dua puluh delapan

1295 Words

"Jangan nangis, ah." Suara lembut Kirana yang sedang membelai lembut wajah adiknya yang sedang cemberut membuat Adam kembali mencebikkan mulutnya. Matanya mulai merah lagi saat Kirana memeluk bahunya. "Kita nggak mungkin selamanya di sana, Dam. Kita mesti kembali, nggak mungkin kita ninggalin kakek sendirian." Adam menggeleng, membalas pelukan Kirana dengan pelukan yang lebih erat lagi. "Buat apa balik kalau bakal di kejar-kejar lagi sama mereka, Na? Nanti mereka bakal melukai kamu kayak kemaren. Kita mesti kemana kalau kejadian lagi?" Kirana menempelkan kepalanya di kepala Adam. Matanya mulai menerawang tanpa peduli pandangannya tearah ke kaca depan. Untunglah sopir taksi tidak terlalu banyak bertanya dan memberikan kesempatan pada dua kakak beradik itu saling bicara dan dia lebih me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD