Setelah mengantar keluarganya kerumah, Afnan langsung memutar balik mobil, niatnya ingin pergi ke bar tapi melihat jam masih menunjukkan pukal dua siang pasti tempat orang untuk mencari kesenangan sesaat itu belum buka.
Afnan melajukan mobilnya kencang menuju apartemen Leon teman Afnan sejak Afnan duduk di bangku SMP.
Sampai di apartemen Leon Afnan memencet bel berkali-kali dengan tidak sabaran, "Sialan kenapa dia lama sekali membuka pintunya," marah Afnan dengan menendang pintu didepannya yang tidak berdosa.
"Heh Leon buka pintunya," gedor Afnan yang tidak perduli apakah tetangga yang lainnya akan terganggu atau tidak dengan suara teriakan dirinya.
Ceklek pintu terbuka menampilkan Leon yang hanya memakai boxer dan bertelanjang d**a rupanya kehadiran Afnan mengganggu waktu istirahat laki-laki itu.
Tanpa perduli dengan wajah cemberut Leon Afnan menerobos masuk, langsung menuju arah pantri dan menuangkan anggur yang memang sudah berjejer rapih disana.
"Kau ini tamu yang tidak tahu diri ya, sudah mengganggu waktu tidurku, minum minuman tanpa permisi dulu," omel Leon sambil memakai baju kaos dan juga celana rumahannya yang memang tergeletak di sofa ruang tamunya.
Leon berhenti mengomel saat mendapatkan tatapan tajam dari Afnan.
"Aneh bukankah hari ini dia melamar seorang gadis yang katanya kemarin ayahnya tidak bisa membayar hutang, harusnya dia bahagia sekarang karena masalah nya tentang pernikahan selesai," batin Leon yang heran melihat amarah yang jelas terlihat di wajah sahabatnya.
Apa jangan-jangan wanita itu kabur?.
"Heyy bro kenapa kau malah galau begini, bagaimana wanita itu cantik tidak hari ini," pancing Leon agar Afnan bercerita padanya.
Leon ikut menuangkan anggur kedalam gelas menyesapnya dengan santai, seolah itu adalah jus yang sehat.
"Jangan tanyakan dirinya, wanita sialan berani-beraninya dia memancing amarahku," Afnan memegang erat gelas ditangannya lalu sangking kesalnya dia melempar dengan sembarang sampai gelas itu pecah berkeping -keping.
Leon yang sudah biasa dengan sifat Afnan santai saja melihatnya, paling nanti dia akan memanggil petugas kebersihan untuk membersihkan apartemennya yang sudah berantakan begini.
"Kenapa jadi marah begitu, memangnya apa yang gadis itu lakukan apa dia kabur saat kau datang kerumahnya?"
"Lebih dari itu, aku lebih suka dia kabur dari pada melakukan hal seperti tadi."
Jawaban dari Afnan membuat Leon jadi penasaran sebenarnya apa yang dilakukan gadis itu sampai Afnan terlihat murka begini.
"Lalu kalau bukan itu apa yang gadis itu lakukan, kalau aku lihat foto yang kau tunjukkan aku rasa dia bukan gadis pemberani yang akan melawanku secara terang-terangan."
"Kau salah dia melakukannya, dia menutup rambutnya sama seperti gadi jalang itu," sahut Afnan dengan tatapan nyalangnya.
Penutup rambut,, sepertinya Leon sudah mengerti kenapa Afnan bisa semarah ini, rupanya gadis itu memakai jilbab, tapi dari mana gadis itu tahu kalau Afnan benci wanita berjilbab.
"Maksudmu dia pakai jilbab?" tanya Leon memastikan tebakannya benar, melihat Afnan yang tidak menyahut sepertinya memang dugaannya benar.
"Ayolah Afnan tidak semua wanita yang memakai pakaian seperti itu sama seperti Aliya, kalau aku lihat gadis itu gadis baik-baik Afnan."
"Jangan berani-berani sebut nama wanita jalang itu didepanku, kalau tidak mau kurobek mulutmu."
Leon langsung membungkam mulutnya kalau sudah begini akan sangat susah bicara dengan Afnan, terlalu bodoh menilai wanita membuat Afnan dulu memberikan seluruh hatinya kepada Hanna, jadinya begini kalau dikecewakan membekasnya sampai tujuh turunan.
"Mau sampai kapan kau terjebak dimasa lalu Afnan, tidak semua wanita seperti gadis itu, contohnya saja ibumu dia tetap setia pada ayahmu sampai sekarang, kau hanya tidak mau berusaha keluar dari masa lalu Afnan."
"Apa dengan kau meniduri gadis-gadis malam itu kau bisa merasa dendammu terbalaskan, Afnan kalau memang kau mau menyiksa gadis carilah gadis yang memang tidak baik, gadis yang akan kau jadikan istri itu gadis baik-baik Afnan jadi aku yakin jika kau menjalani pernikahan sungguhan dengannya kau pasti tidak akan kecewa."
"Jangan menceramahi diriku jika kau sama sepertiku Leon," balas Afnan dengan tajam.
"Tidak Afnan kita tidak sama, meski aku b******n aku tidak merusak wanita baik-baik, aku selalu bermain dengan para w************n yang rela membuka paha mereka untukku dengan suka rela."
"Kalau aku jadi kau mendapati wanita baik-baik aku akan berhenti bermain wanita, contohnya Keyra mungkin," sambung Leon dengan berkata kecil pada nama Keyra saat dia mengucapkannya.
"Heyyy jangan pernah coba-coba kau mengganggu adikku, dia gadis baik-baik, sampai kau mendekati adikku, aku tidak perduli kau sahabatku atau bukan aku akan menghabisi dirimu," ancam Afnan yang membuat Leon bergidig ngeri.
Leon akui dia sudah jatuh cinta pada Keyra, jika saja Keyra bukan adiknya Afnan sudah pasti dia langsung menjadikan Keyra miliknya, tapi Leon sadar Afnan dan juga orang tua Keyra tidak akan mau menerima Leon menjadi menantu mereka, mereka sudah sangat hapal dengan sepak terjang Leon.
"Kan aku hanya memberi perumpamaan, hehehe," kekeh Leon seperti hanya bercanda dengan Afnan padahal kalau Afnan memberi restu Leon sudah pasti langsung tancap gas mengejar Keyra.
"Tapi kau tidak takut adikmu jadi perawan tua karena sikap kau dengan ayahmu yang begitu," tanya Leon hati-hati.
"Lebih baik dia jadi perawan tua dari pada bersama dengan laki-laki b******k sepertimu," sahut Afnan yang membuat Leon ingin menonjok wajah Afnan.
"Tapi tunggu kenapa kau ini, selalu menyelipkan nama Keyra ketika kita sedang bicara, kau tidak tertarik pada adikku bukan," tanya Afnan penuh selidik.
Mati aku sampai Afnan tahu perasaanku dia tidak akan mengizinkan aku untuk sekedar melihat wajah Keyra.
"Ahhh kenapa jadi malah bahas adikmu, jadi apa yang akan kau lakukan pada gadis itu, apa kau akan membatalkan pernikahanmu?"
Afnan tersenyum miring, "Jangan harap aku akan tetap menikahinya dan membuat hidupnya bagai dineraka."
Leon jadi kasihan pada gadis itu, Afnan pasti tidak akan main-main dengan ucapannya, gadis malang harus terjebak dengan dunia yang akan Afnan ciptakan untuknya.
"Afnan sebagai sahabatmu aku ingin memberi saran jangan sakiti gadis itu Afnan, ketika kau menunjukkan fotonya padaku aku langsung bisa tahu dia gadis baik-baik."
"Ingat Afnan kau memiliki adik perempuan, bagaimana jika Keyra diperlakukan begitu," ucap Leon berusaha mencegah apa yang Afnan rencanakan.
"Tidak aka ada yang bisa menyakiti adikku, aku akan selalu menjaganya," sahut Afnan penuh percaya diri.
"Afnan siapa yang tahu kedepannya, ingat Afnan karma itu ada, jadi sebelum terlambat hentikan niat busuk mu itu."
Afnan menatap Leon dengan tajam, "Kau menyumpahi adikku," ucap Afnan yang rupanya salah tangkap dengan maksud Leon.
"Astaga Afnan bukan itu maksudku, aiss sudahlah terserah kau mau lakukan apa, aku sumpahi kau jatuh cinta padanya baru tahu rasa."
"Jatuh cinta padanya hahaha, pada gadis cupu itu, jangan bercanda Leon, kau tahu dia sama sekali bukan seleraku, bahkan aku tidak tahu apakah bisa b*******h dengannya atau tidak," Afnan tertawa lepas merasa Leon mengatakan hal yang lucu.
Ya Tuhan manusia satu ini, dia pikir cinta itu datang karena selera apa, dirinya saja yang jelas-jelas Keyra jauh dari tipe nya bisa jatuh cinta pada Keyra, biarlah kalau sudah jatuh cinta baru tahu rasa dia.
"Sudahlah aku mau pesan gadis saja."
"Kau mau melakukannya di apartemenku?" tanya Leon tak percaya.
"Iya aku menumpang, nanti aku bayar seperti menyewa hotel," sahut Afnan seenak jidatnya.
"Tidak boleh sana keluar tempatku ini masih suci, kalau mau sana lakukan dihotel jangan diapartemenku," Leon langsung mengusir Afnan, enak saja dirinya saja tidak pernah membawa gadis panggilan kemari Afnan sudah mau berbuat yang tidak-tidak diapartemennya.
"Dasar pelit," umpat Afnan lalu meneguk habis anggur ditangannya dan segera pergi dari sana.
"Kalau bukan sahabat dan calon kakak iparku, sudah ku lempar kau dari tadi."