TRAUMA

2358 Words
Ghani memarkirkan mobilnya di luar pekarangan rumah, dia membuka pagar dan mengambil kunci cadangan di dalam saku celananya untuk membuka pintu. “Bil. Bila!” Ghani memanggil adiknya. Dia terkejut melihat barang belanjaan bertumpahan di dekat tangga. “Shabila?” Ghanipun panik. Segera dia berlari ke lantai atas untuk memeriksa adiknya. Sadri keluar dari kamar Shabila dan saat itulah dia bertemu muka dengan Ghani. “Kamu? Kenapa kamu ada di sini?!” Ghani menunjuk Sadri. “Kakak...” Terdengar suara rintihan Shabila dari dalam kamar. “Kamu apakan adik aku?” Ghani menarik leher kemeja Sadri. Sadri tak gentar sedikitpun. “Sama seperti apa yang kamu lakukan sama Anjani.” Jawab Sadri. Seketika tangan Ghani gemetar. Dia melepaskan Sadri lalu segera menuju ke kamar Shabila. Betapa terkejutnya dia melihat kondisi adiknya dengan kedua tangan terikat dan pakaiannya yang sobek. “Shabila...” Ghani melepaskan ikatan di tangan Shabila. Ghani membuka jas yang dipakainya lalu memakaikannya pada sang adik. “Kakak.” Shabila menangis di dalam pelukan Ghani. “Keterlaluan...!” Ghani terpukul oleh kejadian itu, dia meninggalkan Shabila lalu pergi mengejar Sadri yang sudah turun ke lantai 1. Ghani menarik baju Sadri dari belakang lalu meninju wajah Sadri dengan keras sehingga hidung Sadri berdarah. Sadri tak membalasnya. Dia membiarkan saja Ghani memukulinya sampai babak belur. “Argh...!” Ghani hanya bisa berteriak untuk menutupi air matanya. Sadri yang terjatuh ke lantai malah menertawakan Ghani. “Sekarang kita impas kan?” Sadri mengejeknya. Ghani hendak memukuli Sadri lagi, tetapi Sadri menahan tangan Ghani lalu membalas memukuli Ghani habis-habisan bahkan meja kaca di ruang tamu sampai pecah. Sambil menahan rasa sakit, Shabila keluar dari kamarnya, berjalan perlahan melihat apa yang terjadi dari lantai 2. “Kakak!” Dia kembali histeris melihat Ghani dihajar oleh Sadri. Melihat Shabila keluar dari kamar, Sadri berhenti memukuli Ghani. Dia menjambak rambut Ghani dan memperlihatkan wajah Ghani pada Shabila. Shabila kembali menangis. “Lepasin Kakak aku.” Pinta Shabila. “Kamu lihat adik kamu itu. Dia sangat menyayangi kamu. Seperti aku sangat menyayangi Anjani. Tapi kamu merusak kehidupan dia. Padahal kamu juga punya adik perempuan!” Sadri membentak Ghani. Ghani hanya bisa pasrah. Sadri pergi dari rumah Ghani. Sadri merasa kacau dengan apa yang dilakukannya pada Shabila tadi. Dia menyetir ugal-ugalan dan hampir menyebabkan kecelakaan. Sadri pulang ke rumahnya. Sadri masuk ke kamarnya lalu membuang semua pakaiannya tadi ke tempat sampah. Sadri yang meskipun sudah kepala 4 tetapi memiliki bentuk badan yang bagus. Dia mandi namun masih saja terbayang wajah Shabila. “Argh!” Sadri meninju dinding kamar mandinya dengan tangan kanannya. Bekas gigitan Shabila terasa perih. Sadri merasa berdosa pada perempuan itu. Shabila terduduk lemas di lantai. Ghani menghampiri adiknya. “Maafin Kakak.” Ghani hendak memeluknya tetapi Shabila menghalau tangannya. “Apa benar yang dia katakan Kak? Kakak menghamili anaknya?” Hardik Shabila. “Bil, kamu tau kan kalau Kakak sangat mencintai Anjani dan kami akan menikah.” Jelas Ghani. “Jadi benar kan?” Shabila meneteskan air mata tapi bibirnya tersenyum. Dia berusaha bangkit dan berdiri kembali. “Bila!” Ghani mencoba membujuk adiknya lagi. “Ini karma atas perbuatan Kakak.” Shabila berjalan menuju ke kamarnya. Dia mengurung diri di sana. Ghani hanya bisa menangis. Sadri berganti pakaian lalu dia menuju ke kamar Anjani. Saat itulah dia menyadari pintu kamar Anjani telah terbuka. “Anjani?” Sadri memeriksa ke dalam kamar putrinya. “Bik Sur!” Sadri berteriak memanggil asisten rumah tangganya itu namun tidak ada jawaban. Sadri memeriksa ke dapur. “Dimana dia?” Bik Suryati tak ada di dapur dan juga di dalam kamarnya. Ada sepucuk surat yang ditinggalkan Bik Suryati di atas tempat tidur. Sadri membaca surat itu. “Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan Tuan, yang terpenting adalah memperbaikinya dan tidak mengulanginya lagi. Berilah Non Anjani satu kesempatan. Biarkan dia jatuh cinta bukan jatuh baru dicintai. Maafkan Bibik tidak bisa bersama Non Jani dan Tuan lagi. Jaga diri Tuan. Terimakasih.” Sadri merasa sedih atas kepergian Bik Suryati yang mendadak. Anjani masih menunggu kedatangan Ghani dengan setia di tempat janji bertemu, sudah beberapa jam di sana bahkan segelas jus yang dipesan sudah habis. Anjani memesan makanan dan air mineral namun itupun sudah habis. “Maaf Mbak, kami mau tutup.” Seorang pelayan menghampiri Anjani. Anjanipun terpaksa menunggu di depan restauran padahal malam sudah larut. Anjani merasa letih dan bosan menunggu Ghani. Dia duduk di tangga depan restauran sambil bersender pada salah satu tiang sampai diapun ketiduran. Shabila masih berada di kamar mandi dengan air yang mengucur di atas kepala dan tubuhnya. Dia sudah menggigil dan akhirnya jatuh pingsan. Ghani membawakan makanan ke depan kamar Shabila. “Bil, dari tadi kamu belum makan.” Ghani mengetuk pintu kamar Shabila. Karena tak ada jawaban, Ghani merasa khawatir, apalagi terdengar suara air di dalam kamar. “Bila, jangan ngelakuin hal bodoh. Buka pintunya!” Ghani mengetuk pintu dengan lebih keras lagi. Dia meletakkan makanan itu di depan pintu lalu mengambil kunci cadangan di dalam laci kamarnya. Ghani kembali ke sana untuk membuka pintu kamar Shabila. “Shabila!” Ghani melihat adiknya pingsan di kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja. Ghani menggendong Shabila ke tempat tidur. Menyelimutinya dengan selimut tebal dan memakaikannya pakaian hangat. “Bila bangun.” Ghani menggosok-gosokkan telapak tangannya pada tangan Shabila. Shabila masih belum sadarkan diri. Ghani memutuskan segera membawa adiknya ke rumah sakit. Shabila segera mendapat penanganan yang tepat oleh Dokter di ICU. “Gimana adik saya Dokter?” Tanya Ghani. “Dia mengalami hipotermia.” Jawab Dokter. “Anda jangan khawatir,kami sudah memberikannya obat. Biarkan dia istirahat sebentar.” Dokter menepuk pundak kiri Ghani lalu keluar dari ruangan itu. Ghani menemui Shabila. Ghani mengusap kepala Shabila. Dia merasa bersalah kepada adik bungsunya itu. Suara jam dinding di tengah kota berdenting sebanyak 12 kali dan membuat Anjani terjaga. “Ghani belum datang juga? Jangan-jangan yang Papa bilang itu benar, dia cuma mau balas dendam.” Anjani merasa kecewa pada Ghani. Anjani berjalan kaki menuju ke halte bis. Dia bahkan tak punya uang untuk ongkos taxi dan dia juga tak tau harus pergi kemana. Anjani memilih duduk di halte seorang diri. Tak lama datanglah seorang tunawisma. “Sana loe.” Dia mengusir Anjani. Anjani mengalah dan diapun pergi. Anjani memanggil taxi dan masuk ke dalam taxi. “Mungkin Sheila mau bantuin aku.” Pikirnya. Anjani menuju ke rumah sahabat SMAnya itu. “Bentar ya Pak.” Kata Anjani pada Sopir taxi. Anjani menekan bel pintu rumah Sheila. “Siapa yang datang tengah malam begini.” Orang tua Sheila terbangun begitupun dengan Sheila yang ternyata sedang tidur bersama pacarnya di kamar. “Sheila, tolong lihat siapa yang datang!” Ibu Sheila mengetuk pintuk kamarnya. “Gawat, Mama. Cepetan sembunyi.” Sheila membangunkan pacarnya yang juga tak berbusana. Pria itupun memakai celana nya dan bersembunyi di bawah tempat tidur. “Iya Ma.” Jawab Sheila dari dalam kamar. Sheila memakai piyamanya dan membuka pintu kamar. “Pasti temen