EPISODE 10 - METAMORFOSIS

994 Words
Dhiba menatap Nina yang berdiri di hadapannya hari itu. Ia menilik dari ujung kaki sampai ujung kepala. "ALHAMDULILLAH!!! SAHABATKU KEMBALI!!!" teriak Dhiba. Sarifa dan Silvi segera menutup mulut Dhiba dengan cepat. Nina terkekeh melihat tingkah ketiga sahabatnya. "Sudah, jangan terlalu heboh. Nanti tetangga pondok kita datang semua ke sini dan kita akan jadi tontonan," ujar Nina, menengahi. Mereka pun kembali duduk melingkar di atas permadani ruang tamu. Cemilan dan teh hangat menemani di tengah-tengah mereka berempat. "Semua sudah berlalu Ukhti, jangan diingat lagi. Kita harus melangkah maju, bukan berdiam diri di tempat ataupun melangkah mundur ke belakang," ujar Sarifa. Nina tersenyum. "Iya Ukhti Sarifa, Ukhti benar. Saya akan berhenti berlarut-larut dalam hal yang tidak ada gunanya untuk saya pikirkan lagi. Saya akan melepaskan, entah itu rasa kecewa, rasa sakit hati, ataupun harapan yang pupus. Saya akan mengikhlaskan semuanya," balas Nina. "Alhamdulillah Ukhti, kami senang mendengarnya. Jujur, selama dua tahun ke belakang, kami sangat merasa kehilangan Ukhti Nina. Mungkin kami tetap bersama dengan raga Ukhti setiap hari, tapi tidak dengan jiwa Ukhti. Ukhti seakan bukan lagi seorang Athanina Shadiqa Nissa yang kami kenal," ungkap Dhiba. "Afwan Ukhti Dhiba, afwan Ukhti Silvi, afwan Ukhti Sarifa, saya tidak menyadari kalau kalian begitu peduli terhadap diri saya. Afwan karena saya hanya memikirkan diri sendiri, dan tidak memikirkan perasaan kalian," Nina merasa menyesal. Silvi merangkulnya dan membiarkan Nina bersandar di pundak wanita itu. "Sudahlah Ukhti Nina, semua sudah berakhir. Mari kita bangun jalan yang baru," ajaknya. * * * Dhiba mengambil sebuah buku dari rak bertingkat di bagian tengah perpustakaan. Nina sedang membaca ulang mata kuliah yang pernah ia pelajari, sementara Silvi dan Sarifa sibuk menulis materi untuk pertemuan dakwah malam. "Kira-kira bagus tidak jika aku membahas tentang sifat-sifat wanita Shalehah?" tanya Dhiba, yang baru saja akan duduk di samping Nina. Nina mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Dhiba. Silvi dan Sarifa pun ikut menatap Wanita itu. "Bukankah kita memberi materi dakwah tidak khusus untuk santriwati? Akan ada para santri juga di sana," Sarifa agak kurang setuju. "Nanti takutnya para santri merasa di-anak tiri-kan kalau Ukhti Dhiba membahas materi yang merujuk hanya tentang Akhwat saja," tambah Silvi. Dhiba menatap Nina yang belum memberi jawaban. Nina tersenyum dari balik niqob-nya. "Bukankah Akhwat itu tulang rusuk untuk Ikhwan?" tanya Nina. Mereka bertiga mengangguk bersamaan. "Lalu kenapa kita harus khawatir jika Ukhti Dhiba ingin membawakan materi yang merujuk kepada Akhwat? Bukankah bagus bagi para Ikhwan, jika mereka mengetahui sifat-sifat wanita Shalehah sebelum mereka menentukan siapa Akhwat yang akan mendampingi hidupnya? Tidak ada yang akan merasa di-anak tiri-kan jika sesuatu hal disampaikan dengan benar. Insya Allah semua orang akan menerima, baik itu para santri atau para santriwati," jelas Nina. "Alhamdulillah, kalau begitu saya minta bantuan Ukhti Nina ya untuk menyusun materinya," rayu Dhiba. "Astaghfirullah hal 'adzim Ukhti Dhiba!!!" pekik Silvi dan Sarifa, kompak. Dhiba segera bersembunyi di balik buku yang sedang dipegangnya. "DILARANG BERISIK DI PERPUSTAKAAN!!!" peringatan dari penjaga perpustakaan membuat mereka terdiam seketika. Silvi dan Sarifa pun kembali menulis materi, sementara Dhiba mulai menghafalkan materi yang ia pilih. Nina beranjak menuju ke sebuah rak di bagian belakang perpustakaan. Ia menelusuri rak tersebut sambil membaca satu-persatu judul buku yang dilihatnya. "Assalamu'alaikum Ukhti Nina," sapa seseorang yang membuat dirinya berbalik. "Wa'alaikum salam," jawab Nina, dengan ragu-ragu. Wanita itu mendekat. "Kenapa? Kaget kupanggil 'Ukhti'?" tanya Rika, sinis. "Ada perlu apa Ukhti Rika?" tanya Nina. "Tidak usah kamu memanggilku dengan sebutan kampungan seperti itu! Jijik aku mendengarnya!" tegas Rika. "Astaghfirullah hal 'adzim Ukhti Rika, Istighfar! Tidak boleh Ukhti mengatakan hal buruk seperti itu. Jika ada yang memanggilmu dengan sebutan yang baik, itu tandanya kamu dimuliakan, derajatmu ditinggikan, dan kamu dihormati. Jangan pernah menghina kebaikan Ukhti, tidak akan baik untuk kehidupanmu jika kamu terus seperti itu," saran Nina. Rika menunjukkan senyuman sinisnya. Cih!!! "Tidak usah sok paling benar kamu! Gara-gara kamu, aku jadi tidak bisa mendapatkan beasiswa seperti yang Silvi terima! Dan gara-gara kamu juga, aku tidak bisa memamerkan beasiswa itu pada keluarga dan teman-temanku di sosial media! Kamu itu pembawa sial!" tuduh Rika seraya menunjuk ke arah Nina secara terang-terangan. "Astaghfirullah! Jadi kamu yang ingin menyingkirkan Ukhti Silvi dengan cara kotor melalui Ibu Sulham? Dan kamu ingin mendapatkan beasiswa hanya untuk pamer pada keluargamu dan temanmu di sosial media? Lalu apa pertanggung jawabanmu nanti di hari akhir? Apa yang akan kamu pertanggung jawabkan di hadapan Allah? Berapa banyak dosa yang ingin kamu pikul Ukhti Rika?" tanya Nina, yang cukup terkejut dengan pengakuan itu. "Alah!!! Itu urusanku!!! Terserah mau bagaimana pun aku pada akhirnya nanti, setidaknya kamu tidak perlu mencampuri kebahagiaanku!!!” "Bahagia? Dengan mendapat puji-pujian dan beberapa komentar di sosial media kamu bilang bahagia? Saya tidak menyangka bahwa kamu sepicik itu dalam menilai arti dari bahagia." Rika membuang wajahnya karena merasa jijik dengan Nina. "Ingat satu hal baik-baik Ukhti Rika, hari ini kamu dipuji karena cantik, hari ini kamu dipuji karena kaya, hari ini kamu dipuji karena pintar. Tapi ingat, ketika Allah mengambil kecantikanmu, ketika Allah mengambil kekayaanmu, dan ketika Allah mengambil kepintaranmu, maka kamu tidak akan bisa melakukan apapun selain menyesal, dan Allah akan jadi satu-satunya tempatmu kembali," Nina memperingatkan. Nina pun melangkah pergi meninggalkan Rika yang mendongkol dalam hati karena menerima ceramah dari wanita itu. Dalam hati Rika begitu membara gejolak amarah dan perasaan dendam terhadap Nina, ia benar-benar membenci Wanita itu. Rika pun pergi dari perpustakaan melalui pintu belakang, ia tak ingin berpapasan lagi dengan Nina. Seseorang keluar dari balik rak buku perpustakaan dan tersenyum diam-diam. 'Menyenangkan rasanya mendengarmu menyampaikan hal-hal baik. Insya Allah, rindu ini padamu akan berlabuh jika waktunya sudah tepat.' * * * Next episode 11...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD