ARSITEK MUDA

1482 Words
Kilas Balik Arsitek Muda “Super Cemerlang...,” Bunyi nada handphone genggamku terdengar. Yah... Aku menghela nafas sejenak setelah meminum teh kembang melati, dan emailku cukup banyak pesan yang masuk. Sedikit malas aku membukanya, terlebih lagi komputerku yang terkadang macet. Sabtu Minggu ini adalah hari liburku bekerja, namun sepertinya kali ini malah tak adanya hiburan. Aku coba memikirkannya, dan pertama-tama yang kubuka adalah fotonya yang menarik, imut, manis dan lembut. Mungkin seperti roti yang tak berselaput, tentunya banyak menyimpan tanya dan rasa, hingga sampai membuatku sedikit semaput dan juga kalang kabut. "Ya..., kamu cukup lembut kok Kak, imut juga gitu," Adik bungsuku berkata dan sedang berada di dekatku. "Ah... ada-ada saja kamu, tiba-tiba saja menyahut, hu..," Kataku padanya dan senang karena hari libur. "Hahaha..," tertawanya padaku dan ceplas-ceplos saja dianya. RANANDA HAGIRAY ADIK BUNGSUKU Aku senang banget bercanda sama Kakakku ini, lucu dan asyik gitu. Apalagi kalau hari libur begini, tentunya tidak suntuk, besok-besok aku mau ajak dia nongkrong barenglah, nanti kita lihat-lihat dan cari cewek-cewek gitu kan, dia berkata dalam benaknya. ZONIX Adikku malah tertawa, Sabtu dan Minggu biasanya kami ada waktu luang bersama. Namaku Zonix Hagiray dan aku seorang karib dari Jimi Kumilu. Aku cukup banyak memegang peranan penting di dalam kemajuan perusahaanku pada saat ini, terutamanya kemajuan teknologi terkini. Disaat santai biasanya aku teringat akan seorang gadis yang cantik jelita, seperti bunga yang harum mewangi, mekar dan indah sambil memegang biola. Aku bekerja sebagai seorang Arsitek di perusahaan ternama, yakni Sweet Smile Enterprise, atau lebih dikenal dengan SSE. Banyak orang menyebut SSE itu dengan sebutan, saling setia dan enggak ragu lagi. "Kamu setia juga ga Dek,? kok diam aja kamu,?" Tanyaku pada Adik bungsuku sambil senyam-senyum. "Wow... pasti dong Kak,!"Tak hanya lembut, namun aku juga setia tanpa kalang kabut," Leluconnya dia padaku. Perusahaan yang bagus seperti ini tentunya cukup menyenangkan, apalagi jika bekerja penuh dengan hiburan dan candaan. “Seperti itulah Sweet Smile Enterprise." Sendi Garde adalah atasanku di perusahaan ini. Seseorang yang baru saja aku kenal dan tampaknya sangat loyal, baik di dalam pekerjaan dan juga pertemanan, namun ia sedikit cengengesan. Pekerjaanku mungkin berbeda dengan mereka yang ada di perusahaan, jika bangunan retak, cat mengelupas, membangun, mendesain ulang, ataupun merombaknya serta menciptakan kesan, maka disitulah aku berada. Rumit dan berat rasanya menjadi seorang arsitek ternama. Aku diharuskan menulis, menghitung, memprediksi, melihat, menggambar, merasa, mengukur, mengebor, memaku dan mengerjakan semuanya dengan hati-hati dan teratur. Jika pekerjaan itu sesuai dengan yang di inginkan, maka hasilnya pun akan memuaskan. Aku pusing memikirkannya, dan ku coba membayangkan Ina saja. AGUSTUS 2011 BEBERAPA TAHUN YANG LALU Hari Rabu bulan Juli pada beberapa tahun yang silam. Beberapa hari ini aku coba menghubunginya melalui telepon atau SMS, namun sayangnya tidak pernah ada tanggapan. "Apakah Ina juga mempunyai perasaan kepadaku,?" Dan "Ataukah hanya perasaanku saja?." Beberapa hari ini Ina juga tidak pernah mengangkat teleponku, sehingga membuatku pusing dan bingung. Kemana aku harus mencarinya,? sedangkan aku telah mempunyai perasaan kepadanya. "Kring kring kring... Halo..." 'Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif," Perkataannya operator ketika aku menghubunginya. 'İya Zon..., kata kawannya kemarin waktu kami bertemunya, Inanya sudah pindah rumah loh, terus gimana' Perkataannya kawanku yang menjelaskan ketika aku menanyakan kabarnya, tentu aku tidak percaya begitu saja. Sebelumnya aku baru saja bertemu dengannya pada beberapa Minggu yang lalu, tapi dia tidak menanggapiku. Aku ingin mendekatinya karena aku tertarik kepadanya. Pada saat awal bertemu dan berkenalan dengannya, adalah di sebuah kursusan musik. "Sore permisi, kamu kursus disini ya Dek,? dan sekolahnya dimana ya,?" Tanyaku pada Ina dan menatapnya sewaktu duduk disebelahku, aku lihat matanya menerawang tampak seperti memikirkan sesuatu. "Sore juga, Iya Kak.... Aku sekolah di SMA Dream, ini juga mau lulus kak, bentar lagi, sekarang sudah kelas 3," Dia berkata dan tersenyum kepadaku. "Hmm... wah sebentar lagi mau tamat ya kalau begitu. Saya Zonix Hagiray dek, salam kenal ya,!" Aku memperkenalkan diri kepadanya. "Iya Kak..., paling beberapa bulan lagi tamat kok. Aku Ina Rheinsi kak, biasa dipanggilnya Ina, salam kenal juga ya Kak," Katanya ia. "Oke dek, aku juga baru kursus disininya dek, mungkin nanti kita bisa belajar bareng ya,!" Kataku. INA RHEINSI Aku cukup terkejut sama Kakak ini, kok dia tiba-tiba mengobrol denganku, tapi aku senang berkenalan dengannya. Hmm, namun aku mau pergi keluar negeri kalau tamat sekolah nantinya. Ah, pokoknya berteman dululah, dia berkata dalam benaknya. ZONIX Ina masih sekolah dan memakai seragam SMA. Sedangkan aku baru saja memasuki jenjang perkuliahan. Baru beberapa Minggu ini aku mendaftar kursusnya. Aku belajar gitar, tapi ku lebih tertarik kepada biola atau piano, tepatnya setelah aku mendengar Ina bermain biola. Kursusan ini bernama Super Music Course, atau lebih dikenal dengan SMC Note. Sebenarnya aku lebih menyukai gitar daripada biola, namun pengajarku disana menganjurkan untuk les biola atau piano saja. Karena dia pikir aku lebih cocok bermain biola daripada gitar. PENGAJARKU Aku melihat potensinya si Zonix cukup bagus, dia punya keahlian yang lebih dari muridku yang lainnya. Aku sempat berprediksi, kalau nantinya ia bisa menjadi pemusik yang sukses juga, mungkin, ia berkata dalam benaknya. ZONİX Aku punya kendala pada keuangan, dan ku juga belum mempunyai biolanya. Akhirnya aku mengikuti kursusan gitar dan mencobanya selama satu bulan. Hari ini adalah Rabu sore, dan waktunya sekitar jam 16.00. Wrd. "Waktu Negara Republik Damba." Ina tingginya semampai dan dandannya rapi. Dia datang dengan menggunakan mobil mewah. Aku melihatnya dari dalam ruangan dan lalu tiba-tiba pengajarku berkata. "Hey Zon..., Itu tuh Zon!. Orang yang pandai bermain biolanya. Wanita yang Bapak ceritakan tadi loh, dia jago sekali bermain biola, padahal dia masih sekolah," Pengajarku mengatakan dan tangannya menunjuk-nunjuk ke arah parkiran di luar ruangan. "Oh... iya Pak, mana ya Pak orangnya,?" Tanyaku padanya. Aku bersemangat karena tadinya telah diceritakan olehnya. "Itu tuh dia Zon..., baru saja sampai, dan mau kesini sekarang, kita lihat saja nanti ya,!" Kata dia yang penuh antusias dan senyumnya melebar. Aku cukup terkejut, karena ku belum pernah mendengar dan melihat seorang wanita yang begitu mahir dalam bermain biola. Minggu lalu pengajarku telah menceritakan tentangnya Ina, wanita yang sungguh bertalenta daripada muridnya yang lain. Pengajarku mengatakan kalau Ina juga mempunyai sepupu yang sama, yakni pandai dalam bermain biola, ia lebih tua sedikit darinya dan namanya Shesi. Akan tetapi Shesi jarang datang ke tempat kursusan. Aku tidak begitu mengenalnya dan ku dengarkan saja ceritanya. "Oh..., begitu ya Pak, tapi kok saya jarang lihat Shesinya Pak, apa pernah dia kesini,?" Aku bertanya pada pengajarku. "İya Zon..., pernah kok dia kesini, tapi kamu ga ada kelas. Katanya Ina, Shesi itu sibuk Zon, Minggu lalu dia ada kelas dan les di sini," Pengajarku mengatakan. "Oh... begitu ya Pak, Saya kan baru ikut lesnya disini. Minggu lalu saya ada kelas loh Pak, tapi mungkin saya ga bertemu dengannya Shesi," Kataku padanya. "Oh Baiklah... Ya nanti kalau dia ada kelas lesnya, bisa saya kenalkan ke kamu Shesinya kalau bertemu," Kata dia. "Baik, terima kasih Pak," Kataku. Pengajarku sudah berprediksi bahwa wanita itu nantinya akan menjadi sukses dan hebat, tapi aku tak tahu yang mana. Aku diam saja mendengarkan perkataan dan ceritanya yang membuatku terbayang. Aku memang cukup dekat dengannya pengajarku. Kami sering mengobrol dan bercerita tentang musik. Dia menanyakan dimana tempat tinggalku, dan sudah berapa lama aku belajar gitarnya. Aku mengikuti kursusan hanya untuk mengisi waktu luangku sambil berkuliah, sehingga aku menjadi tidak bosan. Ina pada hari Rabu ini tampak begitu sangat muda, mungkin karena ia masih sekolah. "Ayok..., kita mulai kursusnya Dek,! silakan masuk ke ruangan sekarang ya,!" Pengajar biolanya Ina berkata untuk mulai berkursus selama tiga puluh menit sampai satu jam kedepan. "Wah..., masuk ke kelas ya Dek,? latihan ya,?" Aku berkata dan memperhatikannya. Bagiku dia menarik, sehingga membuatku suka. "Iya Kak, hmm... Kakak ga les nih,? kok duduk saja,?" Dia bertanya padaku sambil senyam-senyum, lalu ia berdiri dan menuju ke ruangan kursus yang tak begitu luas. "Ada kelas sih Dek..., sebentar lagi sepertinya, soalnya pengajarku tadinya belum nyuruh ke kelas, gitu," Aku katakan padanya dan menatapnya cukup lama. Pada saat ini yang ada hanya pengajar biola dan gitar. Aku telah penasaran kepadanya Ina, dan ku bertanya pada pengajarku tentangnya lebih jauh. Rupanya ia merupakan Idola di kursusan SMC note ini. Dia juga sebagai inspirasi bagi murid-muridnya yang lain, pengajarku menceritakannya. Aku mendengarkan ia bermain biola di dalam ruangan, kemampuan Ina sungguhlah hebat, bahkan dia seperti seseorang yang telah populer. Bermain musik klasik dari awal sampai habis dan ia mampu. "Saya kaget loh Pak... dan terkejut, baru kali ini saya dengar ada wanita yang begitu mahir bermain biola, dan juga bergaya Pak," Aku berkata pada pengajarku dan kami mengobrol. "Ah... biasa saja lah Zon...,! di tempat lain juga banyak kok, tapi, memang Ina itu sangat menarik dan juga cantik, itulah kelebihannya," Pengajarku bercerita. "Oh... begitu ya Pak, iya sih, gayanya sangatlah menarik, dan sepertinya ia punya kharisma yang berbeda gitu," Kataku. "Nah..., itu Zon yang saya prediksikan kalau nantinya, dia itu akan jadi populer atau terkenal Zon, begitu," Pengajarku berkata dan matanya tampak membayangkan sesuatu. Aku mendengarkannya berkata dan bercerita tentangnya Ina dan juga Shesi, katanya mereka sama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD