Fitting Baju

1163 Words
Nayra hari ini diberitahu bahwa dia akan dijemput untuk fighting baju pengantin, itu berarti dia harus kembali bertemu dengan Afnan. "Rasanya aku tidak mau pergi kesana," keluh Nayra didepan cermin, dia sudah selesai berberes tinggal menunggu jemputan yang akan mengantarkannya kesana. Nayra mendengar deru mobil didepan rumahnya, itu pasti mobil yang akan mengantarkan dirinya. "Kenapa cepat sekali sih." Hari ini dirumah hanya ada dirinya sendiri karena itu Nayra langsung keluar dari kamarnya. "Maaf nona baru saj saya mau ketuk pintu," ucap Riko yang dikirim oleh Diana untuk menjemput dirinya. "Kau hanya datang sendirikan," Nayra menjulurkan kepalanya kedepan memastikan setidaknya selama diperjalanan dia akan hidup dengan tenang, meski nanti disana Nayra akan merasakan neraka kembali. "Iya nona saya hanya sendiri, tuan meminta maaf karena tidak bisa menjemput anda." Minta maaf dari mananya, mana mungkin dia minta maaf, lagi pula aku senang dia tidak menjemput diriku, bisa mati kehabisan nafas aku semobil dengan dirinya. "Ahh tidak papa, kau ingin masuk dulu mau ngopi," tawar Nayra berusaha mengulur waktu agar mereka tidak cepat-cepat sampai disana. "Tidak nona, terima kasih bisakah kita berangkat sekarang saja, saya takut nyonya Diana dan tuan sudah sampai disana dan menunggu anda terlalu lama." "Begitu ya, baiklah ayo," Nayra menutup pintu dibelakangnya dan menguncinya, meski tidak ada barang berharga juga didalam rumahnya tapi tetap kan dia harus waspada. Sampai di butik rasanya Nayra enggan untuk turun dari mobil, "Nona... Nona.." panggil Riko berulang-ulang berusaha menyadarkan Nayra yang sedang melamun. "Ahh ya, sudah sampai ya, hahaha maaf ya aku tadi sedang memikirkan sesuatu, jadi tidak dengar," ucap Nayra sambil turun dari mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh Riko. "Ayo nona saya akan mengantarkan anda sampai kedalam," Riko mempersilahkan Nayra berjalan duluan dan dia mengikutinya dari belakang. "Oh.. kau sudah datang nak," Diana langsung berdiri menyambut kedatangan Nayra, beda dengan Afnan yang malah menyambut kedatangan dirinya dengan tatapan elang yang dia punya. "Ayo.. ikut denganku, mamah sudah siapkan beberapa gaun yang cantik untukmu, kau tinggal memilih mana yang kau sukai," Diana langsung menarik tangan Nayra menuju deretan Gaun pengantin yang begitu indah dimana Nayra. "Bagaimana kau pilih yang mana," tanya Diana sudah tidak sabar ingin melihat Nayra memakai baju pengantin. "Wah Di ternyata ini calon istri Afnan, terlihat lugu dan cantik," ucap Mery pemilik toko yang muncul dari belakang, kebetulan Mery adalah teman arisannya Diana, sehingga mendengar Afnan akan menikah Mery dengan senang hati merancangkan beberapa gaun pengantin. Diana tersenyum senang mendengar pujian dari Mery, membawa Nayra kemari seperti membuktikan bahwa perkataannya tentang pernikahan Afnan bukan bualan semata. "Tante... maksudku mamah, aku pilih gaun yang ini saja," Nayra menunjuk sebuah gaun sederhana tapi terlihat elegan. "Pilihanmu sangat bagus sayang, ini adalah gaun yang aku rancang untuk orang-orang yang tidak suka dengan penampilan glamor dan menyukai hal sederhana dan elegan, dan ternyata kau salah satu dari penikmatnya." "Kau bisa mencoba gaun nya disana para pekerjaku akan membantumu memakai bajunya," lanjut Mery memberikan gaun yang Nayra pilih. Nayra masuk kedalam ruang ganti dan diikuti oleh dua orang pelayan butik untuk membantunya memakai gaun pengantin yang ternyata sangat ribet sekali. "Wah nona.. kau cantik memakainya," puji pelayan yang Nayra yakini hanya untuk membuat dirinya senang saja. Cantik dari mananya, tidak ada yang berubah sedikitpun dari wajahnya hanya, pakaiannya saja yang berubah. "Kami buka ya nona tirainya," Nayra mengangguk dan kedua pelayan itu membuka tirai secara berbarengan. Sreetttt, tirai terbuka dan menampilkan Nayra dengan balutan gaun pengantinnya, didepan sana sudah ada Diana dan Afnan yang menunggu Nayra keluar. "Wah, sayang kau cantik sekali memakainya nak, benarkan Afnan," tanya Diana pada anaknya yang tepat berada disebelah dirinya. Cantik dari mananya, sekali cupu ya tetap saja cupu tidak akan berubah, mau dipakaikan baju secantik apapun tetap dia akan menjadi itik buruk rupa. "Hmmm..." sahut Afnan yang tidak tertarik sama sekali melihat penampilan Nayra, bahkan Afnan sudah bosan berada disini, kalau bukan mamahnya yang tetap memaksa dia tinggal Afnan sudah pergi dari tadi. Dering ponsel Diana berbunyi, "Hallo," ucap Diana yang mengangkat telpon, berdiri dan meninggalkan tempat itu. "Kalian pergilah," usir Afnan pada kedua pelayan yang tadi membantu Nayra, dia sudah menghabiskan waktunya dengan bosan disini, saat nya untuk dirinya bersenang-senang bukan. Afnan berjalan mendekati Nayra yang tetap mengangkat kepalanya dengan berani, Nayra sudah menegaskan dalam dirinya, dia tidak akan takut pada Afnan sekalipun Afnan membunuh dirinya. "Kau pikir kau cantik memakai gaun itu, cihh bahkan aku sangat menyesal mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli gaun ini." "Sekali kampungan tetap saja kampungan tidak bisa dirubah," ejek Afnan dengan kata-kata pedasnya. "Saya sangat tahu tuan, saya juga tidak percaya dengan ucapan ibu anda yang mengatakan saya cantik," balas Nayra tidak terpancing sedikitpun dengan Afnan. Sial gadis ini tidak sama sekali menunjukkan kesedihan dimatanya, apa gadis ini sudah tidak memiliki hati sampai kata-kata kejamku saja tidak membuat ekspresinya berubah. "Halah jangan munafik kau jadi orang, bilang saja kau sedang cari muka dengan mamahku kan kenapa berharap mamahku nantinya akan membelamu, begitu?" Nayra menghembuskan nafasnya kasar, bahkan dirinya sama sekali tidak berpikir sampai kesana. "Maaf tuan, saya tidak pernah berpikir seperti itu, untuk apa mencari pembelaan, saya sudah terbiasa membela diri saya sendiri tanpa bantuan dari siapapun," Nayra mengucapkannya dengan lantang dengan membalas tatapan tajam Afnan. "Kau..." "Aduh maaf ya mamah jadi lama, bagaimana ada yang kurang pas dengan gaun ini?" kedatangan Diana membuat Nayra merasa diselamatkan dari iblis seperti Afnan. "Tidak mah Nayra rasa gaun ini sudah sangat pas ditubuh Nayra." "Baguslah kalau begitu, Tante Mary memang tidak pernah mengecewakan mamah, mangkanya mamah percayakan masalah kostum pernikahan kalian nanti padanya." "Oh ya tadi Keyra titip salam padamu, dia tidak bisa datang kemari karena kuliah, padahal dia ingin sekali bertemu denganmu," sambung Diana yang menyampaikan pesan Keyra pada Nayra. "Mah sudah semua kan, Afnan masih banyak memiliki pekerjaan di kantor," tanya Afnan yang sudah malas berada disana lebih lama, lagi pula dia tidak bisa bersenang-senang dengan Nayra disini, jadi untuk apa dia berada disini lebih lama lagi. "Kau sudah yakin jas mu pas kan?" Afnan mengangguk jas yang dia coba tadi sangat cocok dengan ukuran tubuhnya. Bagus pergilah sekarang juga kalau perlu nanti dihari pernikahan tidak perlu datang juga tidak papa. Aku lebih baik dipermalukan di pelaminan dari pada harus hidup bersama dengannya, Nayra sudah membayangkan akan jadi apa kehidupan dirinya setelah menikah nanti. Sudah Nayra pastikan Afnan akan membuat hidupnya menderita setiap harinya. "Kalau begitu Afnan pergi dulu," Afnan mengambil punggung tangan mamahnya melirik Nayra sebentar lalu pergi dari sana. "Dasar anak itu, bukannya berpamitan dengan calon istrinya malah nyelonong pergi begitu saja," omel Diana yang tidak didengar oleh Afnan karena sang empunya sudah tidak terlihat punggung nya sekalipun. "Maaf ya Nayra, kau harus terbiasa dengan sikapnya itu, mamah yakin kau pasti bisa membuat Afnan luluh denganmu, asalkan nanti setelah menikah kau berikan semua kebutuhannya, apa lagi kebutuhan diatas ranjang, kalau sudah terpenuhi yakin lah Afnan tidak akan begitu lagi. Mendengar ucapan mamahnya Afnan Nayra bergidig ngeri sendiri membayangkan dirinya akan disentuh oleh Afnan. Dia tidak mungkin mau menyentuhku kan, dia kan sangat benci melihatku jadi tidak mungkin dia mau menyentuh diriku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD