‘’Mi, ini looh adikmu bulan ini mau nikah, bisa ya cincin kawinmu dipinjamkan buat ngikat calon istrinya Rinto,’’
Tiba-tiba sore itu ibu mertuaku datang bersama adik suamiku. Aku bingung dengan arah pembicaraan mereka. Maksudnya dipinjam itu bagaimana ya? Cincin kawin kok dipinjam. Apa ngga’ sebaiknya Rinto beli sendiri cincin kawinnya untuk mengikat Sari calon istrinya? Kenapa harus punyaku yang jelas-jelas cincinnya saja sedang aku pakai, ini juga pemberian dari mas Suyit suamiku.
Aku hanya diam menunggu penjelasan berikutnya dari mereka yang sore itu datang saat suamiku pergi mengantar barang ke luar kota.
“Iya Mbak, aku pinjam cincin kawinnya mbak Kar ya... aku belum sempet pesan soalnya, eeeh kok Sary minta secepatnya dilamar kemudian dinikahin bulan ini,’’ dengan cengengesan Rinto mengutarakan semuanya. Bau-bau alibi sepertinya.
‘’Tapi Rin, ini kan cincin kawinnya Mbak..apa ngga’ sebaiknya kamu pesen aja dulu..sekarang modelnya tambah bagus-bagus banget kan?’’ aku berusaha mengelak, menolak permintaan adik kandung suamiku itu. Walaupun dia adik kandung suamiku tapi tidak sepantasnya dia bersikap begitu.Cincin itu kan juga hakku, suamiku yang beli untuk aku..kenapa justru adiknya mau mengambilnya kembali? Pikirku.
‘’Alah...timbang sama saudara sendiri kok pertimbangan amat Mi,’’sela ibu Mertua seketika itu juga.
“Kasih pinjam sajalah apa susahnya...sesama saudara harus saling...biar hidupmu lebih berkah!’’Ibu mertuaku mulai meninggikan intonasi suaranya.
‘’Ayyo deh Mbak buruan..acara lamarannya kan besok..mau aku bawa dulu buat dicuci di tukang emas biar jadi kinclong,’’
Tanpa rasa bersalah Rinto menadahkan tangannya dan memerintahkanku untuk melepaskan cincin kawin yang aku pakai di jari manisku.
Aku terhenyak, diam tak berkutik. Apalagi ditambah tatapan tajam ibu Mertua penuh intimidasi. Dengan sangat terpaksa aku lepaskan cincin kawin tanda cinta kasih kami, kuserahkan ke Rinto.
‘’Naah begitu dong Mi...ya sudah kita pamit ya,’’
Tidak menunggu lama mereka berdiri dari tempat duduknya sambil memasukkan cincin pemberianku ke tas kecil yang dibawa ibu Mertuaku.
Batinku menjerit, ‘’Duuh Gusti...ternyata penderitaanku belum berakhir. Baru saja aku merasa bahagia bisa berkumpul kembali dengan suamiku setelah peristiwa kecelakaan kemarin, hari ini aku harus kembali menerima kenyataan kalau cincin kawinku dipinjam adik suamiku.’’
Aku tidak begitu yakin dengan istilah ‘’pinjam’’ seperti yang disampaikan oleh ibu mertuaku dan Rinto. Bisa jadi itu akal-akalannya saja biar cincin itu bisa mereka ambil.
*****
Sore menjelang, terdengar pintu rumahku kembali terbuka dan terdengar ucapan
“Assalamu’alaikum,’’
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,’’
Begitu terdengar suara khas yang setiap saat aku rindukan, aku segera berlari ke depan meninggalkan Tika anak bungsuku yang saat itu tengah terlelap tidur di depan kasur tipis di depan televisi hitam putihku.
Aku songsong suamiku yang baru pulang untuk mencari nafkah buat keluarga. Aku berusaha bersikap biasa meski hati dan pikiran tidak karuan rasanya. Apa jadinya kalau mas Suyit nanti menanyakan cincin kawin yang sebelumnya melingkar indah di jari manisku? Apa yang harus aku ucapkan? Aku juga tidak ingin menyinggung perasaan suamiku karena bagaimanapun mereka masih saudara sekandung.
‘’Anak-anak kemana Bu, kok sepi?’’
Itulah suamiku tercinta...secapai apapun dia bekerja tak pernah sedikitpun melupakan anak-anaknya. Itulah pula yang membuat rasa cintaku padanya tak pernah bisa padam, meski seringkali badai dan aral melintang selalu menerjang.
‘’Ayu sama Ardi sedang ngaji di TPQ, Pak...Tika ituh lagi bobo di depan tivi.’’ucapku sewajar mungkin walaupun rasa nelangsa mulai mendera.
Kuraih tangan kanan suamiku tercinta, kucium takzim. Dia menyambutnya mesra.
Tanpa aku sadari dia mulai menggenggam tangan kananku, jari jemariku dia sentuh erat. Dielusnya berulang kali dan terperanjat kaget.
‘’Loo cincin kawinmu mana Bu?’’tanyanya hati-hati.
Aku hanya tergugu..diam tanpa tahu apa yang mesti aku ucapkan.
‘’Eh..itu..anu Pak, tadi Ibuk ke sini sama Rinto, bilang mau pinjam cincin kawinku buat melamar calon istrinya, katanya acara lamarannya besok,’’jawabku hati-hati.
Dahi suamiku mengerenyit, menatapku dalam. Seperti ada tanda tanya besar di hatinya.
‘’Ah sudahlah Pak, Bapak kan baru pulang nyopir pasti capai kan? ngga’ usah dibahas lagi tentang itu cincin,’’
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Aku tidak ingin membuat suamiku merasa bersalah dengan tindakan Ibu dan adik kandungnya.
Hari itu aku berusaha memberi servis terbaik buat suamiku. Meski hatiku masih tetap merasa galau mengingat kelakuan keluarga suamiku..tapi aku berusaha menyembunyikannya serapat mungkin.
*****
Pagi menjelang...ayam jantan berkokok bersahutan...kutengok jam dinding di kamarku, 04:00 tepat ketika terdengar suara ketukan pintu atau lebih tepatnya gedoran nyaring.
Brak
Brak
Brak ... .
‘’Mas...Mas...ini Rinto Mas...tolong buka pintunya.’’
Aku yang saat itu tengah bersiap-siap mengambil air wudu segera menuju pintu rumahku yang kayunya mulai rapuh dan engsel pintunya mulai berkarat.
Krieeettt...pintu kubuka perlahan, namun tanpa basa-basi Rinto adik suamiku menerobos masuk.
‘’Mbak..mas Suyit sudah pulang kan? Aku tadi lewat di pangkalan truknya sudah ada di depan garasi. Masku sekarang di mana?’’tanyanya memberondongku laksana peluru keluar dari moncongnya.
‘’Masuk dulu Rin, Masmu masih tidur..tunggu yaa paling sebentar lagi juga adzan Subuh,’’
‘’Sekarang saja Mba dibanguninnya, penting inih,’’desaknya.
‘’Hhh...selalu saja begitu...aku tak akan diberikan kesempatan menolak segala permintaan keluarga suamiku.’’batinku berkata lirih, perih.
Tidak lama kemudian.. .
‘’Ada apa Rin, tumben pagi-pagi gini sudah ke sini? Semua baik-baik saja kan yang di rumah?’’ sambil mengucek-ucek matanya yang masih menahan kantuk suamiku bertanya lirih. Sesekali menguap.
‘’Aku mau pinjam cincin kawinnya mas Suyit...kemarin kan baru satu cincinnya..masa iya ngikat cewek cuman pakai satu cincin sih Mas,’’dengan tanpa rasa bersalah Rinto asal ucap tanpa merasa sungkan kepadaku.
‘’Cincin kawinku ya aku simpan di Mbakmu Rin, aku memang minta tolong istriku yang simpan, ngga aku pakai soalnya bikin ribet saat pegang kemudi,’’ suamiku memberikan alasannya. Tak tahu aku,itu alasan yang dibuat-buat atau bagaimana…aku tak mau berburu sangka pada Bapak dari anak-anakku itu.
‘’Yaa buruan suruh mbak ambilin Mas..aku buru-buru nih..hari ini kan acara lamaranku ke Sary,’’
‘’Benar-benar inih adik suamiku,’’batinku semakin merasa terkoyak ketika dengan santainya dia memerintah kakaknya yang notabene lebih tua dan sudah seharusnya dihormati.
Ayu anakku tiba-tiba sudah berdiri tepat di belakangku, seraya memelukku dari belakang.
‘’Astagfirulloh Ayu...bikin kaget Ibu saja,’’
‘’Hehehee...maaf Bu..eh ada apa sih Om Rinto pagi-pagi sudah datang?’’tanyanya seraya mengintip dari belakang tubuhku.
‘’Ngga papa Ay, sudah buruan sana siap-siap salat Subuh dulu...sudah jam berapa ini?’’
“Iya-iyyaa Ibuku sayang,’’penuh manja Ayu menjawab terus ngeloyor pergi ke belakang.
‘’Hhh...mudah-mudahan Ayu ngga’ dengar dan tahu segala ucapan dan perilaku Om-nya barusan, aku ngga’ mau dia bersikap buruk di kemudian hari karena mencontoh sikap keluarga bapaknya. Naudubillahi mindzalik.’’
Tiba-tiba ...
‘’Ibu...ke sini sebentar,’’
Suara khas suamiku tercinta terdengar dari luaran.
‘’Ya Pak,’’ segera aku menghampirinya. Nampak Rinto duduk dengan santainya sembari menghisap rokok.
‘’Ada apa Pak?’’ aku pura-pura bertanya seolah-olah tidak mendengar pembicaraanya tadi.
‘’Tolong ambil cincin kawinku Bu, ini Rinto mau pinjam katanya,’’
‘’Ya Pak tunggu sebentar,’’sahutku ogah-ogahan.
Aku berlalu masuk ke kamar mengambil cincin kawin pasangannya kemarin. Hatiku tambah masygul ketika mendengar kata pinjam dari Rinto.
Apa maksudnya semua ini? kok bisa dia seenaknya sendiri bersikap. Dia anggap apa aku ini.
“Ya Allah Yaa Rabb...,’’
Tanpa semangat aku cari kotak cincin kawinku di lemari kamarku, Kubawa keluar dan kuserahkan ke suamiku. Dengan sigapnya Rinto bangkit dari duduk dan meraihnya tanpa rasa sungkan.
‘’Ya sudah aku pulang sekarang ya Mas, jangan lupa nanti sore ke rumah ikut ke acara lamaranku,’’ tanpa merasa bersalah dia langsung berpamitan pulang ke kakaknya tanpa memandang sedikitpun ke arahku. Aku hanya terdiam mematung menyaksikan adegan yang teramat menyakitkan menurutku. Aku merasa sama sekali tak dianggap saudaranya hingga diapun tak mempersilakanku untuk ikut ke acara lamarannya.
Aku sangat perasa mungkin..mendengar hanya kata “Mas’’ yang Rinto ucapkan tadi..sudah cukup jelas menandakan kalau yang dia anggap saudara hanyanya mas Suyit saja.
Entahlah ... .
*****