Kelupaan

1147 Words
Semua keluarga Gulfrom sudah sibuk sejak pagi, karena Diana yang mengomeli mereka untuk segera bersiap, hari ini adalah hari dimana mereka akan melamar gadis untuk Afnan. Akhirnya setelah sekian lama, Diana bisa membantah gosip yang beredar diluaran bahwa Afnan anaknya adalah seorang gay. Meski Diana tidak terima tapi Diana tidak bisa membantahnya sama sekali, karena memang selama ini Afnan tidak pernah dekat dengan wanita manapun, setelah gadis yang dulu Diana tidak setujui menghianati Afnan. Dari awal Afnan membawa gadis itu kehadapan Diana, Diana suda merasa tidak suka, entah kenapa Diana merasa gadis itu bukanlah gadis yang baik-baik. Ternyata dugaan Diana menjadi kenyataan, semenjak Afnan kenal dengan gadis itu sikap Afnan berubah menjadi suka membantah pada Diana, Afnan tidak lagi mendengarkan apa yang Diana, dan David suaminya katakan. Lalu beberapa bulan kemudian, Diana melihat kehancuran anaknya karena penghianatan yang dilakukan oleh gadis itu. Diana sangat ingat Afnan yang selalu pulang dalam keadaan mabuk dan mengumpat dengan kata-kata kotor yang ditujukannya untuk Aliya. Sejak saat itu juga, Afnan tidak pernah lagi dekat dengan seorang gadis, meski Afnan tidak pernah lagi pulang dalam keadaan mabuk, tapi Diana tahu bahwa anaknya itu masih sering menghabiskan waktunya di bar. “Afnan cepatlah nak, kita sudah telah, astaga sebenarnya apa sih yang kau lakukan dikamar darri tadi,” teriak Diana yang kesal karena sampai sekarang anaknya itu belum turun juga. “Keyra cepat keatas susul kakakmu, dan suruh cepat,” perintah Diana sambil melihat bawaannya untuk kerumah calon menantunya siapa tahu ada yang kurang. “Mamah nanti juga kakak turun,” ucap Keyra karena dalam mode mager kata anak jaman sekarang. “Key..” panggil Diana yang tidak mau dibantah. Dengan bibir yang mengerucut Keyra bangun dari duduknya berjalan dengan gontai. Belum juga Keyra naik tangga, Keyra melihat kakaknya yang turun dengan tampilan yang sudah rapih menggunakan jas berwana Navy. “Iya.. inilah dia calon pengantin kita jeng.. jeng.. jeng..,” goda Keyra yang memang suka menjahili kakaknya. Sampai didepan adiknya Afnan mengetok dahi Keyra dengan pelan, “Anak kecil mending diem, cuci kaki minum s**u tidur,” balas Afnan lalu berjalan melewati Keyra. “Mamah..” “Lihat kak Afnan mengetok dahi Key.. sakit mah,” adu Keyra yang mulai mendramatisir keadaannya. Astaga adiknya ini pintar sekali bersandiwara jelas-jelas tadi Afnan mengetok dahinya dengan pelan, Afnan yakin itu tidak akan terasa sakit sedikitpun. “Afnan jangan ganggu adikmu,” teriak Diana seolah-olah Afnan berada jauh darinya, padahal jarak Afnan dan Diana tidak sampai lima langkah. Keyra tersenyum penuh kemenangan dan menjulurkan lidahnya pada Afnan, melihat tingkah kekanakan adiknya Afnan tidak mau lagi ambil pusing dan mengambil ponsel untuk melihat siapa tahu ada panggilan penting. “Sudah selesai semua bukan, ayo kita jalan, ahh Afnan Keyra bawa satu-satu seserahan kita, sisanya nanti dibawa oleh bibi dan supir,” titah Diana yang juga ikut membawa bawaan mereka. “Aku jadi tidak sabar melihat gadis yang tidak beruntung itu, kalau aku jadi gadis itu, aku tidak akan mau menikah dengan manusia seperti kakak,” ucap Keyra mencari bahan untuk membuat kakaknya marah padanya. “Enak saja kalau bicara, kau tidak tahu kakakmu ini menjadi bahan rebutan para gadis haha,” gemas dengan adiknya Afnan menarik hidung Keyra dengan sedikit tenaga. Toh nanti meski tidak sakit dia akan tetap mengadu pada mamahnya dan bilang sakit bukan jadi sekalian saja Afnan membuat hidung gadis itu sedikit memerah. “Mamah..” pekik Keyra berusaha melepaskan tangan Afnan dari hidungnya. “Afnan Keyra jangan seperti anak kecil ayo jalan kita ini sudah kesiangan kalian tahu itukan,” omel Diana pada kedua anaknya yang selalu saja jika bertemu ada-ada saja yang diributkan. “Tunggu..” seperti ingat sesuatu Diana menghentikan langkah mereka semua tepat didepan pintu keluar rumah Gulfrom. “Ada apa lagi mah, katanya kita sudah kesiangan ayo..” protes Afnan merasa pegal membawa barang bawaan ditangannya bagaimana tidak Keyra memilihkan barang yang paling berat untuk Afnan bawa. “Astaga.. “ pekik Diana seolah sadar akan sesuatu yang dia tinggalkan. Menyadari itu Diana langsung berlari dengan cepat seperti lari maraton tidak perduli dia sedang memakai high heels. Bahkan sangking paniknya Diana mengangkat gaun yang dia gunakan setinggi mungkin agar tidak akan ada yang menghalangi langkahnya untuk cepat sampai ditempat tujuannya. “Mamah kenapa?” tanya Keyra heran melihat mamahnya seperti kesurupan. Afnan dan Keyra saling pandang lalu kembali melihat mamahnya, “Astaga papah,” ucap Keyra dan Afnan berbarengan. “Wah kak, alamat kita berdua akan menjadi kerupuk yang melempem ini, pasti mamah akan lama membujuk papah yang ngambek,” ucap Keyra melangkah kembali menuju sofa duduk bersandar disana. Afnan yang juga sependapat dengan adiknya mengikuti langkah Keyra dari belakang, kenapa juga Afnan sampai lupa bahwa papahnya belum turun kebawah. Sampai di depan pintu kamarnya Diana dengan cepat menaruh jari jempolnya agar pintu terbuka secara otomatis, karena terlalu terburu-buru menyebabkan pintu kamar itu tidak kunjung terbuka karena sidik jari yang kurang pas. “Astaga.. tolong jangan memperlambat aku,” kesal Diana pada pintu didepannya. “Huhh tenang Diana tarik nafas hembuskan, okey kita coba sekali lagi,” Diana kembali menaruh jari jempolnya dengan teliti. Titt, suara yang menandakan pintu berhasil dibuka, Diana dengan cepat membuka pintu kamarnya, Diana meneguk ludahnya kasar saat melihat suaminya duduk diskusi dengan gaya angkuhnya. Sepertinya David sudah menanti kehadiran Diana, tersenyum Pepsodent Diana menghampiri David yang menampilkan wajah masamnya. “Sayang..” ucap Diana yang sudah berada tepat dihadapan David. “Kenapa kau masih disini, kau tahu kami semua lama sekali menunggu kau dibawah, mangkanya aku menyusulmu kemari,” bohong Diana agar suaminya tidak marah dengannya. “Tidak usah bohong padaku, kau lupa padaku kan?” tanya David yang tepat sasaran. Tersenyum ragu-ragu Diana menggelengkan kepalanya, masih kekeh tidak mau mengaku. Tadi David kekamar mandi sebentar membuang air kecil, saat keluar pintunya terkunci, David yakin itu istrinya yang melakukannya. Istrinya itu memang pelupa, dia pasti juga melupakan bahwa pintu kamar mereka sedang rusak sehingga tidak bisa dibuka dari dalam menggunakan sidik jari, rencananya setelah acara lamaran mereka akan memanggil teknisi. “Ahhh sudah jangan marah, aku lupa karena sibuk mempersiapkan semua keperluan untuk kita bawa kerumah calon menantu kita,” Diana sudah bicara dengan nada yang manja. Tidak tanggung-tanggung Diana sampai duduk dipangkuan suaminya dan memeluk leher suaminya dengan mesra, “Mass sudah ya, hmmm.” Sadar usaha manjanya tidak berhasil, Diana mengambil wajah suaminya dan memberikan kecupan-kecupan kecil dibibir David. “Sudah ya ngambeknya, sekarang kita turun, ini adalah hari yang kita tunggu-tunggu bukan,” bujuk Diana yang sepertinya mempan karena wajah David sudah tidak setegang tadi. “Tidak cukup hanya dengan kecupan,” ucap David mengandung makna yang diana tentu sudah paham apa yang diinginkan oleh suaminya. Tidak mau membuang-buang waktu Diana kembali menaruh bibirnya diatas bibir suaminya dan terjadilah hal yang David inginkan. Mereka berdua hanyut dengan kemesraan yang tercipta dan lupa bahwa dibawah ada kedua anak mereka yang sedang menunggu dengan kesal karena kedua orang tuanya yang tidak kunjung turun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD