Sepiring waffle yang dilumuri madu itu dengan buah strawberry gemuk yang bersandar tampak tidak menggoda di mata Valeria. Padahal, dia pecinta waffle. Dia lebih suka sarapan manis daripada sarapan berat. Waffle, selalu menjadi menu favoritnya. Namun, pagi ini sepertinya pengecualian. Dia hanya menusuk waffle itu dan memotongnya kecil-kecil hingga berbentuk abstrak. Setelah itu dia memilih menegak s**u vanila, hingga tandas.
"Makan!" Lelaki yang duduk di depan Valeria memerintah. Dia cukup tahu bagaimana tingkah Valeria yang menyia-nyiakan makanan. Belum lagi dengan wajah jutek khasnya. Setelah itu dia memilih menyantap telur mata sapi dengan taburan lada hitam kesukaannya. Sambil sesekali menatap Veleria. "Kamu nggak laper setelah permain...."
"... diem!" Tangan Valeria terangkat meminta Mahesa tidak mengungkit masalah semalam. "Gue harap cuma kita yang tahu."
Bangun pagi bersama seorang lelaki sudah membuat sekujur tubuh Valeria panas dingin, dia tidak seliar itu sebetulnya. Lalu yang lebih syok lagi ternyata dia tidur bersama Mahesa, mantan dari mantan sahabatnya yang bernama Rose. Andai Rose tahu, pasti akan mengejeknya telah memungut sampah yang telah dibuang. Yah, meski kedengarannya sangat jahat, tapi banyak orang yang menganggap mantan tidak lebih dari sebuah sampah.
Mahesa menegak kopi pahitnya lantas memajukan tubuh, merasa mood Valeria kian buruk. "Kalau aku pengen semua orang tahu gimana?" Bukannya menenangkan, dia justru memancing emosi Valeria.
"Lo gila!" Valeria tanpa sadar berteriak. Dia mengedarkan pandang, mendapati pengunjung hotel yang memadati restoran dan beberapa dari mereka menatapnya ingin tahu. "Lo nggak sejahat itu."
"Orang bisa jahat kapan aja." Mahesa duduk tegak dengan ekspresi tanpa beban. Dia menyeruput kopinya lagi sambil menatap ke arah jendela. Langit biru dengan sedikit awan putih menghiasi, sepertinya hari ini akan berjalan indah.
Diam-diam, Valeria menatap lelaki dengan rambut yang masih agak basah dengan disisir asal itu. Meski begitu, penampilan Mahesa tidak terlihat biasa-biasa saja. Iris abu-abu yang dulu tidak begitu dipedulikan, sekarang tampak berkilau di matanya. Bibir tipis berbentuk sempurna yang akan semakin mengecil saat tersenyum, seperti sihir bagi siapapun yang melihat termasuk Valeria. Lagi-lagi dia harus mengakui, jika Mahesa benar-benar berubah.
"Nggak usah natap seolah mau makan!" Mahesa seketika menoleh, sedangkan Valeria langsung membuang muka. "Mau lagi?"
"Nggak ada yang kedua kali," tekan Valeria lalu duduk bersandar sambil melipat kedua tangan di depan d**a. "Jangan sampai orang lain tahu."
Mahesa hanya mengangkat bahu. "Takut semua orang beranggapan kamu liar? Emang kenyataannya gitu, kan?"
Valeria mengakui, memang bukan gadis manis yang sering menghabiskan waktu di rumah. Sejak lulus SMA dia sering keluar malam. Namun, dia masih bisa menjaga diri. Baginya, kejadian semalamlah yang membuatnya syok. Dia melakukan dengan seseorang yang tidak diduga. Bahkan dia tidak memiliki perasaan ke lelaki itu.
"Aku nggak akan bilang ke siapapun. Kecuali...."
"... Rose?" potong Valeria, seolah bisa membaca isi pikiran Mahesa. "Segitu dendamnya?"
"Sama kayak kamu, kan?" Mahesa menatap dengan wajah serius. "Kamu nggak mau temenan lagi, setelah dia rebut gebetanmu, kan?"
Valeria tersenyum miring. Dia memajukan tubuh lantas melipat kedua tangan di atas meja. "Dan lo merasa tersakiti?"
"Ck!" Mahesa membuang muka. Enggan diakui, jika dia terluka karena ulah Rose tapi ego lelakinya tidak mau mengatakan itu ke Valeria. "Kita sama-sama terlukai."
Valeria tersenyum mengejek. "Gue nggak mau temenan sama Rose bukan karena itu."
Ekspresi Mahesa berubah penuh tanya. "Terus?"
"Gue belum bisa percaya lo," ungkap Valeria. "Jangan-jangan lo ngelakuin ini karena disuruh Rose? Gue nggak mau kalian anggap bodoh."
"Sial!" Mahesa mengambil cangkir kopinya dan menegaknya pelan. Setelah itu dia berdiri. "Ayo aku anter!" Ini cara efektif untuk menghilangkan rasa penasaran daripada dia bertindak dan mencari tahu sendiri.
"Nggak perlu. Gue bawa mobil!" Valeria menjawab dengan gaya sombong khasnya.
Mahesa menatap Valeria yang memakai dress yang sama dengan semalam dan tampak sangat kusut. Dia tersenyum kecil lalu geleng-geleng tidak mungkin wanita itu pulang dalam kondisi seperti itu.
Valeria mengernyit merasa ada yang kurang. Kemudian dia menyadari tidak ada yang menghiasi tangannya. "Tas gue?"
"Di mobil!" Mahesa menarik tangan Valeria hingga berdiri. "Mobilmu dibawa Eriska."
Valeria menarik tangannya dari cekalan Mahesa dan menatap penuh selidik. "Lo rencanain ini, kan?"
Mahesa melirik ke kiri dan ke kanan, mendapati beberapa orang terganggu dengan teriakan Valeria. Dia mencondongkan tubuh lalu menyejajarkan wajah ke Valeria. "Menurutmu?"
Valeria menahan napas ketika hidung Mahesa hampir menyentuh hidungnya. Kedua kakinya mulai bergetar. Efek yang ditimbulkan lelaki itu benar-benar tidak baik untuk tubuhnya.
Mahesa menyentil kening Valeria pelan. "Ayo aku anter!" Setelah mengucapkan itu dia berjalan lebih dulu.
Pandangan Valeria tertuju ke Mahesa yang meninggalkannya, menatap bahu lebar yang bergerak naik turun bergantian. Dia mengepalkan tangan kemudian bergerak seolah menonjok. "Kenapa, sih, gue harus ketemu sama lo?" Kemudian dia dengan cepat mengejar.
Begitu Valeria berjalan di sampingnya, Mahesa segera melingkarkan lengannya di pinggang ramping wanita itu. Dia membungkuk lantas berbisik. "Ke depannya, kita akan terus berinteraksi."
"Jangan harap!"
"Tubuhmu menginginkan itu, Sayang." Mahesa mengecup pelipis Valera gemas. "Mungkin sekarang ada tetesan embun di bawah rerumputan yang baru tumbuh."
Langkah Valeria terhenti, begitu pula dengan Mahesa. Wajah Valeria berubah memerah dengan sekujur tubuh yang seakan membakar. Dia tahu, apa yang sedang dibicarakan Mahesa. Bodohnya, dia memang sedang merasakan itu. "Gue bisa lampiasan ke yang lain!" Dia berjalan lebih dulu, tapi Mahesa tidak membiarkannya begitu saja.
"Mau taruhan, setelah ini akan ada pertemuan lain. Dan mungkin akan lebih panas." Mahesa menatap mata indah Valeria penuh percaya diri, tidak seperti dulu.