Tok.. tok.. tok.., "Kak keluarga calonmu sudah datang, cepatlah keluar mereka semua sudah menunggu dirimu."
Panggilan dari adiknya Rio menyadarkan Nayra dari lamunannya, Nayra menatap pantulan dirinya dicermin.
Apa keputusan yang aku ambil salah, aku menyalahkan niat untuk menutupi auratku, tapi aku benar-benar tidak mau menikah dengannya.
Tuhan maafkan aku yang mengambil pilihan ini, tolong maafkan aku kali ini.
"Bismillah," Nayra meyakinkan dirinya sendiri, dan beranjak keluar dari kamarnya.
"Mah.. lihat kedepan itu gadisnya," Keyra menyenggol lengan mamahnya dengan cepat, takjub wanita yang akan dinikahi oleh kakaknya adalah wanita dengan berhijab.
Tapi setahu Keyra kakaknya sangat membenci wanita dengan penutup kepala seperti itu, dia saja pernah diwanti-wanti untuk tidak memakai pakaian seperti itu, lalu kenapa malah kakaknya menikahi gadis itu.
Sama dengan Keyra Diana juga sama terkejutnya, tapi hanya sebentar dia sudah bisa menguasai dirinya sendiri.
Diana tidak tahu apa rencana anaknya, tapi yang Diana lihat gadis ini berbeda dengan mantan pacar Gama dulu, Diana yakin dia gadis yang baik-baik.
"Astaga pah ternyata calon menantu kita sangat cantik ya," puji Diana dengan semangat.
"Ahh nyonya terlalu berlebihan, nyonya lihat sendiri penampilan anak saya tidak seperti gadis-gadis modern lainnya, dia selalu memakai kacamata tebal karena penglihatannya yang sudah mulai mengabur."
"Ahh calon besan ini terlalu merendah, aaa.. siapa namamu sayang?" ucap Diana yang ingin menyebutkan nama calon menantunya tapi ternyata dia lupa namanya.
"Nayra tante," jawab Nayra dengan kepala tertunduk tidak berani menatap kearah depan yang akan langsung bertatapan dengan Afnan.
"Ahhh iya Nayra.. kau cantik sekali sayang, benar kan pah," Diana meminta dukungan dari suaminya untuk menambah suara dirinya.
David hanya mengangguk dengan senyum yang sangat irit, jika sudah begini kalian pasti tahu kan dari mana diturunkan sifat ringan Afnan.
Sedangkan Afnan sendiri dia mengepalkan tangannya marah, rupanya gadis ini mau bermain-main dengan diriku.
Apa dia pikir setelah menutup rambutnya aku akan membebaskan dirinya dari pernikahan ini, jangan harap, tadinya aku hanya ingin menikahinya tanpa membuatnya menderita, tapi sekarang lihat apa yang akan aku lakukan padamu gadis sialan.
Bisa-bisanya kau memancing amarah diriku, selamat datang diduniamu yang baru Nayra, jangan salahkan aku berbuat begini, salahmu yang sudah memancing amarahku.
Tuhan kenapa dia tidak angkat bicara sampai sekarang, kenapa dia hanya diam dengan pandangan menakutkannya, Tuhan aku ketakutan sekarang, tolong bantu aku.
"Jadi Nayra, kedatangan kami kemari untuk melamar dirimu untuk anakku, aku yakin kau sudah tahu tentang ini bukan, sebagai formalitas aku mau mendengar kesanggupan dirimu menikah dengan anakku," ucap David tidak mau berbasa-basi lagi.
Kenapa dia tidak angkat bicara, sekarang apa yang harus aku katakan, aku tidak mungkin menolak nya secara terang-terangan pada mereka.
"Nayra kenapa hanya diam nak, jawab pertanyaannya," desak ayah Nayra yang tidak mendengar suara anaknya membalas pertanyaan yang ditujukan untuk dirinya.
"Tentu saya menerimanya, nyonya," ucap Nayra dengan senyum yang dipaksakan, dia sebisa mungkin tidak mau melihat kearah Afnan yang dia rasa dari tadi menatapnya dengan tajam seperti ingin menguliti dirinya.
"Alhamdulillah," ucapan syukur terdengar dari semua orang, bahkan Keyra yang juga ikut deg degkan jika wanita didepannya ini menolak kakaknya.
"Kalau begitu kita sudah bisa menentukan tanggal pernikahan bukan?" Diana begitu bersemangat untuk mengatur pernikahan anaknya, bahkan Diana sekarang sudah membayangkan harus mulai dari mana dulu dirinya.
"Kami ikut keluarga tuan dan nyonya saja," jawab ayah Nayra.
"Tolong besan jangan panggil tuan dan nyonya sebentar lagi kita akan menjadi keluarga, panggil kami dengan besan," David dari tadi sudah gatal ingin mengatakan ini karena merasa janggal mendengar kata tuan dari Aya Nayra.
Ayah Nayra tersenyum kikuk, dengan berat hati menganggukkan kepala setuju dengan besannya.
"Bagaimana jika kita adakan pernikahan mereka dua Minggu dari sekarang, aku rasa waktu segitu sudah cukup untuk mempersiapkan pernikahan mereka," usul Diana tidak mau lama-lama menggelar pernikahan Afnan.
Semua orang disana setuju dengan pendapat Diana, dua Minggu dari sekarang Nayra akan masuk kedalam dunia yang Afnan buat.
Nikmatilah kebebasanmu dua Minggu ini Nayra, karena setelah itu aku tidak akan membiarkan kau tersenyum sedikit pun, tidak akan pernah, camkan itu.
"Oh iya aku hampir lupa," Diana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, lalu berdiri pindah tempat duduk disamping Nayra.
Diana mengambil tangan Nayra dan memasangkan gelang cantik kepada Nayra, "Ini gelang turun temurun dari keluarga Gulfrom, dulu waktu keluarga ayah Afnan melamarmu ibu mertuaku memberikan ini padaku, sekarang gelang ini menjadi milikmu, ini sebagai bukti kau resmi menjadi bagian keluarga Gulfrom."
Nayra menatap gelang cantik dipergelangan tangannya, Nayra yakin jika dijual gelang ini pasti sangat mahal harganya.
Astaga Nayra apa yang kau pikirkan, bisa-bisa kau digantung hidup-hidup menjual benda keramat ini.
"Terima kasih, nyonya," lirih Nayra hampir tidak terdengar sangking kecilnya.
"Astaga sayang jangan panggil aku nyonya, panggil aku mamah cepat aku mau dengar," paksa Diana ingin mendengar Nayra memanggil dirinya dengan mamah.
"Ma.. mamah," Nayra mengucapkannya dengan kaku, sudah lama sekali dia tidak mengucapkan kata itu.
"Aaaaaa jadi sekarang kau resmi menjadi kakak iparku, aku senang sekali akhirnya aku memiliki teman dirimu," Keyra menyingkirkan Diana dari sana duduk bergelayut disamping Nayra.
Nayra yang memang tidak memiliki adik wanita merasa senang diperlakukan begitu oleh Keyra, Nayra tersenyum membalas semua perlakuan Nayra pada dirinya.
"Nah kau harus begitu banyak senyum jangan seperti kakakku, meski kau nanti menikah dengannya jangan ikut sifatnya ya," ucap Keyra setengah berbisik namun masih bisa didengar dengan yang lainnya.
Nayra cekikilan tertawa mendengarnya, sepertinya dia dan adiknya Afnan ini akan menjadi teman baik, Nayra sangat suka dengan sifat ceria dari Keyra, sifat ceria Keyra pasti nantinya akan menular padanya.
Melihat Nayra yang tertawa Afnan tersenyum miring, tertawa lah sepuasmu selagi kau bisa tertawa, nanti akan aku pastikan kau hanya akan mengeluarkan air mata tidak akan ada tawa lagi dari bibirmu itu.
Sial aku benci sekali melihatnya memakai benda itu, ingin sekali aku menarik benda itu dari atas kepalanya.
Kenapa dia harus mengingatkan diriku dengan wanita penghianat itu, sekarang saja aku sudah ingin membuatnya menderita.
"Aku rasa kami harus pamit undur diri," David mengintuksi agar mereka semua bersiap untuk pulang dari sana, jika tidak begitu David yakin Keyra pasti akan makin berulah dengan menjelek-jelekkan Afnan.
David khawatir lama-lama ayahnya Nayra berubah pikiran mendengar kejelekan Afnan yang keluar dari mulut Keyra.
Keyra dengan terpaksa melepaskan gelayutan tangannya padahal dia masih ingin berlama-lama disini, dia senang disini dia bisa mendapatkan teman bicara.
Setelah berpamitan mereka semua pergi dari rumah Nayra, Diana memberikan lambayan dan senyuman terbaiknya pada calon menantunya itu.
Setelah semuanya pergi ayah Nayra mengusap kepala Nayra, dia tidak menyangka sebentar lagi dia harus melepaskan Nayra.
Rasanya baru kemarin dia mengajarkan Nayra berjalan, sekarang dia harus menghantarkan anaknya kepelaminan.
Sayang, anak kita sudah mendapatkan jodohnya, kau melihatnya bukan, kau juga ikut bahagia disana bukan.
"Ciee.. yang sebentar lagi mau menikah," goda Rio pada kakaknya.
"Apasih anak kecil, sudah ahh aku mau masuk," Nayra menghiraukan godaan dari adiknya dan masuk kedalam.
Sebenarnya Rio merasa ada yang aneh dengan tatapan Afnan tapi Rio berharap pirasatnya saat ini salah.