"Benci dan Cinta"

1957 Words
Sadri membawa Rizka ke rumah sakit. Semua orang di sana ketakutan. “Tolong selamatin dia.” Perintah Sadri pada seorang Dokter. Rizka segera di bawa ke ruang Operasi. Jilbab Rizka dibuka dan terlihat bahwa luka itu cukup panjang namun tak terlalu dalam. Dokter membersihkan lukanya lalu menjahitnya. Sadri begitu gelisah menunggu di depan ruang operasi. Ayah Rizka merasakan firasat yang buruk. “Belum 24 jam, kita tidak bisa melapor ke Polisi.” Dia bicara pada Aiyub. “Saya akan cek ke basecampnya Ustadz.” Pemuda itupin segera pergi bersama seorang temannya yang juga santri di sana. Dokter keluar dari ruang Operasi. “Gimana kondisi istri saya Dokter?” Tanya Sadri. “Syal atau kerudung tebal yang melingkar di lehernya telah menyelamatkan dia, lukanya tidak dalam.” Jelas Dokter. Sadri merasa sangat bersyukur. Rizka dipindahkan ke ruang rawat inap. Sadri terus berada di sisi istrinya itu. Leher Rizka harus diperban. Sadri miris melihatnya. Aiyub memantau dari kejauhan, tak ada tanda-tanda keberadaan Sadri di sana. “Dia memang gak ada di base camp.” Pikir Aiyub. Aiyub kembali ke padepokan dan melaporkannya pada Pak Imam. “Kemana dia membawa anakku?” Pak Imam semakin cemas. Keesokan harinya Rizka sudah siuman. “Abang...” Dia memanggil kakaknya. Sadripun terjaga. “Rizka, kamu udah siuman. Jangan banyak bicara dulu. Kata Dokter, kamu harus istirahatkan leher dan tenggorokan kamu.” Sadri merasa senang. “Abang?” Tanya Rizka. Sadri bingung harus menjawab apa. Untung saja Dokter datang. “Pagi Bu Rizka.” Sapanya. Rizkapun tersenyum, dia memegang kepalanya. “Jilbabku.” Dia baru menyadarinya. “Tidak apa-apa, Ibu kan sedang sakit.” Kata Dokter itu. “Bagaimana perasaan Ibu hari ini?” Dokter itu sangat ramah. Rizka mengangguk. “Ibu belum boleh makan makanan biasa dulu, harus berupa cairan atau bubur. Kami sudah menyuntikkan vitamin juga, Ibu jangan khawatir.” Tuturnya. “Makasih Dokter.” Ucap Sadri. “Kalau gitu saya permisi. Kalau ada apa-apa, Suster jaga kami ada di depan.” Kata Dokter. “Baik.” Jawab Sadri. Bersama Rizka, Sadri berubah dari seseorang yang menyeramkan menjadi seorang yang penuh kasih sayang. “Abang sudah pergi bersama Kak Agnes.” Sadri terpaksa berbohong padanya. Rizka merasa lega mendengarnya. Seharian Sadri merawat Rizka, menyuapinya makan dan minum, memberikannya obat suntikan juga. Hari sudah gelap dan ini artinya sudah 24 jam mereka bersama. Pak Imam dan Aiyub pergi ke kantor Polisi untuk melaporkan Sadri atas kasus penculikan. “Baik Pak, kami akan segera memproses laporan Bapak dan secepatnya menemukan anak Bapak.” Kata Petugas kepolisian. Ghani membawa jenazah Abang Rizka lalu melemparkannya di depan Padepokan kemudian kabur. “Woi, siapa kalian!” Kajadian itu tertangkap basah oleh Aiyub dan Pak Imam yang baru pulang dari kantor Polisi. “Ustadz, itu...” Aiyub terkejut saat melihat jenazah Abang Rizka. Pak Imam menghampirinya. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un...” Dia nampak terpukul dan bersedih sehingga mengalami serangan jantung. “Ustadz.” Seluruh santri panik. Mereka memanggil Dokter ke rumah. “Maaf, Bapak sudah meninggal.” Ternyata nasib berkata lain, Ayah Rizka tak dapat tertolong. Aiyub sangat sedih. “Mulai sekarang, saya yang akan meneruskan Padepokan ini!” Aiyubpun mengambil alih Padepokan tersebut. Setelah resmi menjadi Pemimpin baru di Padepokan, Aiyub mulai memberikan perintah kepada para santri. “Sadri dan gengnya itu telah menyebabkan Ustadz meninggal dunia dan bahkan anak laki-laki satu-satunya penerus Padepoman juga dibunuh. Bahkan Rizka, calon istri aku diculik dan sampai sekarang belum ditemukan. Kita harus mengusir Sadri dan gengnya dari desa kita!” Maka bersama-sama mereka menuju ke base camp Sadri. “Mereka bawa pasukan yang lebih banyak.” Baron terkejut melihatnya. Beberapa santri menyiram bensin di sekitar base camp. “Keluar kalian dari Desa ini atau kami bakar hidup-hidup!” Teriak Aiyub. “Kita harus pergi.” Ajak Ervan. Beberapa anggota geng yang lain memilih segera pergi hanya Baron dan dua orang anak buahnya yang tak mau pergi. “Ini base camp kami, ini Desa kami, apa hak kamu!” Tanya Baron. “Kamu sudah membunuh Ustadz dan anak-anaknya!” Jawab Aiyub. Tanpa basa-basi lagi Aiyub memerintahkan para santri melemparkan api kehadapan Baron dan kawan-kawannya. Bersamaan dengan basecamp yang terbakar, mereka juga terbakar hidup-hidup. “Biarlah kalian terbakar di dunia daripada terbakar di neraka!” Sorak Aiyub. Selama beberapa hari dirawat di rumah sakit, kondisi Rizka semakin membaik. “Hari ini Ibu boleh pulang, dan bisa berobat jalan. Syukurlah Ibu memiliki suami siaga seperti Pak Sadri.” Gumam Dokter. Rizka tersenyum lalu memandang wajah Sadri. Sadri memakaikan kerudung yang menutupi kepala Rizka namun sementara lehernya tak boleh ditutup dulu. Sadri membonceng Rizka dengan sepeda motor dan hendak pulang ke Desa. Di tengah jalan mereka dihadang oleh Ervan. “Ervan?” Sadri segera berhenti. “Jangan balik ke Desa, Aiyub sudah membakar basecamp kita dan membakar Baron hidup-hidup.” Ervan terlihat sangat ketakutan. “Astaghfirullah hal’adzim... Aku gak percaya Aiyub seperti itu.” Rizka menggelengkan kepalanya. “Ini pasti karena kita kawin lari.” Tebak Sadri. “Mereka menuduh kita yang membunuh Pak Imam dan Abangnya Rizka.” Kali ini Rizka semakin terkejut. “Abi, Abi meninggal?” Dia merasa lemas seketika. “Kamu tenang aja, kita harus memastikannya sendiri.” Gumam Sadri. Sadri dan Rizka memilih mengikuti saran Ervan agar tak kembali ke Desa. Mereka bersembunyi di tempat lain, sebuah rumah yang juga menjadi tempat persembunyian Sadri dan gengnya. Ervan menceritakan semuanya kepada Sadri. Rizka sedang beristirahat di kamar karena kondisinya belum pulih benar. “Jangan sampai Rizka tau cerita ini. Dia sedang sakit.” Perintah Sadri. Ervan mengangguk. Sadri bersama Ervan dan beberapa anggota gengnya mengatur rencana. “Kita harus menjatuhkan Aiyub dari posisi itu. Dia gak pantas mendapatkannya. Dia bukan orang yang baik.” Sadri begitu bersemangat. Malam itu mereka membalas membakar Padepokan. Banyak santri dan santriwati yang menjadi korban karena mereka sedang tertidur. Ghani merasa sangat puas telah mengadu domba mereka. “Jadi kamu membunuh suami aku?” Agnes yang tak sengaja melintas mendengar pembicaraan Ghani dengan anak buahnya. “Tega kamu Ghani, kejam!” Agnes berlari ke balkon. “Kak Agnes!” Ghani mengejar kakaknya. “Jangan mendekat,atau aku lompat!” Agnes berdiri di tepi balkon. “Kakak, awas.” Ghani merasa takut. “Kamu sama seperti Papa, pembunuh!” Agnes berteriak. Suaranya terdengar oleh adik kecilnya. “Kak Agnes?” Dia segera menuju ke lantai atas. “Aku benci kalian. Aku gak bisa hidup tanpa suamiku, aku akan menyusul dia.” Agnespun memilih lompat dari lantai 2 dan diapun tewas seketika karena kepalanya terbentur batu. “Kakak...!” Sang adik melihat kejadian tragis itu. “Shabila...” Ghani memeluk adiknya itu. Polisi semakin dibuat repot dengan 2 kasus itu. Ervan memenuhi panggilan Polisi dan dia menceritakan dengan sejujurnya apa yang terjadi pada base camp mereka. Namun Etvan tidak mengakui kalau dia yang membakar Padepokan. Aiyub juga mengakui telah membakar basecamp Sadri dengan alasan yang sama. “Sadri, dimana dia? Cuma dia yang bisa menjelaskan semuanya.” Kini Sadri menjadi DPO. Luka di leher Rizka sudah mengering dan kondisi kesehatannya juga semakin membaik. “Sudah 1 minggu kita di sini, aku rindu Abi.” Rizka masih belum bisa menerima kenyataan kalau Ayahnya sudah meninggal. “Aku masih menjadi DPO sekarang, aku belum bisa balik. Kita harus pergi dari sini untuk sementara.” Sadri membelai rambut Rizka. Rizka memeluk Sadri dengan erat. Merekapun pergi dari Desa. Aiyub ditahan sebagai satu-satunya tersangka dalam kasus pembakaran basecamp. “Kami akan berjuang.” Para santri mengunjunginya di sel. Aiyub merasa putus asa karena dia tidak bisa mendapatkan Rizka dan juga tak bisa meneruskan memimpin Padepokan, Aiyub memutuskan bunuh diri di dalam penjara. Dia memotong urat nadinya dengan ujung sendok yang telah di asahnya dengan tajam. Ghani juga semakin merasa bersalah karena menyebabkan kematian banyak orang. Dia memutuskan pergi dari Desa itu bersama adiknya Shabila. Sebelum pergi, Ghani dan Shabila singgah di sebuah Mesjid. “Kami mau menjadi mualaf.” Dia mengatakannya pada seorang pengurus Mesjid. “Subhanallah...” Pemuda itu sangat senang. Dengan disaksikan banyak orang, Ghani dan Shabila memeluk agama Islam. “Semoga Tuhan mengampuni dosa aku di masa lalu.” Ghani mengusap wajahnya. Sadri mengajak Rizka ke tempat yang jauh dari Desa, tinggal di pinggiran Kota dan memulai hidup baru. Sadri menjadi pengangkut semen. Rizka menjadi seorang guru ngaji di sana. Meski hidup sederhana, tetapi mereka bahagia. Suatu hari Rizka memberitahukan kepada Sadri bahwa dirinya sedang mengandung. “Kamu hamil?” Sadri sangat bahagia, dia sampai menggendong Rizka di depan semua anak didiknya. “Sadri, banyak anak-anak di sini.” Rizka merasa malu. Sadri menurunkan Rizka. “Maaf.” Sadri menjadi salah tingkah. “Pokoknya aku akan kerja lebih keras lagi untuk kita.” Sadri memegang perut Rizka. Rizka tertawa bahagia. Sadri membuka bengkel motor sendiri dan bengkel itu menjadi laris karena hasil kerja Sadri yang sangat memuaskan. Sadri bahkan bisa memperkerjakan montir lainnya di sana. Rizka merasa bangga melihat keberhasilan suaminya. “Setelah anak kita lahir, kita pulang ke desa ya?” Pinta Rizka. Sadri mengangguk. Dia mencium kening Rizka. Hari kelahiran anak pertama merekapun tiba, Sadri mengantarkan Rizka ke rumah bersalin. Rizka terlihat sangat kesakitan, Sadri merasa kasihan melihatnya. Tak lama terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Bayi perempuan itu dimandikan di dekapkan pada Ibunya. “Dia cantik sekali, persis Ibunya.” Puji Bidan yang membantu persalinan Rizka. Sadri masuk ke dalam ruangan dan menghampiri mereka. Sadri sudah tidak dengan rambut gondrongnya lagi, Rizka tersenyum melihat kedatangan suaminya. “Kamu terlihat lebih tampan.” Pujinya. Sadri tersenyum. “Anak kita.” Rizka menyerahkan bayi itu pada Sadri. “Kamu azankan ya.” Pinta Rizka. Sadri mengangguk. Baru saja dia hendak mengazani bayinya,mendadak Rizka kembali merasa kesakitan. “Bu, istri saya kenapa?” Sadri nampak panik. “Dia pe darahan lagi.” Bidan itu juga panik. Rizka segera dilarikan ke rumah sakit. “Kenapa tidak dibawa sejak awal? Kehamilan istri kamu bermasalah. Dia gak bisa melahirkan normal.” Dokter yang menangani Rizka nampak kesal. Sadri memilih diam sambil berusaha menenangkan bayinya. Rizka harus menjalani operasi. Pikiran Sadri berkecamuk. “Kenapa harus Rizka yang selalu tertimpa musibah?” Sadri marah pada takdirnya. Sebelum dibawa masuk ke ruang operasi, Rizka bicara 4 mata dengan Sadri. “Jika sesuatu yang buruk terjadi sama aku, tolong jaga anak kita ya. Jangan sampai dia hidup susah.” Itulah pesan Rizka. Sadri memeluk Rizka sambil menangis. “Kamu pasti baik-baik aja.” Tetapi nyatanya Rizka malab meninggal dunia. “Kami minta maaf. Sudah terlambat.” Dokter menemui Sadri. Sadri mencekik leher wanita itu. “Gak mungkin. Anak kami baru lahir. Dia harus hidup!” Sadri melepaskan Dokter itu lalu menemui Rizka. “Sayang, bangun. Kamu gak boleh pergi.” Sadri merasa sangat sedih. “Kenapa semuanya terjadi sama aku? Ini gak adil...” Sadri berteriak. Setelah Rizka dikebumikan, Sadri membawa bayinya kembali ke desa. Padepokan sudah ditutup, lahan itu kini dijual. Base camp terbengkalai dan malah menjadi tempat bermain anak-anak. Sadri tak tau harus pergi kemana. Sadri ke Kantor Polisi untuk menyerahkan diri, dia mengakui telah membakar padepokan dan hanya dia seorang yang bertanggung jawab. Sadri di tahan bersama dengan bayinya. Polisi merasa iba dan membantu Sadri merawat bayi itu. Di dalam persidangan, Hakim memutuskan hukuman 5 tahun penjara pada Sadri karena dia menyerahkan diri dan dia juga memiliki tanggungan bayi yang tidak bisa dititipkan pada siapapun. “Maafin Papa sayang, sementara kamu tinggal di panti asuhan.” Berat bagi Sadri berpisah dengan putri kecilnya itu. Selama di dalam penjara, Sadri berkelakuan baik sehingga dia mendapat remisi dan bebas hanya dalam waktu 3 tahun saja. Sadri dapat kembali bertemu dengan anaknya. Dia sangat bahagia. Sadri membawa anaknya pindah ke Kota lain. Dia memulai kehidupannya dengan jujur. Sadri menjadi karyawan di sebuah pabrik bahkan menjadi orang kepercayaan atasannya. Perlahan posisi Sadri naik bahkan kini dia memiliki usaha sendiri di bidang otomotif.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD