(2) Kepercayaan Diri Berlebih

1275 Words
Ketika kamu mulai membenci sesuatu, akan ada dua kemungkinan di masa depan. Kamu akan selamanya membencinya, atau akan berbalik menjadi sangat menyukainya. *** Satu tahun lebih berlalu pasca patah hati karena seseorang dimasa remajanya, kini Angkasa mulai berusaha menata kembali kepingan-kepingan hatinya. Angkasa akan tersenyum setiap kali mengingat bagaimana gadis itu dapat mengubah dirinya seratus delapan puluh derajat. Kalau bersamanya, Angkasa yang tidak bisa diam akan berubah menjadi lebih kalem. Angkasa yang keras kepala akan dengan sukarela mengikuti apa yang gadis itu katakan. Dirinya bahkan mengurangi sikap ramahnya kepada para siswi – yang kata teman-temannya adalah penggemarnya – di sekolah – dan dimanapun penggemarnya berada, hanya supaya tidak membuat gadis itu menilainya sebagai playboy. Angkasa memang bukan playboy. Tetapi penilaian gadis itu cukup penting untuknya. Angkasa menggelengkan kepala, menghilangkan pikiriannya tentang gadis itu. Angkasa berjalan menuju kelasnya dengan percaya diri, sesekali tersenyum dan membalas sapaan dari beberapa murid cewek. Angkasa selalu berpikir kalau perhatian yang ia dapat dari cewek-cewek itu tentu saja konsekuensi dari menjadi kapten tim futsal sekolah. Dan yang membuat mereka cukup berani terang-terangan menunjukkannya ke Angkasa adalah karena cowok itu selalu membalas perhatian itu dengan tulus dan ramah. Padahal, jujur saja, Angkasa tak pernah bermaksud untuk tebar pesona. Tapi, bukankah memang bukan salahnya kalau ia begitu penuh pesona? Memasuki kelas dan melangkah menuju bangkunya, Angkasa mendapati kotak makan dan dua kaleng s**u bergambar beruang di atas mejanya, dibukanya kotak itu, isinya adalah potongan kecil berbagai macam buah dengan sebuah cup kecil berisi saus – salad buah. Angkasa tersenyum. kemudian melirik teman sebangkunya yang terlihat sibuk dengan novel yang sedang serius ia baca. "Tadi ada dua cewek ke sini, gue nggak tahu anak kelas apa dan berapa. Mereka cuma naruh itu aja di meja lo dan langsung pergi." jelas Shenin sebelum Angkasa menanyakannya. "Dan salah satunya menitipkan ini ke gue." Shenin merogoh sesuatu dari kolong bangkunya dan menyerahkan amplop kecil berwarna pink tanpa mengalihkan tatapan dari bahan bacaannya. Angkasa duduk di kursinya dan mengambil amplop yang disodorkan Shenin lalu membaca pesan di dalamnya. "Oh, ini dari penggemar gue." Kata cowok itu. "Gue nggak nanya." Balas Shenin. "Sekadar informasi. Biar lo tahu aja." Imbuh Angkasa. "Makasih. Sayangnya, gue nggak kepingin tahu." jawab Shenin datar. Memang apa peduli Shenin pada kotak makan yang diterima Angkasa itu. Tidak ada. Angkasa mengedikkan bahunya cuek. Pikirnya, mungkin Shenin masih malu-malu untuk mengakui pesona teman sebangkunya ini. Masih menurut Angkasa juga, Shenin adalah tipikal penggemar rahasia yang akan berpura-pura jual mahal padahal sebenarnya sangat mengidolakan dirinya. Entah mendapat ilham dari mana, Angkasa dan kepercayaan diri tingkat tingginya memercayai pikirannya itu. *** "Shen, gue lihat-lihat, nih, ya, lo kok jutek banget sih sama Angkasa?" tanya Mayang santai sambil menggigit-gigit sedotan es jeruknya . "Teman sebangku gue maksud lo?" Mayang mengangguk, sedangkan Ulfah hanya mendengarkan dengan serius. Mereka sedang duduk di kantin, bertiga, padahal biasanya Shenin akan menolak jika diajak ke kantin. Cewek itu lebih sering menghabiskan waktunya di kelas, titip makanan atau sekadar camilan pada kedua temannya itu. Bahkan, Shenin bisa dikatakan tidak memiliki teman lain selain Ulfah dan Mayang. "Lo beruntung banget tahu nggak, sebangku sama Angkasa, banyak banget yang suka sama dia di sekolah. Anaknya pintar, ramah lagi. Udah gitu, kapten tim futsal." Ulfah akhirnya bersuara. Detik berikutnya Shenin tidak menyadari kalau dirinya kelewat banyak bicara saat mengungkapkan kekesalannya, "Beruntung di bagian mananya? Kalau lo mau bertukar, gue ikhlas malah, Fah. Lagian juga cowok kayak gitu kok diidolakan. Asal tahu aja, sebangku sama dia tuh nggak enak, berisik banget anaknya, sumpah! Dia tu ya..." "Gue kenapa?" Angkasa tiba-tiba saja muncul dan langsung mengambil tempat duduk di samping Shenin. Tangan kanannya menopang dagunya, ia menaikkan alisnya sambil menatap Shenin, menantang cewek itu untuk melanjutkan ucapannya. Shenin hanya menatap Angkasa datar, tidak terintimidasi sama sekali. "Kayak gini, nih, contohnya. Ngeselin." Jawab Shenin menunjuk Angkasa sekilas lalu bangkit dari duduknya. "Gue ke kelas duluan ya." Ulfah dan Mayang hanya mengangguk sebagai jawaban. Keduanya agak kaget juga melihat Shenin dengan santainya membicarakan – menjelek-jelekkan – Angkasa bahkan dihadapan orangnya langsung. Sedangkan Angkasa dibuat terperangah sambil menatap punggung cewek itu. Rupanya, Shenin bukanlah bagian dari penggemar rahasianya. Cewek itu benar-benar tidak menyadari pesonanya; lebih tepatnya tidak menyukainya. Sialnya, entah kenapa sikap ketus Shenin padanya benar-benar berhasil menyentil ego Angkasa. Sedikit. Hanya sedikit, Angkasa jadi tertantang untuk membuat cewek itu mengidolakannya juga. Angkasa tersenyum ke arah Mayang dan Ulfah, membuat kedua teman sekelasnya ikut tersenyum salah tingkah. "Dia kenapa sih sama gue? Sensitif banget kayaknya." tanya Angkasa penasaran. Ulfah dan Mayang kompak menjawab tidak tahu. *** Keesokan harinya Shenin datang terlalu pagi, kelasnya masih sepi, dan ini bukan jadwal piketnya, jadi dia memilih membaca novel favoritnya sambil memasang earphone, alunan lagu Eclat – Bentuk Cinta menemani suasana hatinya yang baik. Sayangnya tak lama, hal yang sama terjadi lagi, ini kali kedua Shenin melihat murid cewek – menurutnya adik kelas – yang datang pagi-pagi ke kelasnya hanya untuk membawakan bekal makan untuk Angkasa. Demi Tuhan, ini masih terlalu pagi, dan ketiga siswi itu mau saja repot-repot seperti ini. "Kak, titip buat kak Angkasa yah." ucap si rambut ikal pada Shenin. Adik kelasnya itu tersenyum manis, tampak penuh semangat. Shenin mengangguk. "Kok mau aja, sih?" tanyanya penasaran. "Heh?" tanya si rambut ikal, tidak paham maksud Shenin. "Itu, nganterin Angkasa makanan. Hampir tiap pagi gue lihat kotak makan nggak bertuan di meja dia." "Oh, yah, siapa tahu kak Angkasa nggak sempat sarapan di rumah. Kita bawain makanan biar kak Angkasa nggak sakit. Jadi, doi kan bisa rajin masuk sekolah." jawab yang satunya – yang bertubuh sedikit berisi dengan rambut dikepang satu – membuat temannya terkikik geli. Shenin hanya meringis, perpaduan atara geli dan enek, begitulah. "Titip ya, kak. Makasih." kata si rambut ikal, Kembali menunjukkan senyum termanisnya. Shenin lagi-lagi mengangguk dan keduanya pun langsung pergi. Lima belas menit kemudian kelas mulai ramai, murid-murid yang memiliki jadwal piket mulai berdatangan. Tak lama setelahnya, Shenin melihat Angkasa yang berjalan memasuki kelas. "Widihhh..." kata cowok itu sambil meletakkan tasnya. "Lo yang bawa?" tanyanya bahkan tanpa repot-repot berbasa-basi. Shenin menatap Angkasa, tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan cowok itu. "Gue?" Shenin menunjuk dirinya sendiri. "Apa gue kelihatan sekurang kerjaan itu?" imbuhnya. "Siapa tahu. Terus, kalo bukan lo, suratnya mana?" "Nggak ada surat." Jawab Shenin cuek. "Ada yang lihat nggak siapa yang ngirim kotak makan ini ke gue?" tanya Angkasa lantang yang dapat didengar oleh seluruh teman sekelasnya. Semuanya menggeleng sebagai jawaban. Tentu saja tidak ada yang tahu, Shenin menerimanya seorang diri. "Udah ada di sana sejak gue datang. Shenin yang ada di kelas pertama kali. Coba tanya dia." jawab Galuh – salah satu cewek dari klub penggosip. Angkasa duduk di bangkunya dan menatap Shenin penuh arti. Lalu tersenyum menggoda, membuat Shenin mendengus kesal. "Apa?" tanya Shenin ketus. "Lo nggak berpikir itu gue yang bawa buat lo, kan?" Angkasa mengangkat bahunya, "Mungkin emang lo." Katanya. "Nggak lah!" Shenin bersikeras tak mengakui. "Gini, nih, Shen, sorry terlepas ini dari lo atau bukan; karena gue tetap berpikir ini dari lo, gue mau kasi tahu aja, next time, lo nggak perlu repot-repot begini." Angkasa Kembali melemparkan senyum manisnya. Shenin menatap Angkasa dan mendengus. Kemudian dia tersenyum dan berkata, "Tenang aja, Gue nggak kurang kerjaan amat, kok. Mikirin bawa bekal untuk lo aja udah malas." "Yakin?" tanya Angkasa bermaksud menggoda Shenin. "Banget!" jawab Shenin sambal mengangguk mantap. "Satu lagi, coba untuk nggak terlalu percaya diri berlebihan, deh. Nggak baik buat kesehatan otak lo." Shenin tersenyum di akhir kalimatnya, detik berikutnya kembali bersikap datar dan melanjutkan membaca bukunya. Angkasa tersenyuk kecut disebelahnya, tidak mengerti kenapa hanya Shenin yang tidak bisa bersikap bersahabat dengannya. Padahal, Angkasa kan tidak pernah bersikap menyebalkan pada cewek itu. Rupanya Angkasa tidak lebih menarik daripada barisan kalimat yang dibaca Shenin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD