TANGAN KAKU

1248 Words
Aku tahu kalau pengajarku di SMC ini juga pernah mengajar di Nomi Musik, dan sewaktu ku baru mendaftar ia telah bertanya. Kiranya ia juga mengenal pengajar gitarku sebelumnya, namun aku tidak menceritakan apapun dan dia hanya bertanya saja. Kilas Balik Lima Bulan Yang Lalu Nomi Musik Course Aku punya sedikit kendala ketika belajar di Nomi Musik, yakni pengajarku tidak sesuai seperti yang kuinginkan dan kuharapkan, bahkan ia menyuruhku untuk mencari pengajar lainnya saja. Tentu aku kaget dan heran tiba-tiba, dan kenapa ia berkata seperti itu padaku?. Apakah ia tidak ingin mengajariku dalam bermain gitar?. Aku berkuliah di jurusan Arsitektur dan juga menyukai musik, terutamanya metal, rock, pop dan juga dangdut, lalu ada juga genre baru di Negara Republik Damba, yakni Dambass. Musik genre dambass lebih mengarah ke bidang disko Dj, yakni campuran musik ngebeat dan juga pop. Pada saat ini genre-genre itu sedang populer di tahun 2011 hingga sekarang. Kami saat ini sedang berkursus di sore harinya, lalu pengajarku di Nomi bertanya. "Bagaimana Zon latihannya,? apa sudah lancar yang kemarinnya itu,? bending, triplets melodi dan pentatoniknya,?" Tanyanya pengajarku, dan pada biasanya ia mengecek pembelajaranku sebelumnya. "Em... saya sedikit susah Pak, terutamanya di triplets melody, dan sebaiknya bagaimana ya Pak,?" Aku jawab dan ku sedikit cemberut, hal itu karena ku belum begitu mengerti. Pengajarku menyuruhku untuk mencobanya dan mempraktekkannya. Aku pun langsung memainkan melodinya tapi tidak bisa cepat-cepat, dan tiba-tiba saja tanganku menjadi seperti kaku. "Wah gimana nih,? kok kaku tiba-tiba ya,?" Tanya dalam benakku dan aku menjadi heran, soalnya tanganku sontak tidak bisa bergerak dan memainkan gitarnya. Pengajarku pun sempat heran, yakni ketika aku terbata-bata dalam memainkan melodi latihan tripletsnya, bahkan matanya tampak aneh dan seperti melotot. Dia merupakan pengajar gitar pertamaku dalam bermain musik. Dahulunya aku menyukai alat musik suling, karena tidak ada yang mengajariku dan jadinya ku otodidak. Namun setelah aku beranjak masuk kuliah, gitar telah membuatku terpesona, sehingga aku beralih ke alat musiknya. "Loh kenapa tanganmu Zon,? kok kaku seperti itu,? yang cepatlah mainnya,! bisa ga,!?" Dia melihat permainanku yang begitu lambat, dan lalu juga tampak kaku. "Yah beginilah Pak, saya juga merasa kaku nih, ga bisa cepat, ga tau juga kenapa ya,? cuma segini-segini saja," Aku katakan dan ku merasa sedikit pegal ketika memencet senarnya. "Hmm... kok bisa,? seperti ini loh contohnya,! masa kamu ga bisa, mudah sekali itu,!" Dia mencontohkan permainan melodi tripletsnya dengan cepat. Aku tentunya kaget dan terkejut, terutamanya ketika pengajarku bermain dengan sangat cepat. Tangannya seperti begitu ringan dan lancar, sedangkan aku kaku dan susah bergerak, hanya di chord-chord rhythm saja ku lebih mudah. Sedangkan kalau melodi tidak bisa cepat sama sekali, bahkan ku seperti tak bisa bergerak dari fret satu ke yang lainnya. Ouwh... ada apa dan kenapa ya dengan tanganku?. Aku pun heran dan mengapa aku tidak bisa bermain dengan cepat?. Hal itu terkadang membuatku menjadi tersindir, dan ku juga sedikit malu, tapi aku telah suka kepadanya gitar, lalu aku harus bagaimana ya?. Aku memperhatikan pengajarku selama beberapa detik, ketika ia mulai mencontohkannya. Aku terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa. Aku sangatlah kagum akan permainannya, melodinya, nada-nadanya, frasenya dan terasa ku seperti melihat seseorang yang sedang konser, namun hanya di dalam ruangan. Karena baru kali ini aku melihat seorang yang bermain gitar dengan begitu cepat, nadanya jelas, notenya rinci dan juga tidak sembarang, atau bisa dikatakan begitu proporsional, bahkan seperti tidak adanya yang melenceng. Namun... ia nampaknya sedikit memamerkan kebolehannya di depanku, dan itu membuatku menunduk seketika saja. Aku masih belajar dalam membaca note-note musik, sedangkan dia sudah membacanya sambil bermain dan mencontohkannya. "Ayo pegang gitarnya,! dan bisakah kamu seperti ini,! silakan dicobakan Zon,!" Dia mencotohkan bagaimana cara memegang fret gitarnya. "Wah... ga bisa saya Pak yang seperti itu, lagi pula itu cepat banget loh, terus gimana ya Pak,?" Aku katakan padanya, karena ku tidak bisa memegang fretnya seperti yang ia contohkan. PENGAJAR GITAR NOMI MUSIK Hem... kenapa dianya ya,? dan ada apa ya,? mengapa ia tidak bisa bermain seperti yg aku contohkan?. Hmm... sepertinya ada sesuatu yang aneh nih, dan nanti akan kutanyakan. Dari tadi bila aku perhatikan, dia selalu saja seperti kaku, lambat dan susah bergerak, terutamanya sewaktu ku mencotohkan tadinya, namun... bendingnya cukup bagus dan nadanya tepat. Hanya tidak bisa cepat saja, memang banyak murid-muridku yang seperti itu. Rupanya mereka itu tidak mengerti, bahwa bermain musik cepat itu hanyalah untuk atraksi, bukannya untuk dinikmati dan dipelajari. Kalau aku sukanya metal dan juga pop, tapi jarang ku dengarkan, soalnya musik lembut dan santai lebih enak dan bisa resapi. "Baiklah..., dan kalau boleh tau, kenapa tanganmu kaku begitu ya,? apa kamu tidak apa-apa,? apa tidak ada masalah kan,?" Aku menanyakannya dan ingin tahu, kenapa Zoninya bermain lambat, bahkan seperti orang yang tidak bisa bermain gitar, tentu aku merasa aneh. Dan ada apa ya?. "Iya Pak, ga tau saya Pak. Saya juga merasa kaku dan sulit bergerak ke fret lainnya. Aku sih tidak apa-apa dan baik-baik saja, tapi rasanya ku tidak bisa bermain seperti yang dicontohkan,! kalau pelan-pelan saja apakah bisa Pak,?" Aku menjelaskan dan juga bertanya kepadanya, karena ku pun bingung dengan tanganku. "Wah ga cocok ini sama saya kalau begini. Saya biasanya mainnya cepat, sedangkan kamu lambat banget, sebentar ya,! saya pikirkan dahulu,!" Kataku padanya Zonix. Oh... Aku cukup mengerti sekarang ini. Aku pikir dia tidak cocok dalam bermain gitar, soalnya tangannya cukup berbeda dengan murid-muridku pada umumnya. Dia tidak bisa memetikkannya dan memencetnya dengan baik, lalu juga ia kaku dan tangannya seperti sedikit bengkok, tentu aku cukup khawatir. Aku lebih menyarankan untuk kursus alat musik yang lainnya saja, seperti biola yang lebih lembut, atau keyboard dan piano. Kalau begini aku tidak ingin mengajarnya, soalnya aku takut kalau terjadi apa-apa dengan tangannya nanti. Aku lihat dia kaku dan tidak bisa bergerak cepat, dan itu yang ku khawatirkan. Aku pikir jika Zoni tetap ingin belajar gitarnya, maka kemungkinan besar tidak akan adanya perubahan, dan sepertinya begitu, Pengajarku berkata. ZONIX HAGIRAY Aku sudah memikirkannya pada beberapa hari yang lalu, soalnya sudah beberapa bulan ini permainan gitarku tidak adanya kemajuan, dari hari ke hari selalu begitu. Tapi... aku masih ingin memencet dan memainkannya, lagi pula gitar itu mudah dibawa kemanapun, dan tidak seperti alat musik yang lainnya. Tentu aku akan memikirkannya terlebih dahulu, apakah aku harus lanjut berkursusnya ataukah tidak?. Soalnya di bandku tidak ada gitaris melodi yang mantap, hanyalah rhythm biasa saja. Lalu bagaimana ya sebaiknya?. Mereka bilang kalau aku cukup cocok dalam bermain pelan, dan bisa ditempatkan pada bagian rhythm, lalu akupun sudah cukup senang. Namun... aku ingin seperti mereka-mereka yang bisa bermain melodi dengan cepat. Pada awal pertemuan, pengajarku cukup mengagumiku, karena aku bisa menghafal dengan baik, bahkan hampir seluruh tangga nada pentatoniknya. "Hem... begini ya Zon, sepertinya..., kursusnya kita sampai disini saja ya,! soalnya kalau saya lihat, tanganmu tidak bisa bermain gitar dengan baik dan cepat. Saya menyarankan untuk pindah les atau ke alat musik lainnya, coba kamu bermain biola atau piano saja, dan itu lebih lembut, bagaimana,?" Pengajarku menjelaskan dan bertanya, lalu ia tampak bingung, matanya menunduk dan terlihat seperti tidak ingin mengajar pada hari ini. "Wah bagaimana ya Pak?. Saya kan inginnya bermain gitar," Sedikit lama juga aku terdiam selama beberapa detik dan ,"Hmm... baiklah kalau begitu akan saya pikirkan terlebih dahulu Pak, soalnya aku belum punya biola atau pianonya," Aku menanggapinya dan sedikit menjadi lemas. "Ya tidak apa-apa Zon,! santai saja, tapi musik bukanlah pekerjaan utamamu kan,?" Katanya dia dan melihatku tampak seperti tidak bersemangat. Aku menjawabnya, ya bermain gitar bukanlah pekerjaan utamaku, karena aku hanya hobi dan menyukainya. Akan tetapi, pengajarku telah berkata seperti tadinya, dan itu telah membuat semangatku menurun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD