SYOK DAN TERKEJUT

1315 Words
Suara Bor dan peralatan yang lainnya terdengar cukup berisik, bahkan sedikit mengganggu jika tidak biasa mendengarnya. Aku beralih memikirkan kedua wanita yang tadinya begitu mirip. Seolah-olah Doviana sedang tidak bersamaku. Baru saja aku berjalan dengannya atasanku, tiba-tiba teleponku berdering lagi. "Kring kring kring..." "Halo Kak Zon..., lagi apa dan dimana sekarang ini,? masih di tempat kerja kah,? ada waktu ga Kak untuk akunya,?" Tanyanya Doviana. "Halo... ya. Aku lagi kerja loh dek. Kakak lagi sibuk banget nih, kenapa ya,? apakah ada hal yang penting,?" Kataku yang sedikit kesal karena selalu saja ditelepon dan dicurigai olehnya. "Halo... kok kamu gitu sih Kak,? aku kan, cuma menelepon saja, cuma mau tau kamu lagi ngapain dan dimana, aneh kamu ya,! sekarang-sekarang ini kok begitu terus,!" Dia berkata dan mengomel-ngomel. "Ya... terserah kamulah Dek, tapi kakak sekarang lagi sibuk banget nih,?" Aku berkata padanya dan teleponnya ku tutup. DOVİANA Aku capek banget berhubungan sama dia nih, kok selalu menghindar begitu ya, padahal aku ini pacarnya loh. Aku cukup marah juga sama Pak Garde, kenapa dia ngenalin aku ke Kak Zon kalau begini jadinya, lalu gimana ya?. Beberapa bulan lagi rencananya aku mau nikah sama dia, tapi bagaimana kalau begini, tidak ada harmonis-harmonisnya sama sekali, haduh gawat ya. Padahal aku cukup bangga padanya Kak Zon, apalagi dia seorang arsitek ternama dan yang sedang naik daun pada saat ini, kenapa ya dia begitu kepadaku,? apa aku ada salah kepadanya,? Dovi berkata dalam benaknya. ZONIX Aku cukup lega, tapi ku sangat tidak enak mendengarnya ketika ia berbicara seperti tadinya, yakni marah-marah dan mengomel serta mencurigai. Kemudian ada pesan masuk ke handphoneku dan bertuliskan. "Awas ya Kak...,! kalau kamu macam-macam,! nanti aku malas hubungi kamu lagi,! aku ngambek," Dovi berkata dan terasakan seperti mengancamku, padahal dia adalah seorang wanita. Dia tidak mengetahui bahwa aku begitu sibuk pada saat ini, namun ia tetap saja begitu, bahkan seperti di dikte diriku ini olehnya. Kemana-mana selalu ditanyakan, bahkan menit dan jam, pusing rasanya jika begitu. Seolah-olah aku tidak bisa bergerak sama sekali, namun selagi ia masih perhatian terhadapku, maka akan tetap ku layani. Aku suka dan menyenanginya Dovi, tapi ku mau tau dulu ianya seperti apa,? tentu perasaannya dan kedalamannya kepadaku. Kami mengerjakan pembangunan sebuah hotel super mewah dan megah. Hotel ini dinamakan Sarius Hotel, dan letaknya berada di jalan Superistis Romantis di Negara Republik Damba, atau bisa disingkat menjadi jalan SR saja. Area perkotaan dan perkantoran, masih banyak lahan kosong yang bisa diolah menjadi pusat perbelanjaan terbesar, dan juga Mall. Rencana pembangunan kami nantinya akan di perluas lagi, terutamanya pada area-area berikutnya. Seperti itulah kesibukanku namun Dovi tampaknya tidak mengerti. Aku cukup bosan tapi tetap ku layani, karena ia adalah kekasihku, maka dalam kondisi apapun, aku akan tetap bertahan. Aku merasa ia mengawasiku sangat intens, terutamanya pada saat sedang sibuk-sibuknya bekerja. Padahal atasanku sedang berjalan juga disampingku. "Kenapa Zon..., ada masalah apa kau dengan Dovi,? kok kau selalu ditelepon begitu olehnya,?" Atasanku menanyakan dan seolah-olah ia seperti tak mengetahui. "Ga ada Pak, tidak ada, biasalah, kenapa ya Pak memangnya,?" Aku bertanya kepadanya dan kenapa ia ingin tahu seperti itu. Aku tau dia telah mengadu pada Dovi tadinya, dan ku tidak ingin berbicara mengenai hubunganku kepadanya. Aku merasa risih dan gusar jika ditanyakan akan hal itu, apalagi jika diawasi dan dicurigai seperti tadinya. "Dicurigai dan diawasi, Seolah-olah mereka seperti tidak percaya saja kepadaku, aneh rasanya." Kami berjalan berdua, dan aku merubah arah pembicaraannya kepada hal pekerjaan. Namun, perbincangannya atasanku malah mengarah ke arah dua foto wanita yang tadinya kulihat, sewaktu aku termenung. Tampaknya ia begitu antusias, dan ingin tahu sekali serta bertanya-tanya terus kepadaku, terutamanya tentangnya wanita-wanita itu, seolah-olah seperti mencari informasi. Aku menjawab sewajarnya, karena ku tidak ingin bercerita lebih kepadanya. Hal itu adalah urusan pribadiku, dan itu merupakan sesuatu yang sensitif. Akan tetapi ia tetap bertanya dan sepertinya sedikit memaksa, jadinya ku katakan. Aku bercerita sedikit demi sedikit, agar tidak menimbulkan prasangka dan juga praduga. Tidak ada yang aku tutup-tutupi darinya, dan ku berkata apa adanya. "Ehem... Dua orang wanita-wanita yang di foto tadinya itu, siapa ya Zon,? bisakah kau jelaskan padaku,!?" Tanyanya ia yang terdengar sedikit memaksa. "Hmm... Wanita Itu adalah teman lama saya Pak, seingat saya, mereka dulunya pernah saya sukai, tapi saya tidak bisa mendekatkan diri kepada mereka, sehingga kami tidak jadi berpacaran, lalu wanita itu pun juga pergi tiba-tiba saja Pak. Hal ini jauh sebelum aku mengenal Doviana," Aku menjelaskannya dengan agar ia mengerti. "Oh...begitu rupanya, saya pikir tadi siapa wanita-wanita itu, tapi bisa kau kenalkan mereka kepada saya Zon,?" Dia malah minta mengenalkan wanita-wanita itu kepadanya. "Em... mereka itu ya Pak, sekarang saya tidak begitu dekat, mungkin nanti kalau saya bertemu dengannya, dan akan saya tanyakan dulu kepadanya Pak," Aku menjelaskan lagi kepadanya. Setelah mendengar penjelasanku, tapi nampaknya ia terlihat kurang puas, sehingga ia bertanya lagi dan lagi, bahkan pertanyaannya tampak seperti cukup memaksaku. Tentu tidak semua pertanyaannya dapat aku jawab, hanya beberapa saja yang mampu ku jelaskan. Dia terus bertanya sambil berjalan. Aku jelaskan lagi kepadanya agar lebih mengerti, tiba-tiba ia menjadi syok dan terkejut, lalu aku sodorkan fotonya mereka berdua. "Shira dan juga Ina." "Oh... begitu rupanya, lalu kenapa kamu termenung tadinya Zon,?" Dia sepertinya ingin tahu lebih jelas. "Begini Pak. Saya bingung dan kenapa Ina sangatlah mirip wajahnya dengan Shira, wanita yang baru saja aku kenal, ini foto orangnya,!" Aku memperlihatkan dan menyodorkan fotonya mereka berdua. "Wah... kok bisa begitu ya?. Memangnya dari mana kamu mengenal kedua wanita ini Zon,?" Dia bertanya dan mengarah kepada Shira. Tatapannya seperti orang yang penasaran. Aku tidak bisa menjawabnya, karena ku baru saja mengenalnya. Dia kaget ketika mendengar dan melihat foto keduanya. Tatapan matanya cukup lama dan seperti membayangkan. Keningnya mengkerut, bola matanya menghadap ke atas, dan tampak seperti mengingat-ingat sesuatu, Tatapannya atasanku. Beberapa detik sambil berjalan, lalu dia masih saja melihat foto-fotonya mereka berdua, mungkin karena wajah keduanya wanita itu yang sangatlah mirip. Aku sudah syok dan terkejut tadinya. Aku pun tidak bisa mengenali lagi antara mereka berduanya. Seperti misteri bagiku, bahkan bulu kudukku bisa merinding ketika melihat fotonya. SENDİ GARDE ATASANKU Waduh, saya juga heran, kok bisa ya ada wanita yang begitu mirip keduanya?. Hmm, darimana si Zonix bisa mengenal wanita-wanita itu,? Wah..., mesti aku dekati nih si Zonixnya. Aku ingin tahu, siapa para wanita-wanita itu?. Mereka-mereka jugalah cantik, seksi dan berbadan montok. Boleh juga si Zonix ini rupanya, atasanku berkata dalam benaknya. ZONİX Aku perlihatkan foto keduanya dengan jelas. Memang kedua wanita itu cukup cantik dan menarik, pantas saja atasanku menatapnya cukup lama. Namun terserahlah kupikir, yang terpenting pekerjaanku lancar-lancar saja. Atasanku berkata, "Wah... kalau begini, sungguh mantap lah Zon. Saya sampai penasaran juga, kok bisa ya mereka berdua begitu, apakah mereka itu kembar?." Aku jawab, "Ya... begitulah Pak. Saya juga tidak tahu dan bingung. Pak Gar sudah lihat sendiri kan fotonya mereka!." Atasanku cukup mengerti atas apa yang telah aku ceritakan tadinya. Dia menjadi diam dan tidak banyak bertanya lagi. Atasanku berkata, "Baiklah kalau begitu..., ayo kita ke gedung pembangunannya lagi sekarang Zon!." Aku jawab dan bertanya padanya sambil berjalan, "Baik Pak... Apa kita langsung saja ke titik inti area pembangunan Skala C51, B 05 dan B 06 tadinya Pak,? karena saya perlu memonitor pekerjaan mereka semuanya,?." Dia jawab dan bertanya "Oh ya...baiklah, tentu saja bisa. Apa kita langsung kesana saja sekarangnya Zon,?." Balasku padanya, "Boleh Pak... Mereka mungkin juga sudah menunggu kita." Aku sudah cukup lelah selama beberapa hari ini di area pembangunan, dan terkadang aku jarang pulang kerumah. Aku meminta izin kepadanya untuk libur dan beristirahat beberapa hari, dan atasanku pun menyetujui dan mengatakan. Atasanku, "Baik Zon..., jika kamu capek, kau bisa libur beberapa hari kedepan, di hari libur besok juga boleh, Sabtu dan Minggu, tapi ingat ya,! pekerjaan kita masih banyak!." Aku jawab, "Baik dan terima kasih Pak." SENDİ GARDE ATASANKU Aku tidak ingin sebenarnya dia libur, karena akan membuat pekerjaan pembangunan menjadi terabaikan. Tapi Zonix sangatlah teliti dan seorang pekerja keras, lalu hasilnya pun sangatlah memuaskan, sangat berbeda dari para arsitek lainnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD