.......... ....
Sejak diberitahu oleh Arnawa kemarin jika pria itu akan bertemu sang mantan suami di Jakarta, Sraya jelas kurang dapat tenang. Ia sedikit jadi uring-uringan. Tetapi, tidak sampai minum bir banyak seperti yang suka dilakukan. Justru, enggan mengonsumsi apa pun. Termasuk air dan makanan, tentunya.
Sraya pun terus saja mencari cara supaya rencananya bisa terealisasi dengan lancar dan benar. Hal dimaksudnya yakni bekerja sama dan minta bantuan Arnawa. Ia sangat yakin jika pria itu pasti akan bersedia guna menolong dirinya. Bukan hal yang sulit bagi Arnawa. Sebab, pria itu mencintainya.
"Mau makan di luar? Bersamaku, Sra?"
Gelengan kepala dilakukan Sraya dengan segera guna membalas ajakan dari Arnawa. Dipandang pria itu. "Maaf, Arna. Nggak."
"Aku datang ke rumah kamu ingin bilang tentang sesuatu yang aku rasa kam se-"
"Terkait dengan Nugraha?" Arnawa cepat memotong ucapan Sraya. Ia tahu persis tujuan wanita itu datang ke kediamannya guna membicarakan hal penting.
Arnawa pun berniat bertanya nanti. Akan tetapi, malah terluncur lebih awal. Ia pun tidak bisa menahan diri untuk tak segera mengonfirmasi secara cepat. Rasa penasaran dalam dirinya semakin bertambah besar dan harus memperoleh jawaban yang pasti agar semua bisa lebih dimengerti olehnya.
"Iya, benar. Aku ingin meminta bantuanmu, Arna. Aku tahu kamu nggak akan bisa lepas tangan." Sraya pun tak suka terlalu lama berbasi-basi, langsung saja diutarakan apa yang memang hendak ia rencanakan secara gamblang. Lebih baik demikian baginya.
"Aku mesti melakukan apa buat kamu, Sra? Apa kamu yakin betul, kalau aku akan bisa membantumu?" Arnawa membalas cepat dengan nada terkesan sedikit dingin.
Semacam timbul perasaan cukup tidak rela menghadapi kenyataan jika Sraya bersikap baik saat memerlukannya saja. Namun, seperti apa yang wanita itu katakan. Sudah pasti, ia akan membantu. Tak bisa menolak permintaan, meski kadang bertentangan dengan prinsipnya yang ada di dalam diri.
"Saat kamu bertemu dengan Nugraha di Jakarta. Tolong beraktinglah kita telah menjalin hubungan spesial. Kamu harus memerlihatkan, kalau aku sudah bahagia bersamamu. Menjadi kekasihmu."
Sraya memandang semakin serius sosok Arnawa yang juga sedang menatapnya cukup lekat. Bisa ditangkapnya secara jelas raut kebingungan pada wajah pria itu. Efek dari perkataan yang baru diucapkannya. Sraya menduga jika Arnawa belum dapat juga artikan perkataannya dengan begitu baik dan benar. Ia tak akan ragu terangkan ulang sampai pria itu dapat memahami
"Gimana, Arna? Apakah kamu bersedia membantuku? Kamu nggak akan menolak permintaan sederhana aku ini? Cuma kamu yang bisa menolongku. Tolong terima."
Arnawa tetap memilih diam, membungkam bibir dengan rapat-rapat. Meski, di dalam kepala, sudah bermunculan beberapa pertanyaan untuk dikonfirmasi pada Sraya atas kekurangnyamanan dan juga rasa penasaran untuk apa yang wanita itu inginkan darinya. Arnawa pun bingung.
"Aku harap kamu memutuskan secepatnya, Arna. Kamu harus katakan jawabanmu sekarang, aku mau putusan kamu yang tepat." Sraya berkata dengan nada tegasnya.
"Aku harus menerima permintaan tolong yang kamu inginkan? Apa manfaatnya?"
Sraya lekas anggukan kepala sembari masih menatap sosok Arnawa yang sudah berubah sorot mata, tampak lebih menajam. "Kayak aku bilang tadi, Arna. Aku pengin kamu setuju. Jangan menolak. Kamu nggak akan rugi. Itulah manfaat yang kamu dapatkan."
Setelah jawaban diluncurkan, Sraya belum menangkap reaksi apa pun. Termasuk pada ekspresi Arnawa. Pria itu pertahankan raut kebingungan. Lantas, Sraya embuskan napas panjang, bentuk dari rasa frustrasi sedang melingkupinya karena belum memperoleh jawaban Arnawa seperti dirinya inginkan.
"Kenapa kamu cuman diam aja, Arna? Kamu menolak permintaanku? Bukankah kamu harus membantu wanita yang kamu cintai? Apa yang aku mau juga nggak sukah untuk kamu lakukan, aku rasa." Sraya tinggikan intonasi. Ia mulai kesal. Bahkan, emosinya semakin bertambah besar saja.
"Siapa bilang aku menolak? Bahkan, aku belum berikan jawaban apa-apa ke kamu, Sra. Kenapa kamu simpulkan dengan cepat? Bisa tolong juga jangan mendesakku?"
"Baiklah." Sraya hanya keluarkan jawaban pendek serta anggukan kepalanya dengan singkat juga, satu kali saja. Sudah cukup.
Atensi belum dipindahkannya pada sosok Arnawa, tepat ke sepasang mata pria itu yang memandangnya semakin intens. Pergerakan dari Arnawa pun tidak pernah Sraya lewatkan, yakni langkah kaki pria itu sedang berjalan ke arah dirinya. Jarak yang membentangi mereka terkikis.
"Kenapa kita harus berpura-pura jadi kekasih, Sra?"
"Kamu ingin memanas-manasi Nugraha, berharap akan cemburu dia? Kamu ingin tahu apakah dia masih cinta atau nggak padamu, Sra? Begitukah tujuannya nanti?"
Sraya tentu cepat menggeleng, tak terima akan konklusi yang diutarakan Arnawa. Terkesan memojokkan dirinya juga. Sraya pun merasa bahwa ia tak demikian. Bahkan, belum terpikirkan di dalam kepalanya hal yang demikian.
"Aku nggak semenyedihkan itu, Arna. Aku bukan orang yang akan tetap menaruh cinta dengan laki-laki seperti Nugraha. Dia sudah menyakitiku," jawab Sraya dingin.
Reaksi negatif memang akan cenderung diperlihatkan olehnya, saat membahas sang mantan suami. Sakit hati yang dirasakan sudah terlalu dalam. Tak mampu untuk dilupakan begitu saja, luka pun akan terus membekas.
"Baik, Sra. Baik. Aku akan ikuti permainan kamu."
"Nanti, saat aku bertemu Nugraha. Aku akan bilang ke dia, kalau kita sudah menjadi pasangan kekasih, Sra."
Sraya pun cepat tunjukkan dengan anggukan beberapa kali. Jelas senang mendengar jawaban dari Arnawa yang dirinya inginkan. Sudah sesuai rencana. Dan, ungkapan puas lainnya ditunjukkan oleh Sraya lewat pelukan.
"Makasih, Arna. Makasih," ujar wanita itu secara tulus dan eratkan dekapan di tubuh Arnawa. "Makasih su-"
"Siapa yang sedang berpelukan ini?"
Arnawa langsung tolehkan kepala ke arah pintu utama kediamannya, setelah menangkap suara milik sang ibu. Benar saja, dugaannya tak salah. Sosok sang ibu tengah berdiri di ambang pintu sambil mengukir senyuman.
"Ma... Mama sejak kapan sampai di sini?" tanya Arnawa gugup seraya berjalan dengan langkah pelan mendekati ibunya, berjarak sekitar lima meter saja di depan.
Setelah berdiri di depan sang ibu, ia pun kemudian salimi tangan kanan ibunya. "Mama sudah lama sampai?" tanya Arnawa ulang, sebab belum memperoleh jawaban.
"Baru saja, Nak. Saat Mama buka pintu, Mama melihat pemandangan manis. Sepasang kekasih berpelukan."
Arnawa seketika membulatkan kedua mata. Tanda keterkejutan cukup tinggi. "Kekasih yang lagi berpelukan, Ma?" ulangnya dalam suara sedikit gugup. Merasa canggung saja.
"Iya, Nak. Kekasih. Bukankah kalian punya hubungan spesial? Jangan disembunyikan dari Mama, Arna. Mama justru senang kamu memiliki kekasih. Artinya kamu bisa cepat menikah dengan pujaan hati kamu, Nak."
Bola mata Arnawa kembali melebar akibat jawaban dilontarkan oleh sang ibu. "Apa yang Mama bilang? Cepat menikah?"
"Nggak ada salah sama perkataan Mamamu, Arna. Lebih baik menikah dari berpacaran. Bagaimana pun juga kita nggak masih muda. Sudah wajar memikirkan soal pernikahan."
………………………………………………………………………..
Sraya tidak menyangka sama sekali jika ibu dari Arnawa akan datang. Ia pun sedikit buat kikuk dan juga canggung, sebab baru pertama kali bertemu. Meskipun, sudah lama berteman dengan Arnawa, ia belum pernah dikenalkan langsung ke anggota keluarga pria itu. Termasuk orangtua.
Kesan serta kesimpulan yang Sraya tarik tentang sosok Ibu Ayu adalah beliau tipe wanita tulus dan punya hati lembut. Ia tak menampik jika merasa senang dapat lebih mengenal ibu kandung dari Arnawa karena perjumpaan mereka untuk pertama kali.
Ketika, diajak makan bersama, Sraya tidak kuasa menolak. Biasanya, ia cukup kesulitan dekat atau merasa nyaman dengan orang asing berinteraksi lama-lama. Namun, tidak diberlakukan saat Ibu Ayu mengajak untuk berbincang. Sraya memang lebih banyak mendengarkan. Hanya berbicara ketika ada pertanyaan diberi. Misal seperti sekarang.
"Kedua orangtua kamu sudah tiada, Sraya? Jadi, kamu tinggal bersama siapa sekarang di sini, Nak? Ada sanak keluarga yang lain?"
"Saya tinggal sendiri, Tante. Keluarga Papa dan Mama saya kebanyakan menetap di luar negeri." Tak ada keraguan dalam diri Sraya menjawab secara jujur dalam suara mantap. Dilengkapi sunggingan senyum ramah.
"Mereka masing-masing juga sudah ada keluarga. Jadi, tidak mungkin bersama saya. Sudah lama saya tinggal sendirian, Tante. Mungkin ada lebih dari delapan tahun, ya."
"Tinggal sendirian di sini, mungkin akan membuat kamu kesepian, ya Nak?" Ibu Ayu memperpanjang topik pembicaraan dengan meloloskan pertanyaan yang jelas tunjukkan tingginya rasa empati dimiliki oleh beliau.
"Saya sudah biasa tinggal sendiri, Tante. Nggak mudah kadang bagi saya mengatasi rasa kesepian, ya. Tapi, mau gimana lagi."
"Tapi, beginilah hidup yang diberikan pada saya, Tante. Saya harus terima dan jalani," ujar Sraya dengan nadanya semakin serius.
"Ketika, suatu masalah yang mungkin dikira menciptakan keterpurukan dan membuat diri menjadi buruk. Cobalah untuk bangkit. Kenyataan yang mungkin pahit harus tetap dihadapi, meski sakit. Betul begitu 'kan, Ma? Apakah pendapatkanku kali ini benar?"
"Iya, Nak. Betul. Semua masalah yang kita harus lewati pasti mempunyai pembelajaran khusus, kita dapat dibantu untuk mengenali diri kita sendiri lebih lagi. Memang awalnya akan terasa berat. Namun, harus terus untuk belajar ikhlas dan juga berlapang dada."
Arnawa cepat anggukan kepala sebagai balasan untuk jawaban sang ibu. Atensi secara keseluruhan terus saja dipusatkan oleh Arnawa pada sosok Sraya. Ia pun dapat saksikan secara nyata perubahan ekspresi wajah wanita itu. Menampakkan jelas ketidaksukaan dan juga kurang nyaman. Benar, Sraya kesal kepadanya. Ia tahu persis.
Arnawa pun memilih mengabaikan. Sebab, tak mungkin wanita itu marah di depan ibunya. Sraya pasti mencoba imej agar bagus dan terlihat sopan. Ia cukup memahami pula karakter dalam diri Sraya yang sangatlah menghormati orang lebih tua secara umur. Wanita itu akan bisa bersikap manis.
"Betul, Ma. Aku setuju dengan apa Mama bilang. Setiap masalah yang datang pasti ada solusinya. Tinggal, nanti bagaimana cara kita menghadapi. Jangan sampai akan membuat diri kita terpuruk," ujar Arnawa dengan mantap. Keraguan tak ada dalam suaranya.
"Pasti akan ada kesempatan pula untuk menyelesaikan. Kita juga akan mendapatkan pembelajaran berharga, kalau sadar bahwa setiap masalah datang untuk menguatkan, bukan melemahkan kita. Maka, semua akan terasa indah juga. Intinya belajar ikhlas."
Sraya tak memindahkan pusat pandangan dari Arnawa, meski pria itu sudah selesai berbicara. Setiap kata yang bernadakan sindiran dikeluarkan oleh Arnawa didengar dengan begitu saksama. Bahkan, bisa diingat semua. Tentu, menyebabkan emosinya jadi meningkat. Namun, tidak mungkin marah di hadapan ibu kandung pria itu. Ia harus tetap menjaga kesopanan dibandingkan amarah.
"Mama pun setuju, Nak. Pikiran dan juga pendapatmu sama dengan Mama, Arnawa. Intinya, jangan mudah dan cepat merasa terpuruk karena masalah. Tuhan pasti berupaya membantu, jika kita sudah mau untuk berusaha juga."
Arnawa perlihatkan senyum cukup lebar, kala pandangi sosok ibunya yang menampakkan sorot mata teduh dan hangat, jadi menenangkan. "Ya, Ma," jawabnya pendek.
"Nak, apa Mama boleh bertanya dengan kalian berdua?"
Arnawa lekas mengangguk. "Iya, Ma. Mau tanya apa? Mama bebas mau tanya apa saja," candanya kental.
"Mama mau tanya soal berapa lama kalian berdua sudah berpacaran. Kenapa Mama tidak diberitahu dulu, Nak?"
Arnawa seketika membungkam mulutnya sembari masih memandang dengan lekat ke sosok sang ibu. Pertanyaan yang dilontarkan ibunya jelas saja menimbulkan perasaan terkejut yang luar biasa. Arnawa masih tak menyangka akan dikonfirmasi hubungan di antara dirinya dan Sraya. Malah sempat muncul di dalam kepala tentang pekerjaan.
Kemudian, Arnawa memutuskan alihkan pandangan ke sosok Sraya guna ingin tahu bagaimana reaksi wanita itu. Mata mereka pun bersirobok. Ia tak bisa menerjemahkan sorot yang dipancarkan kedua iris Sraya. Arnawa semakin merasa penasaran tinggi.
"Kami baru beberapa hari menjalin kasih. Memang belum resmi hubungan kami sebab saya masih mengurus perceraian dengan mantan suami saya. Maaf, kalau saya dan Arnawa menyembunyikan dari Tante."
"Mungkin Tante juga akan risih dengan status saya yang akan menjadi seorang janda nanti, setelah bercerai. Mungkin Tante akan keberatan Arnawa berpacaran dengan saya karena status saya. Kalau Tante tidak beri kami restu. Kami akan mengakhiri hu--"
"Siapa bilang Mama akan melarang kalian berpacaran? Statusmu tidak penting, Nak. Mama akan marah kalau Arnawa memiliki hubungan dengan wanita yang menjadi istri orang. Kalau sudah akan bercerai, tidak akan jadi masalah. Kalian, Mama restui."
Arnawa langsung mengangguk, merespons jawaban diberikan oleh sang ibu. Hilang sudah perasaan was-was yang beberapa detik lalu melingkupinya karena pengakuan dari Sraya. Sungguh, Arnawa pun sempat berpikir jika sang ibu akan marah besar. Nyatanya, tidak demikian. Justru memberi persetujuan akan hubungannya dan Sraya.
"Terima kasih sudah merestui kami, Tante."
Arnawa kembali anggukan kepala seraya sudah memindahkan pandangan dari Sraya. Ia menatap ibunya dengan tatapan teduh dan mengulum senyum, walau tidak cukup lebar seperti tadi. "Aku juga mau bilang makasih ke Mama," ujarnya serius.
"Aku kira juga Mama akan menentang, tapi Mama memperbolehkan aku dengan Sraya menjalin kasih. Makasih, Ma," lanjutnya lagi dalam kesungguhan yang kian bertambah.
"Tidak, Nak. Kenapa Mama harus melakukan semua itu? Status Sraya tidak akan menjadi masalah untuk Mama. Karena dulu, waktu Mama menikah dengan Papamu, Mama juga sudah berstatus janda. Mendiang Nenek dan Kakekmu menerima Mama dengan terbuka."
Sraya dihinggapi perasaan haru mendadak yang membuat kedua matanya berkaca-kaca karena balasan Ibu Ayu. Ia pun tidak melihat kebohongan sama sekali. Sraya yakin bahwa Ibu Ayu berkata sejujurnya. Entah mengapa juga, ia jadi senang mendengarkan. Senyum dikembangkan saat Ibu Ayu memandangnya.
"Terima kasih banyak, Tante. Saya bahagia jika Tante bisa menerima saya dengan baik. Saya akan berusaha menjaga hubungan saya dan Arnawa agar kami bisa terus awet."