05

2116 Words
 "Apa kamu masih di jalan, Sra?" Arnawa langsung meloloskan pertanyaan, kala panggilan telepon yang ia lalukan diangkat di seberang sana oleh Sraya. Keberadaan wanita itu sekarang tentu sangatlah penting untuk diketahui olehnya. Mereka telah membuat janji pergi ke bandara, lebih tepat Sraya yang baru dini hari tadi menawarkan mengantar dirinya. Arnawa sudah pasti tak bisa menolak. Sebab, ia tahu wanita itu memiliki suatu hal penting yang akan disampaikan kepadanya. Ia pun ingin mendengar semua. Arnawa meyakini juga akan berkaitan dengan Nugraha. "Aku udah mau sampai di pintu masuk kompleks perumahan kamu, Arna. Tunggu lima menit lagi." "Oke, Sra." Arnawa menyahut singkat. Kepalanya dianggukan kecil. "Aku udah ada di depan gerbang." Pria itu mengimbuhkan jawabannya dalam suara lebih datar. "Pesawat kamu jadwalnya pukul tiga sore bukan? Kita masih punya waktu empat jam, Arna. Semoga nanti di jalan kita nggak kejebak macet parah. Astungkara." "Iya. Astungkara, Sra." Arnawa pun ikut mengamini dengan kondisi cukup tegang. "Aku tutup dulu teleponnya. Hati-hati menyetir, ya Sra. Jangan mengebut. Pelan-pelan aja," pesan pria itu. Arnawa akan bersikap sedikit sisi dingin, tatkala tak merasakan kenyamanan atau memikirkan suatu hal yang mengakibatkan dirinya pusing. Permintaan dari Sraya yang kemarin memang sudah dirinya iyakan. Tetapi, tak bisa dimungkiri timbul perasaan ragu dalam dirinya untuk memenuhi. Jika mengubah keputusan, juga bukan pilihan yang bagus. Meski demikian, Arnawa harus mengambil sikap. Terutama dapat untuk membantu wanita itu. Tak ada salahnya. "Arnaaa!" panggil Sraya dari dalam mobil dengan intonasi lumayan tinggi dilengkapi pembunyian klakson. "Arnaaa! Kemari! Masuk ke dalam mobil!" Sraya mengeluarkan suaranya dengan lebih meninggi lagi. Tangannya pun dilambaikan. Senyuman diukir oleh wanita itu, tatkala Arnawa memandang ke arahnya. Mata mereka bersitatap. Meski, hanya seperkian detik saja, Sraya dapat saksikan secara jelas pancaran kekhawatiran. Kerisihan pula terlihat. Ia tahu penyebabnya, akan tetapi coba untuk diabaikan. Enggan menanggapi. "Kamu nggak perlu datang kemari dan antar aku ke bandara segala, Sra. Aku sudah punya sopir pribadi yang bisa mengantarku. Kamu kasihan harus repot menjemputku." Respons ditunjukkan oleh Sraya atas perkataan dari Arnawa yang baru duduk di jok samping pengemudi adalah anggukan kepala singkat saja. Dipandang secara lekat sosok Arnawa. Pria itu juga lakukan hal yang sama. Ia ingin meyakinkan bahwa apa tengah dilakukannya tidak menimbulkan sama sekali keberatan untuk dirinya sendiri. "Apa tujuan kamu, Sra? Katakan sekarang, tapi jangan mengemudi dulu. Aku rasa ada berita serius yang mau kamu bilang." Tentu, Sraya urungkan niatan menyalakan mesin mobil. Menuruti ucapan Arnawa. Susunan kalimat dalam kepala telah rapi, tinggal dilontarkan untuk memberi tahu niatannya pada pria itu. Bagaimana bentuk reaksi akan ditunjukkan oleh Arnawa, sebenarnya tak mampu untuk ia tebak. Walau demikian, Arnawa harus menyetujui apa hendak dirinya rencanakan. Jika tidak, akan dipaksakan. Bagaimana pun cara nanti. "Iya, Arna. Aku memang punya tujuan ingin antar kamu ke bandara. Kamu sangat mudah menebakku, ya. Apa karena kamu sayang kepadaku? Atau karena kita berdua sudah lama saling lama kenal?" Sraya berujar tidak santai. Ada penekanan di setiap katanya. "Mungkin kedua alasan yang kamu bilang benar. Aku nggak bisa memilih semua. Tapi yang jelas aku tahu kamu punya tujuan." Sraya pun menambahkan lengkungan pada masing-masing sudut bibir, meski mendapat tatapan semakin tajam dan tak bagus dari Arnawa. "Apa kamu sudah bisa menebak sekiranya apa yang aku mau dari kamu, Arna?" tanggapnya dengan lebih serius lagi. "Belum, Sra. Aku nggak tahu apa yang kamu mau dariku. Tapi, katakan saja. Aku siap mendengarkan semua yang mau kamu sampaikan kepadaku, tanpa pengecualian." "Cuma siap mendengarkan? Nggak akan kabulkan permintaanku, Arna? Padahal, aku berharap kalau kamu akan bersedia membantuku," sahut Sraya dengan suara lebih pelan dan juga melembut. Tatapan tetap dilekatkan kepada sosok Arnawa. "Permintaan apa itu, Sra? Kalau, aku belum kamu beri tahu, mana bisa aku akan setujui permintaanmu. Aku harus tahu semuanya." Sraya anggukan kepala cepat sebagai respons pertamanya atas ucapan Arnawa. Tak dipindahkan satu detik pun atensi dari sosok pria itu. "Aku ingin kamu..." "Kamu menjadi kekasihkh, Arna. Kita pacaran. Sesuai dengan apa yang sudah kita bilang pada Mamamu, Arna," perjelasnya. Sraya semakin melekatkan tatapan ke arah Arnawa. Ingin melihat lebih jelas ekspresi di wajah pria itu atas pemberitahuannya. Dan, sepasang mata Arnawa yang membulat pun sudah cukup bagi Sraya menyadari bahwa sang sahabat rasakan keterkejutan besar. Ia sudah menyangka akan demikian, jadi tak heran. Sraya telah dapat cara mengantisipasi juga jika Arnawa tidak setujui idenya. "Apa alasan kamu melakukan semua, Sra? Aku yakin ada ada tujuan kuat. Tebakanku, apa ada kaitannya dengan Nugraha?" Sraya mengangguk dalam gerakan kepala yang mantap. Belum dipindahkan atensinya dari mata Arnawa. Mereka masih saling bersitatap. Ada perbedaan pancaran pada kedua iris cokelat milik Arnawa, terlihat kian menajam. Namun, tak membuatnya jadi gentar ataupun merasakan takut. "Kamu benar, Arna. Aku melakukan semua ini memang karena Nugraha. Aku ingin tunjukkan bahwa aku sudah bisa memberi hatiku kepada orang lain yang tentu lebih baik dari dia, yaitu kamu." Sraya jelaskan dengan mantap. Sampaikan apa adanya. "Maaf, kalau aku memanfaat kamu. Aku siap menerima karma apa saja karena aku sudah berbuat hal kurang baik padamu dengan cara yang begini, Arna. Kamu juga bebas mau marah dan kesal. Aku siap menerim--" "Nggak, Sra. Kamu jangan bilang kayak gitu. Aku bersedia membantumu. Aku tahu kamu melakukan semua ini karena rasa sakit hati yang dalam kamu dapatkan dari Nugraha. Aku akan membantu apa saja yang buatmu." Sraya anggukkan kepala cepat. Tanpa terasa mata sudah berkaca-kaca. Namun, ia tidak ingin sampai menangis. "Makasih banyak." "Aku tahu kamu pasti akan mau membantu dan menyanggupi apa yang aku minta dari kamu. Makasih banyak, ya. Aku akan balas kebaikan yang sudah kamu lakukan, Arna." Arnawa tersenyum tipis sembari menatap wajah cantik Sraya. Dan sudah sejak tadi, aliran darahnya sukses dibuat berdesir dan detakan jantung semakin mengencang. Tak ada perubahan reaksi pada tubuhnya meski sedang merasakan kekecewaan atas apa yang wanita itu minta. Namun, ia sendiri sudah menyanggupi. Harus dijalankan. "Dengan apa kamu akan membalas kebaikan aku, Sra? Apa bisa kamu memberikan hati kamu padaku? Maksudku adalah balik cinta seperti yang aku punya untuk kamu?" tanya Arnawa secara spontan dengan nada tidak ragu. Dilekatkan tatapannya ke sosok Sraya. "Cinta? Aku ragu, Arna. Kamu tahu sendiri kalau aku baru dibuat sangat kecewa dan sakit oleh pria yang aku cintai. Jujur, belum bisa pulih hatiku untuk mencintai orang lain dalam waktu dekat. Aku juga nggak mau jadikan kamu pelampiasan saja. Mengerti?" …………………………………………………………………………………….    Rasa kantuk yang lumayan hebat memang telah menyerang Arnawa sejak 30 menit lalu. Badannya pun mulai terasa pegal-pegal. Ditambah kepala yang semakin berat nan pening selepas mengikuti rapat bersama klien, pikiran terkuras. Tentu yang dirinya butuhkan adalah beristirahat secara cepat. Arnawa ingin beristirahat tentu di hotel. Namun, janji bertemu Nugraha masih jadi prioritasnya juga. Ia tak mungkin untuk membatalkan. Keinginan berjumpa sahabat karibnya sudah direncanakan satu bulan belakangan, tetapi urung terlaksana karena pria itu terkesan menghindarinya. Alasan Nugraha mudah saja bisa ditebak Arnawa, ia pun menduga jika sosok Sraya jadi pertimbangan yang paling utama sang sahabat, enggan memenuhi niatannya untuk mengajak dirinya bicara empat mata secara langsung. Memang baru sebatas dugaan saja namun bukan berarti juga tak bisa menjadi penyebab. Arnawa pun cukup yakin akan hal itu. Jika benar. Maka, dirinya menjamin bahwa Nugraha bagus dicap pengecut. "Lo masih ingat juga sandi apartemen gue ternyata, ya Nugraha." Arnawa luncurkan pengentaraannya dalam nada suara yang dingin. Ralat, sinis dan tak ramah. Tatapan juga sangat ditajamkan oleh Arnawa. "Iya. Gue masih ingat. Harusnya lo ganti kalau lo nggak mau orang lain masuk ke sini, tanpa izin lo, Bro. Pilihan paling tepat." "Ck. Begitu aturannya? Apa lo nggak bisa telepon gue kalau udah sampai di sini, bukan main masuk sesuka hati lo aja, Nugraha? Lo lupa soal tata krama, 'kah?" Lontaran pertanyaan diloloskan Arnawa dengan cepat, kala sosok Nugraha terlihat jelas oleh dua indera penglihatannya masih berdiri di depan pintu apartemen, tanpa memerlihatkan sedikit pun cetakan senyum. "Sorry tentang kekurangsopanan gue ke sini yang masuk tanpa izin dari lo. Tapi, dulu juga gue sering. Mungkin sekarang sudah berbeda." Nugraha meminta maaf sambil melangkahkan kakinya cukup cepat menuju ke sofa yang ditempati oleh sang sahabat. "Lupakan, Bro." Arnawa menjawab dengan nada cuek sembari menggerakan tangan mempersilakan teman baik dan karibnya itu untuk ikut duduk bersama dirinya. "Gue nggak punya waktu lama untuk meladeni lo, Bro. Kalau lo punya sesuatu yang dibicarakan ke gue. Lo cepat bilang semuanya. Gue akan dengarkan." Arnawa pun berujar terus-terang saja. Masih dalam suara dingin dan juga ekspresi yang datar. Tatapan pun semakin menajam. Keakraban dengan sang sahabat tak bisa untuk ia berlakukan, terlebih setelah tahu bagaimana perlakuan buruk sudah pria itu dilakukan oleh Nugraha pada wanita yang dicintainya. Arnawa tidak akan mudah dapat menerima. Ia pasti menuntut balasan atas apa telah diperbuat Nugraha. Arnawa merasa jika pria itu pantas untuk dapatkan. "Iya, Bro. Gue mau bilang beberapa hal. Gue rasa lo sudah tahu apa saja yang akan gue katakan. Lo cukup peka untuk bisa tahu juga siapa yang mau gue bahas. Lo bahkan dari awal sudah tahu bukan? Jadi, gue nggak akan lagi berbasa-basi tanya kabar lo." Arnawa seketika mengepalkan tangannya, fokus pandangan belum dipindahkan dari sosok sang sahabat. Ia sudah mulai dapat terpancing, namun sebisa mungkin tak ingin terlalu dikuasai oleh emosinya yang lebih tinggi. Sebelum mendengarkan secara pasti dan jelas. Jika sudah diutarakan semua, baru dirinya akan tunjukkan reaksi sebagaimana semestinya. Bahkan, baku hantam tak jadi masalah. Pria memang harus demikian. "Siapa lo maksud? Mantan istri sesaat lo, Bro? Yang namanya Sraya bukan?" Nugraha cepat tunjukkan reaksi dengan senyum kecut dan anggukan kepala sedikit berat. "Benar, Bro. Yang gue maksud adalah Sraya," jawabnya dengan nada mantap. "Wanita yang pernah singkat jadi istri gue, Sraya. Dia juga perempuan yang lo cintai bukan? Lo kira gue nggak akan pernah tahu soal ini?" Nugraha lalu bertanya tak santai, sebab rasa panas muncul seketika saja di dalam dadanya. Tatapan ikut menajam. "Ada apa dengan kekasih gue, Bro? Lo juga belum tahu bukan kalau Sraya sekarang jadi pacar gue? Bukan statusnya mantan istri lo." Spontan pula, Nugraha membelalakan dua matanya. Tak percaya akan apa yang baru ia dengar. "Sraya jadi kekasih lo, sekarang?" tanya dengan nada tidak percaya. "Benar. Dia sudah menjadi kekasih gue. Apa ada masalah buat lo, Bro? Kayaknya lo sangat terkejut. Apa lo kurang rela mantan istri lo akhirnya bisa menjadi milik gue?" Arnawa balik lemparkan pertanyaan dengan  nada dan senyum sinis.  Tatapan menajam. "Ah, calon mantan istri lo. Sorry, harus gue ralat karena lo dan dia masih dalam tahap bercerai. Tapi, Sraya bukan milik lo lagi sekarang. Hanya gue yang bisa mempunyai tubuh dan hatinya." Arnawa mempertegas. "Gue memang kaget. Gue nggak nyangka Sraya bisa buka hatinya untuk lo. Dia pernah bilang ke gue, dia sudah anggap lo seperti sahabat. Meski, tahu kalau lo punya perasaan lebih terhadap dia. Sraya bilang sendiri. Gue masih sangat ingat jelas." Arnawa loloskan decakan secara langsung, selang satu detik saja pasca sang sahabat selesaikan ucapan. Ia juga tidak lupa untuk memerlihatkan senyum sinis yang terkesan menantang. Bukan sebatas peringatan, ia akan benar-benar membuat masalah baru dengan Nugraha menyangkut Sraya. Sudah direncanakan ketika baru tiba di Jakarta. "Ckck. Semua bisa berubah, Bro. Nggak ada yang mustahil. Dia juga sayang mati sama lo. Begitu juga sebaliknya, bukan? Tapi, lo yang sudah berkhianat. Mencampakkan dia. Jadi, lo harus intropeksi diri. Ngaca yang benar." "Sekarang, gue akhirnya bisa mendapatkan Sraya. Selama ini, gue cuma dapat anggap mimpi, tapi bisa jadi kenyataan juga? Gue sangat bahagia, asalkan lo tahu saja. Apa gue perlu menceritakan semua? Lo sahabat gue bukan? Lo harus gue kasih tahu juga soal kebahagiaan yang lagi gue rasakan karena menjalin asmara dengan Sraya. Pacaran." Arnawa diam sejenak untuk melakukan pengaturan napas yang mulai menderu. Ia tak ingin emosi terlalu awal, disaat sahabat karibnya masih tampak tenang-tenang saja. Arnawa belum melihat kemarahan ataupun penyesalan pada pancaran mata Nugraha. Namun, ia sudah bertekad akan membuat sang sahabat merasa bersalah. Sudah jelas harus seperti itu karena menyakiti Sraya. "Kenapa lo cuma diam? Bukannya lo wajib kasih selamat ke gue? Lo bahkan harusnya mendoakan gue dan Sraya biar hubungan kami akan terus langgeng sampai tua. Dan, nggak perlu Sraya merasa dikhianati. Lo paham sama maksud ucapan gue, Bro?" Arnawa menambah sunggingan senyuman sinis di wajah, tatkala menangkap anggukan kepala dilakukan oleh Nugraha. Sudah bisa sesuai dengan perkiraannya. Arnawa pun telah menyiapkan antisipasi jawaban ampuh seandai nanti pria itu membalas pertanyaan yang dirinya ajukan beberapa menit lalu. "Selamat, Bro. Semoga lo bisa menjaga dia dengan baik. Nggak seperti gue cuma bisa menyakiti dia. Tapi, bagaimanapun juga gue masih sayang sama Sraya sampai sekarang." Arnawa berdecak sinis. "Lo nggak pantas lagi sayang sama kekasih gue. Dia sudah jadi milik gue. Dan, kesalahan lo nggak akan bisa dia lupakan begitu saja. Tapi, minimal lo harus tetap meminta maaf ke Sraya."  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD