Ibrahim tak bisa tidur nyenyak malam itu, hatinya gelisah karena memikirkan pengakuan Nina pada Ummi Kalsum di masjid tadi siang. Ia ingat betul bagaimana sosok Nina lima tahun yang lalu. Dia wanita paling bersemangat, paling ceria, dan paling sering berdiskusi dengan banyak orang. Lalu ketika peristiwa itu terjadi dua tahun yang lalu, Nina mulai berubah. Pendiam, tak ingin mengatakan apapun, dan tertutup.
Dimas menepuk pundak Ibrahim hingga pria itu terkejut.
"Mikirin apa Akh?" tanya Dimas.
"Ukhti Nina...," jawab Ibrahim, jujur.
Dimas menghela nafasnya yang berat.
"Dulu kita satu kelas dengan Ukhti Nina di Madrasah Aliyah, dia selalu baik dan sopan. Dia tahu betul kalau kita selalu tidak sempat sarapan pagi, makanya dia membawakan kotak bekal berisi nasi goreng untuk kita," ujar Dimas, mengenang.
"Ya dan kita akan makan satu kotak bertiga bersama Akh Fikri," sambung Ibrahim, seraya tersenyum.
"Ukhti Nina tidak pernah pelit, dia selalu mau membantu siapa saja yang kesulitan. Bahkan tanpa dimintai bantuan pun, dia dengan ikhlas akan membantu," Dimas mengingat semuanya.
Fikri terbangun dari tempat tidur bertingkat itu, ia melongok ke bagian bawah dengan mata setengah terpejam.
"Jangan lupa, dia juga pernah mengambilkan sarung cadangan di masjid untuk kita saat pelajaran olahraga. Dia tak mau kita malu karena lupa membawa pakaian ganti setelah berenang," tambah Fikri sambil menguap.
"Oh..., yang ceritanya waktu itu celana pendekmu hilang, kan? Padahal nyangkut di kolam bagian ujuuuuuung sekali," tambah Dimas.
HAHAHAHA!!!
Fikri pun melempar bantal gulingnya ke arah Dimas dengan gemas. Ibrahim tak mampu menahan tawanya karena komentar Dimas.
"Nggak perlu kamu ingatkan soal yang itu, aku lagi ikut membahas Ukhti Nina dengan kalian," gerutu Fikri.
"Iya..., iya..., kita ingat kok Akh Fikri, siapa yang bisa lupa dengan kejadian memalukan macam itu?" tambah Ibrahim.
"Kamu berendam terus di dalam kolam dan takut keluar. Seandainya Ukhti Nina tidak lewat saat dia mau ke ruang guru, maka kamu akan berendam sampai malam dan kami pun ikut kena imbasnya," lanjut Dimas.
Fikri benar-benar tak habis pikir, kenapa ia bisa bersahabat dengan dua orang macam Ibrahim dan Dimas? Kini ia agak menyesali persahabatan itu, karena semua aib yang ia miliki akan selalu abadi dalam ingatan konyol mereka.
"Hei..., ayolah serius! Kalian mau bantu Ukhti Nina atau tidak?" tanya Fikri.
"Siapa yang tidak mau? Dia itu orang baik, tidak pantas diperlakukan dengan buruk oleh orang lain. Jujur saja, aku kesal setengah mati saat dengar pengakuannya tentang Ibu dan Adik tirinya itu, mereka keterlaluan," ujar Dimas.
"Masalahnya, kita harus melakukan apa agar Ukhti Nina bisa benar-benar membuka dirinya lagi?" tanya Ibrahim.
"To the point saja, bilang padanya kalau kita ingin membantu. Saya yakin, Ukhti Nina membutuhkan orang yang benar-benar bersedia mendengarkan ceritanya," saran Fikri.
"Kalau gagal?" tanya Dimas.
"Belum juga dicoba, masa sudah berpikiran gagal? Mana mau sukses kalau kamu terus berpikiran begitu?" sindir Fikri.
"Memangnya kamu sudah sukses?" tanya Ibrahim pada Fikri.
"Astaghfirullah!!! Kalian ini benar-benar keterlaluan ya!!! Mau atau tidak bantu Ukhti Nina???" geram Fikri, gemas.
"Oke, kita coba besok," jawab Ibrahim.
* * *
Reza telah meninggalkan kelas, Nina masih terdiam di kursinya dan tak berniat pulang ke pondok. Ia merenung tentang dirinya sendiri, ia merasa sangat bodoh karena tak pernah menyadari bahwa dirinya sudah tak dianggap oleh keluarganya.
Tok..., tok..., tok...!!!
Nina mengangkat wajahnya yang tertunduk sejak tadi dan melihat Ibrahim, Fikri dan Dimas yang berdiri di ambang pintu.
"Assalamu'alaikum Ukhti Nina, boleh kami masuk?" tanya Dimas, yang terus saja didorong-dorong oleh Ibrahim dan Fikri.
"Wa'alaikum salam Akh, silahkan masuk," jawab Nina.
Mereka pun masuk dan bergegas duduk di belakang kursi yang ditempati Nina. Nina merasa bingung untuk sesaat.
"Begini Ukhti, kita kan bukan mahram, makanya kami duduk di belakang dan Ukhti tidak perlu berbalik ke arah kami, Ukhti duduk saja di depan dengan nyaman," jelas Fikri tanpa diminta.
Nina terkikik geli diam-diam, ia berusaha menahan tawanya.
"Ada hal yang ingin kami bicarakan dengan Ukhti, tapi..., Ukhti jangan marah atau tersinggung. Kami tidak berniat buruk, kami hanya ingin membantu Ukhti," jelas Ibrahim, lagi-lagi tanpa diminta.
"Baiklah Akh Fikri, Akh Ibrahim, dan Akh Dimas, saya mendengarkan," balas Nina.
Ibrahim memberi tanda pada Dimas, Dimas memberi tanda pada Fikri, sementara Fikri kembali memberi tanda pada Ibrahim untuk bicara duluan dengan Nina. Mereka akhirnya bertengkar menggunakan bahasa isyarat.
"Apa saya masih harus menunggu Akh?" tanya Nina.
Mereka pun berhenti bertengkar.
"Anu Ukhti, begini..., sebenarnya kami ingin membantu Ukhti Nina. Kami tidak ingin Ukhti berlarut-larut dalam masalah tanpa ujung," jelas Dimas, akhirnya.
Nina pun kembali menundukkan kepalanya menatap ke arah lantai. Hatinya kembali merasa perih karena luka itu sangat dalam baginya.
"Saya mengenal Pria yang akan dijodohkan dengan saya waktu itu," Nina memulai.
Reza akan mengambil bukunya yang tertinggal di kelas itu saat ia melihat Nina di dalam bersama tiga orang pria di belakangnya. Ketiga pria itu memberi tanda pada Reza untuk memutar lewat pintu belakang. Reza pun menurut saja.
"Dia orang baik, dia sangat baik. Saya tidak memaksa kalau dia bukan jodoh saya, hanya saya merasa tidak bisa menerima apa yang mereka katakan pada Pria itu untuk menyingkirkan saya," Nina terisak hebat.
Reza yang sudah ikut duduk di samping mereka bertiga pun meminta penjelasan. Fikri mendekat ke telinga Reza dan berbisik,
"Kami meminta Ukhti Nina untuk jujur, agar dia tidak lagi tenggelam dalam masalahnya."
Reza akhirnya mengangguk, ia mengerti.
"Afwan Ukhti, memangnya apa yang mereka katakan pada Pria itu? Dan bagaimana Ukhti bisa tahu, sementara Ukhti tidak pernah pulang?" tanya Ibrahim.
"Dia menghubungi saya Akh Ibrahim, seminggu setelah saya menerima telepon dari Ibu dan Adik tiri saya. Dia bilang sangat kecewa pada keputusan saya yang menolak untuk menikah dengannya. Padahal saya tidak pernah sekalipun membuat penolakan, mereka memfitnah saya dan membuang saya dengan cara yang keji Akh," jawab Nina.
"Astaghfirullah hal 'adzhim, mereka sangat keterlaluan!" geram Fikri.
"Lalu bagaimana dengan Ayah Ukhti?" tanya Dimas.
"Entahlah Akh, saya tidak tahu. Dia tidak pernah mau menjawab telepon dari saya, dia bahkan tidak mau lagi berbicara dengan saya, dia tidak ingin mendengar penjelasan saya. Saya sudah putus asa Akh, saya masih punya Ayah tapi seakan saya sudah tidak punya siapa-siapa," Nina menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya hingga niqob-nya kini basah karena airmata.
Wanita itu menangis tersedu-sedu tanpa kendali.
"Sudahlah Ukhti Nina, saat ini jangan dipikirkan lagi semua masalah itu. Ikhlaskan lah Ukhti, melangkahlah maju. Masa depan Ukhti masih panjang," saran Ibrahim.
Reza menatap punggung Wanita itu.
"Ukhti Nina, dengarkan saya!" perintah Reza.
Nina terkejut saat mendengar suara Reza yang ternyata ada di belakang sejak tadi.
"Belajarlah untuk melupakan, karena terus mengingat apa yang sudah berlalu bukan jalan keluar yang baik. Berbicaralah dengan sahabat-sahabat Ukhti, mereka adalah keluarga Ukhti yang paling dekat saat ini. Jika ada yang mengkhitbah Ukhti terimalah, jangan ragu-ragu. Buktikan pada para pemfitnah itu bahwa Ukhti adalah orang yang kuat dan mereka salah jika berpikir bisa mengalahkan Ukhti dengan cara yang kotor!" tegas Reza.
Nina terdiam, begitupula yang lainnya.
'Allah akan menunjukkan jalan bagi hamba-Nya yang meminta.'
* * *
Besok episode 10 - 11