"Om Swastyastu, Tante." Sraya spontan meluncurkan salam, manakala pintu utama kediaman ibu Arnawa dibuka dari dalam. Oleh Ibu Ayu sendiri tentunya. Senyum Sraya kulum dengan semakin lebar lagi.
"Maksudku, Mama." Wanita itu lantas meralat panggilan. Ia merasa sudah sedikit salah berucap, beberapa detik yang lalu.
"Om Swastyastu, Sayang. Mama dari tadi sudah menunggumu datang kemari."
Sraya dilanda sedikit kekagetan menerima pelukan erat dari Ibu Ayu, setelah membalas salamnya. Meski demikian, ia tak melepas dekapan. Justru balik memeluk dengan lumayan kuat. Tanpa terasa, matanya langsung jadi berkaca-kaca. Rasa haru muncul secara tiba-tiba, ketulusan Ibu Ayu sungguh dapat menyentuh hatinya. Sraya akan mudah tunjukkan kelemahan.
"Ma...," Wanita itu bergumam dengan suara yang amat lirih sembari mengencangkan kembali pelukan di tubuh ibu dari Arnawa itu. Ia mulai sesenggukan. Tidak bisa pula dikontrol air mata hingga jatuh kian deras.
"Iya, Sayang. Mama bersamamu. Apa pun yang terjadi, Mama selalu mendukung kamu, Sraya. Kamu sudah Mama anggap seperti putri Mama sendiri. Jangan ragu berbagi kesedihan dengan Mama, Nak. Tidak akan Mama biarkan kamu sendiri hadapi semua masalahmu. Masih ada Mama di sini."
"Terima kasih banyak, Ma. Aku senang bisa mengenal Mama. Aku beruntung." Sraya membalas cepat dengan suara masih lirih.
"Aku sudah kehilangan orangtuaku. Dan, Kehadiran Mama di dalam hidupku sangat berarti. Aku punya orangtua baru. Aku jadi merasa nggak kesepian lagi sekarang."
"Aku bahkan nggak menyangka aku akan bisa merasakan sayang yang tulus lagi dari sosok seorang ibu. Tapi, Mama sudah kasih semua itu ke aku. Jadi, banyak aku punya banyak hutang sama Mama sekarang."
Sraya sungguh tidak dapat untuk menahan linangan air mata, meskipun Ibu Ayu telah menghapus jejak cairan bening tersebut yang menuruni kedua pipinya. Pelukan sudah diakhiri sejak satu menit lalu oleh Ibu Ayu. Kini, saling berdiri berhadapan. Sraya berupaya tetap mengulum senyumannya.
"Iya, Nak. Mama juga senang dan beruntung mengenal kamu dalam hidup Mama. Ingat, kamu tidak sendiri, Nak. Mama akan selalu berusaha ada dan mendukungmu. Jangan pernah sungkan dengan Mama. Sudah juga sering Mama katakan Mama anggap kamu sebagai putri kandung Mama sendiri, ya."
"Apa pun tentang kamu, Mama akan peduli. Mama sangat ingin kamu mau berbagi rasa suka dan duka bersama dengan Mama."
Air mata Sraya jatuh lebih deras, setiap kata yang diucap oleh Ibu ayu sangatlah menyentuh hatinya. Semua tulus terdengar, sama sekali tidak ada kepura-puraan. Kasih sayang pun tak pernah menunjukkan kepalsuan. Sehingga dapat membuat Sraya merasakan keharuan yang besar. Ia pun dengan mudahnya juga dapat menyayangi balik Ibu Ayu, seperti orangtua kandung
"Iya, Ma. Makasih banyak, ya," ujar Araya dalam nada semakin serius. "Aku punya hutang budi yang banyak sama Mama."
"Tidak usah begitu sama Mama, Nak. Tapi, boleh Mama minta sesuatu darimu, Sra? Mama harap kamu mau mengabulkan, ya. Mama pasti akan sangat bahagia juga."
"Mama mau minta apa padaku?" Sraya merespons cepat dengan suara lembutnya. Ia pasti akan mengabulkan yang diinginkan.
"Mama ingin kamu dan Arnawa menikah, Nak. Harus segera mungkin dilaksanakan upacara pernikahan kalian berdua. Mama akan membantu menyiapkan semuanya."
"Biarkan Arna bertanggung jawab untuk perbuatan yang sudah dilakukannya. Sudah begitu harusnya, Nak. Mama ingin cucu Mama mempunyai orangtua yang utuh dan terikat dalam pernikahan," imbuh Ibu Ayu.
"Walau, jujur Mama cukup kecewa dengan perbuatan Arnawa. Mama sudah berpesan berulang kali pada dia untuk tidak lakukan hal aneh-aneh sebelum resmi menikah, tapi semua sudah terjadi. Mama anggap sebagai takdir. Pasti ada pembelajaran nanti."
Ibu Ayu terus mengulum senyuman hangat. Beliau juga menggenggam kedua tangan sang calon menantu. "Apakah kamu mau menikah, Nak? Mama berharap kamu akan mau, ya. Jangan menolak kembali."
"Mama sangat ingin kamu menjadi istri anak Mama dan ibu dari cucu-cucu Mama kelak. Mau, ya? Menikahlah tolong dengan Arnawa secepatnya. Mama mohon sama kamu, Sraya. Arnawa akan sedih, jika kamu sampai menolaknya. Mama tidak ingin kalian sa--"
"Maaf, Ma. Aku nggak bisa. Maafkan aku." Sraya segera menyahut dengan segenap rasa penyesalan terdalam. Suara kian memelan.
Kemudian, dipeluk kembali ibu kandung dari Arnawa itu. Didekap sangat kuat. "Aku nggak hamil, Ma. Aku nggak datang bulan karena ada kista," beritahunya secara lirih.
"Aku sama Arna belum pernah melakukan apa-apa, Ma. Aku nggak hamil. Waktu itu, aku cuma berbohong." Sraya menambahkan.
"Aku tahu aku salah sudah berakting begitu. Awalnya, aku cuma ingin menguji Arna. Aku penasaran kenapa Arna nggak pernah mau tidur denganku. Padahal, mencintaiku."
Sraya semakin rasakan sesak di bagian d**a. Ia menjeda sejenak guna mengatur napas. Belum semua disampaikan pada Ibu Ayu. Masih ada yang harus dikatakan, terutama soal penyakitnya. Sraya merasa harus beri tahu Ibu Ayu karena sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri. Ia wajib untuk jujur.
"Aku nggak hamil, Ma. Aku malahan alami kista, setelah aku periksakan ke dokter."
"Benarkah?" Ibu Ayu bertanya dengan nada tak percaya. Ekspresi pun semakin seriusr
Beliau hanya merasakan keterkejutan cukup besar, tetapi tidak marah. Ibu Ayu malah langsung iba, mendengarkan penjelasan dari Sraya. Tanpa sadar, mata beliau pun jadi berkaca-kaca. Ibu Ayu balas memeluk dengan erat. Usapan juga beliau berikan di bagian punggung guna menenangkan.
"Sabar, Nak. Pasti akan ada solusinya. Mama yakin akan ada jalan keluar untuk masalah sedang kalian hadapi. Maksud Mama, kalian harus menikah. Biarkan Arnawa tunjukkan tanggung jawab sesuai perbuatan telah dia lakukan. Memang harusnya begitu, Nak."
"Maksud Mama. Berikan Arna kesempatan untuk membuktikan keseriusan dia dalam mencintaimu, Nak. Dengan cara menikah."
Sraya langsung melepaskan pelukan. Lalu, ia menggelengkan kepala dalam gerakan yang masih lemah. "Maafkan aku, Ma. Maaf."
"Aku nggak bisa menikah bersama Arnawa cepat, Ma. Aku ingin fokus jalini pengobatan dulu agar kistaku bisa segera sembuh. Baru akan aku pikirkan soal kehidupan asmaraku bersama Arna. Aku harap Mama mau paham dan mendukung keputusan aku ini, ya."
Sraya menggenggam tangan Ibu Ayu. "Aku boleh minta Mama jangan membenciku?"
"Aku akan merasa tambah sakit dan juga bersalah sama Mama, kalau Mama sampai benaran membenciku." Sraya berujar dalam nada semakin lirih. Volume suara mengecil.
"Aku sudah sangat sayang sama Mama. Aku anggap Mama sebagai orangtuaku sendiri. Aku nggak mau sampai Mama marah karena masalah yang sudah aku lakukan. Aku me--"
"Tidak, Nak. Tidak akan. Mama juga sayang sekali denganmu. Mama tidak akan mungkin benci pada putri Mama sayangi. Lupakan saja soal masalah yang lalu. Sekarang, kamu harus fokus mengobati kistamu. Mama ada kenalan dokter bagus di Singapura."
…………………………….
Arnawa tentu tidak akan pernah menunda kepulangannya dari kantor, setelah terima pesan dikirim Sraya yang beri tahu bahwa wanita itu sedang menunggu di rumah ibunya. Arnawa pun segera bergegas pergi ke sana, mengabaikan pekerjaan sebenarnya cukup banyak harus dituntaskan.
Arnawa meninggalkan kantor sekitar pukul lima, dan sampai di kediaman ibunya tiga puluh menit kemudian. Suasana sepi yang mendominasi dan juga menyambut kehadirannya di ruang tamu. Arnawa sudah dikabari pula oleh sang ibu jika akan pergi menghadiri arisan. Yang berarti bahwa hanya ada Sraya saja di rumah kini.
Mengenai keberadaan wanita itu, ia pun belum mampu menebak sama sekali. Meski demikian, Arnawa tak diam terlalu lama di ruang tamu. Ia cepat berjalan menuju ke areal dapur, tepatnya meja makan. Meyakini jika memang Sraya sedang berada di sana.
"Mau pergi ke mana, Arna? Kamu lagi mencariku, ya? Aku ada di sini. Kemarilah."
Seketika, Arnawa berhenti melangkah. Lalu, tubuhnya dibalikkan ke belakang. Tepat selepas suara lembut kepunyaan Sraya yang dikenalnya dengan betul, baru saja mengalunkan rangkaian kalimat tanya. Dan kala, mata mereka saling bersirobok, maka Arnawa langsung mengulum senyum lebar. Ia merasakan kelegaan yang cukup besar.
"Aku mencarimu. Aku merindukanmu, Sra." Tidak ragu dilontarkan balasan yang jelas menunjukkan isi hatinya kini.
"Hampir setiap waktu aku selalu kangen denganmu. Bukan mau berlebihan, hanya mau mengutarakan apa yang aku rasakan. Aku nggak peduli kamu akan menganggap ungkapanku gimana." Arnawa imbuhkan.
"Hahaha. Nggak, Arna. Aku nggak bilang kamu berlebihan. Aku malah senang kamu bisa selalu kangen dan ingat denganku, ya."
"Kamu kangen denganku 'kan, Arna? Baiklah, ayo peluk aku sekarang. Mumpung aku berada di sini dan belum pergi da—"
Sraya tak bisa selesaikan ucapannya sebab mendapat dekapan yang kuat dari Arnawa secara tiba-tiba. Ia dirundung keterkejutan, kala mendengar suara isakan. Sraya sangat yakin jika Arnawa yang sedang keluarkan tangisan. Perasaannya pun seketika jadi tak enak. Sraya tahu bahwa penyebab semua dialami Arnawa adalah karena dirinya.
"Arna...," Digumamkan secara lembut nama panggilan pria itu. Dilakukan pula olehnya usapan-usapan halus pada punggung.
"Kenapa, Arna?" Sraya putuskan cepat bertanya, segera juga ingin mengonfirmasi alasan Arnawa mengisak. Walau, sudah ada bayangan alasan pria itu menangis.
"Apakah kamu begini gara-gara aku, Arna?" Wanita itu pun keluarkan saja tebakan yang telah muncul di dalam kepala sejak tadi.
Kemudian, Sraya sedikit bergidik takut karena dilempar tatapan tajam oleh mata Arnawa yang berair. Dekapan pria itu sudah berakhir. Mereka berdua pun berdiri saling berhadapan, kini. Dapat Sraya lihat pula sorot kesedihan sangat nyata. Membuatnya semakin merasa bersalah. Sraya pun jadi bingung harus tunjukkan reaksi bagaimana.
"Maafkan aku, Arna. Seandai memang akulah membuat kamu kayak gini." Sraya meminta dengan sangat serius sembari memeluk Arnawa kembali, lebih dieratkan.
Getaran akibat tangisan pria itu masih dapat dirasakan olehnya. Kian dapat menyayat hati. Ia sebelumnya tak pernah dihadapkan akan situasi seperti sekarang ini. Ya, di mana Arnawa menangis dan tampak lemah. Tetapi, ia berusaha memahami apa yang tengah pria itu rasakan. Bagaimana pun juga dirinya sudah membuat Arnawa demikian.
"Tolong maafkan aku, Arna. Aku tahu aku sudah banyak berbuat kesalahan padamu. Aku juga sering merepotkan kamu. Nggak akan aku bisa pergi kalau kamu ngg--"
"Jangan meninggalkanku lagi, Sraya. Kamu nggak akan aku izinkan pergi berobat sendiri ke luar negeri nanti. Kamu harus pergi bersamaku." Arnawa memotong cepat.
"Aku akan ikut, menemani kamu, Sra. Kamu nggak akan pernah bisa sendiri menjalani semua. Kamu masih memiliki aku dan juga Mama. Kami adalah keluargamu sekarang."
Sraya pun tidak kuasa menahan keharuan atas ucapan dari Arnawa yang terdengar begitu tulus dan sungguh-sungguh. Ia langsung tersentuh. Tanpa terasa, matanya jadi berkaca-kaca. Namun, Sraya tak ingin menangis. Ia harus tetap bisa tabah serta kuat agar Arnawa percaya kondisinya baik.
Lalu, pelukan di antara mereka diakhirinya. Atensi dipusatkan pada sepasang mata Arnawa yang tampak sayu. Secara refleks, kedua tangan digerakkan menuju ke wajah pria itu guna menghapus air mata tersisa.
"Udahlah sesi cengeng kamu, Arna. Nggak malu kamu dilihat sama aku nangis, 'kah? Masa pria dewasa gini? Aku aja merasa malu karena kamu bisa cengeng begini tahu. Kamu kayak anak kecil saja. Jangan nangis lagi. Oke? Kamu mau berjanji kepadaku?,
"Mana penyebabnya cuma aku yang mau pergi. Kayak kita akan pisah lama saja," ujar Sraya dalam nada canda, diloloskan juga tawa. Meskipun, tidak lumayan keras.
"Kita memang mau berpisah, Sra. Kamu mau pergi ke Singapura untuk berobat. Aku tahu dari Mama semua. Kamu nggak bisa bohong atau pura-pura kepadaku lagi. Kamu nggak akan aku biarkan ke sini sendiri. Aku ak--"
Sraya menaruh jari telunjuknya di depan bibir Arnawa, sebabkan pria itu tak mampu melanjutkan ucapan. Mata mereka berdua masih saling bersitatap. Sraya bisa dengan jelas melihat sorot kedua iris cokelat milik Arnawa yang semakin menajam ke arahnya. Ia berupaya tak mengindahkan. Lebih baik memang demikian supaya tidak semakin dirinya dilanda rasa bersalah pada pria itu.
"Sudah, Arna. Sudah, ya? Aku minta kamu jangan kayak gini lagi. Kamu nggak boleh anggap kepergianku sebagai hal yang berat. Aku jadi merasa nggak enak," ujar Sraya dengan jujur. Diberikan penegasan juga.
"Aku sangat merasa bersalah karena sudah membuat kamu begini. Aku cuma bisa kamu mau memaafkanku. Kamu juga harus dapat mengerti kenapa aku harus pergi dari kamu, Arna." Sraya berujar dalam nada kian lirih.
"Kamu nggak boleh pergi kalau aku nggak ikut, Sra! Berapa kali aku mesti memohon agar kamu jangan ke sana tanpaku? Tolong jangan menjadi wanita yang sok kuat!"
Air mata Sraya bertambah deras menuruni kedua pipi, selepas menerima seruan dari Arnawa yang sarat akan kemarahan. Jujur saja, ia pertama kali merasakan takut akibat melihat reaksi pria itu yang murka. Namun, Sraya tidak akan mampu mengubah kembali keputusan sudah diambil dengan matang.
Kemudian, dipeluk Arnawa. Ia ingin berikan kenyamanan dan ketenangan pada pria itu. Mendebat topik tak akan menemukan paling baik juga. Sraya berencana untuk jelaskan dengan alasan lebih masuk akal sehingga bisa diterima secara baik juga oleh Arnawa.
"Sudah, Arna. Sudah. Jangan begini lagi. Aku juga nggak akan pergi lama. Aku janji sama kamu kalau aku pasti kembali saat penyakit kistaku sudah sembuh. Tolong percayalah."
"Kalau kamu ikut bersamaku. Siapa nanti akan mengurus bisnis dan perusahaan? Ada tugas yang mesti kamu jalani. Ratusan staf bergantung denganmu, Arna. Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab begitu saja."