3. Insiden Di Kantin

1534 Words
Saat Zourist melewati koridor sekolah pagi hari ini ia heran melihat semua anak-anak yang mengumpul di Mading. Mereka tampak tertawa. Zourist jadi penasaran, ada apa sebenarnya? . Bergegas ia ikut kearah sana dan mendorong beberapa siswa. "Minggir, minggir gue mau liat!" Para siswa tampak melempar sumpah serapah dan seruan kasar pada Zourist. Namun gadis itu tak peduli. Ia menatap Mading dan membelalakan matanya melihat gambar dirinya yang menaiki kora-kora. Gambarnya sangat jelek. Rambut Zourist disana tampak seperti singa. Ekspresi wajahnya pun sangat menggelikan pantas saja ia jadi bahan candaan. Ada tulisan dibawah photonya : Aku gila dan aku bangga! "Ini siapa anjir yang nyebar?" Gumamnya bertanya-tanya. Zourist buru-buru merobek gambarnya dengan wajah merah padam. "Ini siapa yang nyebarin ini woy?" Tanya Zourist menyeru. Karena semua diam Zourist menyeru lebih keras. "SIAPA WOY, HAYO BAKU HANTAM SAMA GUE!" "Gue, emang kenapa?" Zaidan berjalan kearah sana dengan kedua tangan menyelip pada suka celana abunya. Lelaki itu tersenyum miring. Zourist melolotkan matanya. Ia berjalan mendekati Zaidan sontak lelaki itu mundur. Terus mundur saat Zourist kian mendekat. Bahkan mereka kini sudah jadi bahan tontonan orang banyak namun Zourist tetap menyudutkan Zaidan sampai tembok. Gadis itu menekan sebuah tangannya pada tembok lalu berbisik, "Jangan cari gara-gara sama gue. Gue gak suka." Desisnya menusuk lalu ia mundur lagi dan melenggang pergi. Sebelumnya Zourist sempat mengacungkan jari tengahnya pada Zaidan. Tatapan Zourist tak sengaja bertemu dengan Lizard yang sudah mengeraskan rahangnya. Ada apa dengan lelaki itu? Zourist berjalan menuju ruang kelas XI-IIS 4. Gadis itu membuka pintu lalu mengedarkan pandangannya seolah mencari tempat duduk. Sampai ia mendekati bangku paling depan pojok kiri dan menghentakan tangannya kesana. "Lo cabut gue mau duduk sama Udin!" Sita, si gadis berkacamata itu mendadak gelagapan mendengar ucapan Zourist. "Tt---terus aku duduk dimana Zou?" "Lo duduk sama Kamila." Balas Zourist datar lalu Sita mengangguk dan berjalan pergi menuju bangku Kamila. Kamila mendadak berdecak tak suka melihat si cupu Sita berdekatan dengannya. Si gadis songong itu jengah, "Zou kenapa nggak lo aja yang duduk sama gue? Lo ada masalah sama gue?" Tanya Kamila baik-baik walau dirinya geram saat Zourist menatapnya sinis. "Nggak ada. Males aja gue deketan sama lo, udah bosen soalnya." Balas Zourist menyeletuk. Ia berkata seperti ini tak maksud melukai hati Kamila tapi memang pada dasarnya Zourist harus bersikap begini. Mendorong Kamila menjauh dari hidupnya karena nanti di masa depan Kamila akan ikut merusak hidupnya juga. Zourist di kehidupan pertama dulu sangat nakal. Selain suka mabuk-mabukan ia juga pernah mencoba ganja dan obat-obatan narkoba akibat hasutan Kamila. Zourist ingat dulu bagaimana ia sekarat di RS akibat memakan obat yang langsung menyerang tubuhnya sampai mulutnya berbusa. "Selamat pagi anak-anak." Bu Nadin, si guru Ekonomi memasuki kelas. Mengalihkan Kamila dari rasa kesalnya pada Zourist yang kini sangat sombong padanya. "Pagi Bu Nadin." Balas seluruh siswa serempak. Lalu Bu Nadin duduk dan membuka pelajaran sebelum menuju materi inti, wanita itu menoleh pada Zourist yang sedang memakan Marsh mellow nya. "Tumben kamu masuk pelajaran saya, Zourist?" Zourist menghentikan acara makannya lalu menatap guru itu, "Hmm proses perbaikan. Alfa saya sudah terlalu bejibun." Bu Nadin tersentak tak percaya begitu pula dengan beberapa murid lainnya. Zourist melanjutkan memakan cemilannya. Lalu Bu Nadin pada akhirnya memberikan materi. Setidaknya ia bersyukur Zourist mau hadir di mapel-nya yah walau pun gadis itu tidak sama sekali menyimak malah asik-asikan makan dan mengecat kukunya. Satu kemajuan untuk Zourist. *** Lonceng bel istirahat berbunyi. Zourist masih dengan bahu naik turun karena tidur pulasnya dengan kepala terdampar diatas meja. Karena kebisingan di sekitar perlahan Zourist membuka matanya. Ia mengerjap dan melihat kelas hampir kosong hanya ada Udin yang sedang menikmati bekalnya. Udin itu si lelaki cupu yang tidak pernah pergi ke kantin, pernah satu kali waktu itu tapi membuatnya terpukul. Ia di ejek oleh para anak-anak sekolah. Udin di bully habis-habisan. Mungkin karena ia jelek dan bertompel besar pada pipinya, ia juga kribo dan bau. Yang paling utama Udin ini miskin. Lelaki itu bisa bersekolah di Werzone High School karena kepintarannya, ia jalur beasiswa sampai tamat. "Itu lo makan apa? Kaya kambing." Celetuk Zourist menunjuk kangkung tumis yang Udin makan. Ucapannya itu membuat Udin menunduk pilu. "Eh, gue salah ngomong yah? Gue minta maaf deh." "Mm---minta maaf?" Udin terbata tak percaya. "Iya sebagai tanda perminta maafan gue, gue traktir lo deh makan sepuasnya di kantin." Udin langsung menggeleng namun Zourist anti penolakan. Gadis itu menarik tangan Udin pergi keluar kelas saat melewati koridor sekolah banyak anak-anak yang menganga tak percaya. Tangan Udin dan Zourist bertautan sampai menuju kantin. Bahkan anggota geng Starkers pun nyaris menjatuhkan rahang mereka. Udin terus menunduk takut. Zourist membawanya menuju bangku kosong. Ia berdecak melihat tubuh Udin yang sudah bergetar, "Jangan lemah. Selagi masalah lo gak nyampe tahap pembunuhan jangan langsung kena mental." Udin hanya mengangguk. "Btw gue lebih dari lo. Lo mah cuma dapet pelototan aja udah ketir." Zourist terkekeh remeh mengingat kejadian ia dijatuhkan dari Rooftop. "Zourist biar aku yang pesenin makanan." Zourist mengangguk, "Yaudah deh. Tadinya gue mau panggil Ibu kantin. Gue mau pentol extra pedas sama jus alpukat." Udin mengangguk dan melenggang pergi. Zourist mengaktifkan handphonenya. Lalu membaca cerita di salah satu Aplikasi sembari menunggu Udin datang. "Bro ini kenalin namanya Trisya dia adiknya ipar gue." Sadewa si anak inti Stakers membawa seorang gadis polos menuju bangku anak Starkers. Zourist yang mendengar nama itu langsung menoleh kesana. Trisya adalah siswi pindahan dari kota Surabaya dan ia masih duduk di bangku kelas X jurusan MIPA-2. Ia tergolong siswa cukup pintar dan selalu mengikuti Olimpiade tiap tahunnya. "Hai kakak-kakak nama aku Trisya." Si gadis polos itu menjabat tangan satu persatu anak Starkers lalu jabatan terakhir jatuh pada Lizard. Zourist semakin memfokuskan pandangannya kearah sana. Ini awal pertama kali Lizard dan Trisya bertemu. Awal Lizard tertarik pada gadis polos itu dan berlanjut Lizard mengejarnya. Dan pada akhirnya Trisya punya anak dari Lizard. Itu yang ada dalam pikiran Zourist. Tapi saat melihat sikap Trisya dan Zourist teliti lagi dia memang Polos dan penakut. Berdampingan dengan Lizard si pemaksa dan posesif. Zourist mulai berpikir mungkin disini ada unsur pemaksaan. Bisa jadi Trisya adalah korban obsesi Lizard. Yah obsesi. "Nama gue Lizard salam kenal." Bisik Lizard tersenyum tipis dengan mata yang melirik pada Zourist, gadis yang sedari tadi terus memandanginya. Itu senyuman yang dari dulu Zourist harapkan tapi dari dulu Zourist tidak pernah mendapatnya. Jangankan hati Lizard, senyum dan tawanya pun tak pernah Zourist dapat. Dengan d**a sesak Zourist mengusap air matanya yang menetes sedikit pada sudut matanya. Ia harus bisa move on disini. Merubah masa depannya agar tidak berakhir mengenaskan. "Tumben tuh cewek lo gak main labrak?" Tanya Sadewa berbisik. Lizard tersenyum sinis, "Dia lagi drama biarin aja nanti juga bosen sendiri." Udin datang dengan mapan berisikan pesanan Zourist dan makanannya juga. Lelaki itu berjalan sangat hati-hati namun tiba-tiba Baskara menjulurkan kakinya membuat Udin tersungkur saat melewat kesana. BRAK! BRUK! Seisi kantin tertawa bahkan geng Starkers pun. Baskara tertawa paling kencang. Zourist mengebrak meja. "UDIN!" Tangan Udin hampir melepuh akibat kuah bakso panas, ia juga berdarah karena pecahan beling. Zourist menuju kearahnya Udin menahan tangis sebisa mungkin, "Zz-zourist maafin Udin..." "CUPU LO, MAU BY ONE SINI SAMA GUE!" Zourist menghentak kasar, mengangkat kakinya pada kursi Baskara dan mencengkram dasinya dengan kasar. Sontak tawa langsung lenyap. Anggota Starkers langsung menganga. Zourist mode singa karena kemarahannya. Semua orang tak percaya Zourist semarah itu karena membela Udin. "MINTA MAAF SAMA UDIN SEKARANG!" Bentak Zourist. "Kalau gue gak mau?" Tanya Baskara. "Oke gak papa." Zourist tersenyum sinis lalu ia mengangkat kakinya menendang selakangan Baskara dan membuat kursi lelaki itu jatuh. "Argh," Baskara mengerang ia berdiri kembali dibantu anak geng-nya. Seisi kantin semakin tak percaya. Zourist membantu Udin berdiri saat berniat pergi tiba-tiba Trisya berkata, "Maaf bukan bermaksud aku lancang. Tapi kamu udah keterlaluan sama kak Bas, padahal dia cuma bercanda tadi. Harusnya kamu bisa lebih menghormati kakak kelas." Sontak Zourist menoleh ia mendekat dengan buas membuat Trisya membatu. Zourist berbisik, "Oke nanti gue buat lo ada di posisi Udin dan gue jadi Baskara nya nanti. Kita liat sejauh mana lo mental lo bertahan!" Trisya langsung ketakutan. Sebelum pergi Zourist sempat menarik rambut Trisya dengan senyuman miring. Namun tiba-tiba Lizard menarik lengannya dan mencengkramnya kuat. "Lo udah keterlaluan Zou, sini!" Gadis itu hanya diam dan pasrah dengan tenaga Lizard yang menyeretnya keluar kantin menuju gudang belakang sekolah. Tangan Zourist semakin sakit, langkahnya tergopoh-gopoh. Brughh! Zourist meringis saat punggung terbentur tembok. Ia merasakan kini pinggangnya yang dicengkeram. Nafas Lizard memburu, kening mereka menyatu. "Kenapa lo semakin berprikesetanan? Lo pikir lo keren hah?" "Bisa jauhan dikit gak?!" Zourist menyeru lalu mendorong Lizard kuat. Ia menepuk tangannya seolah sedang membersihkan debu. "Gue bosen sama lo Lizard." Lizard membelalak. Bahkan Zourist tidak menggunakan kosa kata Aku-kamu lagi. "Gak jadi aja deh rencana tunangan kita hehe. Gue udah gak tertarik sama lo. Pas waktu itu gue ngejar lo gue gabut." Zourist cengengesan dengan ekspresi lugu. Lizard mengeraskan rahangnya. "Em biar lo gak pusing gue persingkat aja. Intinya gue gak cinta tapi gue nafsu doang. Nafsu mau milikin dan nguasain lo. Lupain aja sikap gue yang lalu." Zourist tersenyum lebar lalu berniat pergi namun Lizard menariknya dan menghimpitnya kembali. "Nafsu?" Lizard mengulang kata itu sampai beberapa kali. Sampai Zourist merinding sendiri. Lalu perlahan lelaki itu tersenyum culas, "Sama kok hari ini gue juga jadi nafsu sama lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD