Silvi menunjukkan catatannya pada Nina dengan mata berkaca-kaca. Nina menerimanya dan melihat dengan teliti.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin Ukhti, tapi tetap saja catatanku dibuang tanpa dilihat terlebih dahulu," isaknya.
"Catatanmu sudah bagus kok, lengkap. Ada dalilnya, ada haditsnya, malah ada catatan perawi hadits selengkap ini. Kok bisa Dosenmu tak mau memeriksanya terlebih dulu?" tanya Nina, heran.
"Itu yang aku bingung Ukhti, aku tidak akan dapat nilai di semester ini kalau catatanku tidak dievaluasi," jawab Silvi, pilu.
Hasil kerja keras wanita itu diremehkan begitu saja dan bahkan tidak dilihat sama sekali. Padahal dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bagaimana Silvi berjuang sampai terlambat tidur berhari-hari dan lupa makan. Demi catatan yang lengkap dan baik! Sekarang apa? Hasil yang di dapat sahabatnya hanyalah airmata ketakutan karena takkan dapat nilai tanpa evaluasi catatan.
Nina menarik lengan Silvi untuk keluar dari rumah pondok. Ia menuntun tangan wanita itu menuju ke gedung kampus. Mereka berjalan berdua dan masuk ke dalam ruang Dosen yang masih ramai.
"Assalamu'alaikum," ujar Nina.
Reza mendongakkan kepalanya saat mendengar suara Nina dari balik bilik batas dalam ruangan itu.
"Wa'alaikum salam," jawab semua Dosen yang ada di ruangan itu.
"Ada perlu apa Ukhti?" tanya Rima - Dosen jurusan Ekonomi.
"Saya ingin bertemu dengan Ibu Sulham, Bu. Apakah Ibu Sulham ada?" tanya Nina.
Silvi hanya diam mengikuti langkah Nina.
"Bu Sulham, ada yang mencari," panggil Rima.
Sulham pun keluar dari biliknya dan menemui Nina serta Silvi.
"Ada apa?" tanyanya, angkuh.
Reza memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh kedua mahasiswi tersebut.
"Afwan Bu, saya mau mengantar Ukhti Silvi menemui Ibu. Ukhti Silvi mengatakan pada saya bahwa Ibu tidak mau memeriksa catatannya dan malah melemparnya begitu saja tanpa Ibu periksa," ujar Nina, sopan.
"Oh ya? Lalu kenapa kalau saya tidak mau melihat catatannya?" tanya Sulham.
Semua Dosen keluar dari bilik mereka masing-masing dan menatap Ke arah Sulham. Nina mendorong Silvi untuk mundur, sementara ia melangkah maju ke hadapan Dosen itu.
"Astaghfirullah Bu, teganya Ibu bertanya seperti itu pada Ukhti Silvi. Apa Ibu tahu bagaimana perjuangannya untuk mengerjakan catatan ini sesuai dengan yang Ibu mau? Apa Ibu tahu kalau dia selalu tidur terlambat demi catatan ini? Apa Ibu tahu kalau dia juga sering lupa makan demi catatan ini? Dan Ibu dengan tega menyatakan bahwa Ibu memang tak mau memeriksanya? Apa Ibu tidak merasa keterlaluan?" tanya Nina, yang merasa marah akan sikap Sulham.
Sulham menatap Nina.
"Saya memang tidak mau melihat catatannya, dan bahkan saya tidak mau dia mendapat nilai dalam mata kuliah saya! Orang yang cuma mengandalkan beasiswa macam dia itu harusnya disingkirkan. Cuma buang-buang uang Yayasan saja kalau terus mengurusnya," jawab Sulham dengan sinis.
"Astaghfirullah Bu Sulham! Apa maksud anda?" tanya Dosen lain.
"Oh..., ayolah, masa kalian tidak mau mengakui. Dia ini tidak pintar, hanya karena dia yatim piatu saja makanya dia diberi beasiswa oleh Yayasan. Apa prestasinya?" tanya Sulham, mengejek.
Nina mengepalkan tangannya erat-erat, Reza melihat hal itu dan mendekat padanya.
"Sudah Ukhti Nina, kita akan cari jalan agar ini diselesaikan," bujuk Reza.
"Tidak Pak!" tegas Nina.
Ia kembali mendekat pada Sulham dan memperlihatkan buku milik Silvia yang ada ditangannya.
"Ibu mau periksa catatan ini di sini sekarang, atau Ibu akan memeriksanya di hadapan kepala Yayasan?" ancam Nina.
"Apa kamu bilang? Kamu mengancam saya? Memangnya kamu siapa sehingga berani mengancam saya seperti itu?" tanya Sulham, menantang.
"Baik kalau Ibu tidak mau memeriksanya di sini. Saya akan bawa hal ini pada ketua Yayasan sekarang juga!" ujar Nina.
Ia melewati Reza tanpa mengatakan apapun, tangannya menarik Silvi menuju keluar dari gedung kampus menuju ke rumah Ummi Kalsum. Sulham menatapnya.
"Dasar anak kecil tidak tahu diri! Dia pikir bisa melawan saya dengan mudah? Cih!!!" ujarnya keras-keras.
Seseorang keluar dari balik bilik kerja Sulham, semua orang menatapnya.
"Jadi bagaimana Bu? Saya akan ada di peringkat pertama di kelas Ibu kan?" tanya Rika.
Reza menatap mahasiswi itu dengan tatapan tak percaya. Betapa kotornya permainan yang dia mainkan sehingga harus mengorbankan orang lain. Lukman - Dosen mata kuliah Hukum - pun mendekat pada Reza.
"Begitulah kotornya Bu Sulham selama bertahun-tahun, tapi kami tidak berani mengadu pada ketua Yayasan. Kami takut dituduh memfitnah," bisiknya.
* * *
Ummi Kalsum memeluk Silvi dengan erat dan membiarkannya menangis sepuasnya. Abah Adi mendengarkan penjelasan Nina yang bahkan membawakan bukti catatan milik Silvi untuk diperiksa.
"Catatannya bagus, kok bisa Bu Sulham tidak mau memeriksanya?" Abah Adi merasa heran.
"Saya pun merasa begitu pada awalnya Bah, hingga saya membuktikan sendiri kalau Bu Sulham tidak mau memeriksa catatan itu dan bahkan tidak ingin melihatnya," jawab Nina.
Ummi Kalsum mengusap kepala Silvi dengan lembut.
"Sudah Ukhti Silvi, Insya Allah semua ini akan ditangani dengan baik oleh saya dan Abah," bujuk Ummi Kalsum.
"Tapi Mi, saya ini hanya penerima beasiswa. Beasiswa saya bisa dicabut jika melawan pada Bu Sulham Mi," Silvi tak mampu menahan kegelisahan hatinya.
"Tenang Ukhti, siapa yang mau mencabut beasiswamu? Kenapa jadi bawa-bawa masalah beasiswa?" tanya Ummi Kalsum, heran.
"Karena Bu Sulham mengatakan demikian Mi, dia bilang bahwa Ukhti Silvi hanya penerima beasiswa jadi tidak pantas untuk mendapat nilai bagus. Ummi boleh tanya sendiri pada para Dosen lain. Mereka menyaksikan Mi," jelas Nina.
"Astaghfirullah hal 'adzhim! Keterlaluan!" Abah Adi marah dalam diamnya.
Tok..., tok..., tok...!!!
"Assalamu'alaikum...," suara Sulham terdengar di luar rumah.
Ummi Kalsum segera meminta Nina dan Silvi masuk ke dalam kamarnya. Abah Adi menyembunyikan buku tersebut di balik bantal sofa.
"Wa'alaikum salam...," jawab mereka.
Pintu rumah terbuka, Sulham tersenyum pada Ummi Kalsum saat melihat sosoknya.
"Bu Sulham, mari masuk," ajak Ummi Kalsum.
Bu Sulham pun masuk dan duduk di sofa yang berseberangan dengan Abah Adi. Ummi Kalsum sendiri duduk di samping Abah.
"Ada apa Bu Sulham?" tanya Abah Adi.
"Begini Bah, saya mau menyarankan nama untuk penerima beasiswa di kelas saya. Ini adalah daftar yang sudah saya buat beserta keterangan lengkap tentang prestasinya," jawab Bu Sulham, seraya menyerahkan beberapa lembar kertas.
Abah Adi mengambil kertas itu lalu membacanya sekilas.
"Di kelas Bu Sulham sudah ada Ukhti Silvi Ramadhani dan Akh Ibrahim Rifa'i yang menerima beasiswa, untuk apa mengajukan lagi?" tanya Ummi Kalsum.
"Begini Ummi, mereka berdua tidak terlalu berprestasi seperti dua orang yang saya ajukan itu. Kemampuan mereka jauh di bawah rata-rata, sehingga saya rasa mereka tidak pantas untuk mendapat beasiswa," jelas Sulham, percaya diri.
Abah Adi terkekeh. "Tahu apa Bu Sulham tentang pantas dan tidak pantas?" tanyanya.
Bu Sulham hanya tersenyum salah tingkah.
"Prestasi seperti apa yang Bu Sulham maksud?" tanya Abah Adi lagi.
Bu Sulham menatap Abah tanpa menjawab.
Abah melihat catatan milik Rika yang ada di dalam berkas tadi, lalu mengeluarkan catatan milik Silvi yang disimpannya di balik bantal sofa. Ia menyodorkannya di atas meja.
"Ini buktinya, catatan milik Ukhti Silvi isinya lebih bagus, lengkap, tersusun rapi dan bentuknya struktural. Dia bahkan menambahkan perawi hadist dalam catatan itu, hal yang seharusnya tidak perlu ia lakukan," ujar Abah Adi, tenang.
Ummi Kalsum menatap Sulham sambil tersenyum di balik niqob-nya.
"Assalamu'alaikum," ujar Reza yang datang ke rumah itu.
"Wa'alaikum salam Akh Reza, silahkan masuk," sambut Abah adi, senang.
Reza pun masuk ke dalam rumah itu, Sulham menatapnya sekilas.
"Ada apa Akh Reza?" tanya Ummi Kalsum.
"Ini Mi, saya mau menyerahkan buku catatan milik Akh Ibrahim yang dibuang ke dalam tempat sampah oleh Bu Sulham pagi ini," jawab Reza seraya menyerahkan buku tersebut.
Sulham kali ini benar-benar menatapnya.
"Apa maksud Pak Reza? Bapak ingin memfitnah saya?" tanya Sulham, menantang.
Reza mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Ia pun memutarkan video rekaman CCTV di hadapan Abah Adi dan Ummi Kalsum.
"Astaghfirullah Bu Sulham!!! Apa-apaan ini? Anda mengajukan dua nama untuk menggantikan dua orang penerima beasiswa dengan cara curang seperti ini? Saya pikir hanya Ukhti Silvi korbannya, ternyata Akh Ibrahim pun menjadi korban juga?" tanya Ummi Kalsum
"Sungguh perbuatan anda tidak dapat ditoleransi lagi! Mulai besok anda tidak perlu datang lagi ke kampus, anda akan digantikan oleh Dosen lain!" putus Abah Adi.
Sulham pun segera angkat kaki dari rumah itu, ia merasa sangat dipermalukan dengan adanya bukti-bukti yang konkret atas perbuatannya. Ummi mengeluarkan Nina dan Silvi dari dalam kamarnya. Silvi kembali menangis di pelukan Ummi Kalsum.
"Syukron Ummi, syukron...," ungkap Silvi dengan sepenuh hati.
Reza terpaku di tempatnya saat tahu bahwa Nina juga ada di rumah itu, ia berpura-pura membereskan laptopnya agar wanita itu tak tahu kalau ia ikut membantunya. Namun terlambat, Nina mendekat padanya.
"Pak Reza," panggilnya.
Reza pun berbalik tanpa menatapnya.
"Syukron," ungkap Nina.
* * *