satu persatu judul buku di rak Sastra ketika tiba-tiba seseorang menyapanya, "Shen?" Shenin menoleh, untuk sepersekian detik yang terasa cukup lama untuknya, dia membeku sebelum akhirnya berhasil memaksakan senyumnya. "Apa kabar, Shen?" Tanya cewek cantik sebaya dirinya yang pernah dikenalnya itu. "Baik. Lo sendiri, Ra?" Shenin berpikir akan tidak sopan rasanya jika tidak balik bertanya. "Baik banget." suara cewek yang kini berdiri dihadapannya itu terdengar begitu bersemangat. Jelas menunjukkan kalau keadaannya memang sebaik itu. "Siapa, sayang?" Seorang cowok datang merangkul Laura. "Oh, hay, Shen?" sapa cowok itu ketika menyadari keberadaan Shenin. “Gimana kabar lo?” tanyanya. Shenin tersenyum dengan sangat tidak tulus, "Hay, Dro." Balasnya. "Luar biasa." Shenin tidak mengerti bagaimana garis kehidupannya ditulis pada hari itu, kesialan seperti tidak berhenti menghampirinya. Bertemu dengan Laura dan Andro adalah ketidaksengajaan yang kesekian yang mungkin ingin dia alami dalam hidupnya. Tapi mau bagaimanapun, Shenin tidak bisa terus menerus hidup di masa lalu. Cepat atau lambat kebetulan seperti ini pasti akan terjadi. "Lo kesini sama siapa? Sendirian aja?" tanya Andro. Kalau Shenin boleh sedikit berburuk sangka, cewek itu menangkap nada meremehkan dari pertanyaan Andro. Shenin sedikit kelabakan, bingung harus menjawab apa. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan dua orang yang pernah sangat dekat dengannya. Shenin benci kalau harus merasa kecil. *** Angkasa menelusuri rak Sastra di bagian yang berbeda, matanya berhenti pada satu buku yang mereka butuhkan. Angkasa meraihnya, membaca judulnya dan bergegas menunjukkannya pada Shenin. "Ini dia bukunya.” "Gue kesini sama pacar gue." Hah? Respon Shenin benar-benar tidak nyambung membuat Angkasa gagal memahami apa maksud cewek itu yang tiba-tiba menggandeng tangannya. Tapi detik berikutnya Angkasa mengerti setelah melihat pasangan lain di hadapan mereka. Oh, jadi ini peran gue sekarang. Pikirnya. "Ini pacar lo?" cowok berkaus merah itu bertanya sambil menatap Angkasa dengan pandangan menilai, membuat ego dalam diri Angkasa menjadi sedikit terusik. "Lo nggak mau ngenalin teman-teman lo ke gue, yang?" tanya Angkasa pada Shenin dan cewek itu langsung memperkenalkannya. "Kalian pacaran pake 'lo-gue'?" tanya Laura, tidak ada nada meremehkan, cewek itu justru terdengar …. Takjub. Berbeda dengan Andro yang menatap dengan pandangan meremehkan. Bagi Angkasa pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Tapi untuk menjaga perasaan Shenin, dia memutuskan untuk menjawabnya. "Kita pacarannya anti mainstream." Angkasa memindahkan tangan Shenin ke dalam genggamannya. "Gue bukan cowok yang berkata-kata manis buat nutupin kebusukan. Mungkin lo harus hati-hati sih, sama cowok yang suka obral bualan." Angkasa tersenyum menantang lalu melirik Andro sekilas. Andro yang entah kenapa terlihat sedikit kesal memilih meninggalkan mereka, bahkan cowok itu tidak berniat berpamitan sama sekali pada Shenin maupun Angkasa, berbeda dengan pacarnya, Laura yang bersikap ramah dan berpamitan sebelum keluar dari toko buku. "Apa sih salahnya pacaran nggak manggil ‘aku-kamu’?" tanya Angkasa setelah mereka membayar buku yang mereka cari. "Nggak tahu." tanggap Shenin cuek. "Mantan pacar lo?" "Boro-boro jadi mantan." Shenin heran kenapa ia bahkan mau menjawab rasa penasaran Angkasa. "Terus, cowok yang lo taksir?" Angkasa masih menuntut jawaban. "Bukan urusan lo." Putus Shenin untuk tidak membiarkan Angkasa mengetahui urusannya lebih jauh. "Urusan gue karena lo bawa-bawa gue." Jawab Angkasa. "Gue nggak ada pilihan. Lain kali, gue nggak akan bawa-bawa nama lo." Jawab Shenin sambil berjalan menuju kasir, meninggalkan Angkasa dengan rasa penasarannya yang menggantung tanpa jawaban. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD