Abah Adi membuka lembaran Al-Qur'an di hadapannya, sementara tiga orang santri sedang mengulang hafalan. Saat itu masih giliran Fikri, Ibrahim dan Dimas menunggu di belakangnya.
"...Wa laqod na'lamu annaka yadhiiqu shodruka bimaa yaquuluun. Fa sabbih bihamdi robbika wa kum minas-saajidiin. Wa'bud robbaka hattaa ya'tiyakal yaqiin. Shadaqallahul 'adzhim," tutup Fikri.
"Alhamdulillah..., sangat bagus Akh Fikri, tingkatkan lagi hafalannya. Sekarang giliran Akh Ibrahim, mari maju Akh...," pinta Abah Adi.
Ibrahim pun maju ke hadapan Abah untuk mengulang hafalannya, Fikri mundur dan duduk di samping Dimas. Nina berdiri di luar masjid, ia melihat Ummu Kalsum berada di dalam sedang membereskan mukena di balik tirai pembatas. Ia memaksakan diri untuk masuk ke sana.
"Assalamu'alaikum Mi...," ujar Nina, gemetar.
Abah Adi mendengar suaranya dari balik tirai, dan meminta Ibrahim berhenti dengan isyarat tangannya. Mereka semua terdiam.
"Wa'alaikum salam Ukhti Nina, mari masuk," jawab Ummi Kalsum.
Nina pun benar-benar melangkahkan kakinya ke dalam masjid dan duduk bersimpuh di hadapan Ummi Kalsum.
"Ada apa Ukhti? Katakan...," tanya Ummi Kalsum.
"Ummi..., saya..., saya ingin Ummi tahu semuanya. Ada hal-hal yang tidak saya ceritakan pada Ummi saat pertama kali saya dikirim ke sini," ujar Nina.
"Apa itu Ukhti? Katakan saja, jangan ragu-ragu."
Nina menatap Ummi Kalsum dengan mata berkaca-kaca. Reza hendak masuk ke masjid, namun Abah dan para santri yang ada di hadapan Abah memberi tanda padanya agar tidak bersuara. Reza hanya mengangguk lalu duduk di samping Dimas dan Fikri.
"Pria yang mengantar saya kesini adalah Ayah kandung saya Mi, tapi Wanita yang mendampinginya bukan Ibu kandung saya," jelas Nina, jujur.
Ummi Kalsum terlihat sangat terkejut. Ia benar-benar tak menyangka akan hal tersebut. Abah Adi menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ia seharusnya sudah tahu hal itu sejak awal. Yang lainnya hanya saling tatap satu sama lain, mereka juga merasa terkejut dengan pengakuan itu.
"Jadi, yang malam itu meneleponmu bukanlah Ibu dan Adik kandungmu? Mereka dengan sengaja mencegahmu pulang agar kamu tidak bertemu dengan Pria yang akan dijodohkan denganmu itu? Mereka menjebakmu?" tanya Ummi Kalsum.
Nina menganggukkan kepalanya seraya terisak pelan.
"Seharusnya saya sudah sadar sejak awal Mi, bahwa saya memang sudah dibuang dengan berpura-pura dikirim untuk mondok di sini. Tapi saya terus menutup mata dan menanamkan dalam diri saya, bahwa Ayah saya tidak akan setega itu, dia akan tetap memilih saya. Tapi nyatanya tidak Mi, saya hanya terus berharap pada sesuatu yang palsu," ungkap Nina.
Ummi Kalsum memeluknya dengan erat, ia membelai punggung wanita itu dengan lembut.
"Ya Allah Nak, seharusnya kamu mengatakannya pada Ummi sejak lima tahun lalu. Dua tahun kamu berdiam diri dalam luka yang mereka berikan untuk kamu, dan Ummi tidak tahu apapun."
"Maafkan saya Ummi, saya hanya tidak ingin menjadi beban untuk Ummi dan Abah. Tapi saya merasa, semakin saya diam hati saya semakin sakit Mi. Saya takut melangkah maju Mi, saya sangat takut," ujar Nina.
"Jangan Ukhti, berhentilah merasa takut. Ini sudah saatnya bagi Ukhti untuk maju. Jangan terus berdiam diri, ungkapkan apapun yang menjadi beban dalam diri Ukhti," saran Ummi Kalsum.
Nina menganggukkan kepala, ia pun menyeka airmata di wajahnya.
* * *
Pertemuan malam ba'da Shalat Isya itu agak sedikit berbeda bagi Nina, ia merasa ada kelegaan dalam hatinya setelah mengatakan yang sejujurnya pada Ummi Kalsum. Abah Adi terlihat duduk di bagian depan shaf jama'ah pria, dia tak menunjukkan tanda-tanda akan mengisi renungan malam itu. Seseorang naik ke mimbar tak lama kemudian.
Nina melihatnya dengan terkejut.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," ujar Reza, dengan tenang.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang, serampak.
"Bismillahirrahmannir rahim, Allahumma sholi 'ala Muhammad, wa 'ala ali syaidina Muhammad, wa 'ala alihi wa shohbihi ajma'in, amma ba'du. Robbishrohlii shodrii wa yassir lii amrii wahlul 'uqdatam mil lisaanii yafqohuu qoulii."
Semua orang menatap pria itu dengan serius.
"Malam ini Abah tidak bisa mengisi renungan malam dikarenakan kesehatan Beliau agak terganggu. Maka dari itu saya akan menggantikan Beliau malam ini," jelas Reza.
Reza membetulkan microfone yang ada di hadapannya itu.
"Malam ini saya akan membahas tentang sikap terbuka dalam Islam. Sikap terbuka adalah suatu sikap universal yang diajarakan oleh agama Islam. Sikap keterbukaan ini sangat dibutuhkan oleh umat Islam agar segala sesuatunya menjadi mudah, tanpa adanya sikap terbuka ini akan menimbulkan banyak fitnah," ujar Reza.
Ia memberi waktu bagi yang ingin mencatat.
"Dalam penerapannya sikap terbuka ini harus dilakukan secara berkeadilan. Itu artinya seseorang yang mempunyai sikap terbuka harus mengetahui situasi dan kondisi. Kapan harus menerapkan keterbukaan dan kapan harus menerapkan sikap tertutup. Karena tanpa adanya kebijaksanaan mengenai kapan harus menerapkan sikap terbuka dan kapan harus menerapkan sikap tertutup, seseorang akan cenderung berbuat kezaliman."
Nina termenung, tangannya tiba-tiba berhenti menulis. Ia memikirkan apa yang Reza sampaikan malam itu.
"Hal lain yang perlu diketahui juga adalah bahwa apabila sikap terbuka itu dilakukan dalam segala hal justru akan membahayakan. Mengapa demikian? Karena ada beberapa Informasi yang bersifat rahasia dan harus dijaga kerahasiaanya. Karena kerahasiaanya ini maka orang yang tidak berkepentingan atau musuh, jangan sampai mengetahuinya. Dari sini bisa ditarik konklusi bahwa menjadi orang Islam yang baik dan bijaksana harus mampu bersikap terbuka secara berkeadilan," jelas Reza.
Abah Adi menatapnya seraya tersenyum, ia merasa puas dengan apa yang Reza sampaikan malam itu.
"Keadilan juga termasuk nilai universal dalam Islam yang sangat penting untuk dilaksanakan. Karena dalam banyak aspek, segala pemberontakan, kegaduhan serta pertentangan diawali dengan tiadanya keadilan. Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman..., wa aqsithuu, innalloha yuhibbul-muqsithiin, yang artinya, dan berlaku adilah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
Reza menatap ke arah Nina secara sekilas. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi wanita itu.
"Dari ayat ini sangat jelas bahwa keadilan adalah suatu sikap yang langsung diperintahkan oleh Allah sendiri dalam Al-Quran. Tentu hal ini mengindikasikan bahwa keadilan itu sangat penting dalam kehidupan umat manusia, sehingga manusia bisa bersikap terbuka dan tidak menimbulkan fitnah akibat sikap tertutup. Sekian dulu penjelasan dari saya, lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Wabillahi taufik wal hidayah, wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," tutup Reza.
"Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh."
Nina menutup bukunya sambil terus termenung.
'Bagaimana caranya agar aku bisa bersikap terbuka? Karena saat ini, aku sudah tak mampu mempercayai siapapun.'
* * *
Next episode 9...