14

2049 Words
 Arnawa jelas saja tak bisa mengabaikan ucapan Sraya kemarin malam padanya. Dan sampai pagi ini, ia terus memikirkan. Arnawa bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak, meskipun kedua matanya sudah dipejamkan. Rasa kantuk juga tak dapat membantunya terbawa ke alam mimpi. Tepat pukul enam pagi, Arnawa sudah tiba di kediaman sang ibu. Arnawa merasa jika harus berterus-terang akan kesalahan yang telah dilakukannya terhadap Sraya, yaitu menyebabkan wanita itu menjadi hamil. Arnawa pun ingin mengungkap semua secara jujur kepada sang ibu dan mencari solusi terbaik. Ia tak akan lepas tanggung jawab. Sudah seharusnya menerima semua konsekuensi dengan kesiapan matang. "Kenapa pagi-pagi datangnya, Nak? Tidak biasa kamu jam segini ke sini, Arna. Pasti ada yang ingin kamu katakan ke Mama?" Ibu Ayu melontarkan tanya sembari memberi gelas berisi kopi hitam kepada sang putra yang baru saja beliau selesai buat. "Makasih, Ma," ucap Arnawa dengan nada pelan. Bahkan, nyaris dibisikkan katanya Lalu, ia meneguk kopi di dalam gelas yang masih panas. Tak banyak, satu seruputan kecil saja. Atensinya belum sama sekali dipindahkan dari sosok sang ibu yang telah mengambil tempat duduk di single sofa, di sebelahnya. Diulas pula senyuman tipis. Perasaan Arnawa belum bisa mencapai ketenangan. Walau, sudah bersama dengan sang ibu. Biasanya segala masalah tengah dipikirkan, ketika telah bertemu ibunya. Namun kali ini berbeda, Arnawa masih saja diselimuti perasaan cemas yang besar. "Aku punya sesuatu untuk aku katakan ke Mama. Aku nggak tahu reaksi Mama akan bagaimana nanti. Mama mungkin marah dan kecewa padaku," ujar Arnawa lirih "Bicaranya setelah sarapan saja, Arna," tanggap Ibu Ayu dalam nada santai. Sebab, berpikiran jika putra tunggal kesayangan beliau akan membahas mengenai pekerjaan yang harus didiskusikan dengan fokus tinggi. Akan selalu begitu mencari solusi. "Nggak, Ma. Aku ingin membicarakannya sekarang. Kalau aku tahan lebih lama, aku nggak akan bisa tenang, Ma. Aku mau cepat beri tahu Mama." Arnawa kian berujar lirih dan tidak nyaman. Suara tetap kecil. Kemudian, ia menatap lebih serius ke arah sang ibu. "Sarapan jangan dimasak dulu, Ma. Aku juga belum lapar. Nafsu makanku nggak ada. Mungkin Mama akan masak apa aja, nggak akan aku makan," ungkapnya secara jujur. Sesuai apa yang dirasakan, kini "Kenapa begitu, Nak? Masalah apa yang membuat kamu sampai jadi tidak bernafsu makan? Apa ada hubungan dengan pekerjaan dan bisnis kita? Atau tentang Sraya? Baiklah, kasih tahu Mama sekarang." Arnawa cepat mengangguk, selepas sang ibu sebutkan nama wanita yang ia cintai. "Betul, Ma. Ada kaitan sama Sraya," jawab Arnawa dengan nada suara yang terus melemah. "Sudah Mama kira. Apakah kalian berdua bertengkar? Menurut Mama, beda pendapat atau pertengkaran merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan, Nak. Mama pernah alami dulu dengan mendiang Papamu, saat pacaran. Kami akan saling diam selama beberapa hari." "Aku sudah buat masalah. Aku ingin cepat tanggung jawab, tapi Sraya nggak mau memberikanku izin. Aku jadi bingung, Ma. Dia membuatku menjadi serba salah dan menyesal," ujar Arnawa dengan kian lirih, suaranya terdengar tambah berat. "Masalah apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Sepertinya cukup serius. Apakah Mama boleh tahu? Kamu bilang tadi akan memberitahukan ke Mama. Jadi, kamu harus mengatakan semuanya pada Mama. Arnawa lekas menggangguk, gerakan kecil saja. Ia tidak henti memandang ibunya tengah tersenyum hangat. Tak bisa untuk dimungkiri bahwa muncul sedikit rasa cemas. Yah, berkaitan dengan kesalahan fatal yang dilakukannya. Arnawa sungguh merasa takut jika sang ibu akan marah. Ia sudah mencoreng nama baik keluarga. "Begini, Ma..." Arnawa pilih menjeda sejenak, mengatur napasnya karena mulai tidak stabil. Belum dipindahkan atensi dari sang ibu, meskipun sangat ingin. Ia tak bisa. "Iya, Nak. Katakan saja. Cerita ke Mama. Akan Mama coba membantu, kalau Mama bisa, ya. Mama ingin lihat kamu berbaikan segera dengan calon menantu Mama." "Calon menantu?" ulang Arnawa dalam nada yang pelan. Ia berupaya keras untuk menunjukkan senyuman, walau tipis. "Apa Mama sudah yakin dan juga ingin, aku menjadikan Sraya sebagai istriku? Menantu Mama?" tanya Arnawa masih dengan suara yang semakin rendah, ragu saja. "Mama nggak mempermasalahkan status dia sudah pernah menikah?" tanyanya kembali. "Sudah tentu, Mama akan setuju, Nak. Mama sangatlah yakin Sraya cocok menjadi istrimu dan juga menantunya Mama. Maka dari itu, Mama ingin kalian berdua cepat menikah." "Masalah status Sraya. Sudah Mama bilang berulang kali jika Mama tidak akan pernah mempermasalahkan. Bukan berarti wanita yang bercerai itu tidak baik. Atau malahan kamu ragu mempersunting Sraya, Nak?" Arnawa menggeleng dengan gerakan kuat dan mantap. Ia tak menunjukkan keraguan sama sekali. Karena, memang sudah sangat yakin untuk meminang Sraya. Putusan sang ibu membuat Arnawa begitu lega. Namun, belum sepenuhnya. Ada satu hal lagi yang masih harus disampaikan. Arnawa pun tak bisa menebak akan bagaimana reaksi dari ibunya. Meski demikian, ia sudah siap untuk terima konsekuensi dan amarah sang ibu. "Nggak, Ma. Aku nggak ragu. Aku malahan siap menikah bersama Sraya," balas Arnawa dengan semangat yang semakin besar. "Aku bersyukur Mama nggak masalahkan status dia. Makasih Mama sudah menerima Sraya apa adanya. Aku sangat senang," ujar Arnawa tulus dan serius. Ditatap lekat sang ibu dengan rasa bersalah kian besar saja. "Tidak akan pernah, Nak. Mama juga yakin Sraya adalah wanita yang baik serta pantas untukmu. Segeralah menikah. Bujuk Sraya agar mau cepat menerima ajakanmu, Arna." Arnawa mengangguk segera. Namun, masih dalam gerakan pelan. Debaran jantung kian jadi tak karuan karena memikirkan tentang reaksi akan ditunjukkan oleh sang ibu saat dirinya mengatakan semua. Memang ibunya tak memiliki riwayat penyakit serius. Tetapi, tetap saja Arnawa merasakan kecemasan. Misalkan sang ibu yang bisa jatuh pingsan. "Ma, aku mau bilang sesuatu." Arnawa pun berkata dengan mantap, meski suara kecil. "Silakan, Nak. Soal apa? Kenapa Mama lihat muka kamu pucat? Apa kamu dan Sraya ada masalah? Kalau Mama boleh tahu, bilang ke Mama, Arna. Mama akan berusaha berikan solusi agar kalian dapat segera berbaikan." Untuk sekian kali, Arnawa anggukan kepala sembari belum alihkan atensi pada sosok sang ibu. Embusan napas lumayan panjang lantas dilakukan guna kurangi kegugupan di dalam dirinya yang tak kunjung berkurang. "Begini, Ma. Aku minta maaf kalau aku buat Mama kecewa. Aku tidur dengan Sraya. Dia sekarang mengandung anakku. Maaf, aku sudah nggak menuruti nasihat Mama agar aku nggak membuat malu keluarga. Sudah aku langgar. Aku minta maaf sebenarnya." "Aku akan tetap bertanggung jawab atas apa yang dialami Sraya. Aku akan segera ajak dia menikah." Arnawa berujar dengan tegas. ……………………… Arnawa tentu tidak akan menyerah, walau semua telepon darinya belum satu pun diangkat oleh Sraya. Ia memutuskan mendatangi rumah wanita itu, tepat setelah jam kerjanya di kantor selesai, kira-kira pukul lima. Dan, saat sampai di kediaman Sraya, ia diberikan kabar oleh asisten rumah tangga wanita itu bahwa Sraya sedang berada di luar. Belum kembali sejak pagi tadi. Ia pun memilih menunggu wanita itu, tak akan pulang. "Sraya...," Penantian Arnawa akhirnya tidak perlu ditambah lebih lama lagi, ketika sosok Sraya terlihat masuk ke area ruang tamu. Atensinya seketika jadi hanya terpusat pada sosok wanita itu yang tengah berjalan mendekatinya. Mata mereka berdua pun saling bersitatap. Namun, hanya sebentar saja sebab Sraya sudah memutuskan lebih dulu. Sedangkan, Arnawa memilih untuk tetap memandang lekat wanita itu. "Dari jam berapa kamu sudah ke sini, Arna? Kenapa nggak kamu kabari aku dulu mau kemari? Aku pasti akan pulang cepat." Arnawa mendengar jelas, lontaran kalimat tanya Sraya, namun tak ia jawab. Fokus Arnawa masih begitu disita oleh mata wanita itu yang tampak bengkang. Ia pun langsung menyimpulkan Sraya sebelumnya menangis. Dugaan yang muncul di dalam benaknya tak akan mungkin salah. Arnawa yakin tebakannya benar dan tepat sasaran. "Baru aku datang. Bagaimana aku bisa kasih tahu kamu kalau aku mau kemari, kamu nggak angkat satu pun telepon dariku, Sra. Kamu tahu seberapa cemas diriku?" "Dan, apa yang terjadi sama kamu, Sra?" Arnawa melontarkan pertanyaan sarat akan nada khawatir kembali, kian khawatir. Lantas, ia bangkit dari sofa. Dan, berdiri di hadapan wanita itu. Cepat pula kedua tangan Arnawa bergerak ke masing-masing bahu Sraya guna diletakkannya di sana. Ia tak henti memandang lekat wanita itu. "Ada apa, Sra? Beri tahu semua kepadaku." "Kamu habis menangis, 'kan?" Arnawa bertanya lagi. Ia harus mengetahui jawaban yang pasti segera agar tak terus penasaran. "Tolong beri tahu aku, Sra. Apa salah aku tahu? Apa pun yang menyangkut tentangmu sangat aku pedulikan. Tolong paham." Sraya memandang tak kalah lekat Arnawa. Lalu, ia mengangguk kecil. "Akan aku beri tahu di kamar. Kita bicara di dalam, Arna," jawab wanita itu sembari menarik tangan Arnawa yang sudah dilepaskannya lebih dahulu dari bahu. Mereka berjalan bersama menuju ke kamar. Mata Sraya kembali berkaca-kaca, namun ditahan oleh dirinya untuk tidak menangis. Terlebih lagi, ada Arnawa sedang bersamanya. Ia benar-benar enggan dianggap lemah. Sraya bertekad untuk tetap terlihat tegar, walau hatinya tengah dirundung kesedihan yang cukup dalam. "Ada apa, Sra? Katakan padaku sekarang. Tolong jangan lagi kamu sembunyikan apa pun dariku. Itu membuatku nggak suka. Apa berat bagimu cerita denganku?" Sraya lekas menggeleng. "Bukan begitu, Arna. Aku akan beri tahu kamu sekarang. Aku harap kamu nggak akan kaget nanti, ya. Dengan apa yang aku akan bilang," ujarnya dalam suara lirih. Volume suara kecil. "Aku nggak akan menyembunyikan darimu lagi. Supaya kita nggak terus saling salah paham. Aku ingin meluruskan masalah kita. Agar bisa selesai semua dan nggak ada yang perlu kita perdebatkan lagi nantinya." Sudah dipandang cukup lekat sosok Arnawa yang tengah berdiri di hadapannya, pria itu sedang menghapus jejak air mata menuruti pipinya. Ia justru tidak mampu untuk meredakan tangis jika telah mendapatkan perlakuan manis. Sraya pun tak bisa dalam menampik bahwa senang akan perhatian dari Arnawa, disaat kondisinya kurang baik. Ada rasa penyesalan juga yang menyelimuti diri Sraya, sebab ia sudah memperlakukan pria itu seenaknya. Sering menciptakan juga masalah dengan Arnawa. Bukan hanya saja sekarang. Namun, sudah sejak dulu. Saat tahu pria itu menyukainya, bahkan sengaja ditunjukkan pengabaian tanpa memikirkan bagaiman sakitnya perasaan Arnawa. "Iya, Sra. Beri tahu dan ceritakan padaku. Kamu harus berbagi padaku. Kesedihan kamu juga punyaku. Bahkan, tadi aku takut, kalau kamu begini karena efek hamil." Selesai berujar, Arnawa lantas memberikan pelukannya. Didekap tubuh Sraya dengan sangat erat. Lantas, kedua mata dipejamkan. Kenyamanan sekaligus cemas menyelimuti. Ketenangan tak dapat diberlakukannya. Ada saja masih hal yang mengganggu di dalam benak Arnawa. Mungkin jika Sraya sudah mau menceritakan semua, ia bisa rileks. "Mengenai kehamilanmu, biarkanlah aku bertanggungjawab dan menikahimu, Sra. Mama juga menyuruhku begitu. Aku nggak akan mungkin melepas tanggung jawabku." "Kamu nggak akan boleh sendirian dalam membesarkan dan merawat anak kita. Aku nggak akan kasih izin. Aku juga punya hak. Aku yang sudah berbuat kesalahan. Maka, aku wajib menunjukkan tanggung jawab, Sra. Aku mohon kamu bisa mengerti maksud baik yang aku lakukan ini. Jangan ditolak." Setelah semua kalimatnya terluncurkan, Arnawa lantas melepaskan pelukan. Kedua tangan ditaruh di masing-masing bahu Sraya. "Bagaimana, Sra? Keputusan kamu akan bagaimana? Apa kamu mau menikah denganku?" tanyanya dengan serius. Penuh harap akan diterima oleh Sraya. "Maaf, Arna. Aku minta maaf. Aku nggak bisa menikah sama kamu. Aku tahu kamu punya niatan yang baik. Aku menghargai usaha kamu. Tapi, aku nggak akan menikah sama kamu. Tahu alasannya kenapa?" Sraya yang tengah memandang dengan lekat sosok Arnawa pun cepat dapat menangkap gelengan pelan dilakukan pria itu sebagai balasan atas apa yang ia tanyakan. Arnawa tak keluarkan sepatah kata. Membuat Sraya ingin sesegera mungkin memberitahukan kenyataan sebenarnya. Memanglah ia harus ungkapkan semua supaya menjadi jelas. "Apa alasannya, Sra? Sekalipun semua itu masuk akal. Aku akan tetap menikahi kamu. Aku harus berapa kali bilang kalau aku mau tanggung jawab atas kehamilan kamu? Apa kamu terlalu sulit memercayai diriku?" Sraya menggeleng. Entah mengapa, sesak di dalam d**a semakin menguat. Menciptakan genangan air pada kedua kelopak matanya. Namun, pandangan belum mengabur. Masih bisa dilihat dengan jelas bagaimana manik cokelat Arnawa sedang memancarkan rasa khawatir, kesal, dan amarah bersamaan. "Maaf, Arna. Aku minta maaf sama kamu. Aku nggak tahu kamu reaksi kamu kayak apa setelah aku mengaku aku berbohong." Setetes air mata Sraya berhasil menuruni pipi-pipinya. "Kamu dan aku nggak pernah tidur malam itu waktu kamu minum. Kamu langsung teler. Kita berdua nggak lakukan apa-apa. Maaf, aku sudah berbohong." "Aku kira dengan bersandiwara yang begitu kamu akan minta tidur lagi bersamaku, tapi nyatanya nggak. Aku juga nggak hamil. Aku menderita penyakit kista, setelah diperiksa oleh dokter," imbuh Sraya dengan lirih. "Kista yang menyebabkan menstruasiku jadi nggak beraturan. Nggak cuma beberapa bulan belakangan. Tapi, sudah dimulai dari empat tahun yang lalu. Aku saja yang baru sadar. Dan, aku harus segera mengobati." Sraya memandang lekat sosok Arnawa. "Aku minta maaf sekali lagi. Aku nggak berh--" "Aku sudah memaafkanmu, Sra. Jujur, aku kecewa. Berarti kita nggak jadi menikah."    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD