EPISODE 1 - SEBUAH DINDING

972 Words
Pesantren Al-Munawarah 2020 "..., Ikhlas adalah amaliyah hati yang tingkatannya sangat tinggi. Ikhlas ini berkaitan dengan amaliyah dzahir manusia. Berbeda dengan sabar, yang mana sabar adalah sifat menerima atas suatu ketetapan, ketentuan dan sesuatu yang mengenai dirinya," ujar Dhiba, salah satu santriwati senior. Santriwati yang ada di dalam ruangan itu pun mencatat apa yang Dhiba katakan untuk dipelajari kembali saat ujian nanti. "Ikhlas justru sebaliknya, yaitu baru akan terlihat setelah terjadinya suatu amal. Orang yang ikhlas dalam beramal adalah mereka yang merasa seakan-akan tidak melakukan amal itu. Jika di analogikan, ikhlas itu bekerja tanpa minta upah. Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi, beramal karena mengharap surga itu masih belum termasuk ikhlas, sebab dalam amalnya masih mengharap sesuatu, yaitu surga." Silvi dan Sarifa masuk ke dalam ruangan itu lalu duduk di sebelah Nina yang menjadi rekan Dhiba sore itu. "Namun bukan berarti beramal karena mengharap surga dan takut neraka itu tidak baik. Menurut Imam Al Ghozali, beramal karena mengharap surga itu hukumnya sah dan bagus serta berfaedah diterimanya suatu amal. Dalam Al-Qur'an disebutkan, Wa maaa umiruuu illaa liya'budullaaha mukhliṣiina lahud-diina ḥunafaaa'a wa yuqiimush shalaata wa yu'tuz-zakaata wa dzaalika diinul-qayyimah..., yang artinya padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan Ikhlas menaatinya semata-mata karena menjalankan agama." Dhiba membetulkan letak microfone yang ia pegang. "Dari arti ayat tersebut menunjukkan bahwa betapa tingginya derajat sifat ikhlas. Dengan ikhlas, semua orang dengan profesinya masing-masing telah menjadi seorang yang bersih hatinya. Jika ia adalah seorang pedagang maka akan menjadi pedagang yang baik dan jujur. Jika ia adalah seorang petani maka akan menjadi petani yang baik. Jika ia adalah seorang pejabat maka akan menjadi pejabat yang baik," lanjut Dhiba. Dhiba meminta Nina mengingatkannya tentang waktu. Nina hanya menjawab dengan isyarat tangannya pada Dhiba. "Imam Al - Ghazali Rahimahullah berkata, 'semua manusia akan rusak, kecuali manusia yang berilmu. Semua manusia berilmu akan rusak, kecuali yang mengamalkan ilmunya. Semua manusia berilmu yang mengamalkan ilmunya akan rusak, kecuali yang ikhlas dan orang-orang yang ikhlas pun masih dalam keadaan kekhawatiran yang besar.' Dari ungkapan tersebut menunjukkan bahwa semua ilmu dan amal akan sia-sia jika didalamnya tidak ada sifat ikhlas. Ilmu dan amal itu tidak dapat dibanggakan." Seorang santriwati mengangkat tangannya. "Ya..., silahkan bertanya Ukhti," Dhiba memberi waktu. "Apa hakikat dari ikhlas?" tanyanya. Dhiba tersenyum. "Pertanyaan yang bagus Ukhti..., jadi, menurut Imam Al-Ghazali, sifat ikhlas mempunyai prinsip, hakikat dan kesempurnaan. Prinsip ikhlas yaitu niat, karena di dalam niat itu sendiri ada sebuah keikhlasan. Lalu apa itu hakikat ikhlas? Hakikat ikhlas yaitu kemurnian suatu niat dari kotoran-kotoran yang mencampurinya, jadi di dalam keikhlasan tersebut tidak akan trenodai oleh hal-hal buruk yang akan mempengaruhi keikhlasan. Terakhir..., kesempurnaan ikhlas yang artinya adalah sebuah kejujuran," jelas Dhiba ketika menjawab pertanyaan santriwati tersebut. Waktu telah habis, dan Nina telah memberikan tanda pada Dhiba untuk mengakhiri pertemuan hari itu. "Baiklah, sekian dulu materi untuk hari ini, jangan lupa dihafalkan untuk bahan ujian akhir kalian. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Dhiba. "Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh santriwati yang hadir. Mereka semua membubarkan diri, Dhiba turun dari mimbar dan bergabung dengan sahabat-sahabatnya. "Assalamu'alaikum Ukhti Silvi dan Ukhti Sarifa..., kalian berdua dari mana saja sehingga terlambat datang kemari?" tanya Dhiba seraya tersenyum. "Wa'alaikum salam Ukhti Dhiba..., afwan, kami baru saja selesai bertemu Dosen untuk jadwal bimbingan. Makanya kami sampai terlambat," jawab Silvi. "Baiklah tidak masalah, Ukhti Nina membantu saya hari ini saat kalian tidak ada," ujar Dhiba. Nina hanya tersenyum sambil membereskan buku-bukunya. Sarifa mendekat dan merangkulnya. "Ukhti Nina..., syukron karena telah menggantikan kami. Apakah ada tugas Ukhti yang bisa kami bantu?" tanyanya. Nina kembali tersenyum. "Afwan Ukhti Sarifa, tidak masalah. Lagi pula saya juga sedang free hari ini. Alhamdulillah semua tugas saya sudah selesai Ukhti, jadi saya hanya tinggal menghadiri kelas sore saja," jawab Nina. "Ukhti Nina tidak ingin istirahat dulu?" cegah Silvi, khawatir. Nina terdiam di tempatnya. Istirahat? Entah kapan terakhir kali ia ingat untuk beristirahat. Sejak terakhir kali telepon dari keluarganya masuk ke poselnya dua tahun lalu atau sejak ia tak lagi ingin peduli pada apa yang di sebut 'keluarga'. Nina pun tersenyum kembali. "Tidak Ukhti Silvi, saya akan langsung menghadiri kelas sore. Oh ya..., kalau kalian pulang ke rumah pondok jangan lupa makan ya, di meja makan saya sudah siapkan makanan kesukaan kalian tadi sebelum ke sini," jawab Nina, sekaligus mengingatkan sahabat-sahabatnya. Ia pun bergegas keluar dari ruangan itu dan menuju ke kampus untuk menghadiri kelas sore yang ada dalam jadwalnya. Para sahabatnya menatap punggung Wanita itu dengan perasaan tak tega. "Ukhti Nina sangat memaksakan diri," ujar Dhiba. "Dia hanya tak ingin mengingat semua lukanya," ujar Safira. "Tapi masalahnya adalah, apakah tidak ada jalan lain untuk menyembuhkan lukanya?" tanya Silvi. "Ada..., tapi Ukhti Nina sudah mengunci dirinya sendiri. Dia benar-benar menjauhi topik pembicaraan yang menjurus pada masalah itu, sekecil apapun," jawab Dhiba. "Tadi Ummi Kalsum sempat menanyakan keadaan Ukhti Nina sebelum kami sampai di sini. Kami hanya bisa menjawab bahwa keadaan Ukhti Nina masih seperti biasanya..., tertutup," Safira memberitahu. "Kasihan..., dia tak tahu apapun lalu disalahkan begitu saja dan dibuang seakan dia adalah sebuah barang bekas. Keluarganya sangat keterlaluan," geram Silvi. "Ya..., dan sangat tidak manusiawi!" tambah Safira. Ummi Kalsum yang berdiri di balik tirai belakang ruangan itu pun menangis diam-diam. Ia tahu betul bagaimana perasaan Nina meski dua tahun sudah berlalu. Hatinya ikut merasakan sakit, karena ia ikut menjadi saksi saat Wanita itu dihina, disalahkan, dan juga dibuang oleh keluarganya sendiri. 'Ya Allah, dia adalah salah satu yang terbaik yang hamba miliki. Berilah yang pantas untuknya, berilah yang terbaik untuknya. Amiin ya rabbal 'alamiin.' * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD