08

2092 Words
"Sraya...," Arnawa memanggil lembut sembari atensi dipusatkan ke sosok Sraya yang duduk di tepian kasur. Sementara, posisi Arnawa tengah berdiri depan pintu kamar mandi. Ia baru saja selesai cuci muka. Pakaian lengkap telah dikenakannya, "Sraya...," panggil Arnawa kembali. "Kapan kamu akan pulang? Bukannya kamu ke kantor hari ini untuk bekerja, Arna?" Pertanyaan bertubi-tubi terluncur dari mulut Sraya, saat sudah begitu risi ditatap intens Arnawa. "Mungkin aku akan izin ke kantor hari ini, Sra. Aku nggak kerja. Aku mau di sini." Yang lalu dilakukan Sraya guna menanggapi jawaban dilontarkan Arnawa, yakni mengangguk dengan gerakan kecil beberapa kali. Sudut-sudut bibirnya pun membentuk lengkungan yang cukup lebar, tentu sengaja ia tunjukkan pada Arnawa. Ia bingung juga harus memerlihatkan ekspresi bagaimana. Jika boleh jujur, Sraya meras risi dengan tatapan yang dilemparkan oleh pria itu. Ia tidak tenang bahkan nyaman. Sorot mata Arnawa seakan sedang ingin menemukan sesuatu, saat mereka berdua bersitatap. "Baiklah, kalau kamu akan absen bekerja dan mau di sini. Tapi, maaf aku nggak dapat menemanimu. Aku harus pergi nanti," beri tahu Sraya dalam nada kian melembut. "Aku akan meninggalkan rumah nanti, jam sepuluh mungkin. Aku masih ada waktu." "Aku akan buat sarapan. Kamu mau makan apa, ya? Jangan yang rumit, kamu tahu sendiri aku nggak suka lama di dapur 'kan, Arna?" Sraya menyelipkan sedikit guyonan dalam luncuran kalimat tanyanya, meski gaya bicara sedikit kikuk. "Biar aku yang buat sarapan, Sra. Aku ingin buatkan kamu nasi goreng. Apa kamu punya bahan-bahannya di dalam kulkas?" Arnawa bertanya balik seraya mengulum senyum. "Iya. Ada. Tapi, aku nggak lagi ingin makan nasi goreng atau yang lainnya sekarang. Aku nggak merasa lapar. Aku beli nanti saja." "Buatkan saja untuk diri kamu sendiri, Arna." Sraya pun imbuhkan jawaban masih dengan suara kikuknya, meski senyuman yang lebar terus dipertontonkan olehnya. "Aku tahu kamu nggak lapar, Sra. Tapi, jangan lewatkan sarapan. Bukan cuma untuk mengisi perut kita, namun bagus juga mengisi energi. Supaya lebih semangat lagi bekerja." Arnawa keluarkan pendapatnya. "Pengalaman aku seperti itu, Sra." Pria itu mengimbuhkan jawaban, bicara jujur. "Baiklah, terserah kamu saja. Bagaimana baiknya bagi kamu untukku. Ya, aku akan coba melakukan." Sahutan cepat bernada datar diluncurkan Sraya secara cepat. Kemudian, kekagetan melingkupi wanita itu cukup besar, tepat setelah Arnawa yang tengah duduk di sampingnya, melingkarkan tangan kanan di pinggang. Sraya terkejut, tentu saja. Sebab, Arnawa tidak pernah begitu terhadap dirinya. Sraya mengingat betul, sama sekali belum tanpa ada izin. Masalah berciuman, memang telah mereka lakukan beberapa kali. Dan hanya barulah semalam, mereka b******u. Tentu Arnawa yang tumben memulai kemarin. Sraya pun ingin melupakan. Namun justru kini, pria itu melakukan kontak fisik. Sraya pun turut menaruh kecurigaan akan tatapan Arnawa. "Ada apa?" Diputuskan untuk bertanya segera agar tak terlalu lama merasa penasaran di dalam benaknya. Ya, tentang sorot mata Arnawa yang bagi Sraya tampak sedikit aneh. Cepat sekali berubah. Tidak ada pancaran kelembutan. Ia menjadi seketika risi. Mungkin, tak dapat lama-lama dirinya beradu pandang dengan Arnawa lagi. Diputuskan untuk alihkan pandangan dari pria itu, meskipun dirinya masih ditatap dalam sorot begitu lekat. "Aku yakin kamu punya sesuatu yang mau kamu pengin ketahui, Arna. Katakan saja padaku." Sraya pun lanjut keluarkan kalimat pancingan untuk mengorek informasi. Kebungkaman Arnawa yang masih berlangsung, walau ia sudah selesai berujar, nyatanya tak Sraya sukai. Mata pria itu sangat jelas tunjukkan ketidaknyamanan, kontras dengan kuluman senyum yang dipamerkan padanya. "Apa soal kemarin, Arna? Aktivitas kita?" Sraya menebak asal saja. Seluruh atensi tetap tertuju ke mata Arnawa. "Kemarin aku mabuk, 'kan? Aku berpikir, kalau mungkin saja aku sudah bersikap kurang lembut padamu, Sra." Reaksi tubuh Sraya dengan jawaban dilontarkan Arnawa adalah kekakuan. Benar ternyata, pria itu akan tanyakan dan membahas. Sraya berupaya cepat menerapkan rasa tenangnya kembali yang sempat goyah. Ia pun tak ingin sampai menimbulkan kecurigaan di mata Arnawa. "Sra, apa aku nggak kasar padamu semalam, saat kita melakukannya? Aku takut saja berbuat kurang pantas. Aku nggak bisa ingat soal kemarin malam, waktu bangun tadi. Yang aku tahu cuma satu ranjang dengan kamu. Selebihnya, aku benar-benar lupa." Sraya tak segera menjawab. Hanya dapat memandangi sosok Arnawa dengan semakin lekat. Sorot mata pria itu menunjukkan rasa cemas yang begitu kentara. Membuatnya dilanda kekhawatiran juga. Namun, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Sraya sudah memantapkan diri untuk buat kebohongan. Ia memang egois. Sraya tak akan menampik. Semua dilakukannya guna melancarkan semua yang direncanakan. Harus berhasil, tentu saja. Sraya menjamin bahwa Arnawa tidak akan menderita. Kemudian, respons diberikan. Kepalanya digelengkan beberapa kali. "Nggak, Arna." "Kamu nggak kasar. Kamu malah lakukan dengan lembut. Walau, semalam adalah yang pertama juga bagi kita berdua," imbuh Sraya dengan suara datar. Namun, kedua ujung bibir dilengkungkan olehnya. "Benarkah? Kamu lagi nggak bohong 'kan padaku, Sra? Kalau boleh jujur, aku nggak percaya ucapan kamu. Dan, kalau aku sudah berbuat kurang pantas saat menyentuhmu, bilang saja semua. Jangan ada ditutupi." Sraya menggeleng cepat. Namun, gerakan kepalanya kian kaku. Perasaan bersalah pun bertambah besar karena sudah berbohong dan menjebak Arnawa. Namun, Sraya tidak ingin membongkar semua sekarang. Lebih baik ditutupi untuk melancarkan rencana yang sudah dirancangnya pada Arnawa. "Nggak, Arna. Kamu nggak begitu. Malahan aku menikmati setiap sentuhan yang kamu lakukan. Kamu sangat bisa membuat aku merasa puas, walau baru yang pertama kali untuk kita." Sraya menjawab mantap. "Hmm, mengenal keahlian kamu memberi aku kepuasan. Apa kamu sudah pernah tidur dengan perempuan lain sebelumnya? Bukan ada maksud apa-apa. Aku nggak akan mempermasalahkan hal yang kayak begitu." Arnawa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Ekspresi di wajah pun semakin  serius. Arnawa juga rasakan ketegangan, tak kemaraha. Ia bahkan enggan tersinggung dengan pertanyaan dilontarkan oleh Sraya. Tentu, Arnawa merasa wajib menjelaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di antara mereka. Ia juga berusaha tak dicap sebagai pria yang memiliki kelakuan buruk. "Nggak pernah, Sra. Belum pernah aku tidur dengan perempuan sampai umurku segini. Semalam yang pertama untukku, ya. Kamu boleh percaya. Boleh juga nggak. Aku nggak bisa mengubah penilai kamu kepadaku." Sraya mengulum senyum lebih lebar lagi dan anggukan kepalanya. "Aku percaya apa yang kamu bilang, Arna. Kamu nggak akan berbohong kepadaku. Kamu bukan tipe yang suka mengada-ada juga. Maaf soal tadi." "Nggak apa-apa, Sra. Aku yang harusnya minta maaf ke kamu karena sudah mengajak kamu tidur denganku. Kamu jangan cemas. Aku nggak akan lari dari tanggungjawabku. Kita berdua akan segera menikah." Sraya menggeleng cepat. Rahang wajahnya seketika mengeras. "Nggak, Arna. Kita nggak akan menikah, walaupun kita berdua sudah tidur bersama. Aku nggak mau menikah." ………………………………………………………………………………………..   Kali ini, Sraya tak menolak ajakan Arnawa untuk pergi keluar. Entah dorongan dari mana yang berasal dalam dirinya yang begitu ingin terus dekat dengan pria itu. Ia belum pernah merasa seperti ini pada Arnawa. Padahal, saat mood sedang buruk, ia begitu ingin pria itu menghilang dari hadapannya. Sekarang justru berbeda. Sejak kemarin malam, semua seakan berubah. Sraya begitu menginginkan Arnawa selalu dengannya. Tatapan pria itu yang pagi tadi membuat ia risi, kini seiring waktu delapan jam telah mereka lewatkan bersama, maka sorot mata Arnawa yang selalu memancarkan keteduhan membuatnya tenang. "Apa kamu suka ruangan ini, Sra? Kalau kurang sreg, kita bisa pindah. Aku akan minta pada pegawai di sini un-" "Aku suka. Kita di sini saja." Sraya segera memotong ucapan Arnawa, ia pun telah tahu apa yang pria itu tanyakan. Kepala pun turut dianggukkan olehnya sebagai pendukung. Selepas menjawab, maka Sraya kembali melangkah menuju ke kaca yang terpasang di sisi lain ruang VIP restoran karen ingin melihat dengan lebih jelas pemandangan laut biru yang tersaji indah di depan sana dan memanjakan matanya. "Tempat kamu pilih ini bagus, Arna. Aku sangat suka. Hamparan laut kelihatan biru bersih di sini." Sraya tidak dapat menahan untuk menunjukkan kekaguman lewat kata-katanya. "Terima kasih sudah mengajakku kemari, Arna. Kamu tahu kesukaanku." Sraya berucap dengan nada yang begitu tulus. "Selain, makanan di sini enak dan rasanya sesuai lidah. Aku sangat suka suasana di sini. Nyaman dan adem bagi hatiku." Wanita itu menambahkan jawaban, mengungkap pendapat pribadinya. Suara teralun dengan lebih lembut. Senyum kian dilebarkannya. "Berapa kali pun aku diajak kemari, aku rasa aku nggak akan pernah bosan nanti." "Iya, Sra. Aku setuju pendapatmu. Dan, sejak kamu mengajakku makan di sini waktu itu merayakan ulang tahunku, empat tahun lalu. Aku juga kerap makan di sini sendirian. Terutama, saat aku merasa sangat kangen dengan diri kamu, Sra. Aku pasti akan ke sini. Walau cuma sendiri saja. Aku biasa." "Kamu pernah bilang tempat ini termasuk yang kamu suka. Makanya, aku juga suka kemari. Setiap makan, aku akan bayangkan senyuman kamu yang manis, Sra. Memang kelakuanku konyol, tapi aku menikmati." Sraya alihkan perhatian dari pemandangan hamparan laut biru yang ada di luar kaca restoran, lalu dipusatkan atensi secara kesuluruhan pada sosok Arnawa yang kini telah berdiri di sampingnya. Mereka saling bersitatap. Ucapan pria itu pun jadi sukses membuatnya merasakan kekagetan besar. Sraya memutuskan pusatkan seluruh atensi ke sosok Arnawa, terutama pada sepasang mata pria itu. Ia ingin menyelami tatapan Arnawa. Hendak pula mencari kebenaran akan kata-kata yang dilontarkan oleh pria itu tadi. Ia tak menemukan kebohongan. "Kangen denganku?" Sraya bertanya ulang, lirih. Berupaya memastikan kembali. "Betul, Sra. Dulu, waktu kamu masih berpacaran dengan Nugraha, aku sering merindukanmu. Ingin juga menghabiskan beberapa momen bersamamu. Tapi, rasanya mustahil. Karena, kamu adalah kekasih dari orang lain, sahabat baikku sendiri." Arnawa mengulas senyum miris. "Rasanya nggak mungkin aku kangen dengan pacar orang lain. Aku cuma bisa menahannya. Lumayan sakit, setiap kali aku bayangkan wajah dan senyuman kamu, Sra. Aku bilang begini bukan mau mendapat simpatimu." "Aku cuma ingin kamu tahu apa yang aku rasakan. Semoga kamu nggak anggap aku berlebihan, ya." Arnawa memperjelas lagi. "Jauh sebelum Nugraha bilang dia menyukai dan ingin menjadikanmu pacarnya, aku sudah lebih dulu memiliki perasaan ke kamu, Sra. Cuma, aku pilih memendam." Sraya putuskan diam terlebih dahulu, tak langsung berikan jawaban atas pengakuan Arnawa, meski di dalam kepalanya telah disiapkan kalimat-kalimat sahutan untuk menjawab. Sepasang mata teduh kepunyaan Arnawa menjadi pusat pandangan Sraya. Keheningan dibiarkan menaungi mereka berdua. Ia dan pria itu kompak sama-sama membungkam mulut. Hanya masih saling menatap. Tak mampu Sraya tampik bahwa ia dirundung perasaan bersalah, pelan tapi pasti. Menyayangkan bagaimana tingkahnya dulu kurang baik atau menghargai Arnawa. "Terima kasih sudah memiliki perasaan yang tulus pada diriku, Arna. Ya, kamu telah mencintaiku." Sraya berujar kecil. Seperti tengah berbisik, lebih tepat terdengar. "Aku tahu kamu sangat tulus kepadaku dan kamu juga sangat baik terhadapku, walau selama ini aku mengabaikan secara sengaja perasaan yang kamu miliki kepadaku." "Maaf, aku terlambat tahu dan menyadari. Mungkin aku sudah banyak menyakitimu karena hubunganku dengan dia." Sraya lanjut berujar, kian lirih cara bicaranya. Rasa bersalah yang juga semakin besar tak bisa dihindari. Menyebabkan d**a Sraya menjadi sesak. Ia mengira bahwa di dalam hidupnya sudah melakukan kebaikan pada orang lain. Nyatanya, ia masih memberikan luka untuk Arnawa tanpa disadarinya. Sraya tidak tahu harus bagaimana cara menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan. Terlebih kini, Sraya meminta bantuan pria itu untuk kepentingannya sendiri tanpa memikirkan perasaan Arnawa. "Kamu nggak salah, Sra. Santai saja. Kamu jangan meminta maaf padaku. Kamu tahu kalau aku nggak akan bisa marah padamu." Arnawa melekatkan tatapan. "Lagipula, sekarang kamu bisa aku miliki. Aku nggak akan mengalah lagi dengan pria lain, Sra. Aku akan memperjuangkanmu untukku." "Bagaimana menurutmu? Apakah aku sudah pantas jadi pasanganmu sekarang, Sra? Dan, bukannya sebagau sekadar teman lagi? Apa aku berhak mendapatkan cinta darimu?" Tubuh Sraya kaku. Pertanyaan bertubi yang diluncurkan oleh Arnawa sukses berikan ketegangan pada dirinya. Belum lagi sorot mata pria itu yang tampakkan kelembutan semakin nyata. Membuat Sraya terasa sulit untuk berkutik dan menggerakkan tubuh. Ia juga tidak bisa memikirkan jawaban bagus. Namun, enggan juga hanya diam. Sraya pun merasa harus dapat memberi tanggapan. "Katakan yang jujur. Lebih baik aku dengar yang menyakitkan daripada manis tapi aku dibohongi dengan janji-janji yang palsu." Kedua bola mata Sraya semakin melebar. Ia lantas menggeleng cepat. "Janji palsu? Apa maksud kamu bilang yang begitu padaku?" "Aku nggak ada atau punya niatan seperti kamu bilang tadi." Sraya mempertegas. "Aku hanya butuh waktu menjawab. Kamu harusnya bisa sabar sedikit menunggu." Arnawa mengangguk pelan. "Baik, aku akan menunggu jawabanmu yang paling jujur." "Begini, Arna..." Sraya memutuskan menjeda. Tiba-tiba saja ia lupa akan kata-kata yang hendak diucap. Tetapi, Sraya tidak membiarkan lama. Cepat dirangkai kalimat kembali. Hanya butuh waktu beberapa detik saja baginya. Tetapi, ia melakukan pengaturan napas lebih dulu. "Bagaimana, Sra? Aku sudah nggak sabar dengar jawaban dari kamu. Dan, aku sudah siap juga dengan apa pun kamu akan bilang nanti kepadaku. Walau, sakit aku bisa tahan asal aku sudah mendapat jawaban jujur." Sraya menggeleng cepat. "Jangan bersikap begitu, Arna. Tapi, aku akan bilangnya terus terang kalau mungkin aku bisa memberikan pertimbangan soal perasaanmu padaku."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD