Persiapan tim SAR di Posko Merapi
"Siapkan semua peralatan medis, Termasuk masker karena Hujan abu dan pasir terus terjadi. Erupsi erupsi kecil terus terjadi sejak erupsi pertama yang menewaskan mbah Maridjan." Kata Arya Sena Ketua Regu Tim SAR di salah satu Posko.
Hari itu baru saja Tujuh hari meninggal nya mbah Maridjan, sang Juru kunci Merapi yang setia dengan tugas beliau sampai akhir hayatnya.
Luncuran awan panas atau wedus gembel istilah setempat, masih terus berlangsung secara periodik.
Diikuti juga dengan hujan abu dan pasir yang jangkauannya sampai puluhan kilometer. Penduduk sekitar merapi dalam radius tertentu sudah diungsikan.
Namun begitu masih juga ada beberapa warga yang tetap memilih tinggal di rumahnya. Dengan berbagai dalih, dari mengamankan aset warga dari penjarahan sampai dengan yang tidak percaya jika dusunnya masuk zona bahaya.
Di sebuah rumah yang cukup megah, untuk ukuran pedesaan keluarga yang menghuni rumah tersebut tetap tidak mau meninggalkan rumahnya. Meskipun warga lain sudah banyak yang tinggal di barak pengungsian. Meski siangnya mereka kembali untuk mengurusi binatang ternak dan sawahnya.
"Dewi, besok pagi bapak mau menginap di rumah saudara. Kalau kamu takut di rumah sendiri. Boleh ikut ke barak bersama Tetangga sekitar." Kata pak Iwan pada Dewi anaknya.
"Dewi di rumah saja pak, Gak papa kok sendirian. Besok Dewi ajak Laras teman Dewi buat menemani Dewi." Jawab Dewi.
"Boleh gapapa, tapi hati hati, motor selalu di parkir dan menghadap keluar. Sewaktu waktu harus ngungsi tinggal lakukan motor." Ucap psk Iwan.
Suara Gemuruh dari perut gunung Merapi pun terdengar jelas dari rumah Dewi.
Dewi dan bapak nya dikejutkan dengan suara ketukan pintu rumahnya. Sementara Rahayu ibu Dewi sibuk memasak di dapur.
"Assalamu'alaikum,,, kulo nuwun pak.. . ! " Suara orang yang mengetuk pintu rumah Dewi.
"Wa'alaikumusalaam... tunggu sebentar." Jawab Dewi sambil berjalan mendekati pintu untuk membuka kan pintu.
"Ada apa mas, kok malam malam kesini?" Tanya Dewi pada tamu yang datang.
"Maaf mbak, saya menjalankan tugas untuk mendata warga yang masih tinggal di sini. Boleh saya masuk?" Tanya tamu dari anggota Tim SAR yang bernama Arya Sena.
"Masak tiap hari ada yang bertanya begitu sih mas?" Jawab Dewi agak ketus.
Namun Dewi tetap mempersilahkan Arya Sena Masuk ke rumahnya. Dan ngobrol dengan bapaknya. Sementara Dewi sendiri masuk ke dalam kamarnya.