Fikri sedang membolak-balikan halaman buku yang tengah ia baca, tangan kanannya mencatat beberapa informasi yang belum ia dapatkan sebelumnya ketika Dosen menjelaskan. Dimas datang dengan setumpuk buku referensi yang di dapatnya dari perpustakaan.
“Susah nyarinya, ini banyak buku kupinjam tapi belum tentu ada yang menyangkut dengan pembahasan tadi,” ujar Dimas.
Ibrahim mengucek-ngucek wajahnya dengan lelah. Ia benar-benar pasrah jika tak menemukan apapun untuk dikumpulkan sore itu. Ia bergegas keluar kelas menuju toilet untuk mencuci mukanya yang kusut. Silvi pun terlihat menyerah dengan semua buku di hadapannya, nasibnya sama persis dengan trio Ikhwan yang duduk tepat di belakangnya.
Tok…, tok…, tok…!!!
“Assalamu’alaikum para calon penghuni surga,” sapa Dhiba, bersemangat.
“Wa’alaikum salam,” jawab semua orang yang ada di kelas itu.
Nina dan Sarifa mengekori langkah Dhiba menuju meja milik Silvi.
“Cari siapa?” tanya Silvi, lemas.
“Cari Ukhti-ukhti yang pernah jadi bintang iklan jamu,” jawab Dhiba, asal-asalan.
Sarifa dan Nina pun mencubit kedua lengan Dhiba dengan gemas. Silvi terkikik geli melihat tingkah Dhiba yang selalu saja kocak di setiap keadaan.
“Kamu kenapa Ukhti? Kelihatannya kurang semangat,” tanya Sarifa.
“Biasa, tugas mencari materi dan akan dikumpulkan dua jam lagi. Tapi materinya belum ketemu,” Silvi merajuk manja di lengan Sarifa yang sudah duduk di sampingnya.
Nina meraih buku milik Silvi dan duduk di sebuah kursi kosong. Sarifa dan Dhiba menatap Silvi dengan serius.
“Kita jadi mau cari bahan makanan untuk isi kulkas, kan?” tanya Dhiba.
“Iya jadi, tapi sudah direncanakan belum mau beli apa saja di pasar?” tanya Silvi.
“Beras,” jawab Sarifa.
Silvi dan Dhiba menatapnya bersamaan.
“Sejak kapan beras ditaruh di kulkas?” Silvi kebingungan.
Sarifa tersenyum malu dari balik niqob-nya, dan meluncurlah tangan-tangan halus namun menyakitkan yang mencubit kedua pipinya. Nina asyik sendiri dengan buku di hadapannya sampai tak menyadari bahwa Sarifa telah menjadi korban kelembutan tangan milik Silvi dan Dhiba. Silvi menatap ke arah Nina pada akhirnya, setelah sadar bahwa Nina tak bersuara sama sekali.
“Ukhti Nina, sedang apa?” Silvi menunggu jawaban.
Nina pun menyerahkan buku catatan milik Silvi.
“Masya Allah! Ukhti Nina menulis ini? Tahu dari mana tentang materi ini?” Silvi terlihat takjub.
“Sudah kupelajari duluan di kelas. Pak Reza selalu mengajar dengan metode cepat, dia juga tidak pernah memberi tugas yang belum kami pelajari,” jawab Nina.
Fikri mengintip dari arah belakang.
“Wah, enaknya belajar di kelas Pak Reza. Tidak dibikin susah,” ungkap Fikri, jujur.
“Tidak boleh begitu Akh Fikri, semua Dosen itu sama, hanya saja cara mengajarnya yang berbeda. Akh Fikri belum mendapat materinya juga?” tanya Nina.
Fikri mengangguk.
“Saya juga belum dapat materinya Ukhti Nina, buku sebanyak ini tidak ada satu pun yang bersangkutan dengan materi,” ujar Dimas.
Nina mengambil buku catatan milik Fikri, lalu mulai menulis di sana seperti yang ia lakukan pada buku milik Silvi. Ibrahim masuk kembali ke kelas itu dan melihat sosok Nina yang duduk di kursi miliknya. Ia pun jadi serba salah, tak tahu harus melakukan apa.
“Akh Ibrahim kenapa?” tanya Dhiba yang heran karena Ibrahim hanya berdiri diam dan tidak duduk.
Ibrahim tak menjawab, ia hanya memberikan isyarat pada Dhiba agar tetap diam. Mereka pun mengerti, bahwa Pria itu tak ingin mengganggu Nina yang sedang menulis. Usai menulis di buku catatan milik Fikri, Nina pun mengembalikan buku itu pada pemiliknya.
“Ini Akh Fikri,” ujar Nina.
Nina menerima buku itu dan melihat isi materi yang sudah sangat lengkap. Dimas pun memberi ekspresi takjub saat melihatnya.
“Akh Dimas juga bisa mencatat itu dari Akh Fikri, agar tidak kesusahan lagi mencari materinya,” tambah Nina.
“Alhamdulillah, syukron Ukhti Nina. Ukhti sangat membantu kami kali ini,” ungkap Dimas.
“Afwan Akh Dimas, kalau ada yang bisa saya bantu Insya Allah akan saya bantu,” balas Nina.
Dhiba menarik lengan Nina.
“Ayo, kelasku dan kelasmu sudah mau mulai,” ajak Dhiba.
“Salam untuk Dosen Ekonomi ya Ukhti Dhiba, bilang dari Silvi,” ujar Silvi.
“Biar apa?” tanya Sarifa.
“Biar bingung dan bertanya-tanya, Silvi mana ya yang kasih salam ke aku…,” jawabnya.
“Astaghfirullah!!!” ucap Nina dan Dhiba bersamaan.
Sarifa pun terkikik geli dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena gurauan Silvi. Ibrahim kembali duduk di tempatnya sambil tersenyum diam-diam.
‘Senang rasanya, bisa mendengarmu berbicara lagi seperti dulu.’
* * *
Nina masuk ke kelasnya dan segera mengeluarkan buku catatan serta alat tulis. Reza masuk tak lama kemudian sambil membawa buku dan tasnya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” ujar Reza.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,” jawab semuanya serempak.
“Hari ini siapa yang piket?” tanya Reza.
“Ukhti Nina,” jawaban itu mengarah kepada Nina.
Nina pun mengangkat tangannya lalu maju ke depan kelas. Reza menunjukkan materi yang harus di catat.
“Tolong catat ini di papan tulis, saya harus menggantikan Dosen di kelas sebelah,” pinta Reza.
“Baik Pak,” jawab Nina.
Reza pun bergegas ke ruang kelas sebelah, sementara Nina mulai menulis di white board.
“Apakah tulisan saya kelihatan jelas Akhi…, Ukhti???” tanya Nina.
Reza pun menghentikan langkahnya beberapa saat dan kembali berbalik untuk melihat melalui jendela.
“Agak lebih besar sedikit Ukhti Nina,” jawab seseorang dari bagian belakang.
“Baik Ukhti Tari,” balas Nina.
Reza tersenyum, ia senang saat Nina mulai membuka diri dengan yang lain seperti itu. Ia pun segera kembali berjalan ke kelas sebelah.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,” sapa Reza.
“Wa’alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,” jawab semua yang ada di kelas itu.
“Hari ini Bu Hilda tidak bisa masuk, jadi saya akan menggantikan Beliau. Materi kalian sudah sampai di mana?” tanya Reza.
“Pengertian Ilah dan Laa illaha illallah Pak. Kami sudah diminta mencari materi oleh Bu Hilda,” jawab salah satu mahasiswa.
“Oke, jadi kalian sudah dapat materinya?” Reza ingin tahu.
“Sudah Pak, dari Ukhti Nina di kelas sebelah. Beberapa orang dari kami tinggal mencatatnya saja,” jawab Silvi.
Reza terlihat terkejut dengan jawaban itu.
“Bagus kalau begitu, lanjutkan mencatatnya, lengkapi, nanti saya ke sini lagi untuk menjelaskan,” perintah Reza.
“Baik Pak.”
Reza pun berjalan kembali ke kelasnya dan melihat Nina sudah menyelesaikan catatan di papan tulis. Nina menyerahkan buku itu kembali pada Reza, lalu kembali ke tempat duduknya. Ia memberikan waktu pada Nina untuk mencatat apa yang ada di papan tulis.
‘Kamu berubah, apakah itu pertanda bahwa kamu akan kembali membuka diri?’
* * *
Besok episode 8 - 9