‘’Ayo Bu, ajak anak-anak sekalian biar kumpul keluarga besar mbah War!''ajak suamiku.
Hari ini acara lamaran Rinto , tapi aku malas menghadirinya. Aku tak mau terus-terusan hatinya tersakiti gara-gara sikap dan perlakuan keluarga suamiku terhadapku dan anak-anakku. Sudah beberapa kali aku tahu ketika aku datang saat mereka sedang berkumpul, ada saja yang bermuka masam padaku. Sepertinya memang mereka tidak mengharapkan kehadiranku dan anak-anakku. Aku sadar-sesadarnya siapa aku, wanita udik, berpendidikan rendah dan dari keluarga papa, tidak pantas kalau aku ada di antara keluarga mereka yang terpandang, kaya raya dan banyak harta.
‘Tapi Pak, kamu dengar sendiri kan kalau yang diundang hanya Bapak?’' tanyaku hati-hati.
"Biar aku di rumah saja Pak njagain anak-anak,''elakku halus.
‘’ Sudah Bu, ngga' usah diambil hati perkataan Rinto..emang dia gitu kok anaknya,''
‘’Maaflah Pak, aku di rumah saja ya,''aku terus mengelak.
Kalau memang aku diundang dan diharapkan kehadirannya kan setidaknya akan lebih baik kalau Ibu mertuaku atau Rinto yang mengajakku. Tapi ini tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Aku cukup tahu diri. Tidak akan aku memaksakan kehendak agar mereka benar-benar mau menerimaku sebagai bagian dari keluarga besar R.M Warto Soewirjo. Biarlah Allah Sang Pemilik hati yang berhak untuk menggerakkan hati mereka.
‘’Ayolah Bu, siap-siap..oh iya tunggu sebentar…,'' Mas Suyit terlihat melangkah masuk ke kamar dan kembali membawa tas kresek, menyerahkannya kepadaku.
‘’Ini Bu, dipakai ya..buat anak-anak juga,''katanya mesra.
Kuterima tas kresek yang diserahkan kekasih hatiku, kubuka. Tanpa terasa air mataku menitik, haru ketika kulihat tiga gamis cantik dan sebuah kemeja batik terlipat rapi di dalam bungkusan koran, sama persis warna dan coraknya dengan yang dipakai suamiku saat ini.
‘’Bapak kemarin lihat tiga gamis dan dua kemeja batik yang sepertinya cocok untuk kita dan anak-anak, dicoba Bu..Ayu, Ardi,..sini Nak,''kata suamiku penuh kasih.
‘’Daleeem Pak,'' hampir secara bersamaan mereka berlari mendekat menjumpai Bapaknya.
‘’Sini ini dicoba baju-bajunya…mudah-mudahan pas untuk kalian, Ibu juga ya,''
‘’Waaah baju baru…asyiiik…belum lebaran sudah dibelikan baju baru,''teriak anak-anakku riang.
Semakin berkabutlah pandangan netraku, bahagia dan sangat bersyukur. Ternyata dalam kondisi apapun suamiku masih tetap perhatian kepadaku dan anak-anakku.
Aku berlalu masuk kamar setelah sebelumnya memakaikan gamis cantik itu ke bungsuku. Pas di badan, dia terkekeh riang.
‘’Aaah anakku sayang, kamu seperti begitu menikmati curahan kasih sayang dari Bapakmu,''lirihku berucap dalam hati.
‘’Waah cantiknya Ibu,''puji mas Suyit ketika melihatku keluar lagi dengan memakai gamis pemberiannya.
Aku jadi tersipu malu. Hatiku berdebar tak menentu mendengar pujiannya. Walaupun sudah puluhan tahun mas Suyit tetap bersikap mesra dan romantis padaku.
*****
Kami jalan beriringan menuju rumah mertuaku. Jarak antara rumahku dengan rumahnya memang tidak begitu jauh. Bisa dicapai dengan hanya berjalan kaki. Satu kecamatan beda desa.
Sesampainya di sana…keluarganya sudah terlihat berkumpul. Meski mertuaku sekarang berstatus janda beranak banyak, namun penampilan dan harta kekayaannya tidak kalah dengan orang-orang yang ada di daerahnya. Warisan peninggalan suaminya tak terkira jumlahnya. Sawah, ladang, kebun luas, kolam ikan dan binatang ternaknya tak terhitung. Semuanya dikelola dengan sangat baik dengan bantuan beberapa pekerja.
Sesekali ketika mas Suyit sedang tidak mengirim barang ke luar kota, dia ikut membantu merawat kebun dan kolam ikan yang letaknya di desa seberang.
"Waaah rombongan tuan putri baru datang nih,''terdengar suara nyinyir dari mulut pedasnya.
Aku paham betul suara siapa itu. Tidak lain dan tidak bukan suara sumbang itu pasti milik Tini adik iparku.
Aku hanya tersenyum tipis, berusaha tidak menanggapi ucapannya.
Hari belum begitu siang aku rasa, dan aku rasa aku belum begitu terlambat datang kemari,pikirku.
Belum lagi aku selesai menata diri, tiba-tiba kulihat Rinto menyongsong kehadiran kami.
‘’Duuuh lama amat baru datang sih Mas, aku mau minta uang nih… seserahannya masih kurang,''katanya dengan pongah.
‘’Buruan dong Mas uangnya!''katanya lebih lanjut.
Kulirik mas Suyit. Dia seperti jengah dengan sikapnya. Namun dengan segera dia merogoh saku belakang celananya, mengambil dompet dan menarik beberapa lembar rupiah dan mengasurkannya ke Rinto.
Dia menerimanya dengan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Berterima kasih pun tidak. Aku hanya bisa menghela nafas, masygul. Aku sebenarnya tidak merasa keberatan suamiku harus mengurus Ibu dan adik-adiknya, bahkan mungkin saudara-saudaranya yang lain. Tapi menurutku alangkah baiknya kalau mereka berlaku sopan padanya. Tapi berkali-kali kukatakan, entahlah … .
Aku tidak ingin berprasangka buruk. Boleh jadi memang mas Suyit ikut diserahi untuk mengelola keuangan Ibunya dari hasil kebun atau lainnya, dan mungkin dia tidak pernah menceritakannya kepadaku. Akupun tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan keluarganya. Bagiku yang terpenting aku dan anak-anak cukup sandang,pangan, papan itu sudah satu hal yang sangat patut disyukuri.
Lamunanku buyar ketika tiba-tiba dari arah belakang terdengar teriakan nyaring
‘’Mbak…ini loh Ayu nakal ke Sinta,''Teriak Tari adik dari mas Suyit lainnya.
Kudengar suara tangisan beriringan dengan teriakan Tari. Kuihat Ayu berlari menyongsongku dan menghambur dalam pelukanku. Untung saja aku tidak terjerembab jatuh karena posisiku sedang membopong si Bungsu.
‘’Ngga kok Bu…Ayu ngga' nakal,''isaknya sembari mempererat pelukannya.
Kulihat Tari menggandeng Sinta anaknya yang menangis meraung-raung. Seperti didramatisir.
‘’Mbak…tolong dong diurus anak-anakmu..masa Sinta dinakali gini sih, lihat nih sampai nangis gini,''
Kulihat Ayu terus menggeleng-gelengkan kepala sembari terisak.
‘’Ngga' kok Bu..Ayu ngga' nakal…tadi Sinta duluan yang mulai..Sinta rebut majalah Bob0 punyaku, sudah kubilang sabar…gantian, aku juga belum selesai baca…dia tetap memaksa,malah disobek juga majalahnya.''Ayu terus meracau sambil berusaha beradu argumentasi dengan Tantenya.
‘’Alaah timbang majalah jelek gini aja pelit amat ngga' mau minjemin, makaaan nih majalahnya…besok biar Ayahnya Sinta belikan sepuluh sekalian!'' Tari berkata ketus sembari melemparkan majalah anak kesayangan Ayu yang memang sengaja dia bawa dari rumah. Sedari kecil dia memang memiliki kesukaan mengumpulkan berbagai macam jenis majalah anak dan membacanya. Kalau sudah membaca, Ayu bisa kuat berjam-jam, menyimak tekun setiap cerita yang ada di dalamnya.
Dengan masih terisak lirih Ayu membungkuk dan mengambil majalah yang teronggok di lantai. Terlihat rusak dan sobek di sana-sini.
Aku tambah tak karuan rasanya, ada rasa penyesalan mengapa aku tadi tetap mau ikut ke hajatannya Rinto. Sekarang aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarga Bapaknya telah membuat hati anakku begitu terluka.
Walau bagaimanapun aku ibunya, tahu persis bagaimana sikap dan perilaku anak-anakku. Jadi sepertinya tidak mungkin kalau Ayu yang mulai nakal duluan. Anak-anakku hampir sebagian besar menuruni sifat dan sikap perilaku orang tuanya, lebih banyak mengalah daripada ribut! Entah itu baik atau tidak aku sendiri tidak tahu, hanya yang aku tahu menurutku itu lebih baik daripada menimbulkan kekisruhan.
Aku berusaha keras menenangkan Ayu yang masih terus terisak. Tak peduli aku yang masih kerepotan membopong si Bungsu yang ternyata mulai terlelap. Kulihat Ardi bersama Bapaknya sedang duduk di teras membaur dengan saudara-saudaranya.
‘’Sudah Yu, yuuk kita duduk saja…tapi minta maaf dulu sana sama De' Sinta dan Tante,''bujukku mendapati Ayu yang semakin ketakutan demi melihat tatapan tajam dari Tantenya.
Kubimbing dia, kubuka tangan mungilnya, Ayu menurut dan meraih tangan Sinta sembari berkata lirih,
‘’Maafkan Ayu, Sinta…Tante…emang Ayu yang nakal,''katanya disela helaan nafasnya yang terasa berat kurasakan.
‘’Iya…sekarang aku mafin kamu…tapi lain kali jangan nakal lagi ya!''teriak ketus Sinta dengan menarik kasar tangannya kembali dari genggaman tangannya.
Aku hanya bisa tersenyum tipis. Rongga dadaku terasa penuh,
"Yaa Allah…ternyata begini rasanya menjadi orang yang selalu dipihak yang ‘’salah'',batinku berkata lirih.
******
Waktu berjalan pelan kurasakan. Detik-detik waktu acara lamaran Rinto dimulai. Kami rombongan keluarga tengah menunggu acara ‘’tukar cincin'', kulihat Sary begitu cantik dengan dandanan adat Jawa, berpadu serasi dengan Rinto yang berpakaian beskap dan berblangkon di kepalanya.
Ketika acara ‘’tukar cincin'' dimulai, kulihat Rinto dan calon istrinya saling bertatap mesra dan menyematkan cincin kawin kepunyaanku dan mas Suyit ke jari manisnya masing-masing.
Hatiku semakin menjerit pilu demi menyaksikan cincin kawin yang seharusnya menjadi hak kami kini sudah berpindah tangan. Aku tidak yakin kalau mereka akan mengembalikannya kepadaku atau mas Suyit.
‘’Astagfirullohal'adzim… kuatkan hati hamba…. .' Hanya itu yang saat ini mampu aku ucapkan.
******