"Untuk apa datang kesini?" Aleana menatap tajam kepada Abraham yang sedang menahan pintu kontrakannya. Gadis itu tidak menyangka sore-sore begini kedatangan Abraham, yang tidak pernah mau memberikan ketegasan tentang statusnya. Saking tidak pernah ingin memberi kepastian, Abraham selalu saja diam dan bungkam. Tidak ingin terluka, tentu saja Aleana memilih pergi. "Izinkan aku masuk. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Abraham. Berusaha mendorong pintu agar bisa masuk. Aleana menggeleng. "Aku tidak bisa memberi jalan kepada laki-laki yang suka memberi harapan palsu. Jadi pergilah! Aku tidak ingin banyak bicara tapi tidak ada hasilnya." "Aku mohon berikan aku kesempatan, Aleana." Abraham masih berusaha untuk membujuk. Ingin rasanya ia menerobos masuk, tapi tidak ingin Alean

