Diana dan David turun beriringan menuruni tangga, Diana tersenyum malu-malu saat melihat kedua anaknya yang menatap mereka berdua dengan tatapan kesal.
"Wahh.. ada yang lupa dengan anaknya nih kak.. duh lumutan nih kaki aku," sindir Keyra yang meminta Afnan ikut mendukung dirinya.
Tapi namanya saja Afnan dia tidak akan mau mengurusi hal-hal tidak penting begini, inilah yang membuat Keyra sebal karena merasa tidak memiliki teman yang satu pemikiran dengannya.
"Hehehe.. maaf ya tadi ada urusan urgen.. ayo kita berangkat keburu siang," ajak Diana dengan kembali mengambil barang yang akan dibawa kerumah calon menantunya.
"Bukan keburu siang tapi memang sudah siang," gerutu Keyra dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal karena sudah bosan menunggu kedua orang tuanya yang tidak kunjung turun.
"Key..." suara dingin dari David membuat Keyra bersembunyi dibelakang Afnan.
"Kak.." lirih Keyra yang meminta pembelaan dari kakaknya.
"Sudahlah ayo kita pergi, ini sudah terlalu siang dari waktu yang kita janjikan," setelah mengatakan itu Afnan menarik tangan adiknya keluar bersama dirinya meninggalkan orang tuanya dibelakang.
"Afnan kau tidak lupa dengan rumah calon menantu mamahkan," tanya Diana yang memecahkan keheningan diantara mereka.
"Riko sudah mengirim mapsnya mah jadi kita tidak mungkin tersesat," Afnan berkata dengan santai tanpa melihat ekspresi mamahnya yang menganga tidak percaya.
"Jadi kau belum tahu sama sekali rumahnya Afnan, bahkan sekalipun kau belum pernah main kesana?"
Afnan menjawab dengan menggelengkan kepalanya, yang membuat Diana ingin sekali memasukkan Afnan kedalam perutnya lagi.
"Astaga kak bagaimana jika nanti kita sampai disana wanita itu memberikan alamat palsu.. seperti lagu.. kemana.. kemana.. kemana.. hahaha," Keyra melemparkan humor yang menurut mereka bertiga itu tidaklah lucu.
Melihat tidak ada satupun yang tertawa, membuat Keyra berhenti dan mengerucutkan bibirnya.
Ck.. padahal tadi lawakanku sudah sangat lucu tapi mereka tidak tertawa.. fix keluargaku ini memang punya kelainan dan senyuman.
"Tidak usah berpikir yang aneh-aneh kita pasti sampai disana."
"Kau ini Keyra jangan buat mamah tambah takut kalau gadis yang mau kita lamar ini malah kabur karena tidak mau menikah dengan kakakmu."
"Hahaha mamah benar.. aku rasa wanita itu ingin kabur karena tidak mau menikah dengan kakak yang seperti wajah setrikaan, datar begini."
David memijat keningnya sendiri, Keyra tidak dipancing saja pasti senang sekali membuat Afnan kesal, apa lagi ada yang memberinya ide tambah semangat pasti anak itu.
"Heh kau tidak tahu saja banyak yang meu menikah dengan kakak," ucap Afnan yang tidak terima dikatakan tidak laku oleh Keyra.
"Ohoooo benarkah.. wah aku kagum padamu kak.. tapi kenapa bisa ada rumor kalau kau itu seorang gay.. hahahaha."
Adiknya ini memang tidak akan kehabisan akal untuk membantah dirinya, diam memang paling ampuh untuk membuat mulut Keyra berhenti bicara.
Keyra sudah duduk dengan gusar merasa perjalanan mereka seperti lama sekali, "Key duduk lah yang tenang sedikit apa tidak bisa," tegur Afnan yang merasa terganggu dengan suara grasak grusuk disampingnya.
"Kak apa masih lama, bosan sekali aku dari tadi tidak sampai-sampai," keluh Keyra merasa bosan tidak ada yang bisa gila-gilaan bersama dengannya.
Citttt... Mobil Adnan berhenti disebuah gang sempit dimana hanya bisa dilewati oleh motor dan pejalan kaki saja.
"Kak kenapa berhenti disini, cepat jalan lagi biar kita cepat sampai."
"Kita sudah sampai," ucap Afnan sambil melepaskan sealtbelt nya.
Mereka bertiga langsung serempak menengok kearah Afnan, "Afnan jangan bercanda mana rumahnya," Diana yang tadi tadi celingak celinguk tidak menemukan rumah hanya ada toko-toko yang berjejer rapih.
"Mah Afnan tidak bercanda rumahnya ada didalam gang itu, kita jalan kaki dari sini," jawab Afnan lalu keluar dari mobil lebih dulu dan disusul oleh keluarganya.
Mereka berempat berjalan kaki melewati gang sempit sambil membawa bingkisan, "Afnan awas jangan sampai salah rumah ya," ucap Diana memberikan peringatan pada Afnan.
Kemana sih Riko kenapa aku hubungi susah sekali, aku kan tidak tahu rumahnya dimana, kalau sampai aku mengetuk rumah yang salah mau ditaruh dimana wajahku.
"Afnan kau yakin ini rumahnya," tanya Diana karena rumah yang mereka datangi sepi, bukankah kata Afnan wanita itu sudah tahu bahwa Afnan akan membawa keluarganya datang kerumah tapi kenapa malah pintu rumah terbuka saja tidak.
Astaga apa jangan-jangan tebakan Keyra benar bahwa gadis itu kabur tidak mau menikah dengan Afnan.
Ketakutan Diana makin menjadi saat Afnan mengetuk pintu rumah itu tapi tidak kunjung dibuka.
Sial kenapa tidak ada yang membuka pintu, jika melihat di maps benar disini lah titiknya, lalu kenapa tidak ada yang keluar membukakan pintu untuknya.
"Ekmm... maaf pak," suara Riko dari arah belakang mereka membuat Afnan dan keluarganya serempak menengok kebelakang.
"Riko.. kau tahu dimana orang-orang yang ada didalam, apa gadis itu kabur," Riko langsung diberondong pertanyaan oleh Diana.
Riko mengulum senyum, mendengar ketakutan dari Diana, "Emm tidak nyonya.. hanya saja kalian salah mendatangi rumah."
"Apa...." Pekik Diana dan Keyra yang serempak menatap kearah Afnan dengan tatapan tidak percaya.
"Sudahlah.. ayo kita pergi dari sini keburu terlalu siang jika kita hanya berdiri disini," Afnan mengucapkannya dengan gaya coolnya untuk menutupi rasa malunya pada keluarganya sendiri.
Afnan berjalan mendahului mereka, "Ehhh pak Afnan tunggu," cegah Riko.
"Apa lagi Riko, jangan membuang-buang waktu, aku ini masih banyak pekerjaan yang lain."
"Tapi pak anda salah jalan," tik tok tik tok.. keheningan terjadi sejenak disana.
"Hahahaha.. astaga perutku sakit sekali," Keyra sudah tidak bisa menahan tawanya, sedangkan Diana dan David sudah mengulum senyum takut jika mereka juga tertawa Afnan semakin kehilangan mood dan malah membatalkan acara lamaran ini.
"Kenapa tidak bilang dari tadi cepat tunjukkan aku dimana arahnya," marah Afnan yang sudah merasa malu.
"Disana pak," Riko memberikan petunjuk arah dengan jarinya.
"Cepat jalan duluan," perintah Afnan tidak mau lagi malu untuk kesekian kalinya.
Sampai dirumah Nayra mereka disambut hangat oleh ayah dan adiknya Nayra, "Selamat datang di gubuk kami, maaf ya rumah kami sederhana begini, jauh dari kata layak," ucap ayah Nayra yang sebenarnya malu jika berbesanan dengan keluarga Afnan.
Awalnya saja Sunaryo tidak setuju dengan Nayra yang mengatakan bahwa keluarga dari pembisnis terkenal mau melamar dirinya.
Sunaryo cukup tahu diri bahwa keadaan sosial mereka jauh berbeda, tapi berkat kegigihan Nayra yang meyakinkan dirinya Sunaryo akhirnya setuju.
"Jangan begitu kami bukan keluarga yang memandang rendah orang lain, lagi pula sebentar lagi kita akan menjadi keluarga janganlah merendah seperti itu," jawab David membalas dengan ramah.
"Rio dimana kakakmu, kenapa belum keluar," tanya Sunaryo karena tidak enak jika membuat keluarga Afnan menunggu Nayra terlalu lama.
"Aku akan panggilkan kak Nayra," Rio langsung berdiri menuju kamar kakaknya.
Diana sudah memasang matanya agar bisa dengan cepat menangkap seperti apa gadis yang akan Afnan nikahi.
Siapapun dia Diana bersyukur karena wanita itu mau menikah dengan anaknya yang kaku ini.
Diana berharap dengan pernikahan ini Afnan bisa kembali kejalan yang benar dan menjadi Afnan yang dulu.
"Key.. kau bisa menebak wajah calon kakak iparmu," bisik Diana ditelinga Keyra.
"Aku rasa gadis itu buta karena mau menikah dengan kakak," sahut Keyra yang juga ikut berbisik.
"Ngaur kamu," Diana memukul lengan putrinya dengan pelan tidak mau membuat kegaduhan dirumah calon besannya.
"Hehehe.. bercanda mah, aku yakin wanita itu gadis yang baik karena mau menerima kekurangan kakak."
Semoga saja apa yang dikatakan oleh Keyra benar bahwa gadis itu gadis yang baik, Diana tidak membutuhkan gadis itu cantik atau kaya yang penting dia bisa setia pada Afnan.