kamu tuh yang suka datang gak beraturan.” Omel Ibunya. “Iya Ma.” Sheila menutup pintu kamarnya kembali lalu membukakan pintu. “Jani? Kamu kemana aja?” Sheila nampak senang bertrmu dengan sahabat lamanya itu. “Aku boleh nginap di sini gak malam ini?” Anjani memelas pada Sheila. “Waduh, gimana ya, bukannya aku gak ngebolehin... Tapi...” Sheila menggaruk kepalanya. “Please Sheila. Di gudang juga boleh.” Pinta Anjani. “Yaudah deh.” Sheila merasa kasihan pada Anjani. “Gue pinjem duit ya buat ongkos taxi.” Pinta Anjani lagi. Sheila mengangguk. “Bentar ya.” Sheila harus mengambil uang dulu di kamarnya. “Siapa?” Pacar Sheila memeluknya dari belakang. “Jani.” Jawab Sheila. Pacar Sheilapun terkejut. “Ngapain dia di sini?” Tanyanya. “Minjem duit.” Sheila memberi alasan palsu. Sheila lalu kembali menemui Anjani dan memberikan uang itu padanya. “Thanks ya.” Anjani memeluk Sheila. Dia segera membayar ongkos taxi. Sheila mengajak Anjani ke gudang lewat halaman belakang. “Maaf ya, gue gak bisa ngajak eloe masuk. Nyokap gue marah melulu...” Sheila merasa tak enak hati. “Gak papa kok.” Anjani tersenyum kepadanya. “Aku masuk dulu ya.” Sheila meninggalkan Anjani di gudang yang sesak dan kotor itu. Sheila kembali ke kamarnya. Pacarnya nampak kesal. “Udah pergi dia?” Tanyanya. “Udah.” Jawab Sheila. Ghani terjaga oleh suara Shabila yang sedang mengigau. “Kakak...” Ghani membelai rambut Shabila. “Kakak di sini.” Tuturnya dengan lembut. Semalaman Ghani menjaga Shabila di rumah sakit sehingga dia tidak teringat pada Anjani. Keesokan harinya. “Jani?” Barulah dia teringat pada kekasihnya. Ghani menemui seorang perawat yang tak lain adalah sahabat Shabila. “Suster, tolong jagain adik saya sebentar.” Setelah itu Ghani segera pergi. “Adik?” Sahabat Shabila lalu masuk ke dalam ruangan rawat Shabila. “Bila?” Dia terkejut melihat Shabila terbaring lemah. “Jadi itu Kakaknya Shabila.” Dia prihatin dengan kondisi sahabatnya. Ghani ke restaurant untuk menemui Anjani. “Tutup? Sialan. Restaurannya buka sampai jam 11 malam, jelas aja dia udah pergi.” Ghani memegang kepalanya. Dia bingung harus mencari Anjani kemana. Sadri juga sedang berangkat untuk mencari Anjani. “Kemarin dia pulang sendirian tanpa Anjani. Kemana dia membawa Anjani?” Sambil mengemudi, mata Sadri melihat-lihat di sekitar jalan barangkali dia melihat Anjani. Anjani sudah pergi dari rumah Sheila sebelum semua orang keluar dari rumah. Anjani kembali berjalan tak tentu arah. Dia bingung harus kemana sementara perutnya sudah keroncongan. Sadri melihat Anjani di jalanan. “Anjani?” Dia segera menghapiri Anjani dengan jeepnya. “Jani!” Sadri memanggil anaknya. “Papa?” Anjani terharu melihat kedatangan Ayahnya. Ayah dan anak itupun berpelukan. “Bawa Jani pulang Pa.” Anjani menangis sesegukan. Sadri membelai rambut Anjani sambil mengangguk. Sadri membawa Anjani kembali ke rumah. Anjani nampak lesu. “Maafin Jani ya Pa?” Dia meminta maaf pada Ayahnya. “Bukan kamu yang salah. Tapi Papa yang egois.” Sadri merangkul pundak Anjani. Mereka masuk ke dalam rumah. “Bik Sur!” Anjani memanggil Asisten rumah tangganya. “Bik Suryati udah gak kerja di sini lagi.” Jawab Sadri. “Papa mecat Bibik?” Sorot mata Anjani nampak sedih. “Bukan. Bik Sur pergi atas keinginannya sendiri.” Ujar Sadri. “Bik Sur...” Air mata Anjani kembali tumpah. “Maafin Papa ya.” Sadri memeluk Anjani dan mengecup keningnya. “Mulai sekarang, Papa akan memenuhi apapun permintaan kamu, apapun demi kamu.” Sadri tersenyum. “Bener Pa? Janji?” Anjani nampak senang, dia menghapus air matanya. “Janji.” Sadri mengangkat jari kelingkingnya. “Makasih Pa.” Anjani meloncat kegirangan lalu mencium pipi kiri Sadri. “Sekarang kamu telpon dia.” Sadri mengembalikan ponsel Anjani. Anjani terdiam sesaat. “Kenapa, kalian bertengkar?” Tanya Sadri. “Ghani gak nepati janjinya untuk jemput Jani Pa.” Jani nampak sedih. Sadri sudah pasti mengetahui sebab yang sebenarnya. “Papa yang bikin dia gak datang. Jadi telpon dia sekarang.” Sadri meyakinkan Anjani. Anjani mengambil ponselnya dan menghubungi Ghani. “Jani?” Ghani merasa senang melihat panggilan masuk dari Anjani. “Sayang, aku minta maaf karena...” Ghani bahkan belum selesai bicara. “Papa mau bicara sama kamu.” Anjani menyerahkan ponselnya pada sang Ayah. “Papa?” Sadri merasa sedikit ragu. “Papa aja yang ngomong.” Anjani memilih pergi ke kamarnya. “Sekarang kamu puas kan, anak kamu sudah kembali ke rumah atas keinginannya sendiri. Tapi bagaimana dengan adik aku? Dia gak salah.” Ghani melampiaskan amarahnya pada Sadri. “Nikahi anak saya. Sebagai gantinya saya akan nikahi adik kamu.” Sadri membuat kesepakatan. “Biadab kamu Sadri. Kamu mau saya menikahkan adik saya dengan orang b******k seperti kamu?!” Ghani semakin geram. “Pikirkan masa depan adik kamu. Gak akan ada pria manapun yang mau menikahi dia kecuali aku.” Gumam Sadri. “Binatang kamu Sadri. Jadi ini pembalasan kamu?” Ghani memakinya. “Kita impas kan? Kamu mendapatkan anak saya dan saya mendapatkan adik kamu. Semua terserah kamu. Kamu mau menerima tawaran saya atau kamu kehilangan Anjani sekaligus merusak masa depan adik kamu sendiri.” Ujar Sadri. Ghani menjadi dilema. Ghani membanting ponselnya ke lantai kamar rawat adiknya di rumah sakit. Shabila terkejut akan suara itu. Shabila sudah siuman. “Kakak kenapa?” Dia malah mencemaskan Kakaknya. Ghani menggelengkan kepalanya dan berusaha tersenyum. “Gak papa.” Dia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Kata Dokter kamu udah boleh pulang hari ini.” Ghani fokus pada kesembuhan adiknya. Sadri membuatkan sandwich untuk Anjani. “Jani, ayo makan dulu.” Dia memanggil Anjani untuk turun ke ruang makan. Anjani lalu duduk di hadapan Ayahnya. “Kesukaan kamu.” Sadri menghidangkan sepotong roti itu pada Anjani. Anjanipun tersenyum. “Makasih Pa.” Dia menikmati makanan kesukaannya itu. “Gimana?” Tanya Sadri. “Enak kok Pa.” Puji Anjani. “Kalau gitu harus habis.” Tutur Sadri. Anjanipun tersenyum. “Oh ya, Ghani bilang apa Pa?” Pertanyaan Anjani sedikit menggangu Sadri. “Dia bilang akan datang.” Sadri terpaksa berbohong. “Beneran Pa?” Anjani kembali antusias. “Iya.” Sadri mengangguk. “Dia gak punya pilihan lain.” Bisik hati Sadri. Ghani dan Shabila pulang ke rumah mereka. “Kakak kenapa, dari tadi bengong terus.” Shabila kembali mencemaskan Ghani. “Kak, jujur sama Bila.” Bujuk adiknya. Ghani dan Shabila duduk di ruang tamu yang sudah dirapikan kembali oleh Ghani. “Sebenarnya, laki-laki itu adalah Ayahnya Jani. Dia akan merestui pernikahan kami kalau kamu menikah sama dia.” Ghani memilih untuk jujur. Shabila yang baru saja pulang dari rumah sakit kembali harus mengingat traumanya itu. “Gak, Bila gak mau.” Dia melihat wajah Ghani berubah menjadi wajah Sadri. Shabila ketakutan dan diapun pingsan. “Bila?” Ghani kembali dibuat panik. Ghani membawa Shabila ke kamar tidurnya. “Shabila, bangun...” Ghani menepuk-nepuk pipi Shabila dengan perlahan. Dia lalu mengambil minyak kayu putih lalu mendekatkan aromanya pada hidung Shabila. Shabilapun terjaga. “Kak, tadi Bila mimpi buruk.” Bila nampak ketakutan. “Iya, itu cuma mimpi buruk aja.” Ghani membelai rambut Shabila. Ghani berharap semuanya akan membaik seiring waktu, namun ternyata setiap malam Shabila selalu terjaga oleh mimpi buruknya. Dia mengalami trauma yang mendalam akibat peristiwa yang menimpanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD