3. HIS NAME IS ALDAN

1173 Words
“Jika lo ingin hidup dengan damai, aturannya satu. Jangan coba usik hidup orang lain.” (Save Me, Mr. Cold) ** Aldan menghentikan mobilnya di sebuah rumah yang belum selesai dibangun. Bahkan terlihat seperti diabaikan bertahun-tahun sehingga di sekitar dinding terdapat lumut dan halaman depan serta samping rumah itu ditumbuhi rumput liar. Belum lagi atapnya yang sebagian sudah dipasang dan sebagian lagi terbuka begitu saja. Dengan santainya Aldan keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang pintunya terlihat seperti baru diganti. Ya, hanya itu satu-satunya yang terlihat seperti baru dari sebuah rumah yang teronggok tanpa pemilik. Siapa pun yang melihat rumah itu, pasti mengira bahwa gubuk itu tanpa pemilik. Namun, nyatanya adalah rumah itu memang memiliki penghuni. Siapa pemiliknya? Tentu saja pemiliknya adalah lelaki tampan nan dingin yang baru saja masuk ke dalam rumah itu. Ya, benar sekali. Pemiliknya adalah Aldan Ramajaya Kenapa bisa lelaki itu pemilik rumah yang sebenarnya sangat besar, tapi hanya sebagian yang selesai? Jawabannya sederhana, karena itu rumah dulunya terbakar lalu menewaskan kedua orang tua Aldan. Kemudian Aldan merenovasi lagi, tapi di pertengahan renovasi, Aldan malah menghentikan dengan alasan jika ia merenovasi maka kenangan akan menghilang dari rumah itu. Sudah bertahun-tahun dan hanya beberapa yang Aldan perbaiki. Seperti pintu depan yang baru ia lewati dan juga lantai dua yang dijadikan Aldan sebagai kamar sekaligus tempat di mana ia santai dan segalanya, termasuk memasak. “Ah.” Aldan melemparkan dirinya di atas ranjang king size yang di mana seprei berwarna putih bersih sedangkan ranjang itu berwarna hitam pekat. Aldan memejamkan matanya. Hari ini pekerjaannya sedikit menguras tenaga lantaran harus berurusan dengan seorang yang membuat otaknya lelah berpikir. Bukan mengeluh sebenarnya. Aldan udah terbiasa dengan pekerjaannya seperti ini, hanya saja berpura-pura menjadi seseorang yang berwibawa di depan sang klien atasannya adalah hal yang paling ia tidak sukai meskipun ia pernah menjadi sekretaris Zafran Herdiandra selama tiga tahun menggantikan sekretaris sang atasan yang sebelumnya. Ketika sang atasan memutuskan melepas dirinya sebagai sekretaris, Aldan sangat senang bukan main, tapi ketika masalah terjadi di keluarga sang atasan, ia terpaksa kembali menjadi sekretaris untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada. Dia memang dibayar untuk itu! Lupakan soal pekerjaan untuk sesaat. Aldan ingin mengistirahatkan otak dan tubuhnya sebelum ia beraksi nanti malam. Apa yang akan ia lakukan nanti malam? Tentu saja bekerja, memantau sebuah perusahaan yang pemiliknya adalah orang yang bermain-main dengan nyawa. Itu hobi seorang Aldan. Apalagi jika memainkan palu, pisau atau beda tajam lainnya di tubuh orang lain. Namun, sejak atasannya menikah dengan Valeria, semua mulai berubah. Pertumpahan darah mulai berkurang dan Aldan terlihat lebih manusiawi. Belum beberapa menit Aldan memejam mata, sebuah pesan masuk ke ponsel. Kening mengerut dan mulai meraba saku celananya. “Kanaya,” cicitnya pelan lalu membuka pesan itu. Aldan membaca pesan itu. ‘Selamat sore, Mas Aldan. Jangan lupa tersenyum hari ini. Kenapa harus? Karena dengan Mas tersenyum, langit yang mendung akan cerah.’ Pesan macam apa itu? Lagian, Aldan tidak peduli jika di luar itu mending atau pun terang. Hujan atau kemarau. Ia hidup dengan mengandalkan uang untuk urusan apa pun. Makan enak tinggal beli di restoran mana saja yang menurutnya enak dan kalau ia malas memesan dan ingin makanan sederhana tinggal masak mi instan di dapurnya. Urusan cuci baju, tinggal ke laundry. Apa lagi? Jadi, ia tidak peduli pada cuaca apa pun di luar rumah. Ah, Kanaya! Gadis itu sepertinya tidak punya pembahasan lain lagi makanya isi pesannya seperti gombalan. Ya, Kanaya memang sangat gigih belakangan ini. Sudah beberapa minggu ini Kanaya mendekatinya dan seminggu ini selalu saja mengirimkannya pesan. Entah dari mana sahabat dari Lay itu mendapatkan nomor ponselnya. Mungkin dari Lay atau dari Zafran. Kemungkinan besar dari Lay. Biasanya Aldan tidak membalas pesan itu. Namun, entah kenapa hari ini ia sedikit berbaik hati untuk memberi senyum di bibir Kanaya. Sesekali bikin baper anak orang tidak masalah, kan? ‘Gue gak peduli!’ Itu jawaban yang dikirim Aldan ke Kanaya. Jawaban macam apa itu? Baper? Tidak mungkin! Yang ada anak orang bukan baper, tapi sebaliknya akan kesal. Istilah gaulnya saat ini, kena mental. Manusia yang hatinya terbuat dari es memang sangat berbeda. Setelah mengirim balasan itu, Aldan bangkit dari ranjangnya dan bergerak ke kamar mandi. Ia butuh mandi sebelum tidur agar pikirannya lebih damai dan melupakan banyak hal yang mengganggu pekerjaannya nanti. Pekerjaan jauh lebih penting dari pada urusan perempuan bagi seorang Aldan. Perempuan itu hanya halangan untuk mendapatkan uang dan impian masa depannya menetap di sebuah pulau tanpa penghuni. Dasar Aldan! *** Kanaya mengembuskan napasnya kasar. Hatinya harap-harap cemas apakah Aldan akan membalas pesan yang ia kirim beberapa menit lalu atau tidak seperti biasanya. Padahal, ia sudah merangkai kata semanis mungkin agar lelaki itu tertarik untuk membalas pesan yang bisa dikatakan tidak terlalu singkat, tapi juga tidak terlalu panjang. Mondar-mandir di kamarnya layaknya setrikaan. Mengetuk keningnya dengan ponsel yang masih juga belum memberikan balasan. “Ayolah, Mas Aldan. Sekali aja gitu lo balas pesan dari gue.” Kanaya mendudukkan dirinya di ranjang setelah bosan dengan kegiatan mondar-mandirnya. Kemudian saat terdengar bunyi ‘ting’ dari ponselnya, ia segera melihat siapa yang mengirim pesan tersebut. “Mas Aldan! Yes! Akhirnya dibalas juga!” teriaknya girang. Lalu kemudian menutup mulutnya saat sadar jika kelakuannya barusan bisa saja membuat sang mama yang ada di kamar sebelah kaget dan mungkin akan mendatanginya lalu bertanya ‘kenapa’ dan itu tidak lucu sebenarnya. Bagaimana ia tidak bahagia jika itu adalah balasan pesan pertama dan terlangka yang Kanaya dapatkan dari Aldan. Istilah kata, sudah tujuh purnama Kanaya mengirim pesan kepada Aldan dan baru sekali ini dibalas. Siapa yang tidak bahagia? Satu langkah awal sudah Kanaya tapaki. Tinggal langkah-langkah selanjutnya yang harus ia pikirkan bagaimana menyusun dan melewatinya. Segera Kanaya membuka balasan pesan itu. Tidak ada waktu berbasa-basi lagi karena akan basi nantinya. Namun, wajah yang awalnya ceria dan penuh binar bahagia kini berakhir murung dan cemberut lantaran balasan yang ia dapatkan mengesalkan dan tidak sesuai ekspetasi yang Kanaya dambakan. Kanaya berharap Aldan membalas dengan kalimat ‘Sore juga, Kanaya. Ini mas lagi tersenyum kok. Lihat aja langit kalau gak percaya’ atau yang lebih dari itu. Namun, harapan tinggal harapan dan ekspetasi selalu berbeda dari realita. Yang Kanaya dapatkan malas balasan yang ditulis dengan tanpa rasa. ‘Gue gak peduli!’ Sia-sia sudah Kanaya baper. Sia-sia sudah senyum manisnya yang terpatri indah beberapa menit lalu. Kanaya hanya bisa menghela napas panjang. “Dasar Mas Aldan Kulkas. Gue doain lo bucin sama gue seumur hidup biar gue senang.” Mengentakkan kaki ke lantai berulang kali. Lalu kemudian membaringkan tubuh dan memeluk gulingnya. Menatap ponselnya lagi dan kemudian mengulum senyum layaknya orang bego. “Tapi setidaknya ia membalas pesan gue. Kan satu hal yang bisa membuat gue senang.” Kanaya kembali bermonolog. Dasar orang yang sedang jatuh cinta. Ada saja alasan untuk bertahan dalam kerumitan hubungan yang bisa dikatakan tidak berjalan sesuai rencana. Namun, seperti pepatah mengatakan ‘cinta itu buta’ padahal sebenarnya bukan cinta yang buta, tapi orang yang jatuh cinta menutup mata demi orang yang ia cintai. Rumit? Ya. Ribet? Tentu saja. Berhenti? Tidak akan! Lanjut? Tentu saja. Namanya juga cinta, apa pun akan ditempuh untuk mendapatkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD