"Damn!" Arnawa meluncurkan u*****n dengan cukup emosi dan juga diberikan penekanan yang sangat jelas.
Arah pandang Arnawa ke layar ponselnya pun tampak kian tajam. Nama Sraya terpampang nyata. Tentu, alasan dari kemarahannya memang disebabkan oleh wanita itu. Tepatnya sejak kemarin, Sraya tak mengangkat satu pun panggilan dari dirinya. Entah disengaja atau tidak, Arnawa belum tahu. Namun, ia jelas sangat kecewa.
Meski demikian perasaannya, ia masih terus berupaya menelepon karena sangat ingin mengetahui kabar Sraya yang tengah berada di luar kota untuk urusan bisnis. Namun, tak kunjung mendapat informasi. Nomor Sraya yang dihubunginya bahkan non-aktif sejak tiga jam lalu. Sungguh, wanita itu berhasil membuatnya emosi sekaligus marah.
"Shittt!" Arnawa pun mengumpat kembali dengan intonasi yang semakin keras dan dibarengi pengepalan kedua tangannya.
"Kenapa nggak kamu angkat teleponku, Sra?" Dimulai oleh Arnawa monolog sarat akan kekesalan yang besar.
"Apa tujuan kamu menghindariku? Baru seminggu lalu kamu bersikap hangat dan baik padaku, Sraya." Arnawa terus berucap lirih. Kesesakan yang menghantam d**a secara tiba-tiba menyebabkan dirinya sedikit kesulitan menghirup oksigen.
"Aku bahkan ingin menumbuhkan harapan pasti kalau kamu bisa membalas perasaanku. Seenggaknya, kamu dapat menghargaiku sebagai pria yang tulus mencintamu sejak lama dan sampai hari ini belum sedikit pun bisa dihilangkan."
Selepas terluncurnya kalimat yang cukup panjang dan memerlihatkan nyata rasa sakit dalam hatinya akan sikap dari Sraya, maka Arnawa tidak mampu mencegah setetes air mata yang lolos turun ke kedua pipi. Ia benci terlihat lemah, tetapi tak dapat diungkap lewat cara lain kekecewaannya kini.
"Ada apa denganmu, Sra?" Kembali, Arnawa dengan lirihnya bergumam. Perasaannya benar-benar terluka. Hatinya sangat pedih.
"Apa aku sudah berbuat kesalahan pada kamu? Apakah cara ini kamu gunakan untuk menyadarkanku. Tapi, apa kesalahan yang sudah aku lakukan sampai kamu jauhi aku kayak gini, Sra?" Arnawa pun tak hentinya bermonolog dengan suara tambah lirih.
Rasa sakit di hati tak mampu diingkari, d**a begitu perih. Setiap kali, terlintaslah sosok Sraya yang tengah tersenyum di dalam benaknya. Maka, Arnawa sudah pasti segera kehilangan kontrol diri, kerinduannya jadi bertambah juga. Sungguh, memuakkan.
"Seandai memang aku salah, lebih baik memberitahuku secara langsung. Dari—"
"Om Swastyastu. Selamat siang, Bro."
Arnawa cepat mengangkat kepala dan juga membuka kedua mata, diarahkan ke pintu ruangan kerjanya. Lalu, tampak sosok sang sahabat berdiri di sana. Spontan membuat Arnawa bangkit dari kursi, lanjut berjalan menuju pintu dengan langkah tegapnya.
"Om Swastyastu," balasnya dengan suara sopan. Masih tertuju secara keseluruhan pandangan ke depan. "Kapan lo sampai di Bali, Nugraha? Kenapa nggak kasih kabar?"
"Gue nyampai di sini kemarin. Sekitar jam tujuh malam. Gue nanti, dua jam lagi udah harus ke bandara. Balik ke Jakarta. Besok pagi, gue akan terbang ke Singapura."
Arnawa hanya lakukan anggukan kepala singkat. Lantas, persilakan sang sahabat untuk duduk di atas sofa, lewat gerakan tangan dan lirikan mata. Ia pun ikut tempatkan diri di samping kiri sahabatnya, berada di sofa panjang bersama. Arnawa tak lepaskan pandangan dari Nugraha.
"Lo mau minum apa? Gue akan minta staf gue bawakan ke sini," tanyanya dingin.
"Dan, apa tujuan lo menemui gue? Lo pasti mau menyampaikan hal yang penting ke gue, kalau lo sempatkan diri datang ke sini."
Nugraha lekas menggeleng. "Gue nggak pengin minum apa-apa, Bro. Gue bakalan sebentar doang di sini. Gue mau bilang dan sampaikan beberapa hal sama lo, Arna."
"Lo bisa tahu kalau gue datang kemari pasti karena punya tujuan. Lo memang benar."
"Hal apa saja yang mau lo bilang ke gue? Apa berkaitan dengan Sraya, Bro? Apakah lo sudah menemui dia dan meminta maaf?"
Arnawa mempertajam sorot mata, tatkala melekatkan tatapan ke arah sang sahabat. Ia ingin melihat reaksi Nugraha ata apa yang ditanyakannya. Arnawa berusaha menjaga terus sikapnya, akan ditampakkan dingin. Meski bertentangan akan ketenangan di dalam dirinya yang mulai terkikis.
Sosok Sraya masih menyita pikiran. Ia tak bisa fokus bekerja dan bahkan menduga jawaban akan dilontarkan oleh Nugraha. Kemampuan menerka tidak bisa untuk diterapkan. Ia hanya akan menanti balasan sang sahabat. Baru tunjukkan reaksinya.
Dan, tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk Arnawa. Anggukan pelan dilakukan oleh Nugraha sudah dapat membuatnya mengerti. Berbagai pertanyaan pun lantas tercipta di dalam kepala, siap diluncurkan.
"Lo sudah menemui dia? Lo yakin juga apa sudah meminta maaf sedalam yang gue suruh waktu ini? Paling nggak, sudah bisa setimpal dengan kesalahan ya lo perbuat."
Arnawa belum memindahkan atensi dari sang sahabat. Keinginannya masih tetap sama yakni melihat respons Nugraha atas pertanyaannya. Tak cukup hanya lewat ekspresi saja. Sang sahabat memasang raut datar, mengakibatkannya kian sulit untuk menebak bagaimana perasaan Nugraha.
"Apa yang lo ingin, gue sudah turuti seperti lo perintahkan pada gue saat kita di Jakarta."
"Sudah gue lakukan. Tapi, Sraya yang gue pikir akan bisa sedikit baik. Malah bersikap sangat dingin dan sinis. Dia nggak pernah sebelumnya seperti itu dengan gue, Bro."
Arnawa berdecak sinis. "Lo merasa nggak adil diperlakukan begitu sama Sraya?"
"Lo ngomong gini masih dengan kewarasan yang tinggi atau lo sudah mulai gila? Kalau sifat lo yang egois, jangan ditanyakan lagi ke gue. Dari dulu gue sudah tahu dan sadar."
Arnawa menajamkan tatapan pada sosok sahabat baik yang sudah membuat dirinya merasakan kekecewaan tinggi. Jauh lebih besar daripada saat tahu fakta Nugraha dan Sraya tengah menjalin kasih dulu. Sekarang, setelah sohib karibnya itu menyakiti wanita paling ia cintai. Maka, Arnawa tidak akan mampu berlakukan penoleriran kembali.
"Jawab gue! Jangan pura-pura tuli lo. s****n gue masih baik ke lo, Bro!" Arnawa berseru marah dengan intonasi suara begitu tinggi.
"Gue salah. Gue memang salah! Gue pantas diperlakukan dingin sama Sraya, walaupun gue sudah minta maaf dengan sangat tulus."
Arnawa mengepalkan kedua tangan. Kian keras rahang wajahnya bersamaan sorot mata yang terus menajam memandang ke arah sang sahabat. Ia semakin tak menyukai bagaimana amarah diperlihatkan Nugraha. Tak akan dirinya menaruh belas kasihan. Namun, bukan berarti juga ia akan mampu melupakan kebaikan-kebaikan sudah sang sahabat lakukan kepadanya sejak dahulu.
"Lo memang pantas. Lo harus bersyukur juga karena gue nggak hantam lo sampai lo mampus. Walau, lo sudah sangat membuat gue kecewa dengan menyakiti Sraya. Gue nggak akan pernah bisa terima perbuatan lo ke dia. Lo tahu sendiri bagaimana besarnya rasa cinta gue ke dia," ujar Arnawa dingin.
"Lebih baik lo cepat pergi dari sini. Gue bisa muak dan lepas kontrol untuk menghajar lo kalau lo nggak segera angkat kaki, Bro."
……………………………………………………………
Konsentrasi Arnawa dalam bekerja benar-benar telah terganggu, terkhusus sejak Nugraha mendatanginya. Informasi yang diberikan sang sahabat pun membuat dirinya senantiasa memikirkan sosok Sraya. Kekhawatiran Arnawa bertambah.
Guna menghindari kekeliruan dan juga kesalahan dilakukan, manakala memeriksa dokumen-dokumen penting perusahaan yang telah disetor para pegawainya, Arnawa segera memutuskan pulang bekerja dari kantor lebih awal, sekitar pukul tiga sore.
Ia tentu tak langsung kembali pulang ke kediamannya, tetapi singgah ke rumah Roky. Tujuannya datang sudah pasti untuk mengajak minum bersama. Arnawa merasa wajib melepaskan beban yang menyebabkan kepeningan di bagian kepalanya.
"Semoga kedatangan gue ke sini nggak ganggu lo. Gue suka segan datang waktu lo sibuk. Gue juga malas harus ganggu lo kalau lagi sama para cewek." Arnawa bercanda, meski terkesan dipaksakan untuk terluncur.
"Hahaha. Ajib banget sindiran maut lo, Bro. Kesannya gue manusia paling sibuk cuma untuk memenuhi kesenangan duniawi."
Arnawa menaikkan salah satu sudut bibir, tepatnya yang bagian kanan. "Tanpa gue bilang terang-terangan. Lo juga sadar."
"Hahaha. s****n lo emang, Arna. Mulut lo pedas. Kontras sama wajah ganteng lo."
Respons cepat diberikan oleh Arnawa lewat gelengan kepala. "Lo lebih ganteng, Bro. Lo makanya mudah dapat cewek yang lo mau."
"Hahaha. s****n. Nyindir gue lagi. Padahal, lo tahu penyebab cewek-cewek mau sama gue bukan karena kegantengan, tapi duit."
"Tumben lo main kemari, untung gue nggak ada rapat yang penting hari ini dengan para staf cantik di kantor. Jadi, gue bisa bebas diam di rumah. Gue juga nggak hang out."
"Lo nggak punya acara sampai ntar malam, Ky? Gue nggak percaya. Tiap malam, lo selalu sibuk di luar biasanya." Pertanyaan dilontarkan oleh Arnawa dengan curiga.
"Punyalah gue. Mau clubbing. Kenapa? Lo ada niatan buat ikut bareng gue dan juga teman-teman kita? Ayolah, gabung, Bro. Gue akan mengistimewakan diri lo malam ini."
Arnawa menggeleng cepat. "Gue nggak suka pergi ke bar atau clubbing. Terlalu berisik. Yang paling gue butuh buat sekarang adalah ketenangan. Biar gue nggak makin pusing."
"Mendingan memang lo diam di rumah dan temani gue minum sebentar. Nggak akan lamalah gue di sini," perintah Arnawa.
"Wishh, lo pusing kenapa? Ada masalah? Kalau soal kerjaan, udah lo jangan terus ambisius. Perusahaan orangtua lo udah besar. Warisan yang lo bakal dapatin juga banyak. Nggak usah banting tulang lo, Bro."
Roky meluncurkan tawa semakin kencang. "Lo harus menikmati hidup lo dengan kekayaan lo yang melimpah. Lo pasti paham maksud gue lah. Lo orangnya juga cerdas."
"Jangan kasih gue nasihat nggak masuk akal. Lo dan gue punya gaya hidup yang beda, Ky. Kita nggak sama. Gue tahu kekayaan dari orangtua gue melimpah. Bukan berarti gue harus habiskan semua sekarang." Arnawa pun tanggapi dengan segenap keseriusan.
"Gue ke sini mau nenangin hati sama kepala gue. Lo nggak usah cekcokin gue sama hal yang kurang penting. Gue malas debat."
Roky mengangguk paham. Tawanya sudah mulai diredam agar sang sahabat tak kian tersinggung. "Iya, Bro. Iya. Gue nggak akan ajak lo debat. Lo kelihatan lagi mumet."
"Lo ada masalah apa? Bilang aja sama gue. Kali aja, otak gue lagi benar dan bisa bantu lo untuk menyelesaikan," ujar Roky santai.
"Gue sudah pusing dengan masalah yang muncul dalam hidup gue. Rumit untuk gue bisa selesaikan sempurna. Kayaknya lo juga nggak akan bisa bantu. Gue pun nggak mau lo ikut campur. Cukup temani gue minum."
Reaksi segera ditunjukkan oleh Roky dengan kekehan tawa, tak bermaksud mengejek rekannya sengaja. Hanya merasa lucu menyaksikan kegundahan yang kini tengah diperlihatkan Arnawa, sebab sangat jarang ditunjukkan. Justru, ia ingin tertawa lagi.
Ekspresi di wajah sang sahabatlah pemicu utama. Roky tipikal yang akan mudah bisa tertawa hanya dengan melihat raut yang tidak biasa ditunjukkan oleh orang-orang didekatnya. Berlaku juga untuk Arnawa.
"Gue rasa masalah lo nggak di kerjaan, kalau jawaban lo udah begini, Arna. Apakah masalah hati, Mas Bro? Tebakan gue ini apa benar? Kayaknya gue nggak akan salah."
Roky kembali loloskan suara tawa yang lebih mengeras, setelah menerima respons berupa anggukan kecilnya. Sesuai memang dugaannya. Sangat mudah untuk ditebak. Tak akan pernah bisa Arnawa sembunyikan baik dari dirinya. Mereka sudah cukup lama saling mengenal dan juga berteman baik.
"Iya 'kan masalah hati? Lo lagi kasmaran sama seorang perempuan yang mungkin nggak ada perasaan kayaj lo. Benar bukan dugaan gue, Bro? Gue rasa benar gitu. Lo ngaku aja sama gue, Arna. Kalau perlu lo bisa curhat. Akan gue dengarkan semua."
Arnawa segera bereaksi dengan luncurkan decakan sinisnya. "Curhat? Kalau gue katakan semua ke lo. Apa masalah yang gue lagi hadapi sekarang bisa selesai?"
"Hahaha. Konslet otak lo tumbenan, Bro. Ya, gue nggak bisa kasih solusi bagus, gue bukan orang yang bijak. Lo paling bisa cerita doang. Gue akan bersedia dengar."
Gelengan kepala dilakukan cepat oleh Arnawa. "Gue lagi malas ngomong banyak, Ky. Gue bukannya nggak ingin cerita sama lo," jawab Arnawa dengan apa adanya.
"Kalau ingat-ingat masalah gue lagi, gue semakin nggak bisa tenang. Gue datang ke sini mau menghibur diri. Lo harus bantu."
Roky terkekeh senang sembari anggukan kepala. Kedua jempolnya pun diacungkan ke arah sang sahabat. "Siap, Bro. Siap. Akan gue usahakan membantu lo," jawabnya santai.
"Asalkan lo jangan minta yang aneh-aneh ke gue yang ogah gue kasih. Gue masih normal jadi lo nggak akan bisa memengaruhi gue."
Arnawa seketika mengerutkan kening dan semakin lekatkan tatapan ke sosok sahabat baiknya itu. "Maksud lo apa? Gue juga masih normal. Jijik gue tidur sama pria, apalagi lo. Mendingan gue main dengan perempuan."
"Hahaha. Gue bercanda, Bro. Emosi banget lo jawabnya. Efek lo nggak dapat jatah lagi dari perempuan yang lo sayang, bukan?"
Arnawa mendengus panjang. Sudah kalah karena terjebak akan gurauan sang sahabat. Ia pun mengakui salah telah menunjukkan reaksi yang berlebihan. Semua diakibatkan emosinya semakin kurang stabil. Amarah pun dengan cepat juga dapat tersulut. Tak baik jika bersikap seperti ini menerus di hari-hari berikutnya. Harus bis dikontrol.
"Jatah? Dia pergi meninggalkan gue tanpa ada kabar. Bagaimana gue mau minta Sraya buat kasih gue jatah?" balas Arnawa dengan nada tak santai. Terdengar kegetiran juga di dalam suara seraknya yang dialunkan.
"Hahah. Lo juga salah nggak memanfaatkan keadaan saat dia masih ada bersama lo, Bro. Ya, kalau dia sudah meninggalkan lo begini jadi susah. Bisa saja perempuan yang lo cinta sudah dapatkan tambatan hati lain."
Ekspesi Arnawa kian menegang bersamaan dengan gelengan dilakukan. "Nggak bisa."
"Gue nggak rela dia bersama pria lain. Dia cuma boleh jadi milik gue," tegasnya lagi.