TERKESİMA

1136 Words
Aku dan pengajarku bercerita lagi lebih banyak pada saat ini, lalu kami mendengarkan suara biolanya Ina Rheinsi dari dalam ruangan. Kami mengobrol lebih jelas tentang kursusnya dan juga permusikan. Namun aku sedikit gelisah ketika mengobrol dengannya pengajarku, mungkin karena adanya bunyi suara biola dari dalam ruangan. Hal itu sungguh menggugah perasaanku, sehingga konsentrasiku tadinya sedikit terpecah. Kami menjadi terdiam sejenak pada saat ini. Pengajarku mengatakan kalau Ina begitu mahir dalam bermain biola, sehingga banyak orang yang ingin berkursus disini karenanya. PENGAJAR GİTARKU Aku suka kepadanya muridku Ina Rheinsi, karena dialah banyak orang yang ingin berkunjung kesini, tentunya untuk berkursus dan hal yang lainnya. Aku cukup kaget kepadanya Ina, padahal ia baru saja les pada beberapa bulan yang lalu. Akan tetapi, ia bermain biola seperti orang yang sudah mahir. "Bisa baca note dengan baik." Tentu hal itu membuatku menjadi bertanya-tanya?. Minggu lalu ia pernah bercerita, kalau setelah tamat sekolah nanti, ia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Aku tidak begitu mengenalnya, begitu juga dengan orang tuanya, namun ku sudah berprediksi kalau nantinya, dia akan menjadi sukses, Pengajarku berkata dalam benaknya. ZONİX HAGİRAY Aku memikirkannya Ina, tentu ketika ku mendengar suara biolanya. Aku ingin melihat ia bermain biola di dalam ruangan tersebut, namun pengajarku mengatakan tidak boleh melihatnya, karena ia sedang latihan les. "Bagaimana rasanya jika menyukai seseorang, tapi tidak bisa melihatnya.?" "Kau dengar kan Zon,! begitu bagus bunyi suara biolanya,!" Pengajarku mengatakan dan kami sedang mengobrol pada saat ini. "Iya Pak, cukup bagus. Apakah İna sering berkursus dan latihan disini ya Pak,?" Dan "Saya jarang melihatnya Pak," Aku bertanya kepadanya karena ku telah penasaran, dan lalu membuatku beranjak berdiri dari tempat dudukku. "Iya, dia jarang kesini karena masih sekolah. Tapi seperti yang saya bilang tadinya, dia itu bertalenta kalau menurutku, jarang soalnya ada wanita yang bisa bermain biola seperti itu Zon," Katanya Pengajarku. Ketika aku menanyakannya, dia menjawab seperti tadinya. Beberapa detik aku berdiri sejenak, lalu pengajarku memandangiku, dan tatapannya seperti penuh dengan tanya. Dia mengatakan kalau Ina masih sangatlah muda, dan mungkin tidak jauh berbeda dengan diriku. Pada saat ini aku baru saja masuk kuliah. Karena tidak diperbolehkan, kemudian aku bertanya kepada pengajarku. "Apa boleh Pak saya melihatnya sebentar,? karena aku ingin tahu,?" Tanyaku pada pengajarku dengan sopan. "Iya boleh, tapi cukup dari luar jendela saja ya, silakan,!" Kata pengajarku dari tempat duduknya. PENGAJAR GİTARKU Aku tahu kalau Zonix sepertinya suka kepadanya Ina Rheinsi, soalnya dari tadi aku lihat ia selalu memandanginya. Hmm... kalau begini, nanti akan aku kenalkan saja ia dengannya, biar mereka bisa lebih dekat. Namun aku belum begitu kenal dengan ortunya Ina. Lalu bagaimana ya?. Sepertinya akan aku pikirkan terlebih dahulu, setidaknya Ina telah menjadi semangatnya Zonix dalam belajar, Pengajarku berkata dalam benaknya. ZONİX HAGİRAY Ketika aku mendengar izin dari pengajarku tadi, lalu pelan dan perlahan-lahan aku melihat ke dalam ruangan tersebut. Ruangannya bisa dilihat dari jendela luarnya. Suara biola itu bernada indah dan aku menatapnya Ina. Aku dengarkan biolanya dengan perlahan-lahan, sampai cukup lama dan hingga membuatku terkesima. "Terdiam selama beberapa detik, ketika aku sedang mendengar dan melihatnya." Aku menatapnya cukup lama dari dalam ruangan, begitu juga dengan dirinya. Ina melihatku dan akhirnya kami berdua pun pandang-pandangan. "Saling menatap sejenak." Bahkan Ina sampai sedikit hilang konsentrasinya dalam bermain biolanya, mungkin karena aku pandangi tadinya. İNA RHEİNSİ Waduh, Kak Zonixnya memandangiku, wah aku kan jadi giman gitu. Hmm... tatapannya juga cukup lama. Aku punya rasa kepadanya, tapi nanti setelah lulus sekolah, kuingin kuliah ke luar negeri, lalu aku harus bagaimana ya?. Akan aku pikirkan terlebih dahulu, soalnya aku merasa cukup berat, tentu bila meninggalkan seseorang yang suka kepadaku. Karena di tempat lainnya, belum tentu aku bisa mendapatkan yang seperti ini. Setidaknya aku bisa menikmati dulu saat-saat yang indah seperti ini, Ina berkata dalam benaknya. ZONİX HAGİRAY Pengajarku sedang duduk di sofa dan memandangiku sambil tersenyum. Aku melihatnya Ina cukup lama, dan ku menjadi terdiam. Aku harap saat-saat seperti ini tidak ingin rasanya berhenti, namun detik dan menit akan terus berjalan. Aku begitu terkesima dengannya İna, karena baru kali ini aku melihat ada seorang wanita yang bisa bermain biola, dan begitu mahir. Beberapa detik kemudian aku kembali lagi ke tempat dudukku tadinya. Kami mengobrol lagi dan berbincang lebih jauh. PENGAJAR GİTARKU Hmm... rupanya si Zonix terpesona kepadanya Ina. Aku bisa melihat dari tatapannya yang cukup lama. Baik kalau begitu, nanti setelah selesai lesnya, akan aku kenalkan mereka berdua, supaya bisa lebih kenal lagi. Aku rasa Ina cukup cocok kepadanya Zonix, tapi aku tidak begitu tahu dimanakah tempat tinggalnya Ina. Walaupun begitu, Zonix tidak terlalu jauh kehebatannya dengan Ina, permainan gitarnya jugalah bagus, namun kurang cepat saja. Setidaknya mereka berdua sama-sama bisa bermain musik. Aku juga baru saja mengenalnya Zonix pada beberapa Minggu ini. Aku melihat sikapnya cukup sopan dan ramah, terutamanya kepadaku dan yang ada di kursusan SMC Note ini, Pengajarku berkata dalam benaknya. ZONİX HAGİRAY Kami mengobrol dan aku bertanya lebih jelas. Pengajarku pun juga begitu, dan kemudian ia berkata. "Bagaimana Zon,? bagus kan,! suara biolanya, dan gimana menurutmu si İnanya,?" Pengajarku bertanya dan seperti ingin mengetahui pendapatku. "Iya Pak, cukup bagus, baru kali ini saya melihat wanita yang seperti itu, bisa bermain biola dan gayanya juga oke," Aku berkata dan membayangkannya sambil duduk. "Soalnya aku sedang terkesima, terkejut dan juga terpesona pada saat ini." "Nah itu yang saya bilang Zon, masih muda, menarik dan pandai bermain musik, jarang kan ada wanita yang seperti itu,!" Katanya Pengajarku. Tentu aku kaget dan lalu ku duduk serta membayangkannya. Nada-nadanya begitu enak ketika di dengarkan, walau aku tak tahu musik apa yang dia mainkan. "Sepertinya musik klasik." Aku baru saja belajar di SMC Note ini, dan pada hari ini adalah kursus pertemuan pertama kami. Soalnya di minggu-minggu yang lalu, sedang ada kendala. Sesaat kemudian aku berpikir. Apakah aku pindah ke les biola saja ya?. Soalnya aku merasa permainan gitarku tidak adanya kemajuan. Dari hari ke hari selalu begitu saja, dan sepertinya aku ingin pindah ke biola atau bass, namun pada saat ini, aku belum mempunyai alatnya. "Hmm...Pak kalau boleh tanya, apa bisa saya pindah lesnya ke biola saja ya,?" Tanyaku pada pengajarku. "Loh... kenapa Zon,? kenapa memangnya,? apakah ada problem pada gitarnya,?" Tanyanya dia dan menatapku heran. "Tidak ada sih Pak, tapi sepertinya permainan gitar saya tidak ada kemajuan, dan saya telah mendengar biolanya Ina, lalu saya tertarik," Kataku padanya. PENGAJAR GİTARKU Hmm... ada apa ya si Zonix,? Kok tiba-tiba saja ia ingin pindah kursusnya, padahal sebelum-sebelumnya ia begitu semangat bermain gitar. Apakah karenanya Ina?. Hmm... sepertinya begitu. Akan tetapi jika aku melihatnya, Zonix sepertinya sedikit kaku dalam bermain gitar, ketika memetikkan senarnya dan memencetnya, maka dari itu ia tidak bisa bermain cepat. Dan ada apa ya?. Hmm... aku cukup heran padanya, padahal nada-nada gitarnya Zonix cukuplah bagus, komposisi dan juga frasa nadanya. Tapi aku telah menyarankan sebelumnya, kalau ia lebih baik bermain biola daripada gitar, dan aku pikir itu lebih cocok, Pengajarku berkata dalam benaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD