Peristiwa Itu

3889 Words
Sadri menjadi pimpinan di perusahaan miliknya, dia sangat dihormati oleh semua orang karena begitu dermawan. Namun kesibukannya di luar rumah membuat anaknya jarang diperhatikan. “Anjani!” Sadri memanggil anaknya. “Bik, Anjani mana?” Tanyanya pada asisten rumah tangga. “Belum pulang Pak.” Jawab Bik Suryati. “Udah sore tapi dia belum pulang sekolah?” Sadri terlihat kesal. “Buat apa pulang kalau Papa gak ada di rumah.” Lalu Anjanipun muncul. Penampilannya sama sekali tak terlihat seperti pelajar. Rambutnya diwarnai, di telinganya dipenuhi tindik. “Kamu pulang sekolah atau jadi preman?” Sadri membentak Anjani. “Ini style Pa.” Anjani membela diri. “Papa gak suka kamu berpenampilan begini.” Sadri memarahi Anjani. Perkelahian selalu saja terjadi di rumah antara Ayah dan anak itu. Bik Suryati ikut sedih melihatnya. Anjani menjadi malas pulang ke rumah dan malah ikut-ikutan dengan teman-temannya ke club malam. Di club ada seorang pemuda yang mengajak Anjani berdansa tetapi Anjani menolaknya, pemuda itu marah padanya. “Alah, cewek murahan aja belagu loe!” Pemuda itu mengejek Anjani. Anjani menampar pipi pemuda itu. “Gue bukan cewek murahan!” Dia marah akan kalimat itu. “Kurang ajar!” Tak terima ditampar, pemuda itu hendak membalas menampar Anjani tetapi seorang Pria memegang tangan pemuda itu lalu memelintirnya. “b******k, dia ngajak Omnya.” Pemuda itu memaki. “Kalau dia bilang gak mau, itu artinya dia gak suka dengan kamu. Coba lihat wajah kamu di cermin.” Pria itu menarik pemuda kurang ajar tadi dan mendekatkan wajahnya ke meja bar. “Mulai sekarang jangan pernah datang ke sini.” Pria itu mengusirnya. “Emangnya ini punya loe?” Tantang si pemuda. “Iya. Ini club gue.” Jawab pria itu. Pemuda itupun terkejut. Security datang dan mengusir pemuda itu dari sana. Teman-teman Anjani menghampirinya. “Jani, kamu gak papa kan?” Mereka merasa bersalah padanya. Anjani nampak kecewa pada kedua sahabatnya itu. “Kalian kemana aja sih, ninggalin gue sendirian, untung ada dia yang nolongin gue.” Kata Anjani. “Makasih ya Mas.” Ucap Anjani dengan tulus. Pria itu mengangguk lalu meninggalkan mereka bertiga. “Ganteng banget tuh Om-Om. Kenalin dong...” Puji salah satu sahabat Anjani. “Gak sopan banget sih kalian. Dia itu maaih muda tau.” Anjani membela pria tersebut. “Emang bener dia pemilik Club ini?” Tanya Anjani pada seorang bartender. “Bener. Namanya Pak Ghani. Dia tinggal gak jauh dari sini. Setiap malam dia kemari untuk memantau terus langsung pergi. Maklum, dia punya adik cewek yang cantik... banget, gak boleh sendirian dong.” Cerita Bartender membuat Anjani dan kedua sahabatnya kagum. “Adik?” Anjani menjadi bingung. “Istri atau anaknya?” Tanyanya. Bartender itu tertawa. “Masih single. Mau, deketin aja. Tapi gak bakal bertahan lama deh.” Tantang Bartender itu. “Sepele. Anjani ini sahabat kita yang jadi rebutan di sekolah, dia pasti bisa naklukin hati Boss kalian.” Bela sahabat Anajani. “Berarti sekarang dia mau pulang.” Anjani segera menyusul Ghani. “Jani!” Dia bahkan meninggalkan sahabatnya di Club. Ghani masuk ke dalam mobil sambil menelpon. “Iya, ini Kakak lagi jalan pulang.” Ghani bicara pada adiknya. “Tunggu!” Anjani berteriak memanggilnya. “Suara siapa itu Kak?” Tanya Shabila. Ghani membuka pintu mobilnya dan menoleh. “Dia lagi.” Gumam Ghani. Adiknya yang berseragam Perawat tertawa kecil. “Pacarnya ya?” Goda Shabila. “Bukan...” Ghani membantahnya. “Yaudah gak papa Kak, lanjut aja.” Shabila mengakhiri pembicaraan. “Ada apa?” Tanya Ghani pada Anjani. “Gimana cara aku balas kebaikan kamu?” Anjani balik bertanya. “Gak perlu. Aku harus memastikan usaha aku lancar.” Jawab Ghani. “Tapi aku gak biasa nerimasesuatu gitu aja.” Anjani tetap bersikeras. “Terus kamu mau apa, mau traktir saya di Club saya sendiri?” Ghani menertawakan Anjani. Anjani merasa sedikit tersinggung. Dia lalu menundukkan badannya dan mencium bibir Ghani. “Itu lebih dari cukup kan?” Tutur Anjani. Ghani masih terkejut, dia tak bisa berkata apa-apa lagi. “Itu terlalu berlebihan. Aku gak bisa membalasnya.” Ujarnya kemudian. Anjanipun tertawa. Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah undangan. “Temani aku ke acara Prom night sabtu malam.” Lalu memberikannya pada Ghani. “Anjani and partner?” Ghani membaca nama tamu undangan yang tertera di sana. “Kamu masih SMA?” Dia kembali terkejut. Anjani mengibaskan rambut pendeknya. “Kenapa, gak percaya?” Katanya. Ghani menggelengkan kepalanya. “No, no, bukan itu maksudku. Kamu terlihat dewasa dengan sikap kamu.” Jelas Ghani. Anjanipun tersenyum. Malam itu menjadi awal dari kedekatan Ghani dan Anjani. Hingga di malam Prom night yang dinanti-nantikan. Anjani menunggu Ghani di depan gerbang sekolahnya. Kedua sahabatnya datang dengan pasangan mereka masing-masing. “Loe jadi nungguin si Om kaya raya itu?” Tanya Sheila. “Bagi gue dia bukan Om-om tapi lelaki sejati.” Tatapan mata Anjani masih terus mencari keberadaan Ghani. Sheila menggelengkan kepalanya. “Kayaknya sahabat kamu udah kena sihir cintanya tuh orang.” Ujar pacar Sheila. “Yuk masuk aja lah.” Ajak Tara. “Kami duluan ya.” Mereka berempat masuk ke pekarangan sekolah. Lalu sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang sekolah. Ghani turun dari mobil dengan memakai topeng, sesuai dengan konsep acara. “Ghani?” Tebak Anjani. Ghani melepas topengnya. “Sesuai janji, aku datang.” Ghani tersenyum padanya. Spontan Anjani memeluknya. “Makasih ya.” Ucapnya. Ghani membelai rambut Anjani. “Ayo masuk.” Ajak Anjani sambil memakai topengnya. Acara di dalam sangat meriah. Begitu Anjani masuk, dia langsung menjadi pusat perhatian. Bukan hanya karena sepatunya yang mahal dan gaunnya yang indah, tetapi dia menggandeng tangan seorang pria dengan postur tubuh tinggi dan atletis di sampingnya. “Jani sama siapa tuh?” Semua murid menjadi penasaran. “Hai guys, kenalin, ini pacar gue.” Anjani memperkenalkan Ghani sebagi kekasihnya di hadapan semua orang, lagi-lagi sebuah kejutan yang luar biasa bagi Ghani. Hal itu disambut baik oleh murid-murid di sana, mereka memberikan tepuk tangan meriah. “Selamat.” Bahkan Sheila dan Tara langsung memeluknya dengan erat. Ghani dan Anjani berdansa diiringi musik romantis. Ketika pasangan muda lainnya berdansa dengan sewajarnya, Anjani malah semakin mesra pada Ghani, dia menatap wajah Ghani dengan begitu dekat bahkan tak segan merebahkan kepalanya di d**a Ghani. Semua pasangan dansa lainnya memilih mundur dan kini sorot lampu hanya tertuju pada mereka. “Semuanya merhatiin kita.” Bisik Ghani. “Biarin aja. Mereka pikir aku cuma anak manja yang gak bisa punya pacar.” Sahut Anjani. Ghanipun tersenyum. “Saat aku melepaskan topeng, mereka pasti mengira kamu berdansa dengan Ayah kamu sendiri.” Gumamnya. Anjani meletakkan telunjuknya di bibir Ghani. “Mereka tau siapa Ayahku dan itu bukan kamu.” Anjani menatap kedua bola mata Ghani tanpa berkedip. Malam itu mereka dinobatkan sebagai Raja dan Ratu semalam. Betapa bahagia hati Anjani saat menerima mahkota dari penyelenggara acara. “Tapi, kami penasaran sama wajah pacar kamu. Boleh dikasih lihat gak?” Tanya pembawa acara. Anjani yang sudah lebih dulu melepas topengnya melihat Ghani sambil tersenyum. Ghani lalu melepas topengnya. Seketika semua murid perempuan terpana. “Gong Yo?” Senyum mereka merekah. “Oppa...!” Ghani memang terlihat awet muda dengan baby facenya. “Wow... Tampan sekali. Boleh dipakai lagi topengnya, nanti semua pada halu.” Gurau pembawa acara. Anjani dan Ghanipun tertawa. Ghani mengantarkan Anjani pulang ke rumahnya. “Berkat kamu aku jadi quen malam ini.” Anjani terlihat bahagia. “Itu artinya kamu masih punya hutang lagi dong sama aku?” Gumam Ghani. Anjani malah tertawa. “Kamu yang masih punya hutang sama aku.” Bantahnya. “Aku? Hutang apa?” Ghani merasa bingung. “Tadi aku umumkan kamu sebagai pacar aku. Kamu nerima gak aku jadi pacar kamu?” Anjani nekad mengatakan cinta lebih dulu. Ghani kembali tak habis pikir dengan gadis belia itu. “Kamu yakin mau pacaran sama aku?” Tanyanya sekali lagi. “Apa aku kelihatan bercanda?” Anjani begitu serius dengan pernyataannya itu. Ghanipun mengangguk. “Oke. Aku terima kamu.” Jawaban Ghani sungguh melegakan. Setelah resmi berpacaran, mereka sering bertemu walaupun hanya untuk sekedar makan siang atau berbelanja di mall. Sadri mulai merasakan keanehan dengan sikap putrinya itu. “Belakangan ini Papa perhatikan kamu happy banget. Ada apa?” Tanya Sadri saat makan malam. “Jani punya pacar Pa.” Jawab Anjani tanpa basa-basi. “Bagus dong. Papa seneng kamu punya pacar yang bisa mengubah kamu menjadi ceria.” Sadri ikut senang mendengarnya. “Dia temen kenalan di Kampus?” Tebak Sadri. “Dia udah kerja Pa.” Kata Anjani. “Sudah Papa duga, dia pasti lelaki mapan dan bertanggung jawab. Papa jadi penasaran.” Sadri terlihat antusias. “Umurnya jauh dari Jani Pa. Gak masalah kan?” Anjani masih saja bersikap cuek pada Ayahnya. “Usia bukan masalah. Waktu Papa nikah sama Mama kamu, mendiang Mama kamu masih 18 tahun.” Kenang Sadri. Anjanipun tersenyum. “Nah, gitu dong. Udah lama Papa gak lihat kamu seperti ini.” Sadri memuji Anjani. “Papa...” Anjani bangun lalu memeluk Sadri. “Kapan-kapan ajak dia ke rumah. Oke?” Ujar Sadri. “Makasih Pa.” Ucap Anjani lalu mencium pipi Ayahnya. Hari yang dinantikan telah tiba, Ghani merasa gugup karena akan bertemu calon mertuanya. “Tenang Kak. Tarik nafas... Hembuskan.” Shabila membantu memasangkan jas pada Ghani. “Pokoknya Kakak harus sopan, harus rendah hati. Oke?” Shabila memberi dukungan pada Kakaknya. “Makasih ya.” Ghani memegang pipi kiri Shabila. “Sana pergi, nanti terlambat.” Kata Shabila. Ghani tersenyum melihat senyuman di wajah adiknya. Dia mengecup kening Shabila lalu segera pergi. Sadri terlihat sibuk mempersiapkan kedatangan calon menantunya itu. “Bik Sur,makananya sudah lengkap?” Dia memanggil asisten rumah tangganya yang sedang menyusun bantal di atas sofa ruang tamu. “Sudah Tuan.” Jawab Bik Suryati. “Pa, buruan ganti baju!” Teriak Anjani dari lantai atas. “Iya, iya.” Sadri segera berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian. Tak lama Ghanipun tiba di sana. Dia menekan bel pintu dan Bik Suryati membukakan pintu untuknya. “MashaAllah... Ini manusia apa malaikat? Bening banget.” Bahkan Bik Suryati mengakui ketampanan Ghani. “Janinya ada Bik?” Sampai-sampai Ghani harus melambaikan tangannya di depan wajah Bik Suryati. “Ada-ada. Mari silahkan masuk.” Barulah wanita itu mempersilahkan Ghani masuk ke dalam rumah. Ghani duduk di sofa dan dia meletakkan bingkisan di atas meja. Anjani turun dari tangga dengan raut bahagia. “Sayang.” Dia menyapa Ghani. Ghani tersenyum. Mereka berpelukan sejenak. “Bik, tolong panggilin Papa ya.” Perintah Anjani. “Baik Non.” Tinggallah Anjani dan Ghani di ruang tamu. “Aku gugup.” Bisik Ghani. “Santai aja. Papa aku orangnya baik...banget.” Anjani menggenggam tangan Ghani. Kemudian Sadri turun dari tangga. “Tamu specialnya sudah datang.” Sadri tersenyum kepada Ghani. Ghani berdiri dan menghadapa Sadri. Sadri sedikit terkejut melihat Ghani. “Umurnya pasti jauh banget dari Jani.” Pikirnya. “Halo Om. Em... Pak. Em...” Ghani sampai bingung harus menyebut Sadri bagaimana. Anjani tertawa kecil melihat pacarnya salah tingkah. “Pa, ini pacar aku, Ghani.” Saat nama itu disebut, hati Sadri bergetar. “Ghani?” Dia seperti mengenal nama itu. Dulu saat dirinya ditahan nama itu disebutkan oleh Polisi. “Ghani adalah adik ipar korban. Dia tidak terima Kakaknya kawin lari.” Sadri tau kalau Ghani yang dimaksud adalah orang yang telah menyebabkan Rizka mengalami kecelakaan. Ghani mengulurkan tangannya tetapi Sadri belum menjabatnya. “Ini Papa aku. Pak Sadri.” Anjani memperkenalkan Ayahnya pada Ghani. “Sadri?” Ghanipun sama terkejutnya. Saat pertarungan di rumahnya dulu. Abang Rizka memanggil Sadri lalu menyelamatkan Sadri dari maut pedang Ayahnya. “Kamu kenal perempuan bernama Agnes?” Tanya Sadri. Ghani menarik tangannya kembali. “Tentu aku ingat betul bagaimana dia berakhir bunuh diri karena menikahi Abang kamu.” Keduanya kembali terbakar dendam amarah. “Ghani, Papa. Ada apa ini?” Anjani melihat keduanya dengan rasa heran. “Jadi kamu sengaja menjebak anak aku?” Sadri menuduh Ghani. “Kamu pasti menjadikan anak kamu umpan untuk menjebak aku ke sini kan?” Begitupun dengan Ghani. “Keterlaluan!” Keduanya malah kembali terlibat pertarungan. “Papa. Stop!” Anjani berteriak dengan keras. Bik Suryati ketakutan melihatnya. Kedua lelaki itupun berhenti berkelahi. “Jelasin ke aku apa yang terjadi?” Tegas Anjani. “Dia yang membunuh Paman kamu.” Kata Sadri. “Dia membunuh Ayah aku.” Kata Ghani. Anjani semakin bingung. “Pergi kamu dari rumah aku dan jangan pernah temuin Jani lagi!” Sadri mengusir Ghani. “Aku gak sudi menginjak rumah ini lagi.” Ghani meludah ke lantai. “Ghani jangan pergi. Aku bener-bener cinta sama kamu.” Anjani malah mengikuti Ghani. “Jani!” Sadei menarik tangan Anjani agar masuk ke dalam rumah. “Gak Pa, Jani gak bisa hidup tanpa Ghani.” Anjani sampai menangis. “Dia ini pembunuh.” Meskipun Sadri sudah mengatakannya. “Itu masa lalu kalian. Jani cuma butuh Ghani.” Anjani menggenggam tangan Ghani. Ghani melihat ketulusan di mata Anjani. “Aku juga mencintai anak kamu dan iti tulus.” Ghani menegaskannya pada Sadri. Sadri merasa geram dengan kelakuan mereka berdua. “Anjani, masuk sekarang atau jangan pernah kembali ke rumah ini!” Ancamnya. Anjani terkejut mendengarnya. “Tuan, jangan.” Bik Suryati merasa prihatin. “Bik, ajak Jani masuk.” Perintahnya. “Non, ayo masuk.” Ajak Bik Suryat. “Gak Bik. Jani mau ikut Ghani sampai Papa menerima kami.” Anjani sudah terlanjur nekad. “Ayo kita pergi.” Dia malah pergi bersama Ghani. “Jani!” Sadri sangat terpukul. Keesokannya Sadri mencari Anjani ke Kampus namun nihil. Dia menghubungi sahabat-sahabat lama Anajani. “Sejak lulus, kami gak pernah ketemuan lagi Om. Jani sering sama pacarnya itu.” Jawab Tara. “Kamu tau rumahnya?” Tanya Sadri. “Gak tau Om. Tapi dia itu pemilik Club malam yang hits banget.” Jawab Tara. Setelah mendapat alamat Club tersebut, Sadri mencoba mencari Anjani di sana namun tetap saja tidak ketemu. Sadri menyogok seorang bartender agar memberikan alamat rumah Ghani. Kini Sadri sudah tau dimana Ghani tinggal. Rumah Ghani sangat besar dan berada di lingkungan yang sepi dari keramaian. Suasana di sana sangatlah tenang. Sadri memantau dari kejauhan, berharap ada tanda-tanda keberadaan Anjani di sana. Tetapi dia malah melihat Shabila keluar dari rumah. “Iya Kak, ini Shabila mau berangkat ke rumah sakit.” Shabila menutup pintu pagar lalu naik taxi online. Ghani merasa penasaran dan malah mengikutinya. “Siapa perempuan itu?” Dia masuk ke pekarangan rumah sakit. Shabila masuk ke ruang ganti dan memakai pakaian Suster lalu memulai pekerjaannya melayani para pasien. “Bil, malam ini biar aku aja yang lembur, kamu kan udah sering gantiin aku.” Seorang Suster lainnya menghampiri Shabila. Perempuan cantik itu tersenyum. “Gak papa kok. Kasihan anak kamu kan masih sakit.” Dia terlihat begitu baik pada semua orang. “Anak aku udah sembuh kok. Nanti malam kan malam minggu. Kamu bisa pergi sama pacar kamu.” Goda temannya itu. Shabilapun tertawa. “Aku tuh gak punya pacar. Tapi malam ini aku mau kasih kejutan ulang tahun ke Kak Ghani.” Gumamnya. Diam-diam Sadri menguping pembicaraan mereka. “Jadi dia adiknya Ghani.” Sadri sedikit terkejut. Lalu handphonenya berdering. Panggilan dari rumah. “Halo Bik.” Sadri menjauh dari keramaian. Bik Suryati menelpon karena Anjani sudah pulang ke rumah. “Non Jani sudah pulang Tuan.” Bik Suryati begitu bahagia. “Jani di rumah Bik? Saya segera pulang.” Begitupun dengan Sadri. Sadri segera bergegas pulang ke rumah. Anjani mengemasi pakaiannya ke dalam koper. Sadri tiba di rumah tepat di saat Anjani akan pergi dari sana. Sadri segera memeluk putri semata wayangnya itu. “Kamu pulang Nak. Syukurlah.” Sadri sampai meneteskan air mata. Bik Suryatipun ikut terharu. Kemudian Sadri melihat koper di tangan kanan Anjani. “Koper ini?” Dia melepaskan pelukannya. “Jani gak akan pergi kalau Papa ngerestuin hubungan aku dan Ghani.” Rupanya Anjani meminta syarat pada Ayahnya. Sadri menghapus air matanya. “Gak akan!” Dengan tegas Sadri menolaknya. “Berarti gak ada alasan untuk Jani tinggal di sini lagi.” Anjani menarik kopernya keluar dari rumah. “Kenapa kamu keras kepala. Dia itu bukan laki-laki yang baik.” Sadri mencoba menjelaskannya lagi. Anjani lalu berbalik dan berkata. “Karena Anjani hamil Pa.” Sungguh jawaban yang sangat mengejutkan. Mata Sadri terbelalak. Bik Suryati juga terkejut mendengarnya. “Anjani mau nikah sama Ghani.” Mata Anjanipun berkaca-kaca. Sadri nampak sangat geram, dia mengepalkan tangannya. “Jadi ini permainan licik kamu Ghani. Kamu menghamili anak aku supaya bisa mendapatkan dia?” Amarah di hatinya memuncak. Anjani bersimpuh di kaki Sadri. “Jani mohon Pa.” Dia menghiba kepada sang Ayah. “Tuan, sebaiknya nikahkan mereka.” Bujuk Bik Suryati. Sadri yang sudah terlanjur emosi menarik tangan Anjani dan membawanya ke lantai atas. “Papa, biarin Jani pergi Pa.” Meskipun Anjani memberontak, tetapi tenaga Ayahnya lebih kuat. Sadri mengurung Anjani di dalam kamar. “Pa, buka pintunya.” Anjani menggedor-gedor pintu kamarnya sambil berteriak-teriak. Bik Suryati kembali menangis. Ghani sedang membeli karangan bunga di sebuah toko. Dia terlihat bahagia. “Mudah-mudahan Jani bisa membujuk Ayahnya. Bagaimanapun kami saling mencintai dan sebenatar lagi aku bakal menjadi Ayah.” Ghani tersenyum lepas. Dia masuk ke mobil lalu menghubungi Anjani. “Kenapa gak dijawab?” Ghani mencoba menelponnya lagi. Handphone Anjani ada di atas meja, tepat di samping Sadri. “Masih berani dia menelpon Jani.” Sadri mencabut kartu SIM di ponsel Anjani. “Sekarang malah gak bisa dihubungi.” Ghani menjadi khawatir. Anjani menangis di kamarnya. Dia tidak bisa pergi karena jendela kamarnya sidah dipalang dengan kayu oleh Sadri. Tak ada jalan keluar lainnya. Sadri pergi dari rumah dan menuju ke rumah sakit tempat Shabila bekerja. “Dia menculik anak aku selama 1 minggu, aku akan culik adik dia.” Sadri berniat akan menculik Shabila. Tetapi rupanya Shabila sudah lebih dulu masuk ke dalam taxi. Sadri mengikuti taxi tersebut. Shabila singgah di sebuah swalayan untuk berbelanja bahan membuat kue. Setelah itu dia kembali ke dalam taxi. “Katanya orang kaya. Adiknya malah naik taxi.” Sadri merasa heran. Sadri kembali mengikuti Shabila ke mall. Kali ini Sadri ikut masuk ke dalam mall. Shabila melihat-lihat jaket yang cocok untuk Ghani. “Untuk siapa Mbak?” Tanya penjaga toko. “Untuk Kakak saya.” Jawab Shabila. Sadri tak bisa menculik Shabila di sana. Setelah membeli hadiah yang tepat, Shabilapun pulang ke rumahnya. Dia membayar ongkos taxi. “Ini kelebihan Mbak.” Kata Sopir taxi. “Untuk Bapak aja. Hitung-hitung sebagai tanda syukur ulang tahun Kakak saya.” Ujar Shabila. “Makasih ya Mbak.” Ucap Sopir taxi. Setelah taxi pergi, Shabila masuk ke dalam rumah tanpa disadari, Sadri juga ikut masuk ke dalam rumah. “Siapa kamu?” Shabila yang hendak menutup pintu menjadi terkejut. “Itu semua kamu beli untuk penjahat itu?” Sadri melihat barang belanjaan yang ada di tangan Shabila. “Apa maksud kamu?” Tanya Shabila. “Kakak kamu itu penjahat, dia menculik anak saya dan bahkan menghamilinya untuk balas dendam!” Pernyataan Sadri tak dapat diterima oleh Shabila. “Kakak aku bukan orang jahat. Pergi kamu dari sini!” Shabila mengusir Sadri. Sadri menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. “Mau apa kamu?” Shabila terlihat ketakutan. Shabila memilih mundur secara perlahan. “Seperti apa yang dia lakukan kepada anak saya,saya akan melakukan itu pada adiknya.” Sadri mendekat dan membuat Shabila semakin ketakutan. “Tolong...!” Shabila melemparkan belanjaannya di lantai lalu berlari ke lantai atas. Sadripun mengejarnya. Shabila mengambil vas bunga di atas meja lalu melemparkannya ke arah Sadri namun gagal mengenainya. Shabila semakin ketakutan, dia masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan cepat. Sadri mendorong pintu itu dengan kuat dan Shabila berusaha menahannya dari dalam. Perasaan Ghani semakin tak karuan. “Pasti terjadi sesuatu yang buruk sama Jani. Lebih baik aku langsung periksa ke rumahnya.” Ghani memutar balik mobilnya dan menuju ke rumah Sadri. “Jani!” Dia berteriak dari luar rumah. Bik Suryati melihat lewat jendela. “Itu kan pacarnya Non Jani.” Diapun membukakan pintu. “Den, tolongin Non Jani. Dia dikurung Tuan di atas.” Lapor Bik Suryati. Maka Ghanipun segera menaiki anak tangga disusul Bik Suryati. “Di sini Den.” Wanita berumur 50 tahun itu menunjukkan kamar Anjani pada Ghani. “Tapi tolong jangan bilang ke Tuan kalau Bibik yang bantuin kalian.” Pinta Bik Suryati. “Makasih Bik.” Ucap Ghani. Bik Suryatipun pergi. Ghani mengetuk pintu kamar Anjani. “Jani. Ini aku.” Dia bicara pada Anjani. Anjani yang tertidur di atas ranjangnya segera bangun dan menghapus air matanya. “Ghani, bawa aku pergi dari sini.” Pinta Anjani. “Kamu mundur ya. Aku akan dobrak pintunya.” Perintah Ghani. Beberapa kali Ghani mencoba mencoba mendobrak pintu tetapi masih gagal. Dia lalu mencari alat untuk merusak gagang pintu kamar Anjani. Kebetulan ada pajangan dinding yang terbuat dari logam berukuran sedang, Ghani menggunakan benda itu. Akhirnya Ghani berhasil masuk ke dalam kamar Anjani. Sadri juga berhasil membuat Shabila tersungkur ke lantai karena tak bisa menahan pintu lagi. Sadri melepas kancing leher kemejanya lalu menarik tangan Shabila. “Lepasin aku!” Shabila memukul d**a Sadri dengan tangan kirinya. Sadri menuju ke dekat jendela lalu menarik gorden jendela itu untuk mengikat tangan kanan Shabila. Shabila menggingit tangan kanan Sadri hingga terluka dan berdarah agar Sadri melepaskannya. Karena kesakitan Sadripun melepas tangan Shabila. Shabila langsung berlari keluar dari kamar padahal Sadri telah memegang sisi kain yang satunya untuk menarik Shabila kembali kepadanya. Shabila hendak melepaskan ikatan kain itu dari tangan kananya tetapi semakin kuat Sadri menariknya makin semakin ketat ikatan itu di tangannya. Sadri menampar wajah Shabila dengan kuat sehingga perempuan 27 tahun itu merasa pusing. Sadri mengikat tangan Shabila ke tempat tidur sementara dia menarik kain gorden yang lainnya dan mengikat tangan kiri Shabila ke tempat tidur. Kini Shabila tak bisa bergerak dari tempat tidurnya. Sadri merobek baju dan rok Shabila. Shabilapun berteriak histeris. “Kakak...!” Dia memanggil Kakaknya. Ghani sudah berhasil bertemu lagi dengan kekasihnya. Mereka berpelukan dan melepas rindu. “Aku pikir aku gak bisa ketemu kamu lagi.” Anjani nampak ketakutan. “Ssst... Itu gak akan pernah terjadi.” Ghani menghapus air mata di pipi Anjani lalu merapikan rambut Anjani kembali. “Ayo kita pergi.” Ghani membawa Anjani pergi dari rumah. “Koper aku.” Anjani teringat akan palaiannya tadi. “Aku bisa beli ribuan barang lainnya untuk kamu.” Ghani menenangkan hati Anjani. Anjani merasa lega dan bangga pada Ghani. “Ayo.” Kini mereka benar-benar pergi tanpa menoleh. Ghani menyalakan mesin mobil. “Bik Sur.” Anjani teringat pada wanita yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu. “Udah, gak papa. Bik Sur pasti baik-baik aja.” Ghani menggenggam tangan Anjani. Mereka segera pergi dari sana. “Aku gak bisa ajak kamu ke rumah aku dulu dengan kondisi seperti ini. Kamu tunggu di restaurant dan aku jemput adik aku dulu. Oke?” Sambil menyetir, Ghani membelai rambut Anjani. Anjani mengangguk. Mereka menuju ke sebuah restauran mewah. “Aku pergi sebentar ya.” Ghani mengecup kening Anjani. Ghani meninggalkan Anjani di sana karena dia akan pulang ke rumah untuk menjemput Shabila. Sadri merasa muak melihat Shabila terus berusaha melawan dan berteriak. Dia melepas kemejanya lalu menutup mulut Shabila dengan kemejanya. Sadri membuka resleting celananya dan memperkosa Shabila. Setelah itu Sadri memakai celananya kembali dan mengambil kemejanya yang dipakai untuk mengikat mulut Shabila. Setelah itu Sadri memakai bajunya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD