Nayra kemabli pada rutinitasnya menjadi pegawai toko roti, “Selamat datang…” ucap Nayra yang belum melihat siapa pembeli yang datang ketokonya.
Melihat tubuh lelaki berdiri didepan meja kasir tempatnya berjaga Nayra mengangkat kepalanya dan langsung melotot saat mendapati Afnan lah yang tadi datang berkunjung ke toko roti ini.
Menormalkan keterkejutannya kembali Nayra tersenyum dan berusaha melayani Afnan seperti pembeli lainnya, “Mau membeli apa pak, siapa tahu ada yang bisa saya bantu,” tanya Ara dengan ramah.
Tapi pertanyaannya malah dibalas dengan senyuman sinis dari Afnan, “Ternyata begini kehidupanmu sangat menyedihkan,” ucap Afnan dengan nada dinginnya mengejek kehidupan Nayra.
Kau benar kehidupanku menyedihkan lalu kenapa kau menambahnya menjadi lebih pedih lagi, batin Nayra yang hanya bisa dia ucapkan didalam hatinya saja.
Nayra menghirup nafas dalam berusaha tidak terpancing emosi dengan segala ucapan Afnan yang sangat sadis terdengar.
Sialnya hari ini Nayra harus berjaga sendiri karena Sella yang mengambil part malam hari ini, jadilah dia harus meladeni Afnan dari pada dipecat oleh pemilik toko ini.
Pekerjaan Nayra yang satu ini adalah tumpuan hidupnya untuk membiayai kehidupan keluarganya, jika dia dipecat Nayra tidak tahu harus mencari uang dimana lagi, karena itu dia hanya perlu menambah sedikit kesabarannya untuk meladeni mau nya Afnan.
Dengan memberikan senyum ramahnya dan menganggap Afnan sebagai pembeli gila yang hanya mampir sejenak ditoko tempatnya bekerja, “Maaf pak ada yang bisa saya bantu?”
Ternyata kau gadis yang tidak gampang menangis juga, bagus dengan begitu kau akan menjadi mainan baru yang menyenangkan untukku, tunggu beberapa waktu lagi gadis licik, akan ku buat hidupmu bagaikan dineraka.
“Berikan aku apa yang terbaik ditempat ini,” ucap Afnan lalu berjalan menuju kursi yang memang disediakan untuk pembeli jika ingin makan ditempat ini, atau untuk mereka beristirahat setelah lelah berkeliling.
“Ini pak,” Nayra menyodorkan roti yang sudah dia tata diatas piring kepada Afnan.
Afnan menerimanya dengan tatapan tajam terus ia perlihatkan pada Nayra, Afnan menggigit ujung roti itu dan mengunyahnya beberapa kal.
“Cuihhh… ini yang kau bilang makanan terbaik,” Afnan melepehkan makanannya, jangan membayangkan Afnan melepehkan dilantai, karena dia menyemburkan makanannya kewajah Nayra.
Nayra menutup matanya, ingin sekali Nayra menangis atas perlakuan yang Afnan berikan kepada dirinya.
Tidak Nayra jangan menangis kalau kau menangis dia akan berada diatas angin karena itulah tujuannya datang kemari.
“Maf pak jika makanan di tempat ini tidak sesuai dengan lidah anda, tapi saya mengatakan kebenaran bahwa ini memang roti yang sering dicari oleh pembeli,” ucap Nayra dengan tetap tersenyum didepan Afnan
“Oh.. jadi kau berkata bahwa aku berkelakar begitu,” bentak Afnan dengan menggebrak meja didepannya.
Meski sedikit terperanjat Nayra dengan cepat bisa mengembalikan ekspresinya seperti awal.
“Bukan begitu pak saya hanya bicara apa adanya, mungkin saja lidah anda tidak cocok dengan makanan yang dijual disini,” Naya mengucapkannya dengan lancar seperti tidak terpengaruh sama sekali.
Padahal dibelakang punggungnya tangannya sudah meremas dengan kuat berusaha untuk menahan tangisnya dihadapan Afnan.
Nayra juga heran kenapa tidak ada satupun pembeli yang datang, biasanya toko ini tida sepi dengan pembeli.
“Kenapa melihat kepintu luar, berharap ada yang menyelamatkan dirimu heh,” ucap Afnan yang memperhatikan gerak gerik ekor mata Nayra yang selalu menuju luar.
Afnan berdiri lalu memutari tubuh Nayra, “Aku akan memberikanmu toleransi kali ini, lepaskan penutup kepalamu ini dan kau akan aman menikah denganmu, aku tidak akan lagi mengurusi urusanmu atau mengusikmu.”
Nayra menatap kesamping kearah Afnan, tawaran dari Afnan sungguh mengiurkan untuknya, belum menikah saja dia sudah diperlakukan begini apalagi nanti jika mereka sudah menikah.
Tapi melepaskan hijabnya kembali bukan perkara yang mudah bisa Nayra lakukan, meski Naya tidak terlalu paham tentang agama tapi dia juga tidak bisa mempermainkan hijab seperti ini.
“Kenapa hanya diam, jawab aku, ingat aku tidak akan memberikan penawaran dua kali untukmu, sampai kau menolaknya maka aku akan ucapkan selamat datang didunia barumu.”
Glek.. Nayra meneguk ludahnya dengan kasar, Bagaimana ini apa yang harus dia pilih melepaskan hijabnya atau harus bertahan melawan Afnan yang jelas-jelas tidak bisa dia lawan.
Tidak Nayra kenapa kau harus takut dengan manusia, ingat dia hanya manusia yang sama sepertimu, kau punya Tuhan Nayra dia pasti akan melindungimu percayalah.
“Maaf pak berhijab adalah pilihan saya, saya tidak bisa melepaskannya begitu saja setalah saya pakai.”
Jawaban Nayra membuat Afnan murka, padahal dia sudah menurunkan egonya untuk memberikan Nayra kesempatan. Jadi kau tidak takut padaku ya, baiklah aku akan lihat seberapa kuat kau bisa mempertahankan pendirianmu itu.
“Kalau begitu bersiaplah gadis sombong, tersenyumlah selagi kau bisa sebelum aku tidak akan membiarkan sedikit saja senyum muncul dibibirmu,” Afnan mengucapkanya tepat ditelinga Nayra.
Mendorong tubuh Nayra dengan bahunya sampai tubuh Nayra terhuyung Afnan pergi dari sana dengan hati yang makin dongkol pada Nayra.
Sampai dimobilnya Afnan memukul stri dengan kuat, harusnya dia tidak membuang waktunya dengan datang kemari, dia bahkan mengeluarkan uang untuk menyuruh orang menahan pembeli yang ingin peri kesana.
“Gadis keras kepala, memberikan kau sedikit kebaikan tapi kau menolaknya, apa kau pikir aku akan main dengan ucapanku,” marah Afnan.
Setelah mendapat ceramah dari Leo, Afnan mulai berpikir dan membenarkan apa yang Leon ucapkan, bahwa Nayra tidak ada sangkut pautnya dengan mantan kekasih yang telah menghianati dirinya karena itulah Afnan datang kemari.
Awalnya dia ingin bicara baik-baik tapi melihat penampilan Nayra membuat emosinya kembali naik, karena itu Afnan melakukan hal sekasar itu pada Nayra.
Tapi rupanya dia tidak perlu lagi mengindahkan ucapan Leon karena gadis itu yang sudah memilih jalan menderita ditangan Afnan.
Setelah Afnan pergi tubuh Nayra langsung luruh dilantai, “Hikss.. hiksss… hikss, kenapa ada orang sekejam itu didunia ini,” isak Nayra yang tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis.
“Memangnya apa salahku, aku hanya pakai hijab kenapa dia sampa melakukan hal sejauh ini, Tuhan aku ingin lari,” keadaan yang mendukung karena toko yang masih sepi membuat Nayra dengan leluasa menangis.
Nayra mengelap wajahnya yang kotor karena semburan dari Afnan, selama ini Nayra tidak pernah diperlakukan sekasar ini oleh orang lain.
“Dia memang bukan manusia, dia iblis yang tidak punya hati,” ucap Nayra yang begitu membenci Afnan.
Rasanya Nayra tidak menginginkan pernikahannya dengan Afnan terjadi, apa bisa dia menggagalkan pernikahannya.
Tidak, Nayra tahu dia tidak bisa lagi melarikan diri dari pernikahan ini.
Tenang Nayra kau gadis yang kuat kau aka bertahan didalam pernikahan sampai Afnan bosan dan mau menceraikan dirinya.
Nayra menertawakan dirinya sendiri, jika orang-orang ingin menikah dan mengharapkan pernikahannya berjalan dengan langgeng beda lagi dengan dirinya yang menginginkan pernikahan ini cepat selesai.
Melihat beberapa roti yang masih utuh diatas piring dengan uang beberapa ratus ribu disampingnya Nayra merasa kasian dengan roti-roti itu.
“Kasihan sekali kau tidak dimakan, baiklah kau akan masuk kedalam perutku ya,” ucap Nayra sudah ceria kembali.
“Roti enak begini dibilang tidak enak, memang lidahnya saja yang bermasalah,” Nayra memakan roti itu dengan lahap, meski dia bekerja disini sudah lama, tapi baru kali ini Nayra memakan roti yang sering dicari pembeli, karena harganya yang lebih maha dari pada yang lain jadilah Nayra harus berpikir dua kali untuk membelinya