07

2091 Words
"Om Swastyastu, Mama. Aku suda—" Arnawa tak menyelesaikan ucapannya, kala injakkan kaki di ruang tamu disuguhkan pemandangan tidak biasa dan juga sukses membuat dirinya jadi tertegun sesaat. Atensi kian difokuskan ke arah sofa, di mana sosok sang ibu tampak tengah bersama Sraya. Posisi kepala wanita itu yang ditaruh di atas pangkuan ibunya sungguh menarik perhatian. Arnawa dibuat tersenyum. "Om Swastyastu, Nak," jawab Ibu Ayu dalam intonasi suara yang terbilang kecil, namun tetap saja mampu terdengar lembut. "Mama kira kamu akan sampai besok di sini. Ternyata sekarang. Kenapa tidak bilang?" Gelengan kepala cepat dilakukan oleh Arnawa seraya melangkahkan kaki dengan segera menuju sofa yang sedang ditempati oleh sang ibu dan juga Sraya. "Maunya gitu, Ma. Besok rencananya aku balik ke sini." "Tapi, aku pilih ganti jadwal penerbangan. Aku nggak betah di Jakarta lama-lama, lagipula urusan kerjaanku dengan semua klien sudah selesai." Arnawa menambahkan lantas. Memberikan penjelasan masuk akal. Selepas menjawab dan sebelum ikut duduk tentunya di sofa, ia lebih dulu mendaratkan kecupan singkat di bagian kening sang ibu. Berlangsung sangat singkat saja. Kemudian, titik fokus perhatian dipindahkan lekas oleh Arnawa ke Sraya yang masih tampak tidur dengan pulas, mungkin tak tahu jika ia telah pulang. Arnawa memang enggan mengabari Sraya. Ada sesuatu yang masih mengganjal. "Iya, Nak." Ibu Ayu pun menanggapi pendek jawaban yang tadi dilontarkan putra semata wayang beliau. Tetapi, tak berarti diabaikan "Selain urusan kerjamu di Jakarta yang sudah selesai, pasti kamu cepat balik ke Bali karena rindu kekasih hatimu ini. Benar, Nak?" Ibu Ayu meloloskan kalimat guyonan beliau sembari tertawa dengan ringan. "Apa, Ma?" Arnawa bereaksi cepat dengan nada tak percaya akan candaan sang ibu, tidak ia pernah duga akan ibunya ucapkan. Memang, tak semua disampaikan pada sang ibu tadi alasan dirinya pulang segera. Ada hal lain yang mendorongnya untuk segera kembali. Benar, kerinduan akan Sraya yang tidak bisa ditahan lagilah membuat Arnawa memilih ingin meninggalkan Jakarta cepat. Arnawa jelas kaget bukan main saat sang ibu mampu menebak dengan benar. Ia kira akan dapat menyembunyikan dan tidak ketahuan. Nyatanya, mudah diduga oleh sang ibu. Ia tentu harus memperjelas semua serta memberikan balasannya juga. "Mama bilang apa tadi?" Arnawa pun lanjut menunjukkan tanggapan dengan nada yang diusahakan supaya terdengar tetap santai. "Kenapa Mama berpikiran kayak gitu? Apa alasan Mama coba?" tanyanya lanjut. Kali ini, cukup gugup. Sebab, Sraya menatap. Arnawa memutuskan tak melakukan kontak mata dengan wanita itu. Ia jelas enggan jika sampai Sraya tahu fakta sebenarnya. Masih ada rasa di dalam diri Arnawa. Begitu juga akan gengsi yang tetap dijunjungnya. Tanggapan Sraya sangat pula diperhatikan. Belum tentu wanita itu senang mendengar kenyataan bahwa ia rindu. Hubungan di antara mereka memang telah berubah. Namun, bukan jaminan perasaaan wanita itu dapat diperuntukan untuknya cepat. "Jangan malu mengakui di depan Mama, Nak. Tidak apa kamu akui saja kangen dengan kekasih hatimu ini. Calon menantu cantiknya  Mama," jawab Ibu Ayu tak kalah sangai sembari beri kedipan mata pada sang putra dan Sraya secara bersamaan. "Sah-sah saja kamu kangen. Mama dan Papa juga begitu dulu, saat kami masih pacaran. Tiap hari tidak bertemu, sangat kangen. Ada saja cara kami untuk bisa berjumpa, walau kami sama-sama sedang sibuk bekerja." "Kangen? Aku?" Arnawa masih bertanya dengan nada santai. Ia tak bisa nyaman akan candaan yang dilakukan oleh ibunya. Terlebih lagi ada Sraya bersama mereka, Arnawa tentu enggan timbulkan prakara baru serta kesalahpahaman. Akhir-akhir ini, Sraya masih saja mudah sensitif dan juga tersinggung. Arnawa pun berupaya jaga perasaan wanita itu. Ia enggan membuat hubungan mereka memburuk juga jika ada masalah yang ditimbulkan oleh dirinya "Benar, Mama. Arna pasti balik cepat ke sini karena kangen. Dia nggak bisa berbohong. Aku bisa melihat jelas di matanya, ada rasa rindu yang harus dituntaskan kepadaku." Sepasang mata Arnawa jelas membulat sempurna akibat mendengar balasan ucapan dari Sraya. Suara wanita itu, ia kenali betul. Jadi, Arnawa yakin tak salah mendengar. Lalu, ia pusatkan pandangan ke sosok Sraya yang kini sedang perlihatkan senyuman lebar, tampak cantik. Arnawa harus mengakui bahwa dirinya terpeson "Benarkah tebakan Mama, Nak? Sudah Mama kira. Kamu memang tidak akan bisa menyembunyikan dari Mama. Kamu sudah dari kecil Mama yang urus. Mama sangat tahu bagaimana kamu kalau berbohong., Segera pula, Arnawa pindahkan atensi ke sosok sang ibu masih dengan mata yang membulat. Ia belum dapat untuk merasakan kenyamanan dalam guyonan-guyonan yang diciptakan secara kompak oleh ibunya dan juga Sraya. Ia seperti tengah terpojok. "Kenapa, Nak? Muka kamu Mama lihat jadi merah. Ada apa? Kamu malu karena sudah ketahuan, Arna? Haha. Jangan begitu." Arnawa lekas menggeleng seraya menaruh tangan kiri dan kanannya di masing-masing pipi. "Aku nggak sama sekali lagi malu, Ma," jawab pria itu dengan suara mantap. "Lalu, kalau nggak lagi malu, kenapa wajah kamu merah, Arna? Kenapa juga kamu, aku lihatnya lebih tegang? Kamu jangan bohong karena kamu nggak akan pernah bisa." "Aku nggak tegang, Sra." Arnawa menjawab kilat dengan raut wajah serius supaya tak semakin terpojokkan dan masih jadi bahan candaan. Situasi yang tidaklah baginya bisa menguntungkan. Bingung menghadapi. "Mengaku saja di depan kami, Nak. Mama dan Sraya tidak menertawaimu nanti." Arnawa langsung mengalihkan pandangan dari sosok wanita dicintainya ke sang ibu. Kalimat-kalimat jawaban seraya juga iringan tawa yang diucapkan ibunya terdengar jelas sebagai sindiran. Meski demikian, Arnawa tak akan bisa menanggapi dengan amarah. Ia hanya sedikit kesal. Sudah itu saja. Tidak lupa disiapkan sahutan pamungkas yang sekiranya dapat dijadikan balasan ampuh. "Kalau aku mengaku, Mama akan berikan aku hadiah yang bagaimana? Apakah Mama bersedia kasih aku semua warisan?" canda Arnawa sembari pamerkan seringaian. "Mama akan kasih kamu semua harta dan warisan, bahkan perusahaan. Tapi, dengan syarat kamu menikah dulu. Mama tidak mau keturunan keluarga kita terhenti karena kamu tidak menikah dan mempunyai anak." Arnawa seketika merasakan jika tubuhnya menegang. Tentu, diakibatkan oleh ucapan sang ibu. Memang terdengar balasan ibunya seperti guyonan belaka. Tetapi, bagi dirinya  sendiri, sangatlah serius. Hingga detik ini, ia tidak akan mampu memberi kepastian. Tak terpikirkan kapan target tersebut terpenuhi. "Bagaimana, Nak? Apa kamu bisa sanggupi permintaan Mama ini? Maka, Mama akan pastikan kamu mendapat warisan, setelah kamu dan Sraya menikah. Bagaimana?" "Kami akan mempertimbangkan lagi, Ma." Arnawa semakin membelalakan mata saat mendengar sahutan Sraya. Ia pun belum ingin pindahkan atensi dari wanita itu. "Apa maksudmu dengan mempertimbangkan?" ………………………………………………………………………. "Makasih, sudah mengantarku, Arna," ujar Sraya tulus dan sedikit formal, tatkala Arnawa sudah mengambil tempat duduk di kursi kayu yang terletak pada areal balkon kamarnya. Di samping pintu, tepatnya. "Sama-sama, Sra." Arnawa menyahut segera sembari atensinya dipusatkan secara penuh pada sosok Sraya yang begitu cantik. "Dari sini, kamu bisa melihat hotel yang aku maksud di mobil. Hotelnya ada di situ. Berlantai empat, aku mendapat informasi mereka mencari investor baru. Kamu coba hubungi. Aku yakin kalau kamu investasi di sana, kamu akan mendapat untung." "Akan aku hubungi." Tidak butuh waktu untuk Arnawa berpikir panjang tentang saran diberikan oleh Sraya. Ia memercayai. Pandangan Arnawa pun tak kunjung ingin dipindahkan, masih anteng memandangi kecantikan Sraya. Bukan dialihkan ke jari telunjuk tangan kanan wanita itu yang tengah menunjukkan ke hotel bintang lima dimaksudkan kepadanya sejak tadi. Debaran jantung Arnawa pasti akan lewati batasan normal jika sudah memandang dengan intens wajah Sraya. Selalu begitu reaksinya. Arnawa pun tak berupaya untuk mengantisipasi. Membiarkan saja. "Semoga sukses, ya. Aku doakan investasi kamu di sana berjalan lancar. Keuntungan juga nanti bisa besar dan semakin banyak." Arnawa mengangguk cepat. Senyumannya dilebarkan, saat kontak mata terjadi. "Iya, Sra. Astungkara. Makasih," ujarnya lembut. "Sama-sama, Arna. Kalau kamu butuh apa pun. Jangan sungkan meminta padaku." Kembali, Arnawa mengangguk. "Pasti." "Kamu menginap aja di rumah Mama, nggak apa-apa, Sra. Mama pasti tadi senang, kalau kamu menginap." Arnawa mengganti topik bahasan, lantas. "Mama tinggal sendiri." Sraya cepat menggeleng. "Nggak, Arna. Untuk malam ini, aku rasa belum bisa nginap di sana," jawabnya dengan jujur. "Mungkin lain kali, ya. Bilang sama Mama kamu, suatu hari nanti aku pasti akan ke sana menginap." Sraya mengimbuhkan. "Aku sudah berjanji sama Mama kamu, aku nggak akan biarkan Mama kamu merasa kesepian karena cuma tinggal sendirian di sana. Aku juga akan sering main ke rumah otangtuamu nanti. Tolang bilang ke Mama.* Arnawa kian melebarkan senyumnya seraya anggukan-anggukan kepala dengan gerakan santai. Ia senang dengan lontaran kata yang baru didengar dan tak berhenti menatap kian intens wajah Sraya yang begitu cantik. Tentu, berdampak juga pada jantungnya yang semakin berdegup kencang. Arnawa menikmati semua reaksi di dalam dirinya. Dan, satu fakta yang tidak akan mampu ia hindari adalah perasaan sayang serta cinta pada wanita itu sangatlah bertambah. "Kamu ingin pulang sekarang atau memberi tahu hasil dari pertemuan kamu bersama Nugraha di Jakarta padaku dulu?" Raut wajah Arnawa lekas berubah serius. Pertanyaan yang tertangkap jelas kedua indera pendengarannya, sungguh tak ingin dibahas malam ini. Namun, ketika sorot mata Sraya yang dilihatnya memancarkan rasa penasaran tinggi. Arnawa tidak punya pilihan, ia harus menceritakan semua sekarang. "Apa yang benar-benar kamu harapkan dari pertemuanku dengan mantan suami kamu sebenarnya, Sra? Tapi, aku rasa aku sudah melakukan hal yang terbaik sesuai dengan apa aku inginkan dan pesankan padamu." Pasca pertanyaan dilontarkan dengan nada dingin, maka tak Arnawa alihkan pandangan dari wajah Sraya. Ia ingin melihat perubahan ekspresi wanita itu. Nyatanya, belum ditampakkan raut wajah tambahan apa-apa, tetap datar. "Harapanku? Hm, kamu mampu berakting sesuai dengan permintaanku yang waktu ini. Kamu nggak lupa, 'kan? Bagus, kalau kamu sudah melakukan apa yang aku mau * Sraya juga semakin lekat memandangi Arnawa. "Kalau kamu sudah lakukan seperti yang aku bilang, aku yakin bahwa reaksi dia nggak akan jauh-jauh dari dugaanku." "Makasih banyak sudah membantuku. Kamu baik. Aku pasti akan membalas semua yang sudah kamu lakukan." Sraya berujar tegas. Arnawa mengangguk pelan. "Sama-sama, Sra. Aku sudah berjanji akan melakukan apa yang aku bisa untuk menolong kamu." "Bagaimana, Arna? Apakah dia marah atau gimana tahu kalau kamu dan aku sudah menjalin hubungan spesial?" Sraya dapatkan tatapan intens Arnawa, setelah pertanyaannya dilontarkan. "Benar marah?" Sraya memperjelas kembali. Selepas selesaikan kalimat tanya singkatnya, Sraya pun lantas diam sesaat guna menunggu jawaban yang akan diucapkan oleh Arnawa. Tetapi, ia hanya batasi sampai satu menit saja. Tak akan diberikan lagi penambahan durasi. "Baiklah, kalau kamu nggak mau bilang sekarang. Besok aja beri tahu aku, Arna. Kamu boleh pulang ke rumahmu sekarang. Makasih banyak sekali lagi karena kamu mau membantuku," ujarnya serius. Selesai berbicata, Sraya lalu bangkit dari kursi kayu, ia hendak pergi ke dalam kamar, tepatnya kulkas kecil yang terletak dekat tempat tidur. Sraya ingin minum agar bisa mengontrol emosi, ia tidak ingin sampai marah-marah. Dengan langkah kaki cukup cepat, Sraya berjalan. Ia pun meninggalkan Arnawa sendirian yang masih tetap bungkam. Hanya butuh 30 detik saja untuk bisa menjangkau kulkas mininya. Diambil cepat botol kaca dingin berukuran cukup besar dari dalam, minuman berkadar alkohol lumayan tinggi. Ia juga meraih gelas yang diletakkan di atas kulkas mini. Hendak digunakan tentu saja. "Apa-apaan kamu, Arna?!" Sraya pun sontak berseru dengan cukup lantang, setelah botol minumannya diambil paksa. "Biar aku yang menggantikan kamu minum, Sra. Aku bisa lebih jago daripada kamu. Aku lebih pantas juga minum dibandingkanmu. Aku bisa mengendalikan diri agar aku nanti nggak sampai mabuk. Jangan banyak tanya atau bicara. Kamu hanya cukup lihat aku minum. Jangan pernah coba mencicipi." Sraya memilih tidak menanggapi. Ia hanya terus memberikan seluruh perhatian pada sosok Arnawa yang sudah duduk di sofa. Dan, saat pria itu mulai menenggak vodka di dalam botol, ia semakin melekatkan tatapan. Jelas, bola mata Sraya tambah membulat. Masih tidak menyangka bahwa pria itu bisa minum dengan cepat. Sudah habis hampir tiga perempat botol. Sraya tak menduga bahwa Arnawa mampu. Ia jelas tidak akan menaruh kekaguman. Melainkan, dilanda kecemasan. Sraya sangat tahu jika pria itu tak punya kemampuan minum yang baik. "Arna, apa kamu baik-baik saja? Tolonglah jangan b**o. Kamu akan mabuk nanti," ujar Sraya dalam nada yang dingin dan datar. "Aku nggak akan mabuk. Aku sudah bilang tadi, aku lebih hebat darimu untuk urusan minum. Kita hanya sama soal masalah di kasur. Kita belum ada pengalaman. Jadi, aku takut akan menyakitimu saat kita lakukan nanti. Aku butuh waktu untuk bersiap." Sraya tidak bisa mengatakan apa-apa secara cepat karena memang masih dilanda rasa terkejut mendengar kalimat balasan yang Arnawa ucapkan. Diluar perkiraannya lagi. Membuat Sraya benar-benar bingung harus memberikan tanggapan yang bagaimana. Ia tak ingin merasa kalah di sisi lain. Jadi, akan dilontarkan balasan sesegera mungkin. "Kapanpun kamu siap, beri tahu aku. Kita akan tidur bersama. Aku sudah nggak sabar seberapa besar keahlianmu di ranjang, Arna. Akan lebih hebat dari minum atau ba--" Sraya tidak bisa lanjutkan perkataan sebab sudah dibungkam dengan ciuman Arnawa. Pria itu melumat bibirnya cukup kasar dan bernafsu. Ia jelas kaget. Hanya dapat diam saja. Tak mampu dalam berikan membalas.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD