EPISODE 5 - TEDUH

1144 Words
Dimas menatap Ibrahim yang sedang mencari lembaran kertas berisi materi yang telah ditulisnya tadi pagi. Hanya tinggal beberapa menit sebelum acara majelis dakwah dimulai di masjid. "Ketemu Akh?" tanya Dimas yang baru saja masuk. "Belum Akh, ini masih kucari," jawab Ibrahim, panik. "Coba berhenti dulu Akh, lalu pikirkan lagi di mana terakhir Akh melihat kertas itu," saran Dimas. Ibrahim mencoba dengan keras untuk memikirkan di mana terakhir kali ia melihat kertas tersebut. Namun yang muncul di kepalanya adalah wajah Abah Adi yang sedang marah. Ia membuka matanya dan menatap Dimas. "Ingat?" tanya Dimas. Ibrahim menggelengkan kepalanya. "Lalu yang terbayang dikepalamu itu apa?" Dimas kebingungan. "Wajah Abah..., Murka!" jawab Ibrahim, polos. PLAKKK!!! "Kamu itu masih muda Akh Ibrahim, kok bisa pikun seperti ini?" tanya Dimas, gemas. Ibrahim hanya bisa tersenyum malu. Di masjid, kericuhan terjadi karena pembawa materi dakwah malam itu tidak muncul sehingga jadwal yang sudah dibuat menjadi berantakan. Para Guru-Guru Madrasah dan juga Dosen-Dosen Universitas hanya diam saja di barisan paling belakang. Mereka berpikir bahwa kericuhan yang terjadi itu bukan urusan mereka. "Bagaimana ini? Abah pasti marah kalau jadwal benar-benar berantakan malam ini," risau Sarifa. "Inikan tugas para Ikhwan, kita harus ikut campur atau bagaimana?" tanya Dhiba, meminta pertimbangan. Nina pun bangkit dari duduknya, lalu menatap ke arah para sahabatnya. "Ayo, niat baik membantu jangan hanya dimulut," ajaknya. Dhiba dan Sarifa tersenyum lega, Silvi mengekori mereka bertiga menuju ke depan. Nina naik ke mimbar, sementara Dhiba, Sarifa dan Silvi menyiapkan materi untuknya. Fikri melihat hal itu dan langsung berlari menuju rumah pondok santri. "Akh Ibrahim..., Akh Dimas!!!" serunya dengan nafas terengah-engah. Mereka berdua berbalik. "Ukhti Nina naik ke mimbar menggantikan Akh Ibrahim," ujarnya. Nina membetulkan microfone di hadapannya. "Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," Nina membuka ceramah malam itu. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawaban serempak dari semua orang yang hadir di masjid malam itu. "Allahumma sholi 'ala Muhammad, wa 'ala ali syaidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in, amma ba'du. Robbishrohlii shodrii wa yassir lii amrii wahlul 'uqdatam mil lisaanii yafqohuu qoulii." Reza menatap Nina untuk pertama kalinya ketika berada di mimbar. Sebelumnya, Nina tak pernah terlihat di sana. Dhiba memberikan selembar kertas pada Nina, wanita itu menerimanya seraya tersenyum. "Afwan atas keterlamabatannya malam ini. Di karenakan Akh Ibrahim Rifa'i sedang ada halangan untuk hadir di mimbar malam ini maka saya akan menggantikannya," jelas Nina. Ibrahim, Dimas dan Fikri masuk ke dalam masjid. Mereka pun duduk bersama jama'ah pria lainnya. "Malam ini saya akan membawakan materi tentang hijrah. Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, menjauhkan, dan berpindah tempat. Dalam konteks sejarah, hijrah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam bersama para sahabat beliau dari Mekkah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah berupa akidah dan syari'at Islam," jelas Nina. Ibrahim memperhatikannya, ia sangat bersyukur bahwa Nina bisa menggantikannya malam itu. "Dengan merujuk kepada hijrah yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam tersebut sebagaian ulama ada yang mengartikan bahwa hijrah adalah keluar dari 'darul kufur' menuju 'darul Islam', atau dengan kata lain keluar dari kekufuran menuju keimanan." Reza memperhatikan dengan baik bagaimana cara Nina menyampaikan materi. Wanita itu menggunakan cara yang menarik perhatian para jama'ah pada materinya. "Umat Islam wajib melakukan hijrah apabila diri dan keluarganya terancam dalam mempertahankan akidah dan syari'ah Islam. Perintah berhijrah terdapat dalam Al-Qur'an, yaitu Innalladziina aamanuu walladziina haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi ulaaa'ika yarjuuna raḥmatallaah, wallaahu gafuurur raḥiim..., yang artinya, sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Sarifa memberikan kertas selanjutnya untuk Nina. "Pada ayat tersebut, terdapat kandungan yang dapat kita petik. Pertama, hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengharap rahmat dan keridhaan Allah. Kedua, orang-orang beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu'min sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, memperoleh keberkahan rezeki atau nikmat yang mulia, dan kemenangan di sisi Allah. Ketiga, hijrah dan jihad dapat dilakukan dengan mengorbankan apa yang kita miliki, termasuk harta benda, bahkan jiwa," jelas Nina. Seorang santri dari barisan tengah jama'ah pria mengangkat tangannya. "Ya, silahkan Akh...," Nina memberi waktu. Reza tersenyum melihat betapa apiknya cara Nina saat berada di mimbar. "Apakah ada dalil lain dalam Al-Qur'an yang merujuk pada materi yang Ukhti bawakan?" tanyanya. Ibrahim menatap orang itu, ia benar-benar berharap Nina tidak kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Tentu saja ada Akh..., dalam surat Al Anfal ayat tujuh puluh empat di sebutkan, walladziina aamanuu wa haajaruu wa jaahaduu fii sabiilillaahi walladziina aawaw wa nasharuu ulaaa'ika humul-mu'minuuna ḥaqqaa, lahum magfiratuw wa rizqung kariim. Yang artinya, dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan nikmat yang mulia. Apakah sudah jelas Akh, jawaban dari saya?" Nina bertanya kembali. "Sudah jelas Ukhti, syukron," jawabnya. Dari barisan santriwati ada lima orang yang mengangkat tangannya. Nina tersenyum di balik niqob-nya. "Wah, banyak sekali yang mau bertanya, saya akan memilih satu di antara kalian ya," ujar Nina. "Yang baju kuning," bisik Silvi. "Silahkan Ukhti yang berbaju kuning," Nina menunjuknya. Wanita berbaju kuning pun mengambil microfone yang diserahkan padanya. "Ukhti Nina, saya mau bertanya tentang makna hijrah. Apakah itu makna hijrah?" tanyanya. "Baik Ukhti syukron atas pertanyaannya, saya akan menjawab pertanyaan tersebut. Makna Hijrah..., banyak orang yang sering menyebut-nyebut tentang hijrah tanpa tahu apa makna sebenarnya. Makna hijrah menurut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Al-Bukhari, yaitu, 'orang-orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah subhanahu wa ta'ala'. Sedangkan dalam buku berjudul 'Bekal Berhijrah Menuju Allah' oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah, hijrah di jalan Allah berarti juga menyerahkan jiwa sepenuhnya pada setiap masalah keimanan, bisikan hati atau hukum terhadap berbagai kasus kepada sumber petunjuk dan pusat cahaya yang tercermin dalam setiap kata yang keluar dari mulut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam." Nina menatap ke arah wanita berbaju kuning tadi. "Bagaimana Ukhti? Apakah sudah cukup jawaban dari saya?" tanya Nina. "Cukup Ukhti Nina, syukron," jawabnya. "Baiklah, karena waktu membatasi kita, saya akan akhiri penjelasan saya malam ini. Insya Allah selanjutnya tidak akan ada kesalahan lagi dalam jadwal. Mohon diperbaiki lagi jadwalnya, bagi penanggung jawab hari ini. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Nina. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh." Ibrahim bernafas lega karena Nina benar-benar tak menyalahkannya sama sekali karena jadwal berantakan malam itu. Reza mendekat pada Abah Adi yang memanggilnya. "Kamu sudah lihat bagaimana Nina malam ini?" tanyanya. "Sudah Bah, dia bagus sekali dalam menyampaikan materi," jawab Reza, jujur dan kagum pada saat bersamaan. "Ya, begitulah dia sebelum memiliki luka di hatinya," ujar Abah Adi. Reza pun terdiam. * * * Q.S. Al – Baqarah : 218
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD