Nina membuka bukunya sambil menunggu kedatangan Dosen yang akan mengajar di kelas sore itu. Ia kembali membaca semua materi yang sudah pernah dibahas dan dipelajari agar ia selalu mengingatnya. Satu persatu orang mulai berdatangan untuk mengikuti kelas yang sama dengan Nina, mereka duduk di tempat masing-masing yang telah tersedia.
"Nina!" seru seseorang yang tiba-tiba duduk di kursi tepat di hadapannya.
Rika. Salah satu Mahasiswi paling terkenal di Kampus Pesantren itu. Tidak pintar dalam mata kuliah, tapi pintar cari sensasi.
"Nina sayang..., belajar melulu sih? Sekali-sekali ikutlah gabung sama kita-kita, cari kegiatan baru," ajak Rika.
Nina tak menjawab, ia semakin menundukkan kepalanya agar tetap fokus pada buku yang tengah ia baca. Rika pun mulai merasa kesal.
"Heh!!! Kalau ditegur itu jawab!!! Punya mulut nggak???" bentak Rika, keras.
BRAKKK!!!
Sebuah buku tebal melayang ke kepala Rika secara tiba-tiba. Dia meringis kesakitan lalu berbalik dan hendak memaki-maki orang yang berani melemparnya. Namun, saat melihat sosok itu, ia hanya bisa terdiam.
"Keluar kamu dari kelas saya!" perintah Reza, Dosen mata kuliah yang akan mengajar.
"Ma..., maaf Pak..., saya..., hanya... ."
"KELUAR!!!" perintahnya lagi dengan lebih keras.
Rika pun mengambil tas dan buku-bukunya, lalu berjalan keluar dari kelas itu.
"Satu lagi!" ujar Reza.
Rika berbalik ke arah Dosennya itu.
"Kamu saya keluarkan dari kelas ini selama-lamanya! Besok silahkan temui saya di Ruang Dekan!" jelasnya.
Pintu ruang kelas itu di tutup, Reza berdiri di podium depan kelas dan memulai aktivitas sore itu.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," sapa Reza.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang, serempak.
"Maaf atas gangguan yang terjadi tadi sehingga kalian mungkin tidak merasa nyaman. Insya Allah kedepannya hal seperti itu tidak akan terulang kembali. Saya benar-benar tidak akan mengizinkan dia kembali lagi ke kelas ini, apapun alasannya," ujar Reza.
Semua orang tersenyum lega, kecuali Nina yang memang tak pernah melakukan apapun selain belajar, mencatat, memperhatikan penjelasan Dosen, dan menjawab pertanyaan jika ada.
Reza menulis di white board dengan huruf besar. KHAIRU UMMAH.
"Ada yang tahu apa itu Khairu Ummah?" tanya Reza.
Tidak ada yang menjawab, karena mereka baru saja akan mempelajari materi tersebut. Reza tersenyum.
"Tidak masalah jika kalian belum tahu, akan saya jelaskan. Khairu Ummah artinya adalah 'umat terbaik', ini adalah julukan yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala, kepada Generasi Muslimin pertama yaitu para Sahabat Rasulullah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam pun memberikan mereka julukan tersendiri yaitu Khairu Qurun yang artinya adalah 'generasi terbaik'," jelas Reza.
Semua orang di kelas itu mencatat di buku mereka semua penjelasan yang Reza jabarkan.
"Predikat ini selanjutnya diberikan kepada umat yang memiliki karakteristik sifat-sifat seperti yang dimiliki generasi pertama itu. Penilaian Allah atas Khairu Ummah tidak didasarkan pada nilai-nilai material atau keberhasilan-keberhasilan duniawi, seperti penaklukan-penaklukan kota milik musuh atau pengumpulan ghanimah yang melimpah ruah," lanjut Reza.
Nina mencatat tanpa melihat ke arah depan, ia hanya mendengarkan saja seperti biasanya. Reza mengetahui tentang hal ini, dan tetap membiarkan. Ketika tiba-tiba Nina mengangkat tangannya untuk pertama kali di kelas itu, Reza pun memberikannya kesempatan untuk bertanya.
"Ya..., silahkan Nina," ujar Reza.
"Mengapa bisa demikian? Kenapa penilaian itu tidak mencakup penaklukan-penaklukan kota milik musuh? Bukankah dengan penaklukan kota-kota itu menandakan tersebar luasnya Islam pada saat itu?" tanya Nina.
Reza tersenyum mendengar pertanyaan itu, ia tidak menyangka bahwa seorang Nina yang selalu membawa 'dinding' dalam hidupnya, kini tiba-tiba membuka celah karena rasa penasarannya.
"Pertanyaan yang bagus Nina..., kamu pasti sering membaca Sejarah Kebudayaan Islam sehingga tahu bahwa penaklukan kota milik musuh menandakan meluasnya ajaran Islam kala itu. Tapi penilaian tentang Khairu Ummah memang berbeda, dan itu tidak mencakup penaklukan-penaklukan kota milik musuh. Karena keberhasilan-keberhasilan material itu tak lain merupakan natijah atau hasil dari kondisi mental spiritual mereka yang unik hasil tempaan murabbi teladan, yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Sudah mengerti dengan jelas jawaban dari saya Nina?" Reza menatapnya.
"Iya Pak, saya sudah mengerti," jawab Nina.
"Baik..., kita lanjutkan. Asy-Syahid Sayyid Quthub dalam 'Ma'alim Fith-Thoriq' menjuluki generasi Muslimin itu sebagai Al-Jiilul-Qur'any Al-Fariid yang artinya adalah Generasi Qur'ani yang unik. Julukan tersebut sangat tepat karena kehidupan individu atau yang disebut juga dengan fardy, keluarga atau yang disebut juga dengan usrah dan masyarakat yang disebut juga dengan mujtama'. Atas dasar ini tidaklah tepat menilai hanif atau tidaknya sebuah gerakan dakwah berdasarkan keberhasilan atau kegagalan material."
Reza menuliskan sebuah ayat di white board, lalu kembali melihat ke arah mahasiswa dan mahasiswinya.
"Wa laa tahinuu wa laa taḥzanuu wa antumul a'launa ing kuntum mu'miniin..., yang artinya dan janganlah kalian merasa hina atau rendah dan jangan pula kalian merasa bersedih. Kalian adalah umat yang paling tinggi, jika kalian benar-benar beriman," tambah Reza.
Ia memberi waktu bagi semua orang untuk menuliskan ayat tersebut di buku masing-masing.
"Ada beberapa karakteristik generasi sahabat, yang merupakan tonggak- tonggak Khairu Ummah. Pertama jujur dan setia akan janji kepada Allah. Kedua tegar dan tak mudah menyerah. Ketiga tidak tergiur atau tergoda dengan kesenangan dunia. Keempat Hubbut-Tathohhur yang artinya adalah cinta akan pembersihan diri. Sekian dulu untuk pertemuan hari ini, mudah-mudahan kita bisa meneladani generasi para sahabat agar kita layak menyandang predikat Khairu Ummah dan menjadi umat yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, amiin. Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Reza seraya membereskan bukunya.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh."
Pria itu meninggalkan kelas dan bergegas menuju ke Pesantren. Kelas itu mulai sepi dan Nina pulang paling akhir setelah selesai dengan catatannya. Abah Adi sudah menunggu kedatangan Reza sejak tadi, mereka pun meminum teh bersama di teras rumah itu.
"Bagaimana? Ada perkembangan?" tanya Abah Adi.
"Hari ini Alhamdulillah ada Bah, Ukhti Nina bertanya satu kali mengenai materi yang saya berikan. Ini benar-benar pertama kalinya setelah satu tahun dia berada di kelas yang saya pandu, dan pertanyaannya sangat berkualitas," jawab Reza.
"Alhamdulillah kalau demikian. Saya dan Ummi selalu mengkhawatirkan keadaan psikologisnya sejak apa yang terjadi dua tahun lalu. Dia benar-benar berubah menjadi pribadi yang tertutup dengan siapapun termasuk sahabat-sahabatnya," jelas Abah Adi.
Reza mendengarkan dengan baik.
"Kalau boleh saya tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Ukhti Nina Bah? Kenapa Abah dan Ummi begitu mengkhawatirkannya?" tanya Reza, yang sudah tak mampu menahan diri dari rasa penasaran.
* * *